IMG-LOGO
Internasional

Pengalaman Shalat Tarawih di China: Tak Bisa Setiap Hari ke Masjid Karena Jarak

Kamis 9 Mei 2019 14:45 WIB
Bagikan:
Pengalaman Shalat Tarawih di China: Tak Bisa Setiap Hari ke Masjid Karena Jarak
Jakarta, NU Online
Musim panas di China telah tiba. Malam makin pendek, sementara siang kian panjang. Tentu puasa yang dijalani umat Islam di sana lebih lama dari pada di Indonesia. Sempitnya waktu setelah terbenamnya matahari itu membuat Sarah Hajar Mahmudah harus memutar otak mengatur waktu buka, tarawih, dan sahur. Perempuan asal Cianjur, Jawa Barat itu menyempatkan bertarawih di sebuah masjid di kota yang kini ia tinggali, Chongqing.

Untuk menuju masjid, ia harus menempuh jarak 40 menit dari kediamannya. “Jaraknya 40 menit naik kereta. Jam sembilan malam baru mulai tarawih, dan selesai sekitar jam setengah 10,” ceritanya kepada NU Online pada Rabu (8/5) malam.

Praktis, ia baru bisa menginjakkan kaki di rumahnya lagi sekitar pukul 11 malam. “Jadi harus kejar-kejaran dengan kereta yang hampir habis untuk pulang ke rumah,” kata perempuan yang pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat itu.

Karenanya, ia tidak bisa setiap hari shalat tarawih di masjid. Terkadang, ia mencukupkan diri untuk tarawih di rumah atau sekitarnya saja bersama rekan-rekan Ikatan Pelajar Muslim Indonesia (IPMI) Chongqing yang mengadakan tarawih berjamaah di apartemen. Sebagai informasi, jumlah rakaat shalat tarawih di China sama seperti umumnya di Indonesia, 23 rakaat.

“Sedihnya ya jadi gak bisa tiap hari tarawih di masjid karena kendala jarak itu,” ungkapnya.

Mengingat hal tersebut, ia betul-betul harus memanfaatkan waktu yang ada agar tetap stabil dalam menjalankan aktifitas kesehariannya dan perannya sebagai istri bagi suami yang tengah fokus studi di Universitas Chongqing.

“Jadi mungkin siangnya sesempat mungkin tidur siang sebentar dan malamnya diusahakan gak begadang,” pungkasnya. (Syakir NF/Muchlishon)
Bagikan:
Kamis 9 Mei 2019 23:45 WIB
Mengenal Mazraoui dan Ziyech, Pemain Ajax yang Buka Puasa di Tengah Pertandingan
Mengenal Mazraoui dan Ziyech, Pemain Ajax yang Buka Puasa di Tengah Pertandingan
Mazraoui mengonsumsi makanan gel untuk buka puasa di tengah laga Liga Champions melawan Tottenham. (BT Sport)
Jakarta, NU Online
Dua pemain Muslim Ajax Amsterdam, Noussair Mazraoui dan Hakim Ziyech, menjadi pusat perhatian di media sosial setelah ‘aksinya yang tidak biasa’ pada laga leg kedua semifinal Liga Champions di Johan Cruijff Arena, Kamis (9/5) dinihari WIB. Para penggemar sepakbola ramai-ramai memberikan apresiasi kepada mereka setelah keduanya tertangkap kamera sedang berbuka puasa di tengah-tengah pertandingan melawan Tottenham Hotspur tersebut. Diketahui, pertandingan tersebut digelar pada saat bulan Ramadhan. Bulan dimana umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa sehari penuh. 

Keduanya tampil sebagai starter pada laga tersebut. Selama pertandingan keduanya diketahui menjalankan ibadah puasa. Pada menit ke-22, Mazraoui dan Ziyech berlari ke pinggir lapangan untuk mengambil sebuah asupan berenergi. Mereka kemudian memasukkan asupan itu ke mulutnya sambil berjalan santai ke tengah lapangan.

Untuk mengetahui lebih mendalam tentang Noussair Mazraoui dan Hakim Ziyech, berikut uraian profil mereka berdua. 

Dikutip dari laman transfermarkt.co.uk, Mazraoui adalah pemain sepakbola professional berkebangsaan Maroko. Dia lahir di Leiderdorp Belanda pada 14 November 1997. Saat ini, dia bermain untuk klub Ajax Amsterdam dengan posisi sebagai bek tengah. Mazraoui gabung di klub berjuluk Die Amsterdammers itu pada Maret 2018 dan kontraknya akan berakhir pada Juni 2022 mendatang. 

Pemain dengan tinggi 1,83 meter itu sudah tampil 26 kali bersama Ajax di Liga Belanda Eredivisie musim 2018/2019. Selama membela Ajax di Eredivisie, Mazraoui membukukan satu gol, menyumbang dua assist, mendapatkan dua kartu kuning dan satu kartu merah. Sementara di Piala KNVB atau Piala Belanda, dia tampil tiga kali dengan masing-masing satu gol, assist, dan kartu kuning.

Di Liga Champions musim 2018/2019, Mazraoui bersama Ajax tampil sebanyak 11 kali. Dia mencatatkan dua gol dan tiga kartu kuning. Dia juga memiliki 4 caps dalam ajang internasional bersama timnas Maroko.

Kebersamaan Mazraoui dengan Ajax sebetulnya terjalin sudah sejak lama. Pada musim 2013/2014, dia membela Ajax Youth. Kemudian musim kompetisi 2014/2015 dia naik ke klub Ajax U-17. Dua tahun berikutnya, dia naik ke Ajax U-19. Pada musim 2017/2018, gabung dengan Ajax U-21. Karirnya terus naik hingga pada akhirnya pada 12 Maret 2018 Mazraoui bergabung dengan Ajax Amsterdam dan berlaga di Eredivisie.

Selama berkarir sebagai pesepakbola, Mazraoui sudah memenangkan banyak gelar. Diantaranya dua kali Dutch U-19 Champion bersama Ajax U-19 (2015 dan 2016), Dutch Second Tier Champion bersama Ajax U-21 (2018), dan Dutch Cup Winner bersama Ajax Amsterdam (2018/2019). Saat ini, nilai jual Mazraoui diperkirakan mencapai 10,80 juta pound sterling.

Sama seperti Mazraoui, Hakim Ziyech juga pemain sepakbola profesional berkebangsaan Maroko yang lahir di Belanda. Ziyech lahir di Dronten pada 19 Maret 1993. Dia berposisi sebagai pemain sayap kanan (right winger). Ziyech bergabung dengan Ajax Amsterdam pada Agustus 2016 dan kontraknya akan habis pada Juni 2021.

Di Liga Belanda Eredivisie 2018/2019, Ziyech sudah melakoni 27 laga dengan 16 gol, 15 assist, dan dua kartu kuning. Sebuah penampilan yang cemerlang musim ini bagi Ziyech. Di Liga Champions 2018/2019, dia mencatatkan 11 penampilan dan membukukan masing-masing tiga gol, assist, dan kartu kuning. 

Di Liga Belanda KNVB, Ziyech hanya tampil tiga kali dan menyumbangkan tiga assist. Sementara bersama dengan timnas Maroko, Ziyech tampil cukup apik. Dari 23 laga yang dilakoninya bersama timnas Maroko, dia sudah menbukukan 12 gol. 

Ada beberapa klub yang sudah pernah dibela Ziyech. Diantaranya Dronten Youth (2004-2008), Heerenveen Youth (2008-2010), Heerenveen U-17 (2010-2012), Heerenveen U-19 (2012-2014), Heerenveen (2014/2015), Twente (2016), dan Ajax (2016-saat ini).

Ziyech sudah memenengi dua trofi sepanjang karirnya sebagai pesepakbola, yaitu U-21 Eredivisie Champion bersama sc Heerenveen/Emmen II (2013) dan Dutch Cup Winner bersama Ajax (2018). Di samping itu, dia juga meraih dua penghargaan pribadi; Footballer of The Year Ajax (2018) dan Footballer of The Year Belanda (2018).

Ziyech menjadi salah satu pemain kunci Ajax musim ini. Dia tampil apik dan ciamik baik di Liga Belanda Eredivisie maupun Liga Champions. Maka wajar jika beberapa klub raksasa Eropa seperti Bayern Munich dan Borussia Dortmund tertarik untuk menyewa jasa pemain denga tinggi badan 1,81 meter itu. Saat ini, harga Ziyech ditaksir mencapai 31,50 juta pound sterling. (Red: Muchlishon)
Kamis 9 Mei 2019 20:30 WIB
Santri Berpeluang dapat Beasiswa ke Tiongkok
Santri Berpeluang dapat Beasiswa ke Tiongkok
Mahasiswa Indonesia di Tiongkok aktif di kepengurusan PCINU (foto: Imron Hamid)
Jakarta, NU Online
Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiau Qian berjanji akan membantu para santri untuk dapat menempuh studi negara Tiongkok. 

"Kami akan terus menyediakan beasiswa Tiongkok," ujarnya saat memberikan sambutan pada kunjungan santunan yatim dan buka puasa bersama di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (9/5).

Sebelumnya, ia juga telah membantu beberapa santri melanjutkan studinya di negara yang kini dipimpin oleh Presiden Xi Jinping itu.

Xiau membuka diri bagi santri dan warga Nahdliyin yang ingin studi di negaranya. "Bagi anak-anak yang ingin kuliah di sana, kami bersedia memberikan bantuan," katanya.

Bantuan beasiswa bagi santri, menurutnya, guna menjaga hubungan baik dengan masyarakat Indonesia dan Muslim sebagai penduduk terbesar di negeri Zamrud Khatulistiwa ini.

"Jika berminat bisa menghubungi kami supaya hubungan dengan Tiongkok bisa tetap terwujud," katanya.

Ia menyebutkan Nahdlatul Ulama merupakan organisasi masyarakat Islam terbesar dan memiliki pengaruh besar.

Perlu diketahui PBNU dan Tiongkok mengirimkan mahasiswa dari Indonesia untuk kuliah S2 dan S3 di Tiongkok. Tahun 2019 ini kerja sama tersebut memasuki tahun kedua. Di Tiongkok, mahasiswa yang umumnya santri tersebar di beberapa kampus. Mereka juga aktif di kepengurusan PCINU Tiongkok. Langkah ini sebagai salah satu upaya yang tepat untuk mengembangkan ajaran Islam ramah di dunia internasional. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Kamis 9 Mei 2019 19:15 WIB
Cerita tentang Masjid di Tiongkok Berusia Seribu Tahun
Cerita tentang Masjid di Tiongkok Berusia Seribu Tahun
Kiai Said dan Dubes Tiongkok, Xiau Qian.
Jakarta, NU Online
Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiau Qian menceritakan masjid yang ada di kampung halamannya. Cerita itu disampaikannya pada acara santunan anak yatim dan buka puasa bersama di Pesantren Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, Kamis (9/5) petang.

Dubes Xiau Qian mengatakan ingi kembali mengundang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj ke negaranya. Xiau berharap Kiai Said dapat mengunjungi kampung halamannya mengingat di dekat rumah tempat tinggalnya terdapat masjid yang sudah berusia lebih dari 1000 tahun.

"Saya juga ingin menyampaikan undangan untuk berkunjung kelima kali," ujar Dubes Xiau Qian saat memberikan sambutan di hadapan Kiai Said dan jajaran PBNU serta para santri.

"Bisa lihat masjid di kampung saya yang berusia lebih dari 1000 tahun itu," katanya.

Masjid tersebut, katanya, terletak persis di samping tempat tinggalnya saat kecil dahulu. "Persis samping masjid itu adalah rumah saya, tempat saya tinggal waktu kecil," ujarnya.

Saat ini, jalan di depan masjid tengah dilakukan pembangunan guna memudahkan orang-orang datang ke tempat tersebut. "Tahun depan saya kira pembangunannya sudah selesai," katanya.

Kiai Said dan rombongan PBNU beberapa waktu lalu baru pulang dari negeri Tirai Bambu itu. Mereka berkunjung ke dua provinsi di sana untuk melihat perkembangan masyarakat Cina dan Islam di sana. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG