IMG-LOGO
Internasional

Di Iran, Laki-laki Dilarang Melihat Perempuan selama Ramadhan

Senin 13 Mei 2019 23:45 WIB
Bagikan:
Di Iran, Laki-laki Dilarang Melihat Perempuan selama Ramadhan
Perempuan Iran (AP via Aljazeera)
Teheran, NU Online
Iran mengeluarkan beberapa kebijakan ketat selama bulan Ramadhan. Diantaranya adalah larangan seorang laki-laki melihat perempuan. Juru bicara Kementerian Kehakiman Iran, Gholan Hosein Esmaili, mengemukakan, selama Ramadhan laki-laki harus menghindarkan pandangannya yang mengarah langsung kepada perempuan.

“Peringatan kepada perempuan agar menghargai hijab lebih dari sebelumnya dan pria harus menghindari melihat langsung ke arah perempuan,” kata Esmaili, dikutip The Telegraph, Sabtu (11/5).

Otoritas Iran juga akan memberikan hukuman kepada mereka yang makan di tempat umum selama bulan Ramadhan. Kata Esmaili, siapapun yang melanggar kebijakan tersebut akan dianggap sebagai kriminal dan harus dihukum. Selain itu, mereka yang memutar musik di dalam mobil juga akan ditindak. Aparat berwenang akan memberikan sanksi dan menderek mobil mereka.

“Siapapun yang melanggar instruksi selama Ramadhan ini akan dianggap melakukan tindakan kriminal dan harus dihukum oleh unit aparat penegak hukum," tegas Esmaili.

Menurut beberapa pengamat, beberapa kebijakan ketat tersebut merupakan upaya pemerintah Iran untuk meningkatkan kepatuhan warganya.

Perlu diketahui, dalam beberapa waktu terakhir Iran menghadapi beberapa persoalan. Dalam masalah ekonomi, kini Iran mengamali inflasi yang menyebabkan nilai mata uang mereka turun drastis. Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu Iran dilanda banjir besar yang membuat lahan di 26 provinsi rusak.

Keadaan Iran yang seperti itu membuat warga Iran muak. Mereka beberapa kali menggelar aksi demonstrasi menuntut kehidupan yang lebih baik. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Senin 13 Mei 2019 22:45 WIB
Cara Pemerintah UEA Berantas Pengemis Musiman saat Ramadhan
Cara Pemerintah UEA Berantas Pengemis Musiman saat Ramadhan
Ilustrasi pengemis (timesofoman.com)
Dubai, NU Online
Persoalan maraknya pengemis –khususnya saat bulan Ramadhan- bukan hanya ada di Indonesia saja, namun juga di beberapa negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Uni Emirat Arab (UEA) adalah salah satunya. UEA memiliki cara tersendiri untuk mengatasi pengemis yang menjamur terutama pada bulan Ramadhan.

UEA menerapkan sikap tegas terhadap para pengemis. Sesuai dengan ketentuan UU Federal, mereka yang diputuskan bersalah karena telah mengemis akan ada dijatuhi hukuman kurungan selama tiga bulan dan denda 5.000 dirham atau setara Rp 19,5 juta.

Seperti diberitakan Gulfnews, Ahad (12/5), hukuman berat akan diberikan kepada mereka yang menjalankan kelompok pengemis secara teroganisir. Jika terbukti bersalah, maka mereka akan diancam hukuman enam tahun penjara dan didenda sebesar 100 ribu dirham atau setara Rp 390 juta.

Otoritas UEA juga melarang warganya untuk memberikan uang kepada para pengemis. Bahkan, pihak berwenang di UEA menilai kalau pengemis telah mengancam stabilitas masyarakat dan mengeksploitasi orang lain. Untuk memasifkan gerakan itu, pihak kepolisian di seluruh UEA terus mensosialisasikan kepada warga agar tidak memberikan uang kepada pengemis ilegal. 

“Berhati-hatilah ke mana Anda memberikan amal karena sebagian besar amal sampai kepada mereka yang tidak pantas mendapatkannya," demikian bunyi peringatan otoritas di Twitter,” demikian bunyi peringatan dari pihak berwanang UEA.

Meski demikian, otoritas UEA bukan berarti melarang warganya untuk beramal kepada mereka yang membutuhkan. Mereka telah menyediakan fasilitas badan amal. Sehingga siapapun yang hendak memberikan sumbangan publik maka bisa lewat badan amal tersebut. Dan pemerintah UEA menekankan warganya untuk menyalurkan donasinya melalui lembaga yang sudah disiapkan. (Red: Muchlishon)
Senin 13 Mei 2019 15:0 WIB
Menikmati Buka dan Sahur di Amerika Serikat
Menikmati Buka dan Sahur di Amerika Serikat
Jakarta, NU Online
Tak butuh waktu lama bagi Any Rufaedah untuk sampai di tempatnya menempa pengetahuan tentang metodologi penelitian sosial dari tempat tinggalnya. Hanya tujuh sampai 10 menit berjalan kaki, ia sudah bisa sampai di Lembaga Penelitian Ilmu Sosial, Maryland, Amerika Serikat.

Selepas pulang dari kantornya pukul enam sore, masih cukup banyak waktu hingga berbuka pada pukul delapan lewat. Waktu dua jam itu ia manfaatkan dengan memasak untuk menu berbuka.

“Karena di sini makanan mahal, jadi disiasati dengan masak sendiri,” ujar pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu kepada NU Online pada Senin (13/5) waktu Indonesia.

Masakan tumis dengan sayur yang berganti setiap harinya dan campuran ayam cincang atau udang menjadi menu yang biasa ia sajikan saban hari. Agar tidak bosan, ia terkadang memasak kentang rebus dan telur. Any juga sesekali menikmati makanan asing seperti taco dan borito, makanan khas Meksiko, ataupun membuat salad.

Saban tiga minggu sampai sebulan sekali, Any biasa membeli bahan masakannya di supermarket agar menghemat waktu dan biaya. “Kalau belanja-belanja kecil dan mendesak baru belanja di grocery terdekat,” katanya.

Any menuturkan bahwa makanan di sana umumnya didesain tahan dalam waktu lama. “Jadi gak khawatir menjamur,” ujarnya.

Komunitas Muslim Indonesia di sana juga membuat buka bersama di Masjid Al-Ihsan, sekitar 10 menit jalan kaki dari rumahnya. “Seringnya makanan masih banyak sisa. Nah itu biasanya dibagi-bagi untuk kita. Jadi bisa buat lauk sahur,” katanya.

Lebih lanjut, Any juga menceritakan bahwa tidak susah baginya menemukan makanan halal, meskipun tetap harus hati-hati. Di sana ada grocery, tempat penjual makanan, khusus makanan halal. Menurutnya, makanan seperti yang tersedia di grocery pada umumnya, hanya cara menyembelihnya bisa dijamin dengan cara Islam.  Restoran muslim juga, katanya, bisa menjadi alternatif.

“Mau amannya, tanya ke komunitas Muslim biar dapat rekomendasi tempat halal atau masak sendiri dan beli di resto orang Muslim lebih aman untuk masalah kehalalan,” kata peneliti di Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) itu.

Sehari sebelum Ramadhan tiba, ia sempat mengunjungi Indonesian Food Festival di Philadelphia. Orang Indonesia dari berbagai penjuru di Amerika datang ke acara yang digelar oleh Komunitas Masjid Al-Falah itu.

Di sana, ia sempat membeli pisang goreng, peyek, sate padang, dan rujak. “Yang jualan dari mana-mana, jadi macam-macam masakannya. Bahkan ada satu booth komunitas Muslim Amerika ikut bazar tersebut,” pungkasnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Senin 13 Mei 2019 10:30 WIB
Kesan Mahasiswa Asal Indonesia Ziarah Makam Sahabat Nabi di Turki
Kesan Mahasiswa Asal Indonesia Ziarah Makam Sahabat Nabi di Turki
Abdussami Makarim di Makam Sahabat Abu Ayub al-Anshari di Turki
Jakarta, NU Online
Turki menjadi salah satu negara dengan penduduknya yang menganut Islam pada masa awal. Karenanya, tak aneh jika di sana banyak ditemukan makam para sahabat Nabi, seperti Amru bin Ash, Abu Dzar Al-Ghifari, Abu Darda, dan Abu Ayub al-Anshari.

Abdussami' Makarim kali pertama menziarahi dua sahabat Nabi yang terakhir disebut di atas. Ia berangkat dari pondoknya yang terletak di Istanbul Asia ke Istanbul bagian Eropa.

"Kita naik kapal 'vapur' untuk melintasi Selat Bosphorus," kata pelajar Ulucami Arifiye Kuran Kursu, Umraniye, Istanbul, Turki itu, kepada NU Online pada Ahad (12/5).

Biaya menaiki kapal tersebut cukup terjangkau, yakni hanya 2 Lira Turki atau sekitar kurang dari lima ribu Rupiah. Dari tempat pemberhentian kapal, alumnus Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan bus yang dekat dengan makam tersebut. Dari situ, ia turun dan berjalan sebentar menuju ke makam Sahabat Abu Darda RA.

"Teman Turki yang nganter kita tiba-tiba belok ke kanan ke bangunan kecil berwarna hijau. Eh ternyata itu lah letaknya makam sahabi kiram Abu Darda RA.," ujarnya.

Sami, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa bangunan makam Sahabat Abu Darda sangatlah sederhana, tanpa halaman, dan penjagaan. "Cuma bangunan biasa di dalamnya ada makam dan ada satu kursi panjang untuk peziarah," jelasnya.

Saat ia dan rekan-rekannya datang, ada sepasang kakek dan nenek sedang berdoa disitu. Sepi nan sunyi suasananya. "Tapi jadi khidmat," ujarnya.

Setelah itu, ia melangkahkan kakinya sekitar 15 menit melewati pasar. Sampailah di makam Abu Ayub al-Anshari. Di tempat tersebut, ramai dengan para peziarah yang datang dari berbagai penjuru daerah dan dunia itu.

"Kita ziarah di sini nggak bisa duduk, kita berdiri dan sambil jalan pelan-pelan menyamping, karena orang ramai pada ngantri dan penuh," jelas pria yang merampungkan studi tsanawiyah dan aliyahnya di Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat itu.

Pelancong juga, katanya, banyak mengingat tempatnya yang bagus, masjidnya megah nan antik, di depannya ada kolam air mancur besar yang bagus buat foto-foto. Beda Makam Sahabat Abu Ayub al-Anshari dan Makam Sahabat Lainnya

Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki, Ahmad Munji menjelaskan bahwa makam Abu Dzar Al-Ghiffari, Abu Darda, Amr bin Ash, tidak begitu banyak dikunjungi peziarah karena otentisitasnya diragukan. Bahkan menurut kaul yang rajih, makam Amr bin Ash, katanya, berlokasi di tanah Firaun, Mesir.

"Kebenarannya kurang kuat sehingga makamnya tidak terlalu besar dan mewah," kata ujarnya kepada NU Online pada Senin (13/5).

Sementara makam Abu Ayub al-Anshari sendiri dibangun dengan cukup mewah. Hal tersebut tentu saja bukan tanpa alasan. Sosok sahabat yang berusia sepuh itu konon dianggap sebagai sultan pertama kekhalifahan Ottoman, mereka menyebutnya Eyup Sultan. "Jadi perlakukan pemerintah kepada pengelolaan makam Abu Ayub sangat istimewa," ucapnya.

Bahkan, Munji mengungkapkan bahwa makam Abu Ayub al-Anshari itu tak jauh berbeda dengan makam Wali Songo di Indonesia. "Itu persis kayak makam Wali Songo, ada penjual tasbih, peci, dan oleh-oleh lain khas ziarah," kata pria yang pernah mondok di Pesantren Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah itu.

Yang tak kalah ramai karena ada pasarnya juga, jelasnya, itu makam Nabi Yusa yang berlokasi di Istanbul bagian Asia. "Itu juga sama, banyak penjual oleh-oleh," jelasnya.

Sebagaimana di Indonesia, kata Munji, tradisi ziarah begitu kuat di Turki. Tak ayal jika makam tokoh di sana ramai dikunjungi para peziarah.

"Tradisi ziarah di Turki itu sangat kuat sehingga ketika ada seorang wali yang mendapat mimpi petunjuk bahwa sahabat a makamnya berada di tempat ini, mereka akan rajin berziarah ke situ," pungkas mahasiswa doktoral Universitas Marmara, Istanbul, Turki itu. (Syakir NF/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG