IMG-LOGO
Tokoh

Hj Siti Zubaidah Hasbiyallah Ulama Perempuan Betawi, Penulis Risalah Shalat Tarawih dan Shalat Id

Kamis 9 Mei 2019 11:35 WIB
Bagikan:
Hj Siti Zubaidah Hasbiyallah Ulama Perempuan Betawi, Penulis Risalah Shalat Tarawih dan Shalat Id
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Di Betawi juga di belahan bumi lainnya, ulama perempuan sangat sedikit jumlahnya yang dimunculkan oleh masyarakat. Salah satu dari yang sedikit ini adalah Nyai Hj Siti Zubaidah KH Hasbiyallah.

Lazimnya ulama, ia memiliki karya dalam bentuk risalah yang ditulisnya dalam aksara Arab Melayu dengan judul Kayfiyah Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain (Tata Cara Shalat Tarawih dan Shalat Idul Fithri serta Idul Adha). Sebelum lebih jauh membahas tentang risalah ini, perlu diketahui dulu mengenai sosok ulama perempuan Betawi ini.

Riwayat Hidup Nyai Siti Zubaidah
Nama lengkapnya Siti Zubaidah binti H Hasanuddin. Ia merupakan anak pertama dari sembilan saudara dari hasil perkawinan H Hasanuddin dan Hj Hindun. Ia lahir sekitar tahun 1941 atau tahun 1942 di Cipinang Kebembem, Jatinegara, Jakarta Timur.

Sejak kecil sampai menikah, ia  mengaji kitab kuning kepada KH Abdul Hadi, ulama Betawi di Cipinang Kebembem. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya adalah nahwu shorof, aqidah, akhlak dan fiqih. Di usia sekitar 21 tahun yang bertepatan dengan tahun 1962, ia dinikahi oleh KH Hasbiyallah, pendiri Perguruan Islam Al-Wathoniyah.

Dari hasil perkawinannya ini, ia dikarunia dua orang anak, putra dan putri, yaitu Hj Hilmah dan H Saifullah Hasbiyallah. Pada tahun 1973, ia menunaikan ibadah haji yang pertama. Kemudian ia menunaikan ibadah haji kembali pada tahun 1978, 1994, 1995, dan tahun 1996.

Ketinggian intensitasnya dalam pergi haji lebih didasarkan pada layanan bimbingan haji yang dipimpinnya pada tahun 1994. Pada tahun 1996, bimbingan hajinya berbadan hukum yayasan dengan nama KBIH Al-Istiqamah Az-Zubaidiyyah yang kini diteruskan oleh anaknya, KH Saifullah Hasbiyallah.

Walau sudah menikah dan kemudian mempunyai anak, ia tetap meneruskan pendidikan agama non-formalnya dengan mengaji kitab kuning kepada suaminya, KH Hasbiyallah. Ia merupakan tipe pembelajar yang tekun dan gigih. Hampir setiap hari, ia mengaji kitab kuning setiap selesai shalat Zuhur atau selesai shalat Ashar, tergantung keluangan waktu suaminya. Aktivitas mengaji ini terus dijalaninya sampai kitab-kitab yang dipelajarinya itu selesai atau khatam. Maka wajar jika ia sangat paham tentang isi Kitab Alfiyah Syarah Ibnu Malik, Bulughul Maram, dan Ihya `Ulumiddin.

Selain mengaji, ia juga turut mengajar di dua puluh dua majelis taklim ibu-ibu setiap bulannya. Majelis taklimnya tersebar di sekitar Klender, Tanah Koja, Kampung Bulak, Kampung Sumur, Rawa Badung, Kampung Jati, Cipinang, dan Pulo Kambing. Ia juga menjadi guru tetap di majelis taklim ibu-ibu di Kelurahan Jatinegara Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Selain mengajar keluar, ia juga dipercaya oleh suaminya untuk mengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Banatul Wathoniyah.

Santri-santrinya yang mondok dan yang pulang pergi (santri kalong) berasal dari sekitar Klender, Bogor, Cinere, Taman Mini. Kebanyakan santrinya berasal dari Bekasi. Pada tahun 1986, ia tidak lagi menerima santri yang mondok. Ia hanya menerima santri yang pulang pergi sampai ia wafat pada tahun 1996 tepatnya pada tanggal 22 Rabi`ul Tsani. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga besar KH Hasbiyallah di depan Masjid Jami` Al-Ma`mur, Klender.

Latar Belakang Penulisan Risalah
Salah satu motif utama Nyai Hj Siti Zubaidah KH Hasbiyallah menulis risalah Kayfiyah Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain adalah untuk membantu suaminya dalam mencarikan dana ketika Pondok Pesantren Putri Al-Banatul Wathoniyah dalam masa pembangunan. Cara yang dilakukannya ini untuk mencari dana pembangunan tersebut terbilang cukup unik bahkan terbilang cerdas pada masa itu.

Risalah ini kemudian dicetak dan diperbanyak kemudian disebarkan kepada jamaahnya dan jama`ah suaminya. Hasil penjualan risalah ini kemudian digunakan untuk membangun pondok pesantren putri tersebut. Sebenarnya, ia banyak menulis risalah, namun tidak sempat tercetak. Risalah-risalah yang masih berbentuk manuskrip itu kini hilang pada saat kediamaannya direnovasi untuk pelebaran jalan raya.

Isi Risalah Kaifiyah Sembahyang
Risalah Kayfiyah Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain memiliki tinggi 21,5 cm dan lebar 13, 5 cm; dicetak di kertas jenis HVS. Halamannya berjumlah 18 halaman dengan halaman muka sebagai halaman pertamanya.

Pada pengantar risalah di halaman kedua, ia menuliskan alasan lainnya tentang penulisan risalah ini, selain sebagai sarana untuk mencari dana pembangunan pondok pesantren, yaitu adanya kebangkitan atau dorongan hati untuk menyusun sebuah risalah tentang kayfiyat tarawih mengingat betapa pentingnya pada kaum Muslimin dan Muslimat agar menjadi tertib amal ibadah kita dan menjadi semangat di dalam mengerjakan ibadah tarawih.

Isi risalah ini terdiri atas tata cara pelaksanaan shalat tarawih dan tata cara shalat Idul Fithri dan shalat Idul Adha. Namun, isi risalah lebih didominasi oleh tata cara pelaksanaan shalat tarawih yang mencakup 14 halaman. Sedangkan tata cara shalat Idul Fithri dan shalat Idul Adha hanya mencakup tiga halaman. Pada tulisan ini, saya hanya menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan shalat tarawih dari risalah ini secara singkat.

Sebagai tata cara shalat tarawih, isi risalah ini sangat lengkap. Risalah ini ditulis dengan sistematis dan sangat rinci. Ia, seperti umumnya masyarakat Betawi, berpegang kepada Mazhab Syafi`i. Karenanya, risalah ini menjelaskan tentang tata cara shalat tarawih sebanyak 20 rakaat yang ditutup dengan shalat sunnah witir tiga rakaat.

Tata cara shalat tarawih yang pertama adalah bilal atau mubaligh mengucapkan seruan shalat. Imam kemudian berdiri. Bacaan pada shalat pertama di rakaat pertama adalah Surat At-Takatsur dan rakaat kedua Surat Al-Ikhlas.

Adapun bacaan shalat kedua sampai shalat kesepuluh, pada rakaat pertama surat yang dibaca mengikuti urutan surat sesudah Surat At-Takatsur, kecuali untuk rakaat kedua yang dibaca tetap Surat Al-Ikhlas.

Adapun shalat witir dilakukan sebanyak dua kali, yaitu shalat pertama berisi dua rakaat dan shalat kedua berisi satu rakaat. Surat yang dibaca pada rakaat pertama adalah Surat Al-A’la. Sedangkan surat yang dibaca pada rakaat kedua adalah Surat Al-Kafirun.

Setelah selasai, jamaah kemudian melakukan shalat witir sebanyak satu rakaat. Surat yang dibaca pada shalat witir setelah Surat Al-Fatihah ini adalah Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Nas. ***


Penulis adalah peneliti dan penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris Asosiasi Pesantren (RMI NU) DKI Jakarta.
Bagikan:
Kamis 25 April 2019 8:0 WIB
Kiai Chayyi, Aktivis NU Kencong Pegiat Literasi
Kiai Chayyi, Aktivis NU Kencong Pegiat Literasi
Kiai Chayyi
Oleh: Rijal Mumazziq Z 

Dalam buku lawas berjudul--kalau tak salah ingat--"Pekan Raja Buku 1954" terbitan Gunung Agung tahun 1954, yang saya baca sekilas di kiosnya Erwin Dian Rosyidi alias Erwin BukuKuno beberapa tahun lalu, tercatat nama-nama penerbit serta toko buku di Indonesia. Nama, sekilas riwayat hidup dan foto aktivis perbukuan juga dicantumkan. Beberapa toko buku di berbagai daerah juga disebutkan berikut nama pemilik dan alamatnya. 
Sebagai orang Jember, saya langsung mengecek entri Djember. Benar, di tahun 1954 itu, di Jember telah berdiri beberapa toko buku. Di antara yang tertera adalah toko buku di Kentjong Djember yang dikelola oleh Abd Chayyi.

Nama terakhir ini saat itu--saya kira--telah merintis diri menjadi aktivis Nahdlatul Ulama. Alumni Pesantren Tebuireng ini di kemudian hari juga menjadi anggota DPRD Jember  dan juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cabang Kencong mendampingi KH Djauhari Zawawi, Pengasuh Pesantren Assunniyah Kencong. Kiai Chayyi wafat kurang lebih 40 hari setelah wafatnya Kiai Djauhari, 1994. Duet pejuang hingga akhir hayat.

Kita bisa melihat, di kota kecamatan seperti Kencong, di era 1950-an, Kiai Chayyi yang beberapa tahun sebelumnya lulus dari Tebuireng sudah punya keinginan mendirikan toko buku. Jelas ini bukan usaha mudah, sebab selain akses transportasi dan telekomunikasi yang masih terbatas, minat baca dan gairah beli buku zaman itu masih minim. Tapi kendala ini tak menyurutkan langkahnya, terbukti, Toko Buku miliknya masuk katalog buku terbitan Gunung Agung ini. Sebuah upaya membumikan literasi di sebuah kota kecamatan di Jember.

Kiai Chayyi ini aktivis tulen. Puluhan tahun mengabdi di NU Kencong, sejak NU menjadi parpol hingga balik lagi menjadi Ormas. Dirinya adalah dokumentator dan organisator ulung. Meskipun, sayang sekali, banyak dokumentasi-arsip PCNU Kencong yang hilang dan rusak. Selain buku tipis "Sejarah Berdirinya NU Cabang Kencong" yang ditulis, ada beberapa notulensi rapat PCNU yang terselamatkan. Catatan ini ditulisnya dalam buku tulis tebal. Di antara yang masih bisa dibaca adalah hasil rapat penyusunan pengurus NU Cabang Kencong tahun 1969, notulensi rapat sebagai anggota DPRD Jember, poin-poin sambutan dan pengarahan, serta catatan rapat PCNU Kencong di kediaman KH Djauhari Zawawi, sekaligus pembentukan Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (tanggal rapat, 19 Januari 1984). Tulisan latin Kiai Chayyi sangat rapi. Halus, miring ke kanan,  dan klasik. Tulisan Arabnya juga tapi. Pakai khat gaya Riq'ah. Serapi tulisan latinnya. Sahabat saya, Y. Setiyo Hadi, pegiat Sejarah Jember, memperoleh buku catatan ini dari keluarga Kiai Chayyi.

Polarisasi Jagat Perbukuan
Di Hari Buku ini, bukan hanya sekilas profil Kiai Chayyi yang hendak saya tulis, melainkan polarisasi jagat perbukuan yang terjadi satu dasawarsa usai kemerdekaan. Di antaranya, penerbit dan toko buku dikuasai oleh orang Jawa, Arab, dan Tionghoa. Hal ini terlihat dari nama-nama yang termuat dalam entri pemilik penerbitan dan toko buku. Selain itu ada juga beberapa nama khas beraroma bule yang nangkring sebagai nama ‘pemilik’.

Hal ini mengindikasikan jaringan penerbit dan toko buku hanya berporos di kota besar. Etnis Jawa, Arab dan Tionghoa memiliki akses khusus di bidang penerbitan sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang. Karena itu ketika kemerdekaan berkumandang, secara infrastruktur mereka telah siap. Hal ini berbeda dengan suku lainnya yang harus pontang-panting mendirikan penerbitan, apalagi di kota kecil.

Selain itu, hal ihwal penerbitan di Komunitas Arab dan Tionghoa harap dimaklumi, karena selain memiliki previlis di Kampung Arab dan Pecinan, mereka juga menjaga adat, tradisi dan hubungan dengan negara leluhurnya melalui pasokan buku-buku impor yang telah berlangsung sejak berpuluh tahun sebelumnya. Sampai saat inipun, orang Arab masih menjadi bos beberapa penerbitan di kawasan Kampung Arab daerah Ampel, Surabaya. Yang paling kondang tentu Pak Haidar Bagir, bos Mizan, itu. Bagaimana dengan orang Tionghoa? Ini yang unik. Entah karena dikepras geraknya oleh Orde Baru atau karena faktor lain, orang Tionghoa jarang yang berkiprah di dunia penerbitan dan toko buku, kecuali banyak dari mereka yang menjadi bos percetakan buku (harap dibedakan: penerbitan dan percetakan).

Kalau orang Jawa masih banyak yang berkecimpung di jagat penerbitan dan jaringan toko buku. Urang Sunda punya kiprah penerbitan selama puluhan tahun melalui Penerbit Remaja RosdaKarya, misalnya. Madura beberapa saja (inipun ada di Yogyakarta. Edi Mulyono, bos Diva, itu di antaranya). Sedangkan orang Padang mengalami kebangkitan sejak medio 90-an dalam industri perbukuan melalui jejaring penerbit RajaGrafindo Persada.

Bila perputaran industri perbukuan semakin dinamis, kelak, persaingan di jagat penerbitan semakin ketat dengan kompetitor yang variatif: bukan hanya soal etnis, melainkan pada konteks corak keberagamaan di Indonesia. Wallahu A'lam

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong. Jember, Jawa Timur.

Selasa 23 April 2019 12:0 WIB
KH Zaini Dahlan: Pendiri dan Penggerak NU Tjabang Kentjong
KH Zaini Dahlan: Pendiri dan Penggerak NU Tjabang Kentjong
Oleh: Rijal Mumazziq Z 

Kencong ini kota kecamatan. Lazimnya berstatus Majelis Wakil Cabang (MWC) dalam struktur Nahdlatul Ulama. Tapi Kencong sudah menjadi Cabang Nahdlatul Ulama. Awalnya hanya Ranting (Kring), lalu menjadi Centraal Kring (semacam MWC), kemudian naik level jadi Consul (Cabang). Diresmikan menjadi Cabang oleh KH Ahmad Dahlan Achyad, Kebondalem, Surabaya, salah seorang Rais Syuriyah era Hofdbestuur NU generasi lama, pada 1938.

KH Zaini Dahlan adalah penebar bibit NU di Kencong. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Kaji Zen, Kiai Zen, juga Kiai Dahlan. Kiai Zen berasal dari Maskumambang, Gresik. Pekerjaannya sebagai tengkulak tembakau. Sambil keliling mencari tembakau kualitas unggul, beliau mengajak ngobrol bersama masyarakat soal agama. Sesekali promosi NU. Kemudian merintis pengajian keliling. Jamaah semakin membludak. Tak heran jika di awal 1930-an, NU cepat berkembang di Kawedanan Kencong ini.

Selain NU, di Kencong ada juga Muhammadiyah, PSII, PBI, dan seterusnya. Kontestasi juga berlangsung ketat. Masing-masing organisasi, selain punya basis kaderisasi kepemudaan juga memiliki lembaga pendidikan. Bentuknya madrasah, ada juga yang mendirikan semacam sekolah dasar. Jadilah Kencong di periode 1930an menjadi bukan sekadar kota industri, melainkan kota pergerakan. Komplit.

Kiai Zen, yang lincah dan punya jiwa solider tinggi ini, kemudian punya kawan militan. Pak Thohir namanya. Selain menguasai fiqh dasar, Pak Thohir juga punya kemampuan yang baik dalam hukum Belanda. Tak heran jika pada saat Pabrik Gula Goenoengsari Kencong memutuskan kontrak sewa tanah secara sepihak, masyarakat meminta Pak Thohir memperjuangkan nasib mereka.

Pak Thohir bahkan membawa kasus ini ke gubernuran. Dia berhadapan dengan Charles Van Der Plas, Gubernur Jawa Timur yang punya kemampuan bahasa Jawa dan Arab yang baik, serta memiliki pengetahuan yang lumayan soal hukum Islam. Maklum, nama terakhir ini kader didikan Snouck Hurgronje. Debat berlangsung alot. Singkat kata, kasus ini dimenangkan oleh para petani.

Kiai Zen ini punya semangat berorganisasi yang baik. Dia terlibat dalam perjuangan fisik bersenjata, lantas menjadi wakil NU di DPRD Jember tahun 1950-an. Salah seorang anaknya, Ghufron Dwipayana, atau yang kondang dengan sebutan G. Dwipayana, punya kemampuan artistik dengan menjadi produser film Pengkhianatan G-30-S/PKI dan memprakarsai produksi serial Si Unyil dan Aku Cinta Indonesia (ACI).

Di bawah kepengurusan Kiai Zen yang didampingi oleh para ulama seperti KH Djauhari Zawawi, KH Syarif, KH Syafawi Ahmad Basyir dan KH Kholiq, NU menjadi organisasi sosial keagamaan-politik yang progresif di era 1950-an di wilayah Jember Selatan.

Dalam catatan KH Abdul Chayyi (w. 1994), salah seorang aktivis NU Kencong, ada 3 alasan pendirian NU Kencong. Pertama, faktor organisasi. Yaitu tumbuhnya minat mengorganisir diri dari kaum Ahlussunah wal Jamaah. Kedua, kesamaan dan semangat berkompetisi dalam ranah fastabiqul khairat. Ketiga, perjuangan rakyat. Sebab, pada era 1930-an, rakyat butuh didampingi para aktivis politik yang bisa memperjuangan kepentingan mereka. Jadi, pendirian NU merupakan bagian dari perjuangan kerakyatan. Wallahu A'lam Bisshawab.

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong. Jember, Jawa Timur.


Selasa 16 April 2019 14:30 WIB
Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib
Kiai Syair, Ngaji Keliling dengan Manakib
KH Syair (kanan)
Setiap sore bakda Shalat Asar tanggal sembilan bulan Ruwah (Sya'ban), orang-orang berkumpul di tempat pemakaman Desa Plumbon, salah satu desa di kecamatan yang terkenal dengan empingnya, Limpung Batang. Mereka duduk seraya membaca Manakib Syech Abdul Qodir al-Jaelani, dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan Tahlil.

Begitu kira-kira gambaran suasana haul Kiai Syair. Sebenarnya Kiai Syair wafat di hari Sabtu Legi tanggal 1 di bulan Sya'ban bertepatan dengan bulan Mei 1988 M. Hanya saja haulnya dibarengkan dengan haflah akhirussanah pesantren yang dia dirikan, biasanya tanggal sembilan sampai sepuluh bulan Sya'ban.

Menurut beberapa sumber, Kiai Syair wafat setelah mengajar santri di pagi hari. Di sela-sela mengajar, Kiai Syair merasa dadanya sesak. Awalnya beliau berusaha melanjutkan, namun akhirnya beliau menyudahinya, setelah salah satu santrinya meminta beliau beristirahat. Setelah dituntun oleh santrinya dan diantar ke kamar, tak selang lama, Kiai Syair dipanggil Sang Pencipta.

Alasan dibacakan Manakib saat haul, di samping Surat Yasin dan Tahlil, karena sewaktu hidup, Kiai Syair gemar membaca dan menggunakan Manakib sebagai materi dakwahnya, sebagaimana penuturan Kiai Manab putra pertama Kiai Syair di sela-sela haul.

Banyak kesaksian perihal Kiai Syair dan Manakib ini. Penulis sendiri pernah berjumpa seorang kakek di sebuah  mushala. Ia bercerita tentang kenangan dakwah Kiai Syair dengan Manakib. Kegemaran Kiai Syair membaca Manakib ini masih dilestarikan oleh putra-putri Kiai Syair, para santri dan masyarakat. 

Misalnya, jamaah putri malam Ahad di rumah salah satu putri Kiai Syair yang rutin membaca Manakib. Lalu, biasanya ketika mau menempati sebuah bangunan baru, baik itu rumah atau toko tempat berdagang, juga dibacakan Manakib.

Saat Kiai Syair ngaji keliling dengan Manakib, wilayah Batang belum seperti sekarang. Dulu banyak daerah yang belum terjamah oleh listrik. Salah satu santri Kiai Syair era 60-an bercerita, kalau tiba di Limpung setelah matahari tenggelam, perlu nyali yang besar jika ingin meneruskan perjalanan ke pesantren milik Kiai Syair yang terletak di Desa Plumbon itu.

"Ada pembegal jalan yang ditakuti di area sungai petung, antara Limpung dan Plumbon," kenang Kiai Rofi'i santri asal Pemalang ini.

Santri sepuh ini juga cerita, dulu pernah menemani Kiai Syair memenuhi undangan pengajian. Kiai Sya'ir bersama beberapa santrinya berjalan dengan penerangan oncor (baca: obor). 

Sebagaimana keterangan dalam majalah Santri (terbit tahun 2016), biasanya undangan pengajian bakda Isya'. Malahan kadang satu malam ada beberapa daerah yang mengundang pengajian, akhirnya Kiai Syair berjalan dari satu pengajian ke pengajian lain, melewati hutan dan sungai bersama beberapa santri.

Perjalanan Mencari Ilmu

Kiai Syair lahir dari pasangan Salamah dan Habibah. Kiai Sya'ir merupakan putra pertama dari enam bersaudara. Ayah beliau adalah Lurah Desa Plumbon. Namun menurut suatu sumber, walau menjabat Lurah, ayah beliau tidak tergolong orang kaya.

Kiai Syair memulai pengembaraan intelektualnya di Pondok yang terletak di daerah Geringsing Batang di bawah bimbingan Kiai Munasib. Kemudian beliau meneruskan menyantri di Tegalsari Kendal di pesantren milik Kiai Masyud. Saat menyantri dengan Kiai Masyud, Kiai Syair turut menjadi tentara Hizbullah, di bawah komando Kiai Masyud. 

"Bapak dulu pernah gondrong dan menggunakan nama samaran, supaya tak terdeteksi oleh penjajah," kenang Kiai Manab dalam suatu pertemuan. 

Setelah dari Tegalsari, Kiai Syair nyantri di Gubugsari Kendal kepada Kiai Jamhuri Abdul Wahab. Dalam majalah Santri (terbit 2016) diceritakan, saat proses belajar, bekal beliau di bawah standar. Ada kisah yang relevan dalam konteks ini. 

Suatu ketika, karena sarung yang dimiliki hanya satu, saat mencuci sarungnya, Kiai Syair bersembunyi dalam air sambil mencari ikan seraya menunggu sarungnya kering. Pernah sarung Kiai Syair ini tertiup angin dan terbawa arus sungai, akhirnya Kiai Syair berendam sampai temannya datang membawakan pinjaman sarung.

Mendirikan Pesantren

Kira-kira tahun 1950 Kiai Syair kembali dari perantauan. Awalnya Kiai Syair mengaji bersama masyarakat di langgar (mushala) milik Kiai Ahmad Nahrawi. Sedikit demi sedikit jamaah Kiai Syair bertambah banyak. Akhirnya, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1951, Kiai Syair mendirikan pondok pesantren bernama TPI al-Hidayah.

Perihal nama TPI al-Hidayah ini, penulis belum lama mendengar langsung dari cerita Kiai Manab saat menyambut Ketua GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qumas, yang bersilaturahim ke keluarga pesantren (21/03/2019). 

Kata Kiai Manab, nama pesantren Plumbon adalah pemberian Kiai Bisri Mustofa Rembang yang merupakan kakek Gus Yaqut dan Kiai Maksum Lasem. "TPI itu dari Kiai Bisri, sedangkan al-Hidayah dari Kiai Maksum" jelas Kiai Manab.

Kiai Manab juga bercerita, Kiai Bisri sering datang ke rumah Kiai Syair. Selain mengisi pengajian, Kiai Bisri juga menyerahkan karya-karyanya kepada Kiai Syair, supaya di sebarkan (dijual) ke masyarakat.

Bersama istri Nyai Amanah binti Ahmad Nahrowi, Kiai Sya'ir mengembangkan pesantren. Yang awalnya hanya berupa langgar dan rumah panggung, kemudian beliau berdua mendirikan bangunan yang sampai sekarang menjadi aula jamaah. Pada tahun 1965 juga dibangun tempat untuk santri putri. 

Kiai Syair dan Nyai Amanah dikaruniai lima anak, yakni Kiai Abdul Manab, Nyai Siti Nasehah (Allahu yarhamha), Nyai Faridatul Bahiyah, Kiai Agus Musyafa' dan Kiai Sulton. Selain menuruskan perjuangan mengajar dan mendidik santri, kelima anak Kiai Syair dan Nyai Amanah ini juga aktif di Nahdlatul Ulama Kabupaten Batang.

Setelah Kiai Syair wafat, putra-putri beliau, dengan dukungan alumni dan masyarakat, menderikan Yayasan al-Syairiyyah. Sekarang yayasan ini menaungi beberapa lembaga pendidikan, antara lain Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) Takhassus. Pesantren pun berkembang, dari TPI al-Hidayah kemudian lahir Pesantren al-Ishlah, al-Banin, dan al-Amanah. 

Tahun ini haul Kiai Syair dan Nyai Amanah akan dilaksanakan tanggal 15 Sya'ban atau 21 April 2019. Mari kita kirim surat al-Fatihah, dan semoga Allah menuntun kita untuk meneladani dan meneruskan perjuangan beliau berdua.

Zaim Ahya, Kontributor NU Online, santri berbagai pesantren dan founder takselesai.com

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG