IMG-LOGO
Internasional

Di Forum PBB, China dan AS Cekcok soal Penahanan Muslim Uighur

Rabu 8 Mei 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Di Forum PBB, China dan AS Cekcok soal Penahanan Muslim Uighur
Muslim Uighur (AFP)
New York, NU Online
China dan Amerika Serikat (AS) terlibat adu mulut soal penahanan minoritas Muslim Uighur dalam sebuah forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dilaporkan China marah setelah AS menyerukan kepada negara-negara anggota PBB lainnya untuk tidak memberikan kursi kepada China dalam forum tersebut.

Diketahui, ini merupakan yang kedua kalinya China dan AS perang mulut secara terbuka dalam forum PBB ketika membahas tentang hak-hak Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya yang ditahan di kamp-kamp di Xinjiang.

Dikutip laman AFP, Rabu (8/9), pekan lalu AS mengundang Kepala Kongres Uighur Dunia, Dolkun Isa, dalam forum PBB. Pada kesempatan itu, Isa berbicara tentang orang pribumi. Tindakan AS itu tentu saja membuat China berang.

Tidak hanya itu, AS juga menyebut kalau apa yang dilakukan otoritas China terhadap etnis Uighur harus menjadi salah satu faktor yang menentukan keanggotaan dalam forum PBB yang ditugaskan untuk melindungi orang pribumi di seluruh dunia. 

"Amerika Serikat khawatir bahwa lebih dari 1 juta warga Uighur, etnis Kazakh, Kyrgyz dan minoritas muslim lainnya telah mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan dan kematian di kamp-kamp di Xinjiang, China," kata Diplomat AS untuk PBB, Courtney Nemoff dalam keterangannya.

Nemoff menyerukan agar aksi kekejaman terhadap Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang dihentikan. Dia juga mendorong negara-negara anggota PBB untuk memikirkan masalah itu di forum PBB.

Diplomat China menolak keras tuduhan Nemoff tersebut. Dia menyebut, apa yang dituduhkan Diplomat AS itu fitnah dan tidak beralasan. Diplomat China juga mengungkapkan kalau China tidak senang dan memberikan perlawanan tegas atas tuduhan AS tersebut.

Dalam forum PBB tersebut, Diplomat China menegaskan bahwa kamp-kamp di Xinjiang adalah pusat pelatihan kejuruan untuk menjauhkan warga dari ekstremisme dan terorisme. Kamp-kamp itu juga difungsikan untuk menyatukan warga di daerah yang rentan tersulut konflik.

Diplomat China juga menyatakan, Kepala Kongres Uighur Dunia Dolkun Isa yang diundang AS pekan lalu sudah ditetapkan sebagai teroris oleh pemerintah China. Diplomat China menuduh AS telah memanfaatkan Isa untuk menyerang dan memfitnah China.

Meski sempat ada perlawanan dari AS, kandidat China, Zhang Xiaoan, tetap terpilih secara aklamasi menjadi anggota forum PBB bersama dengan empat perwakilan dari Denmark dan Rusia, Burundi, dan Namibia. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Rabu 8 Mei 2019 17:30 WIB
Cerita ‘Begal Buka Puasa’ di Sudan
Cerita ‘Begal Buka Puasa’ di Sudan
Ilustrasi makanan buka puasa (Pinterest)
Jakarta, NU Online
Senja merapat ke langit Sudan saat orang-orang sudah berjajar di pinggir jalan dengan sesaji lengkap terhidang. Ya, begitulah pemandangan Sudan saban bulan Ramadhan tiba. Mereka bukan sedang berjualan sebagaimana para penjaja kolak di pinggir-pinggir jalan di Indonesia. Tidak. Mereka sengaja menghidangkan makanan di jalan guna mengajak para pengguna jalan berbuka puasa bersama.

Mereka menghentikan mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalanan. Para pengemudi tersebut kemudian diajak untuk menikmati hidangan buka puasa bersama. "Kalau orang Sudan setiap kali buka selalu nyetop mobil yang lewat dengan tujuan untuk diajak buka bersama," kata Imam Musthofa, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan, kepada NU Online, Rabu (8/5) malam.

Orang-orang, kata Imam, menyebut mereka ‘begal buka puasa’ karena cara yang digunakannya untuk mengajak orang lain berbuka puasa dengan menghentikan mobil. "Di sini kebanyakan orang menamainya 'begal buka puasa'," katanya. 

Imam menceritakan, acara buka puasa bersama di Sudan menjadi hal lumrah. Bukan hanya masjid dan lembaga tertentu yang mengadakan buka bersama, tetapi setiap keluarga juga menyediakannya, bahkan di jalan-jalan sekalipun.

Dia menambahkan, saat berbuka masyarakat Sudan menyediakan berbagai macam makanan seperti balakh (kurma yang dikeringkan) dan balela (terbuat dari kacang-kacangan). Sementara untuk minuman, ada karkade (rosela), khulmur (minuman khas sudan), dan ardib (asem).

"Mirip-mirip jamu tapi seger buat buka puasa," ujarnya, mendeskripsikan rasa khulmur.

Usai berbuka, lanjut Imam, mereka tidak langsung bergerak pulang. Mereka melanjutkan kegiatan bersama dengan shalat tarawih berjamaah. "Setelah berbuka mereka langsung shalat berjamaah. Kemudian tarawih," ucap alumnus Pondok Pesantren Darul Ulum, Margoyoso, Sumberjo, Lampung itu.

Berbeda dengan di Indonesia, masyarakat Sudan umumnya melaksanakan shalat tarawih delapan sampai 10 rakaat dalam satu malam. Jika dihitung dengan shalat witir, maka jumlahnya 11-13 rakaat.

"Ada beberapa masjid yang tarawihnya 10 (rakaat). Tapi kebanyakan itu delapan rakaat," pungkas mahasiswa jurusan Bahasa Arab Universitas Afrika, Sudan itu. (Syakir NF/Muchlishon)
Rabu 8 Mei 2019 0:30 WIB
Di Pakistan, Daging Burung Unta dan Rusa Disajikan untuk Sahur
Di Pakistan, Daging Burung Unta dan Rusa Disajikan untuk Sahur
Foto: Akhtar Soomro/Reuters
Karachi, NU Online
Umat Muslim Indonesia biasanya makan nasi dengan lauk daging sapi, kambing, ayam, atau tempe untuk santap makan sahur mereka. Di beberapa negara Islam lainnya, menu untuk sahur juga tidak jauh beda dengan yang dimakan Muslim Indonesia. Namun tidak dengan Muslim Pakistan. Mereka santap sahur dengan lauk yang tidak biasa, yaitu daging burung unta dan daging rusa. 

Sebuah lembaga amal di Kota Karachi, Pakistan, menyajikan daging burung unta sebagai santapan sahur bagi Muslim di sana. Sajian tersebut menjadi unik dan langka mengingat daging burung unta di sana masih jarang dimakan dan harganya yang begitu mahal.

Para relawan memasak daging burung unta tersebut di dalam kuali dan menyajikannya dengan kari buncis pada Selasa (6/5) waktu setempat. Total, ada 500 porsi makanan sahur dengan lauk daging burung unta untuk Muslim di sana.

"Warga kaya Pakistan memberi kami dukungan dan seperti tahun lalu, kami menyajikan makanan yang bahkan warga kelas menengah tak bisa membeli apalagi warga miskin," kata Zafar Abbas, sekretaris jenderal Yayasan Pengelolaan Bencana dan Kesejahteraan, dikutip Reuters, Selasa (7/5).

Tidak hanya daging burung unta, Abbas menyebutkan kalau pihak yayasan juga akan menyajikan daging rusa untuk santap makan sahur. Diketahui, daging rusa juga merupakan salah satu makanan mahal di negeri berpenduduk 208 juta tersebut.

Warga yang sudah menyantap daging burung unta menyambut baik rencana tersebut. Para warga, terutama masyarakat miskin, yang belum pernah memakan makanan mahal itu sebelumnya tentu akan sangat menikmati daging rusa.

“Saya merasa bahagia karena belum pernah makan daging burung unta. Apalagi untuk dua hari ke depan saya tak perlu mempersiapkan makanan," kata Mohammad Hussain, seorang supir truk. (Red: Muchlishon)
Selasa 7 Mei 2019 14:45 WIB
Perkuat Islam di Negeri Kincir Angin, PCINU Maroko Kirim Dai dan Imam
Perkuat Islam di Negeri Kincir Angin, PCINU Maroko Kirim Dai dan Imam
Delegasi PCINU Maroko siap terbang ke Belanda
Jakarta, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko menggelar Walimatus Safar (acara pelepasan) delegasi dai dan imam PCINU Maroko ke Belanda. Pengiriman dai dan imam ini merupakan program kerjasama tahunan antara PCINU Maroko dan PCINU Belanda.

Muhammad Iqbal sebagai salah satu delegasi mengatakan, kerjasama dengan PCINU Belanda dalam bentuk pengiriman delegasi dai dan imam pada Ramadhan kali ini memasuki tahun ketiga.

“Upaya ini dilakukan untuk memperkuat keislaman di Negeri Kincir Angin tersebut. Tahun ini, saya dikirim sebagai dai, dan Mukhtar Hanif Zamzami sebagai imam,” kata Iqbal kepada NU Online melalui telepon seluler, Senin (6/5) malam.

Iqbal mengungkapkan bahwa tugas menjadi dai tidaklah mudah baginya. Karena disebutkan dalam al-Qur’an والله يدعو إلى دار السلام.

“Sesungguhnya, perintah dakwah, yang melakukan pertama kali adalah Allah SWT," terang Iqbal dalam acara pelepasan delegasi dai dan imam PCINU Maroko yang digelar di Rabat, Ibukota Maroko, Kamis (2/5), waktu setempat. 

Delegasi yang dikirimkan tersebut, lanjut Iqbal, nantinya akan dipusatkan di masjid Al Hikmah, Den Haag, Belanda. Selain sebagai imam dan dai, delegasi tersebut juga akan fokus melakukan pengembangan umat Islam yang berada di sekitar wilayah itu. 

Untuk mempermudah jalannya kegiatan, Iqbal menyusun buku panduan seputar ibadah di bulan Ramadhan yang nantinya akan dibagikan pada masyarakat di sana. “Saya menyusun ini untuk mempermudah umat Islam di sana, mengingat di Belanda sangat sulit untuk mendapatkan informasi seputar keislaman,” paparnya.

Duta Besar untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania, Hasrul Azwar, dalam acara pelepasan menyampaikan agar agenda tersebut dapat terus berlanjut. Ia sangat bangga dengan pengiriman imam dan dai ini. Ia berharap agar kedua delegasi menjaga nama baik NU dan Mahasiswa Maroko di Belanda.

Dubes Hasrul berharap, PCINU Maroko pada kesempatan berikutnya tidak hanya mengirimkan delegasi ke Belanda. “Negara seperti Suriname yang 45 persen masyarakatnya adalah Jawa serta beberapa negara lain yang banyak terdapat muslim Indonesia juga perlu mendapat perhatian,” harapnya. (Nuri Farikhatin/Musthofa Asrori)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG