IMG-LOGO
Opini

Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup

Senin 13 Mei 2019 0:0 WIB
Bagikan:
Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup
Ilustrasi
Oleh Wahyu Eka Setyawan 

Bumi semakin panas, di beberapa publikasi ilmiah mencatatkan peningkatan suhu hampir mencapai 1 derajat celcius. Maka tidak heran, jika di beberapa titik wilayah suhu bisa mencapai 29 hingga 30 derajat celcius. Belum lagi di kota-kota besar yang selain panas karena cuaca terik, juga diakibatkan oleh polusi yang semakin meningkat tajam. Hal ini menjadi isu bersama, mengenai peningkatan suhu di bumi dengan aneka dampaknya bagi kehidupan manusia.

Salah satu dampak yang nyata akibat peningkatan suhu ialah terganggunya ibadah puasa. Peningkatan suhu ekstrem memaksa tubuh untuk menyesuaikan, tak jarang juga yang gagal beradaptasi dengan ekstremnya suhu. Salah satu dampaknya ialah pusing-pusing, lemas dan kurang fokus. 

Hal ini diakibatkan oleh cuaca panas yang menguras habis energi tubuh, salah satu yang umum ditemui yakni dehidrasi. Tubuh manusia mayoritas adalah cairan, peningkatan suhu ekstrem memaksa cairan di tubuh keluar dengan cepat, melalui pori-pori kulit atau saluran pembuangan.

Hal ini menjadi persoalan serius, yang mana ibadah puasa menuntut kita untuk tidak makan dan minum selama 12 jam lebih. Dengan situasi dan kondisi inilah mengakibatkan kekhusukan ibadah puasa terganggu. Bukan hanya itu saja, di tengah bumi yang tidak baik-baik saja, suhu yang meningkat tajam ternyata bukan satu-satunya ancaman. Masih ada ancaman kekeringan hingga memburuknya kualitas udara. 

Tidak hanya ibadah puasa saja yang terancam, namun ibadah lainnya juga sangat riskan. Seperti ketika kita shalat butuh air bersih, ketika berdzikir membutuhkan udara yang segar dan hal-hal lain yang mendekatkan diri dengan sang khaliq.

Maka dari itu, esensi sesungguhnya ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar. Meningkatkan jumlah kunjungan ke masjid untuk berjamaah, hingga buka dan sahur bersama. Bahkan melampaui tren kekinian yakni sekedar update status di media sosial. 

Namun, ibadah puasa ramadhan secara hakikat merupakan ajakan untuk merefleksikan diri terkait apa yang telah kita perbuat. Mengajak kita untuk berlaku adil serta melawan hawa nafsu, ini sangat relasional dengan upaya pencegahan dari tindakan-tindakan yang berpotensi merusak.

Puasa merupakan wujud transendensi, mencoba berinteraksi dengan sang khaliq. Di dalam aspek teologi Islam mengajak setiap insan untuk kembali ke rabb. Menunjukkan suatu sisi hubungan vertikal, antara makhluk dengan sang khaliq. Selain itu, puasa juga manifestasi dari sisi ekuilibrium. Titik di mana manusia harus egaliter, duduk setara dengan manusia dan makhluk lain baik biotik ataupun abiotik. 

Secara horizontal hubungan tersebut terbagi menjadi dua yakni hablum minannas dan hablum minal alam. Dalam konteks hablum minannas, puasa ramadhan sejatinya mengajak kita untuk memperbaiki hubungan sosial, dalam hal ini termanifestasi dalam shalat tarawih dan aneka kegiatan yang bersifat kolektif. 

Selain itu, ada hablum minal alam yakni mengajak manusia untuk menjaga dan melestarikan alamnya. Dalam konteks ini puasa ialah menahan hawa nafsu, menjaga diri agar tidak berbuat kerusakan dan senantiasa menunjukan sisi rehabilitatif sebagai salah satu manifestasi memperbaiki diri.

Dari konteks ini puasa sejatinya mengajak manusia untuk lebih baik, menahan hawa nafsu agar tidak merusak, memperbaiki diri agar bisa menjaga dan merawat. Karena puasa sendiri merupakan ibadah reflektif, baik secara horizontal maupun vertikal. 

Tentu, hal ini dapat dimaknai jika salah satu cara untuk menanggulangi bencana alam ialah dengan istiqamah berbuat positif untuk bumi. Seperti berupaya untuk menahan, dan menghentikan peningkatan suhu di bumi yang mengakibatkan perubahan iklim.

Maka puasa ramadhan adalah cara jitu untuk merefleksikan diri, hingga masuk ke hakikat dari beribadah dan menjalankan perintah dari Allah SWT. Salah satunya ialah menjaga lingkungan hidup, serta serius dalam melawan perubahan iklim.

Perubahan iklim, rusaknya lingkungan hidup hari ini, merupakan akibat dari rakusnya manusia, perubahan perilaku dari manfaat ke mudharat, dari yang menggunakan sesuai kebutuhan menjadi perilaku boros menjurus ke ghuluw. Semua itu merupakan implikasi dari keserakahan manusia, mereka memakan apapun demi keuntungannya sendiri. Tanpa peduli orang lain dan kontinuitas peradaban manusia.
 
Puasa ramadhan merupakan sebuah cara progresif, karena memiliki syarat materil untuk menjadi sebuah gerakan etis. Etika lingkungan hidup dapat dikonstruksikan melalui puasa ramadhan, sebagai satu langkah konkrit dalam menghadapi perubahan iklim. 


Penulis adalah kontributor NU Online
Tags:
Bagikan:
Ahad 12 Mei 2019 8:0 WIB
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 2)
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 2)
Oleh: Asmawi Mahfudz

Kelanjutan dari hikmah puasa Ramadhan adalah menjadi pribadi yang sabar untuk menjauhi larangan-larangan Allah (munkarat). Di sekitar kita mungkin banyak meluapkan kegembiraan dengan melampauhi batasan atau larangan Allah. Misalnya setelah kita menang, dalam alam demokrasi ini melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh agama, negara, atau bertentangan dengan adat kebiasaan kita. Sabar tipe menghindari perkara yang tidak baik ini biasanya lebih berat dibanding dengan sabar menjalankan ketaatan, tetapi yang dapat mengukur adalah invidu masing-masing dan sesuai dengan konteks kehidupannya. Orang kadang bisa untuk menjalankan ketaatan secara istiqomah, tetapi belum tentu dapat menghindari larangan-larangan yang diingkari oleh agama dan kemanusiaan kita.

Maka tidak heran kadang orang rajin untuk shalat, dermawan, sudah haji, tetapi kadang menebar fitnah, hoaks, adu domba, caci maki kepada sesama, menebar aib atau kejelekan orang lain, atau bahkan karena terlanjut mendapat atribut status sosial yang tingi di masyakat (borju). Akhirnya merasa yang paling dekat dengan Allah, paling berhak untuk masuk surga, dan lain sebagainya. Untuk itu dalam suasana rutinitas demokrasi tahun ini, penting sekali kita aktualisasikan sabar dalam menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. 

Selanjutnya adalah sabar atas musibah yang menimpa kita. Musibah menurut Islam mempunyai pengertian tersendiri. Musibah itu tidak selamanya dapat diartikan sebagai tanda-tanda murka Allah atau keburukan. Demikian pula dengan nikmat, tidak selamanya sebagai pertanda mendapat ridha Allah. Tetapi, bahagia dan musibah kedua-duanya merupakan hukum Allah terhadap makhluk-Nya. Allah bermaksud menguji hamba-Nya yang beriman dengan kebaikan dan keburukan, agar dengan ujian ini Allah dapat mengetahui sampai di mana kebenaran imannya. Sebagaimana ayat Al-Qur’an "Wa basyir al-shabirin, alladhina idha ashabathum mushibat qalu inna lillahi wa inna ilayhi rajiun. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata sesungguhnya ini adalah milik allah dan sesungguhnya semuanya kembali kepada-Nya.

Menurut penulis, kandungan ayat ini adalah kegembiraan, ketidaksukaan, kekecewaan dalam kehidupan ini adalah kehendak Allah. Sebagai orang yang beriman bisakah kita menerima kekecewaan, kegembiraan sebagai perwujudan kehendak Allah. Tentu itu bukan hal yang mudah bagi kita. Sebagaimana manusia kadang kita bisa menerima kemenangan, kesenangan, kegembiraan dalam kehidupan kita, tetapi sulit untuk menerima kekecewaan, keburukan, kekalahan, menimpa kepada kita.

Maka semangat sabar pada tipe yang ketiga ini juga sesuatu yang sangat penting dalam kontestasi pemilu Indonesia tahun ini. Karena kita semua adalah orang yang beriman, meyakini keyakinan Agama masing-masing, tentunya segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan orang yang beriman harus selaras dengan apa yang diyakininya selama ini, baik kita sebagai pemenang kontestasi maupun sebagai pihak yang kalah. Atau jawaban yang lain dalam kontestasi ini adalah semua yang terjadi inilah yang terbaik untuk hamba Allah menurut Allah, bukan menurut hamba-Nya. Karena kita sebagai hamba Allah tidak mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita sendiri. Mungkin kemenangan itu yang terbaik dan mungkin juga kekalahan itu yang terbaik.   

Tipe sabar yang lain menurut Al-Ghazali adalah sabar atas ketentuan (takdir) Allah. Sebagai sabar kelompok sebelumnya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah berdasarkan ketentuan Allah Rabul Izzati. Manusia sebagai hamba diberi hak untuk berikhtiar sesuai dengan kemauannya, tetapi akhir dari semua usaha manusia tetap akan kembali kepada kuasa Allah. Kita diberi hak untuk berpartisipasi dalam alam demokrasi ini sesuai dengan perannya masing-masing. Semua dari kita berperan sebagai pemilih dalam pemilu, sebagaian sebagai calon legislatif, sebagian sebagai panitia pemilu, sebagian sebagai pengamat, sebagian sebagai peneliti, sebagian sebagai calon pemimpin dalam tingkatannya. Tetapi, seluruh kita tetap bermuara kepada keputusan Tuhan yang Maha Esa, Allah Swt. 

Dalam sebuah dawuh-nya, Kanjeng Nabi Saw bersabda "Man Lam Yardla bi Qadla’i, fa al-Yathlub Rabban Siwaya." Barang siapa tidak ridla dengan ketentuan-ketentuan Allah maka carilah Tuhan selain Allah. Artinya, keputusan atau takdir dalam ajaran agama Tauhid menempati posisi pokok dalam keimanan ajaran Tauhid. Maka sikap sabar dalam menerima keputusan Allah adalah sebuah akhlak yang mulia bagi hamba Allah di sisi-Nya.
 
Sejak awal, rutinitas lima tahunan pesta demokrasi ini sudah dirancang sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang mempunyai kewenangan, sesuai dengan perannya. Sebagian mungkin sesuai dengan keinginan seseorang, tetapi sebagian mungkin mengecewakan. Sebagian mungkin diposisikan sebagai orang yang kalah dalam kontestasi, tetapi sebagian di posisi sebagai pemenangnya. Sebagai posisi apa pun kita, baik sebagai pemenang atau yang kalah, jika dikembalikan kepada teologi ketuhanan kita, maka sebenarnya semuanya telah berposisi sebagai hamba Allah yang dalam satu muara yaitu kehendak Allah.

Sikap kerelaan atau sabar untuk mengembalikan kepada yang berkehendak, itulah yang harus kita tanamkan dalam sikap kita sekarang ini. Dan, sikap sabar dan rela ini harus menjadi sifat bagi orang yang beriman, dengan menjadikannya dasar utama dalam melakukan perbuatannya. Implikasinya dalam demokrasi ini semuanya akan menjadi pemenang dalam kacamata teologi kita. Hasil dari pemilu kita yang sesuai dengan keinginan seseorang, itu merupakan kehendak Tuhan disebut sebagai pemenang. Juga, yang tidak sesuai dengan keinginan dan kepentingan kita disebut sebagai pemenang pula. 

Demikianlah sebenarnya teologi sabar sebagai hikmah dari Ramadhan kita dalam berdemokrasi, apalagi dalam konstitusi bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya, kehidupan berbangsa dan bernegara kita di Bumi Nusantara ini jelas mempunyai landasan teologis yang jelas, bahwa landasan utamanya adalah berdimensi Ketuhanan (Ilahiyah). Baik dari sisi kehidupan ekonomi, politik, sosial, seni budaya, pendidikan, religius (keagamaan), olahraga, pengelolaan hutan, kelautan, pengelolaan aset bangsa, administrasi, dan lain sebagainya. Semuanya di dasari oleh teologi yang meramu antara aspek ketuhanan dan aspek kemanusiaan.

Semoga bermanfaat.     

Penulis adalah pengajar IAIN Tulungagung dan Mustasyar PCNU Blitar, Jawa Timur.


Ahad 12 Mei 2019 4:15 WIB
Bagaimana Memilih Teman di Era Medsos?
Bagaimana Memilih Teman di Era Medsos?
Ilustrasi (Ist.)

Oleh: Muhammad Nur Hayid

Teman adalah kebutuhan yang tak bisa kita tolak. Karena berteman itu merupakan wujud nyata kita ini mahluk sosial. Orang yang tak berteman tidak akan pernah menjadi manusia seutuhnya. Lalu, Bagaimana cara berteman dalam Islam?

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali membagi manusia dalam tiga kategori.

Pertama, manusia seperti makanan. Kita tidak mungkin bisa melepaskan diri dari makanan selama kita masih bernyawa. Artinya, sebagai makhluk sosial, tidak tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Maka, berakhlaklah yang baik agar kita bisa mendapatkan asupan makanan yang baik melalui mua'syaroh kita dengan akhlak yang mulia.

Kedua, manusia seperti obat. Kadang kita butuh saat kita sakit dan kadang kita harus menjauhi obat agar tidak over dosis. Dalam konteks ini, pastikan jangan salah memilih teman sebagaimana jangan salah mendiagnosa penyakit dan akhirnya salah minum obat.

Kalau kita salah memilih teman sama dengan salah minum obat, bukannya badan sehat yang kita rasakan, tetapi justru bisa keracunan. Begitu juga saat kita salah memilih sahabat atau teman, bukannya kemaslahatan dan kemanfaatan yang kita peroleh, tetapi justru madharat dan bahaya yang akan kita rasakan.

Ketiga, manusia seperti penyakit. Jauhilah tipe yang ketiga ini. Maka tidak ada pilihan, jangan cari manusia model ini sebagai kawan atau teman, sebab selain pasti akan merusak diri kita, pasti juga akan menularkan keburukannya kepada orang lain. Sebagaimana penyakit yang akan menularkan kepada orang lain kalau kita tidak menjauhi dan mencegahnya.

Namun tipe ketiga ini tidak bisa kita hindari karena itu bentuk ujian dari Allah SWT. Sebagaimana penyakit juga tidak bisa kita hindari pasti akan ada untuk menguji kita sebagai manusia yang mengaku beriman kepada Allah.

Hanya saja caranya, kalau kita tahu dia ini penyakit, maka janganlah didekati, jauhi dan jika bisa dibasmi. Bukan manusianya yang dibasmi, tapi akhlak dan prilakunya yang menjadi penyakit menular itulah yang harus kita basmi.

Di era medsos yang sangat terbuka ini, kita bisa mencari sendiri tipologi manusia yang disebutkan Imam Ghazali di atas. Pilihan tinggal kita sendiri, mau memilih sahabat dan teman yang kita butuh setiap saat karena mampu membawa kekuatan dan energi yang baik, atau mau memilih penyakit yang akan menggerogoti diri kita hingga tumbang tanpa manfaat hidup di atas muka bumi ini.

Tentu orang yang waras akan memilih yang pertama dibanding yang ketiga. Dan golongan orang-orang yang pertama itu adalah golongan orang-orang yang shaleh, alim, tawadhu', penuh rahmah dan cinta yang jauh dari sikap sombong, benere dewe alias maunya menang sendiri.

Bukan model orang-orang yang suka mencaci maki dan menebar hoaks, suka menghina dan merendahkan orang lain karena kesombongannya. Bukan pula model orang yang suka membid'ahkan orang lain, bahkan berani mengkafirkan orang lain. Karena golongan ini adalah golongan manusia yang ketiga yaitu penyakit menular yang sangat berbahaya dan harus diberantas agar masyarakat menjadi sehat.

Nabi Isa AS pernah ditanya soal bagaimana beliau belajar adab, tata krama dan akhlak yang mulia? Beliau menjawab, tidak pernah belajar dari siapa pun dan diajari oleh seseorang pun. Tetapi Nabi Isa belajar akhlak dan adab itu dari bodohnya orang-bodoh yang tidak mau memperbaiki diri. Lalu beliau menjauhi sikap para juhala itu alias tak mau mencontohnya.

Dengan menghindari sikap yang dibenci orang lain, dan tidak meniru kelakuan orang-orang bodoh itu, sebenarnya cara belajar adab yang paling sederhana dan gampang, demikian kata Imam Ghozali. Sekarang bagaimana dengan kita?

Masihkan kita ikuti prilaku orang-orang yang tak paham agama lalu menyerukan jihad dan meniru prilaku orang-orang bodoh yang setiap saat menghina siapapun yang berbeda dengan dirinya? Jawabannya adalah, itulah potret kita sesungguhnya. Menjadi bodoh bersama juhala atau keluar dari mereka menjadi orang-orang yang waras.

Saatnya kita jadikan medsos kita medsos yang sehat dan waras. Jangan jadikan medsos kita sebagai alat penebar fitnah, hoaks dan adu domba. Orang jawa bilang, becik ketitik olo ketoro, apa yang kita tulis akan jadi cacatan pribadi kita di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak saat kita mempertanggungjawabkan semua itu dihadapan sang khaliq.

Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU

Jumat 10 Mei 2019 12:0 WIB
Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa
Mewujudkan Nilai Ilahiyah dalam Berpuasa
Ilustrasi (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Ada ungkapan menarik yang berbunyi, “Manusia jangan hanya sebatas beragama, tetapi juga harus bertuhan”. Karena praktik beragama bisa dilakukan oleh siapa pun dengan hanya mengedepankan simbol-simbol agama. Sedangkan orang yang bertuhan sudah jelas beragama karena agama yang dipeluknya tidak meninggalkan nilai-nilai ketuhanan atau ilahiyah.

Simbol agama bisa menipu siapa saja karena mencampakkan substansi agama. Fenomena itu terlihat jelas ketika ada sekelompok orang yang secara artifisial sangat agamis, tetapi akhlak dan perkataannya jauh dari nilai-nilai universal agama yang semestinya menjunjung tinggi kasih sayang terhadap seluruh manusia.

Manusia beragama hendaknya sejurus dengan upaya mewujudkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam sendiri diajarkan banyak syariat sebagai wujud atau manifestasi nilai-nilai ketuhanan, salah satunya ibadah puasa. Syariat puasa tidak hanya bertujuan mewujudkan keshalihan spiritual, tetapi keshalihan sosial tanpa memandang keyakinan dan golongan tertentu. Karena muara agama ialah bagaimana mewujudkan keseimbangan dan perdamaian kehidupan antarmanusia.

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Dalam hal ini, kekuasaan Allah baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) bisa menjadi washilah bagi manusia merenungi sekaligus memanfestasikan sifat-sifat Allah.

Menurut ulama tafsir Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan, Takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu  makan, minum, dan hubungan seks Allah SWT memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri: “Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?” (QS Al-An'am [6]: 101). “Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak.” (QS Al-Jin [72]: 3).

Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan: “Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...?” (QS Al-An'am [6]: 14).

Dalam karya lainnya Membumikan Al-Qur’an (1999), Quraish Shihab menerangkan, manusia dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu? Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. 

Binatang—khususnya binatang-binatang tertentu--tidak demikian. Nalurinya  telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga--misalnya--ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.

Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.

Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim  semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok. Potensi dan daya manusia--betapa pun besarnya--memiliki keterbatasan, sehingga apabila  aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan fa’ali misalnya—maka arah yang lain, --mental spiritual--akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka  puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak sembilan puluh sembilan sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ilahi.

Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan  ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Muhammad menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

Puasa Ramadhan merupakan mercusuar ilahiyah yang mengajarkan umat Islam agar melaksanakan ibadah puasa dalam kesempatan-kesempatan lain sesuai syariat. Misal melaksanakan puasa sunnah secara rutin. Belum lagi ketika puasa ramadhan seseorang hendaknya memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, membantu orang lain, beramal, dan lain-lain karena nilainya berlipat-lipat di sisi Allah.

Praktik tersebut seharusnya bisa menjadi inspirasi kebaikan ketika bulan ramadhan telah berlalu. Sehingga nilai-nilai ketuhanan mewujud sepanjang masa bagi orang-orang yang benar-benar mempraktikkan agama sebagai jalan hidup. Sebab esensi agama ialah dijalankan sebaik-baiknya, tidak hanya disimbolkan secara artifisial. Apalagi berupaya menggunakan agama sebagai alat untuk merusak tatanan kehidupan.


Penulis adalah Redaktur NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG