IMG-LOGO
Opini

Tragedi Bom Sri Lanka di Hari Paskah: Perspektif Psikologi

Rabu 1 Mei 2019 11:45 WIB
Bagikan:
Tragedi Bom Sri Lanka di Hari Paskah: Perspektif Psikologi
Ilustrasi via Beritagar
Oleh Any Rufaedah

Serangan teror di Sri Lanka 21 April 2019 lalu benar-benar menyedot perhatian dunia. Bukan serangan biasa, ledakan di tiga gereja, tiga hotel mewah, dan satu lokasi di sebuah perumahan terjadi sekaligus. Otoritas Sri Lanka menyebut National Thowheeth Jama’ath (NTJ) adalah pelaku serangan. Belum ada yang dapat memastikan apakah serangan berkaitan dengan Islamic State (IS/ISIS) pada saat itu. Jawaban muncul dua hari setelah serangan. Pemilihan gereja dan hotel bertaraf internasional dimaksudkan untuk menyerang koalisi against ISIS–di mana Amerika paling aktif–secara tidak langsung (lihat: Katz, 2019)


ISIS menyatakan bertanggung jawab atas serangan Sri Lanka melalui media resminya, Amaq. ISIS juga merilis video baiat Zahran Hashim, pendiri NTJ dan juga pimpinan amaliyah (operasi), bersama tujuh pelaku lainnya, sebelum melakukan amaliyah. Dalam video itu, Zahran dan rekan tampak sangat mempersiapkan diri. Semua mengenakan jubah berwarna abu-abu dan sorban penutup kepala (kecuali Zahran) yang sama. 

Kondisi Sri Lanka tidak segera mereda. Jumat (26/4), terduga kelompok Zahran Hashim meledakkan diri saat polisi melakukan penggerebekan. 15 orang termasuk enam anak meninggal akibat ledakan tersebut (bbm.com). Kepolisian menangkap lebih dari 70 terduga, termasuk empat perempuan. Sebagian besar memiliki hubungan keluarga atau teman pelaku serangan (cnn.com).

Bagi saya yang menekuni kajian psikologi, ada beberapa hal menarik yang dapat ditinjau dari perspektif psikologi. Serangan Sri Lanka disebut-sebut sebagai aksi balas dendam terhadap New Zealand attack 15 Mei lalu. Dugaan ini perlu dipertanyakan ulang. 

Setelah peristiwa New Zealand, banyak sekali umat Kristiani yang melakukan aksi solidaritas (lihat: bbc.com; aljazeera.com). Perdana Menteri Zew Zealand, Jacinda Ardern, dan perempuan dari berbagai profesi mengenakan hijab sebagai tanda solidaritas terdapat Muslim (www.washingtonpost.com). Senator Queensland, Fraser Anning, menerima mosi kecaman dari senator lainnya dan masyarakat dunia atas komentarnya yang menyalahkan korban (cbsnews.com). 

Solidaritas dari non-Muslim yang sebagian besar adalah Nasrani seharusnya cukup menjadi alasan untuk tidak balas dendam. Brenton Tarrant adalah oknum dari minoritas Kristen yang tidak menyukai Muslim. Ia sama sekali bukan representasi Nasrani. Benarkah Easter Sunday blast adalah balas dendam terhadap serangan New Zealand? Saya berpandangan tidak. New Zealand dapat menjadi faktor pendorong, tetapi prosentasenya kecil. Misi utama ISIS adalah mengalahkan Global Coalition Against  ISIS yang berisi 79 anggota (74 negara dan 5 organisasi internasional). 

ISIS telah kehilangan banyak wilayah kekuasaan. Sejak 2015 hingga 2018, wilayah ISIS semakin menyempit. Tahun ini pun ISIS belum bebas dari gempuran. Koalisi global mengambil alih Baghouz, sebuah kota di Provinsi Deir ez-Zor, Syria. ISIS boleh dibilang semakin terjepit. Kondisi itu meningkatkan tensi untuk melakukan serangan balik dengan porsi yang sebanding. Kita tinjau kembali tujuh serangan di Sri Lanka, ISIS menentukan target sangat besar. Hal itu mencerminkan tingginya tensi balas dendam terhadap koalisi.

Pertanyaan selanjutnya adalah, Sri Lanka bukan negara yang tergabung dalam koalisi against ISIS, namun mengapa justru menjadi sasaran teror? Sasaran ISIS bukan lagi wilayah, melainkan kelompok. Abu Bakar al Baghdadi telah memperbolehkan junud (tentara)  ISIS untuk melakukan jihad di manapun, terutama bagi mereka yang tidak dapat hijrah ke Syria atau Iraq. 

Bom Surabaya tahun lalu dan bom Sulu, Filipina, adalah contoh jihad yang dilakukan para junud di luar Syria dan Iraq. Sasaran mereka adalah kelompok non-Muslim, terutama penganut agama Kristen yang dianggap sebagai representasi Amerika. Begitu pula yang terjadi di Sri Lanka. Pemilihan gereja dan hotel bertaraf internasional dimaksudkan untuk menyerang koalisi against ISIS –dimana Amerika paling aktif – secara tidak langsung. 

Interpretasi al wala’ wal baro’

Salah satu prinsip utama ISIS adalah al-wala’ wal bara’. Al-wala’ wal bara’ secara harfiah berarti loyal terhadap Muslim dan berlepas diri dari kekafiran dan perbuatan buruk (lihat: Ferdiansyah, 2018). Namun kelompok ISIS memaknainya dengan loyal terhadap amirul mukminin dan membenci orang kafir (Gunaratna, 2019). Ideologi khilafah memang mensyaratkan kepatuhan terhadap amirul mukminin.

Oleh karena itu, loyal terhadap amirul mukminin sudah dianggap sebagai loyal terhadap Muslim. Prosesi baiat sebelum melakukan amaliyah ishtishadi (bom bunuh diri) di Sri Lanka adalah bukti loyalitas terhadap amirul mukminin. Dan serangan adalah bentuk dari sikap bara’. Interpretasi al wala’ wal bara’ inilah yang menjadi pendorong serta justifikasi tindakan teror. 

Dalam kajian psikologi sosial, perilaku umumnya didahului oleh sikap. Jika sikap anda setuju  terhadap A, maka kemungkinan anda akan melakukan tindakan-tindakan mendukung A. Para ‘pengantin’ Sri Lanka bombing begitu sangat yakin dan ‘brutal’ membunuh sebanyak-banyaknya non-Muslim karena konsep bara’ yang dimaknai ‘membenci’ non-Muslim. 
Korelasi Ekonomi dan Pendidikan dengan Terorisme

Para pelaku serangan Sri Lanka adalah orang-orang berkecukupan dan berpendidikan tinggi. Ilham Ahmed Ibrahim dan Inshaf adalah anak pengusaha rempah-rempah, Mohamed Ibrahim  - yang oleh New York Time (27/4) disebut milioner. Ia pemilik Ishana Exports yang merupakan eksporter rempah-rempah terbesar di Sri Lanka sejak 2006 (cnn.com). Seorang menantu Ibrahim juga meledakkan diri saat polisi menggerebek rumahnya. 

Seorang pelaku lainnya diketahui mendapat pendidikan di Inggris dan menyelesaikan gelar master di Australia (bostonglobe.com). Data-data ini menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Namun, hal itu tidak mengherankan. Studi-studi psikologi tidak menemukan hubungan yang kuat antara status ekonomi dan pendidikan dengan aksi teror. 

Kita dapat melihatnya pada pelaku bom Bali, Osama bin Laden, dan Abu Bakar al Baghdadi. Pelaku bom Bali adalah putra-putra pemilik pondok pesantren di Lamongan. Mereka mapan secara ekonomi dan juga mendapat pendidikan yang baik. Osama bin Laden adalah anak milioner Saudi yangmemiliki perusahaan konstruksi. 

Sementara amir ISIS saat ini, Abu Bakar al Baghdadi, bergelar doktor. Kita juga pernah mendengar nama Dr. Azahari yang mendanai dan menjadi otak bom Bali, Kedutaan Australia, dan Hotel J Marriot. Ia mengenyam pendidikan di Australia dan Inggris dan pernah menjadi dosen. Temuan penelitian saya juga menghasilkan data senada (2018). Banyak di antara responden yang saya wawancara berasal dari keluarga berkecukupan serta memiliki pendidikan universitas. 

Faktor dasar yang menyebabkan orang melakukan terorisme adalah pandangan ‘dunia dalam kondisi perang’, bom bunuh diri adalah tindakan mulia, dan keyakinan ‘Barat adalah musuh karena telah bertindak dzalim terhadap Muslim’ (Putra &Sukabdi, 2013). Meskipun anda berasal dari keluarga mapan dan berpendidikan namun memiliki pandangan-pandangan tersebut, maka kemungkinan untuk engage dengan terorisme sangat tinggi. 

Penulis adalah Pengajar Psikologi Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Peneliti Division for Applied Social Psychology Research (DASPR).
Tags:
Bagikan:
Rabu 1 Mei 2019 15:5 WIB
Revolusi Industri 4.0 dan Masa Depan Buruh
Revolusi Industri 4.0 dan Masa Depan Buruh
ilustrasi (liputan6)
Oleh: Mohammad Faiz Maulana

Membincang revolusi industri tidak bisa begitu saja mengabaikan nasib manusia di antara gempuran inovasi berbasis teknologi. Fakta sejarah mengungkapkan bahwa ada banyak manusia menjadi korban keganasan teknologi dalam beberapa abad yang lalu, bahkan hingga saat ini. Mesin-mesin menggantikan manusia tanpa perasaan. Manusia mulai kehilangan pekerjaannya, kesenjangan dan kemiskinan muncul perlahan-lahan.

Revolusi industri selalu menciptakan angkatan pengangguran baru. Hal ini disebabkan karena dunia industri terus bergerak mengarah kepada big profits dengan efesiensi modal. Hal ini tentu mengakibatkan pada penghematan sumber daya, dan di sisi lain menuntut adanya peningkatan efektivitas kerja.

Revolusi Industri 4.0 adalah permulaan dari berakhirnya pekerjaan bagi manusia. Kita bisa melihat dari digantikannya tenaga kerja manusia dengan mesin, e-parking, penggunaan uang elektronik atau e-money, pengembangan AI (Artificial Intelegensia), bahkan di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah telah gencar-gencarnya membuat robot perang untuk memperkuat keamanan negaranya. Internet of think yang menjadi ciri dari Revolusi Industri 4.0 juga telah mulai dikembangkan dibanyak negara.

Perubahan zaman kian pasti, revolusi industri tidak bisa kita hindari. Lalu, masih adakah pekerjaan di masa depan untuk manusia? Bagaimana nasib buruh?

Era teknologi telah membuka segala kemungkinan di dunia ini. Termasuk kepunahan pekerjaan bagi manusia. Kecepatan dan kecanggihan adalah modal utama teknologi mendegradasi manusia dari peradaban kerja. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Mengembangkan Keterampilan

Mengembangkan keterampilan adalah salah satu upaya manusia keluar dari lubang kepunahan. Laurence Frank (2019), rektor Los Angeles Trade Technical College menyebut perlunya mengebangkan keterampilan baru. Ia menganggap bahwa mempelajari keterampilan baru adalah bagian penting dari ekonomi saat ini.

Frank mengatakan, para pekerja harus senantiasa mempelajari keterampilan baru untuk dapat mengikuti kemajuan teknologi. Sebab teknologi tidak pernah berhenti. Ia akan terus menerus berinovasi.

Maka, penting bagi kita untuk mulai belajar terhadap hal-hal baru di luar apa yang biasanya kita kerjakan. Memikirkan masa depan dengan kemampuan, bukan sekadar mengikuti kehendak tuan.

Humanisme

Selain mengembangkan keterampilan, hal lain yang perlu kita lakukan adalah menjaga humanisme. Di era teknologi yang tak kenal perasaan, humanisme penting untuk membedakan kita dengan teknologi.

Perasaan sayang, cinta, simpati, menghargai, menghormati adalah suara manusia yang tidak mungkin digantikan oleh teknologi. Kita sudah sepatutnya menjaganya, merawatnya di tengah-tengah era teknologi atau di era distrupsi saat ini.

Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang terdistrupsi, tidak hanya industri melainkan juga etika kita terhadap sesama manusia. Dalam pandangan Levinas yang etik hilang ketika kita sudah tidak lagi menemukan wajah manusia dalam pandangan kita. Maka Revolusi Industri 4.0 jangan sampai hanya mementingkan teknologi. Kita harus kembali melihat dasar-dasar humanitas: enequality, problem keadilan, problem sustainabelity.

Saya teringat dengan perdebatan yang dilakukan oleh Mark Zukenberg dengan Elon Musk soal Artificial Intelegensia: Elon Musk mengatakan bahwa segala proyek AI harus dihentikan karena akan menggantikan seluruh elemen manusia, sedangkan Mark mengatakan yang paling penting bukanlah apa yang akan menggantikan apa melainkan semua itu tergantung pada man behind the gun, siapa yang menggunakannya, humanity tidak akan pernah terganti.

Selamat Hari Buruh, 1 Mei 2019.

Penulis adalah Pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.
Rabu 1 Mei 2019 12:0 WIB
Bulan Suci Ramadhan dan Ibadah Menjaga Kesehatan Gambut
Bulan Suci Ramadhan dan Ibadah Menjaga Kesehatan Gambut
foto: ilustrasi
Oleh Abdul Rahman Ahdori
 
Beberapa hari lagi umat Muslim di Dunia akan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk meningkatkan keimanannya. Meski hisab sudah dilakukan pemerintah termasuk oleh Nahdlatul Ulama, Ramadhan 1440 hijriah diperkirakan jatuh pada Senin (6/4) mendatang akan tetapi kepastiannya masih menunggu hasil Rukyatul Hilal dan diputuskan memalui sidang Itsbat oleh Kementerian Agama RI. Di Indonesia, bulan Ramadhan bukan saja bulan yang diperintahkan Agama Islam untuk berpuasa, ada banyak peradaban baru yang mampu membuat setiap masyarakat merasa 'kangen' dengan suasana tersebut.

Tentu suasana itu adalah suasana yang religius dan positif, seperti tadarusan, buka bersama, bakti sosial, tarawih bersama, ngabuburit, dan beberapa peradaban yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Konon, Ramdhan di Indonesia memang berbeda dengan Ramadhan di negara negara lain, di Indonesia Ramadhan kentara dengan budaya dan tradisinya, sementara di negara lain Ramadhan hanya diisi dengan perintah yang tertuang dalam Qur'an saja. Tidak ada perluasan implementasi ibadah yang dilakukan masyarakat luar.

Tapi bukan itu yang akan dibahas penulis pada artikel ini, Ramadhan menjadi kesempatan bagi umat manusia untuk berbuat kebaikan dan keshalihan sosial. Ada 9 aktifitas yang ditekankan agama agar dilakukan seluruh umat Nabi Muhammad saw. Misalnya, berpuasa, tarawih, tadarus, sedekah Ramadhan, isi masjid, i'tikaf akhir Ramadhan, umrah Ramadhan, menghidupkan lailatul qadr, dan memperbanyak dzikir-istigfar.  Kesembilan amalan tersebut termasuk amalan atau ibadah paling utama yang diperintahkan Islam. Semuanya memiliki dalil yang kuat, tentu akan sangat panjang uraiannya jika diuraikan penulis dalam artikel singkat ini.

Ada satu sudut pandang yang menurut penulis belum banyak tersampaikan terkait dengan perintah agama dalam mengisi Ramadhan. Adalah menjaga lingkungan, menjaga lingkungan sudah sangat jelas kewajiban bagi umat manusia, lalu bagaimana kaitannya dengan bulan Ramadhan?, sebagai umat Muslim kita sadar bahwa Syariat Islam membolehkan umat manusia untuk mengolah lahan yang ada di muka bumi. Tetapi ada batasan-batasan tertentu yang harus diperhatikan umat manusia, batasan batasan itulah yang disebut menjaga lingkungan.

Sebagai bulan yang penuh Rahmat, bulan Ramadhan merupakan bulan yang tepat bagi masyarakat Indonesia untuk menjaga lingkungan dan menjaga alam Indonesia dari segala ancaman dan kemungkinan yang akan terjadi. Soal menjaga alam dan lingkungan, Imam Gazali dalam Kitabnya Al-Hikmah FI Makhluqatillahi telah banyak menguraikan. Ia menyebut bumi diciptakan Allah dalam keadaan seimbang, variasi karakter permukaannya memungkinkan keragaman hayati tumbuh dan menjadi sumber kehidupan masnusia. Wajar jika sampai detik ini tidak ditemukan satupun ulama Indonesia yang membolehkan merusak alam apapun alasannya.

Dalam buku Merintis Fiqih Lingkungan Hidup, Rais 'Aam PBNU 1991-1992 KH Ali Yafie menjabarkan sikap manusia atas alam yang tidak bertentangan dengan nilai nilai agama. Menurutnya, manusia tidak harus mengacak-acak ekosistem yang sudah diatur rapih oleh sang pencipta.

Pandangan itu, kata Kiai Alie, selaras dengan ayat Al-Qur'an yang menyatakan misi kenabian adalah membawa rahmat bagi alam semesta, artinya, bukan manusia semata yang patut kita muliakan alam dan seisinya harus diperhatikan. Bahkan dalam buku tersebut Kiai Alie menyebut tindakan dan aksi pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup (hifdul bi'ah) termasuk komponen primer dalam setiap langkah manusia (addaruriyat-al-kulliyat).

Atas dasar tersebut, tidak mengada-ngada kemudian jika penulis mengaitkan amaliah Ramadhan dengan menjaga alam Indonesia sebagai faktor penting yang harus menjadi bahan untuk disampaikan kepada seluruh umat Islam Dunia. Ramadhan adalah bulan yang diberikan oleh Allah untuk diisi dengan berbagai kebaikan. Sebab, pahala di bulan Ramadhan memiliki nilai yang berbeda dengan nilai yang ada pada hari biasa. Sebagai bulan untuk meningkatkan ibadah dan menjaga alam sebagai bagian dari ibadah adalah sesuatu yang tepat jika disimpulkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk menjaga alam dari berbagai ancaman yang akan dihadapi.

Masyarakat Indonesia tidak boleh lengah. Sebab, ada berbagai bencana alam di Indonesia akibat ulah manusia yang enggan menjaga alam. Jika menengok berbagai peristiwa penting yang pernah menimpa Indonesia seperti di Provinsi Riau, telah terjadi kebakaran hutan yang berdampak buruk untuk semua sektor termasuk sektor kesehatan masyarakatnya.

Dampak yang disebabkan kebakaran hutan di Provinsi Riau tahun 2015 lalu diantaranya selama lima bulan Riau diselimuti asap tebal yang mengandung zat berbahaya. Kedua, tingkat pertumbuhan PDB tergelincir 0,2 persen yang mengakibatkan laju pembangunan menurun karena gangguan kegiatan ekonomi. Dan 600 ribu orang menderita infeksi saluran pernafasan akut serta lebih dari 60 juta terkena polusi asap.

Sebagai kawasan tropis Indonesia diberikan berbagai anugerah yang patut disyukuri, Indonesia memiliki suasana lingkungan yang cenderung lebih sejuk. Waktu yang seimbang dan musim yang hanya kemarau-hujan menyebabkan kekayaan alam Indonesia semakin memberikan banyak manfaat untuk masyarakat. Atas anugerah itu, lahan gambut yang jarang ditemukan di negara luar, ada di Indonesia. Data dari Badan Restorasi Gambut sekitar 83 persen dari 27 juta hektare lahan gambut di Asia Tenggara berada di Indonesia. Antara lain tersebar di Pulau Sumatera, Papua, dan Kalimantan.

Setelah dibentuk pada 2016 silam, BRG terus menggali mengenai masalah gambut yang kerap menjadikan warga Indonesia hidup dalam kekhawatiran. Jika tidak salah mengolah gambut memiliki manfaat yang cukup baik untuk kehidupan manusia, lahan gambut menjaga kestabilan iklim dunia, untuk mencegah pemanasan global, setiap lapisan gambut dapat menyerap gas karbon. Lahan gambut juga dapat menyimpan 550 gigaton karbon, jumlah ini ternyata setara dengan 75 persen karbon yang ada di atmosfer atau dua kali jumlah karbon yang dikandung hutan non gambut.

Gambut di kawasan Indonesia berfungsi sebagai pintu air alami, padat akan serat. Selain itu, lahan gambut bisa menyerap air sebanyak lima belas kali bobot keringnya. Pada musim kemarau lahan gambut menjadi cadangan air, sedangkan pada musim hujan gambut menjadi penghalau aliran air sehingga tidak terjadi banjir.

Dalam beberapa kesempatan kunjungan ke kawasan Indonesia yang memiliki lahan gambut, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan pada BRG, Myra A Safitri menyatakan, kebakaran hutan di lahan gambut sulit untuk menanggulanginya karena tidak mudah dan memakan biaya yang sangat tinggi. Selain itu, asap pada hutan gambut yang dibakar memiliki gas berbahaya yaitu sianida, sehingga masyarakat tidak diperbolehkan membuka lahan dengan membakarnya karena akan membunuh masyarakat secara perlahan. Justru kata dia, lahan gambut akan banyak memberikan manfaat jika diolah dengan cara cara yang benar.  

"Jadi saatnya sekarang kita merenungkan kembali apa yang harus kita lakukan sebagai sebuah cara mengelola alam gambut yang benar berdasarkan perintah Al-Qur'an," kata Myrna saat melakukan pertemuan dengan masyarakat Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Apa yang bisa ditarik dari artikel ini, penulis meyakini masyarakat Indonesia sudah mengetahui banyak soal hikmah bulan Ramadhan. Namun, belum banyak yang tahu jika menjaga lingkungan merupakan masalah penting yang harus diperhatikan. Ramadhan adalah momentum umat manusia untuk mendakwahkan bahwa Indonesia harus selamat dari berbagai ancaman alam. Termasuk lahan gambut yang bisa memunculkan berbagai manfaat dan dampak buruk jika tidak menjadi fokus perhatian.

Penulis yakin semuanya akan bernilai ibadah, apalagi dilakukan di bulan Ramadhan, selamat menyambut Ramadhan dan menjaga lingkungan, selamat bersuka ria dan selamat menabung amal sebanyak banyaknya.


Penulis adalah Jurnalis NU Online-Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Selasa 30 April 2019 23:30 WIB
Pentingnya Kedewasaan dalam Berpolitik
Pentingnya Kedewasaan dalam Berpolitik
Ilustrasi
Oleh: Luluk Fadilah

Pemilu 2019 membuat polarisasi politik menjadi begitu kuat. Politik identitas menjadi alat untuk melakukan propaganda dalam menjaring dukungan. Bahkan, di media sosial perbedaan itu sangat kentara. Seperti pinang dibelah dua, media sosial seolah-olah menjadi rumah pertengkaran yang nyaman bagi kedua kubu dengan sebutannya masing-masing: 'cebong' dan 'kampret'.

Dalam konteks demokrasi yang hanya menghadirkan kedua pasangan calon, polarisasi memang menjadi hal yang lumrah. Namun, dengan catatan, polarisasi itu tidak melampaui batas. Artinya, keduanya mendukung dan mengampanyekan calonnya dengan batasan-batasan yang rasional, tidak saling serang dengan menebar fitnah dan menutup kebenaran yang ada di pihak lawannya.

Cara-cara berpikir oposisi biner memang harus dihindari. Sebagai sebuah kontestasi politik yang terbuka dan rahasia, sudah semestinya publik disajikan asupan-asupan positif. Sehingga publik bisa berpikir jernih dalam menentukan pilihannya—bukan malah terjerat pada polarisasi yang didasari kebencian pada yang lain.

Suka atau tidak, kontestasi politik hari ini bisa dibilang menyedihkan. Kenapa? Karena kita tidak melihat pertarungan ide yang ditawarkan untuk membangun bangsa lima tahun ke depan. Artinya, keduanya pun terjebak pada bagaimana menyerang lawan dengan berlomba-lomba menaikkan tagar yang saling menyudutkan.

Pertarungan semacam itu tentu saja tidak mendidik, karena kita hanya disajikan keburukan-keburukan yang diekspos oleh masing-masing. Hal semcam ini bisa dibilang kemunduran dalam berdemokrasi kita. Bahkan, yang sangat menyedihkan, aktor-aktor politik menjadi produsen hoaks terbesar. Sangat disayangkan lagi, kejadian tersebut berlanjut setelah pencoblosan. Elite politik justru memamerkan kegagapan dalam berdemokrasi. Wacana-wacana negatif digemborkan, seolah pemilu yang berjalan adalah kecurangan.

Harus diakui, di media sosial, baik pendukung 01 dan 02, sampai hari ini masih berada dalam uforia perang tagar. Suka atau tidak, ini memang menjengkelkan. Karena keduanya berlomba-lomba menghamba pada tagar dan viral. Akhirnya, media sosial pun menjadi tempat yang kejam untuk mengutarakan pendapat. Perdebatan kusir antara cebong dan kampret—yang berlanjut sampai saat ini—pada akhirnya menghilangkan esensi kritis dalam berpendapat. Keduanya pun membunuh nalar dengan cara masing-masing.

Dengan demikian, nilai-nilai kearifan yang kita miliki pun hilang, sopan santun menjadi barang langka dan caci maki menjadi satu-satu jurus handal. Perdebatan keduanya—yang kerap dibumbuhi cacian dan makian—tidak akan pernah selesai, pun tidak akan pernah memberikan nilai pembelajaran bagi masyarakat. Justru, perdebatan semacam itu hanya akan menjadi pemicu ketegangan dan membuat masyarakat terbawa pada pandangan benar dan salah semata.

Akhirnya, kontestasi politik hanya menjadi ladang bagaimana mencari kesalahan orang lain. Di sinilah pentingnya menempatkan perdamaian sebagai nilai. Apapun yang terjadi, perdamaian adalah hal asasi yang harus kita sepakati. Bukankah memang demikian, di atas politik adalah kemanusiaan. Artinya, sekeras apapun pertarungan politik, perdamaian bangsa di atas segalanya.

Dengan demikian, para elite politik harus menjadi energi positif untuk menyikapi hasil pemilu yang memang masih dalam penghitungan di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bagaimana pun, KPU adalah institusi resmi yang menentukan dan mengumumkan hasil pemilihan. Keputusan ini pun harus diterima, dan kalau pun ada kejanggalan yang tidak bisa diterima, jalan konstitusi yang sudah ditentukanlah yang harus ditempuhnya.

Oleh karenanya, seruan perdamaian dari elite politik tidak bisa ditawar lagi. Semua masyarakat harus dihimbau untuk menunggu hasil resmi dari KPU. Jangan sampai kedua pendukung dibirakan liar—baik di dunia maya maupun dunia nyata—dengan asumsi-asumsi sepihak yang hanya memicu ketegangan. Dengan kata lain, hari ini harus diajdikan momen merajut kembali persahabatan. Selepas pencoblosan, tidak ada lagi cebong dan kampret yang saling menyudutkan.

Ya, apapun hasilnya, siapa pun yang terpilih, itulah keputusan yang harus kita hormati bersama. Semua elemen pun harus saling bahu membahu untuk mengawal pemerintahan selanjutnya, didukung jika kebijakannya berpihak pada rakyat dan dikritik jika menyimpang dari janji-janji yang sudah diteriakkan. Inilah kedewasaan berpolitik yang semestinya dicontohkan oleh para elite kita.

Jika elite politik gagal menanamkan kepercayaan ini, maka demokrasi kita akan berjalan tanpa aturan. Jangan sampai caci maki menjadi tradisi bangsa ini dengan alasan menghakimi. Jangan sampai merundung menjadi hobi hanya karena perbedaan persepsi. Jangan sampai mengumpat dianggap cara yang paling terhormat. Dan, jangan sampai menghina dianggap sebagai satu-satunya cara yang paling mulia.

Singkatnya, membiarkan perturangan politik dengan mengesampingkan etika, sama halnya dengan membunuh bangsa secara perlahan. Terakhir, seketat apa pun peraturang politik, tetap saja 'nalar' jauh lebih penting dibanding 'tagar'. Karena sejatiya, kontestasi politik adalah menciptakan nilai perdamaian di balik perbedaan pilihan yang memang niscaya.

Penulis adalah Bendahara KOPRI PB PMII.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG