IMG-LOGO
Pustaka

Meneladani Jejak Kiai Djoyo Ulomo Lampung

Rabu 15 Mei 2019 12:30 WIB
Bagikan:
Meneladani Jejak Kiai Djoyo Ulomo Lampung
Buku yang telah terbit ini merupakan sebuah karya dari penulis-penulis muda NU Lampung Tengah yang bergiat di Lakpesdam NU Lampung Tengah dan LTN NU Lampung Tengah. Pada dasarnya penulisan buku ini merupakan sebuah ihtiar dan upaya penelusuran terhadap seorang tokoh atau sosok yang telah merelakan hidup dan kehidupannya demi tegaknya syiar Islam di bumi Lampung pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Buku ini merupakan "mini biografi" dari seorang "Kiai Kampung" yang sangat bersahaja dan sederhana. Beliau adalah Almaghfurlah KH Raden Rahmad Djoyo Ulomo, salah satu Kiai kharismatik. Ketokohannya dalam dunia pesantren dan Mursyid Thariqah di Lampung merupakan sumber dan sumbangan pemikiran dari khazanah intelektual Islam yang menarik untuk dikaji. Dimensi-dimensi kehidupan Mbah Djoyo Ulomo sejak dari masa kanak-kanak hingga beliau "mangkat", merupakan sebuah rekam jejak yang penuh dengan lakon lika-liku kehidupan.

Kegigihannya mengarungi kehidupan merupakan contoh atau panutan yang patut dijadikannya dari masa muda hingga mashur menjadi rekam jejak tersendiri yang menarik untuk diamati, dicermati dan kemudian dijadikan pelajaran bagi masyarakat umum, khususnya warga Nahdliyyin di provinsi Lampung maupun di luar provinsi Lampung, sekiranya dapat dijadikan sebuah sumber inspirasi bagi kalangan pemuda pemudi dari khazanah intelektual Islam.

Buku setebal xxi + 129 halaman ini memuat lima Bab dengan masing – masing pokok bahasan. Bab pertama diawali dengan Mengenal KH. Raden Rahmad Djoyo Ulomo (halaman 3). Nama semasa kecilnya adalah Mujahid, ia dilahirkan disebuah Desa tepatnya Banjar Melati Pare Kediri Jawa Timur pada tahun 1875. Pendidikannya semasa remaja hingga dewasa dihabiskan di beberapa Pesantren  di Jawa Timur, seperti; Pesantren Lirboyo, Pesantren Kedong Lo, Pesantren Bandar Kidul, hingga ke Kiai Fattah Tulung Agung (halaman 5).  

Bab kedua menguraikan tentang Hijrah ke Lampung (halaman 15). Kali pertama Djoyo Ulomo muda hijrah ke Pulau Sumatera pada tahun 1958, ditemani sang istri Nyai Dewi Wuryan. Daerah yang menjadi tambatannya adalah Desa Rama Puja, sebuah perkampungan yang masuk dalam kategori baru dan diperuntukkan bagi transmigran. Dan mulai pada tahun 1961, Kiai Djoyo Ulomo muda mulai mendirikan Pesantren bernama Tri Bhati at Taqwa.

Bab ketiga memaparkan Wasiat dan Wejangan Simbah Kiai Djoyo Ulomo (halaman 39). Kalimat sederhana yang masyhur selama Kiai Djoyo Ulomo hidup, baik dikalangan santri ataupun di luar pesantren Tri Bhakti At Taqwa, diantaranya adalah, "Bismillah, janji betah, oleh upah", (dengan menyebut nama Allah; asalkan betah pasti akan mendapatkan hasil).

Sepenggal kalimat di atas merupakan salah satu "mantra" yang sering diucapkan oleh Mbah Djoyo Ulomo kepada para santrinya dan kepada siapa pun yang sedang membutuhkan motivasi. Kata-kata tersebut seolah memiliki nilai magis dan tuah bagi siapa saja yang mendengarkannya. Padahal, Sepintas lalu, terlepas apakah kalimat di atas merupakan kreatifitas beliau langsung atau berasal dari guru-guru beliau tak perlu diperdebatkan. Penggalan kalimat "sakti" tersebut tak ubahnya sebagai kata-kata untuk pelipur lara yang ditujukan bagi mereka yang sedang dirundung kegundahan, gelisah, sumpeg atau sedang galau (halaman 41).

Bab keempat menjelaskan  Dibalik Tuah dan Karomah Mbah Kiai Djoyo Ulomo (halaman 61). Cerita nyata ini terjadi dalam kurun waktu hampir setengah abad yang lalu, yaitu tepatnya pada tahun 1965 silam. Sungguh, memberikan inspirasi yang sangat dalam sekaligus menggambarkan betapa tinggi dan besar kharisma beliau dikala itu.

Salah satu kesan dari sang kiai terjadi, pada tahun itu yang bersamaan dengan peristiwa meletusnya G 30/S/PKI, khususnya di pulau Jawa dan wilayah lain di Indonesia. Waktu itu, serombongan berkapasitas puluhan orang berbendera Ansor datang menemui beliau, dengan maksud meminta arahan, nasehat sekaligus gemblengan spiritual. Wajar, para pemuda Ansor sowan kepada beliau, karena pada waktu itu beliau termasuk salah satu Kiai Lampung yang intens di jam'iyyah Nahdlatul Ulama'.

Pada saat bersilaturahmi, setelah mereka diberikan arahan dan nasehat juga dibekali dalam bentuk, pertama: berupa pentungan atau tongkat kecil yang pendek dengan bahan dari rotan (sebesar ibu jari). Diberikan sebagai senjata pembela diri. Yang dimaksudkan untuk benteng pertahanan dari tekanan-tekanan fisik yang dilakukan oleh orang atau sekelompok yang berseberangan. Dengan keyakinan yang tinggi berbekal pentungan atau tongkat kecil dari bahan rotan tersebut merekapun siap maju di garda paling depan, bilamana harus berhadapan langsung, terlebih bila terjadi kontak fisik, maklum bekal yang mereka terima dari sang kiai telah di bubuhi doa-doa tertentu, yang umumnya dikenal sebagai benda yang telah di asma' (halaman 77).

Bab kelima mengulas Sang Kiai dalam Kaca Pandang Santri (halaman 89). Kesan sosok Kiai Djoyo Ulomo di mata santri, merupakan seseorang yang memiliki tipikal penyabar, santun, penuh kesederhanaan, hal ini terlihat saat memberikan pitutur (nasihat) kepada santri-santrinya. Waktu ketika tahun 1974-1984 karena keadaan ekonomi masih belum menguntungkan di Lampung khususnya, banyak santri yang mondok dengan ikut menjadi khodam Kyai Djoyo Ulomo, itupun telah terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya.

Sosok Kiai Djoyo Ulomo yang tinggi gagah menambah kewibawaan beliau. Kesan selama sering diajak bersepeda ketika bertugas membonceng beliau terasa berat, namun terus digayuh dengan penuh semangat tak kenal lelah dan ini sering dilakukan.

Cara berdakwah yang diketahui di luar pesantren mirip dengan cara-cara yang dilakukan oleh para Walisongo yakni bercerita, antara lain: banyak membicarakan, menuturkan ajaran Islam dengan langsung menghubungkan dengan situasi, budaya, dan karakter yang nyata dijalankan dalam keseharian lengkap dengan sebab akibat seperti menyampaikan mo limo mirip dengan cara penuturan khas Jawa.

Lebih jauh, seperti disampaikan Kiai Mahrus As'ad dipengantar buku ini, Djoyo Ulomo muda mulai menunjukkan karakter aslinya sebagai santri sekaligus ngemong masyarakat dikala itu. Problem masyarakat yang silih berganti bahkan ancaman nyawapun terkadang menghampirinya. Mulai membangun "masjid keramat", pesantren dan sekaligus mendirikan Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah adalah bagian perjuangan membenahi peradaban umat di pulau ujung timur pulau Sumatera ini.

Seperti halnya ulama-ulama lain di provinsi Lampung; KH Gholib Pringsewu, KH Busthomil Karim Padang Ratu Lampung Tengah, KH 'Ali Hasyim Punggur Lampung Tengah, KH Khusnan Musthofa Ghufron Metro, KH Abrori Akhwan Gerning Pesawaran, meskipun dipedalaman dan jauh dari ibukota Provinsi Lampung proses panjang menghampiri perjuangan beliau menyebarkan Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Tentunya meng-Islamkan masyarakat dengan sejuk, damai dan ramah, tanpa kekerasan tentunya. Pesan-pesan moral – spiritual yang beliau sampaikan kepada santri dan masyarakat merupakan bukti kecintaan beliau kepada santri dan masyarakat itu sendiri, tanpa membedakan status sosial, dan tentunya dengan keahlian spiritual beliau dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya lafadz bismillah yang sarat makna dan tradisi ngilani, serta lain-lain itulah sosok kyai kharismatik Djoyo Ulomo yang sederhana, bersahaja dan membumi.

Tentunya buku karya dua aktivis muda NU Lampung Tengah ini belum paripurna, masih terdapat kekurangan dan kelemahan yang perlu dibenahi, sesuai syarat dan kaidah kelimuan guna mendekati kesempurnaan. Paling tidak hadirnya buku ini menambah referensi khazanah pesantren di Lampung walaupun belum mencakup keseluruhan sosok yang diangkat, namun patut di apresiasi selain memberikan informasi tentang pesantren, upaya ini merupakan benih-benih indikasi positif geliat budaya (baca; tradisi) menulis dilingkungan jama'ah (kultural) dan jam'iyyah (struktural) Nahdlatul Ulama (NU) bahwa atmosfer tersebut terus dilakukan dan digiatkan. Semoga. Selamat membaca !

Buku ini sangat layak dibaca bagi santri, mahasiswa, dosen, peneliti, pemerhati tokoh-tokoh pesantren di Indonesia, menambah cakrawala jejak-jejak Pesantren Indonesia umumnya dan di Propinsi Lampung khususnya yang selama ini nyaris tidak semua orang tahu tentang perihal tersebut, bahkan masyarakat Lampung itu sendiri. Tabik. 

Peresensi adalah Siti Maysaroh, Sekretaris PC Fatayat NU Kabupaten Lampung Tengah 2018-2023

Identitas buku
Judul: Jagad Spiritualitas KH Raden Rahmad Djoyo Ulomo  
Penulis: Saifur Rijal dan Akhmad Syarief Kurniawan
Penerbit: Angkringan Institute dan Lentera Kreasindo, Yogyakarta
Terbit: November, 2014
Tebal: xxi + 129 Halaman
ISBN: 978-602-71740-3-0
Bagikan:
Senin 13 Mei 2019 14:0 WIB
Memetik Hikmah dari Perjuangan Mbah Busthamil Karim
Memetik Hikmah dari Perjuangan Mbah Busthamil Karim
Ilustrasi (Ist.)

Sosok nama Kiai Bustham, sudah tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat muslim umumnya, khususnya nahdliyyin di Provinsi Lampung. Beliau adalah salah satu tokoh kharismatik penyebar agama Islam dan tarekat di Bumi Ruwa Jurai ini.

Sudah ada beberapa tokoh penyebar agama Islam di Provinsi Lampung yang telah terdokumentasikan dalam bentuk buku, ataupun serakan-serakan file di website-website, di antaranya KH Sulaiman Rasjid dan KH Gholib, dalam 100 Tokoh Terkemuka Lampung yang ditulis Heri Wardoyo, dkk, terbitan Lampung Post Press, 2008.

Ada juga Jagad Spiritualitas KH Raden Rahmad Djoyo Ulomo, penulis Saifur Rijal, diterbitkan Lentera Kreasindo, Yogyakarta, 2014, dan Napak Tilas Jejak Islam Lampung, penulis M. Candra Syahputra, diterbitkan Global Press, Yogyakarta, 2017, dan lain-lain.

Hadirnya buku yang ditulis Kiai Muslihudin ini menambah khazanah literasi sejarah, peradaban Islam sekaligus tokoh-tokoh pesantren yang ada di seantero Nusantara umumnya dan di Provinsi Lampung khususnya. 


Kiai Bustham lahir di Lengkong, Wonoresik Wonosari, Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 1890. Ayahnya bernama Sandikrama bin Dulah Siroj, sedang ibunya bernama Syartiyah. Masa kecil Bustham dihabiskan di kampung halaman tempat kelahirannya sampai menginjak remaja.

Perjalanan intelektual keilmuannya semasa remaja hingga beranjak dewasa menempa pendalaman ilmu keagamaan (tafaqquh fiddiin) di beberapa pondok pesantren di Jawa Tengah, seperti; Pesantren Kemanggungan Kroya Cilacap, Pesantren Bogangin Sumpiyuh Banyumas, Pesantren Parakan Canggah Purbalingga, hingga berguru pada Kiai Busyro Banjarnegara.

Puncak keilmuan dan spiritualitas Bustham muda adalah ketika ia berguru kepada guru sufi kharismatik yang bernama KH Husein Zamakhsyari dari desa Parid, Kawunganten Cilacap, beliau adalah Kiai Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah. KH Husein Zamakhsyari inilah yang memberikan keteladanan sekaligus membentuk totalitas karakter laku sufi pada pribadi Bustham muda.

Keistimewaan-keistimewaan Bustham sudah mulai nampak sejak remaja, ia sosok yang tampan rupawan dilengkapi pula dengan suara yang merdu, sehingga banyak gadis-gadis yang terpesona, terpikat dengan Bustham muda.

Kiai Muslihudin mengulas buku ini cukup lugas. Dalam tulisannya ini, ia juga menguraikan perjalanan Kiai Bustham dari Kebumen Jawa Tengah hingga ke Lampung. Kiai Bustham muda memasuki Lampung pada tahun 1952. Tanah pertama kali yang ia singgahi adalah di Landsbaw, Gisting, Kabupaten Lampung Selatan (sekarang Tanggamus).

Daerah tambatan terakhirnya adalah Way Lunik, atau saat ini lebih populer dengan Kampung Purwosari, Padangratu, Kabupaten Lampung Tengah.

Pada tahun 1971, Kiai Bustham dibantu putra-putranya mendirikan lembaga pendidikan Pondok Pesantren bernama Raudlatus Sholihin. Pada tahun ini pula Kiai Bustham menunaikan ibadah haji di tanah suci. Sepulang dari tanah suci, ia mendapat anugerah nama baru oleh Syaikhulhajj Makkah menjadi KH Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim.

Sejumlah tokoh tarekat dan alumni berhasil dididik dari Pondok Pesantren Raudlatush Sholihin. Di antaranya adalah KH Zainudin Belitang, OKU Timur, Sumatera Selatan, Kiai Mundzir Kalirejo, Lampung Tengah, Kiai Baidlowi Metro, Lampung, Kiai Abdul Basyir Batanghari, Lampung Timur, Kiai Abdullah Ahmad Parerejo, Pringsewu, Kiai Abu Syuja Sendang Mulyo, Kalirejo, Lampung Tengah, KH Misbahul Munir Ciamis, Jawa Barat, KH Sudasi Cilacap, Jawa Tengah, KH Zaenal Arifin Pacitan, Jawa Timur, KH Sholeh Ponorogo, Jawa Timur, Kiai Junaidi Tanggamus, dan Kiai Mansur Lampung Selatan.

Mbah Busthamil Karim wafat pada tanggal 3 November 1979 M atau 11 Dzulhijah 1399 H. Selama hidupnya KH Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim menikah tiga kali. Nama istri-istri beliau adalah: Nyai Muthi’ah,  Nyai Salbiyah/Nyai Memunah, dan Nyai Munti'ah.

Beliau dikaruniai 17 putra dan putri, yaitu Kiai Asmungi, Kiai Zarqoni, KH Asyiq, Nyai Ruqoyah, Nyai Taslimah, Nyai Jurumiyah, Nyai Chomsiyah, Kiai Harunur Rasyid, Kiai Ridwan, KH Jamaludin, Kiai Jumrotul Mu’minin, Nyai Surotul Jusmaniyah, Kiai Juli Khofi, Kiai Albadji,  Muhajir, KH Miftahudin, dan Nyai Siti Asiyah.

Hadirnya buku ini dapat menggugah dan mrnggerakkan hati kita untuk mengetahui, memahami, dan meneladani tokoh, dan selanjutnya memuliakan mereka.  Sebagaimana pepatah Arab menyatakan Tirulah mereka, meskipun tidak mencapai seperti mereka. Karena meniru orang-orang besar itu saja sudah suatu kemenangan.

Dan Louis Cattschallk mengatakan Masa lampau manusia itu tidak mungkin ditampilkan secara utuh, tak dapat direkonstruksi oleh data ingatan sejarah apapun.

Peresensi adalah Akhmad Syarief Kurniawan, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lampung Tengah

Identitas Buku
Judul              : Mbah Bustham Lampung : Mengenal Guru Thariqah Lintas Jawa, Sumatra, Biografi dan Wejangan Thariqahnya
Penulis            : Muslihudin
Penerbit          : Sabda Media, Yogyakarta
Terbit               : September, 2014
Tebal               : 160 Halaman
Nomor ISBN   : 978-979-7915709-0-9

Kamis 9 Mei 2019 12:15 WIB
Menyerap Teladan Nabi di Bulan Suci
Menyerap Teladan Nabi di Bulan Suci
Rasanya baru kemarin kita Lebaran, sekarang sudah Ramadhan lagi. Waktu terasa begitu cepat, dan beberapa bulan sebelum Ramadhan tiba kita sudah merindukannya kembali. Qad ghibta wa ilaika istaqnâ, engkau telah pergi dan kami pun merindukanmu, begitulah kira-kira kutipan lagu yang dibawakan oleh Humood Alkhudher, penyanyi kebangsaan Kuwait, yang substansinya adalah kerinduan dan rasa gembira menyambut bulan suci Ramadhan.

Sekarang, kita sudah bertemu dan bertatap wajah dengan bulan suci, alangkah bahagianya. Kita rayakan rasa gembira bersama orang-orang di sekeliling kita. Baik keluarga, sahabat, maupun rekan kerja. 

Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA menegaskan puasa (shaum) adalah ibadah yang bersifat nafsiyyah, artinya hanya dirinya dan Allah yang benar-benar mengetahui bahwa dia benar-benar berpuasa atau tidak. Karena itu shaum digolongkan sebagai ibadah yang sangat privatif sekali. Kita harus melaksanakannya dengan sangat maksimal. Aturan serta prinsip-prinsip syariah yang telah ditetapkan di dalamnya mesti kita laksanakan. Untuk melaksanakannya kita perlu mengetahui perkara-perkara tersebut dengan belajar, entah talaqqi ataupun membaca.

Tak lengkap rasanya jikalau kita berpuasa dan menjalani bulan suci tanpa mengikuti pedoman Nabi, lebih khususnya meneladani beliau ketika Ramadhan. Untuk meneladani Nabi dalam berpuasa, lagi-lagi kita harus mengaji, mendengarkan pengajarkan guru mengenai perilaku Nabi ketika Ramadhan, membaca teks-teks kalam beliau yang terkait dengan pelaksanaan puasa, serta suluk dan tingkah laku Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan.

Salah satu contoh yang ditorehkan dan patut kita teladani adalah sifat kedermawanan Rasulullah ketika bulan Ramadhan. Telah ada Nabi Muhammad ketika Ramadhan lebih dermawanan dibanding bulan lainnya. Hal tersebut sebagaimana dikatakan dalam hadits Rasulullah:

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ، حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas RadhiyalLahu ‘anhumā berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan tatkala berjumpa malaikat Jibril alaihissalam. Malaikat Jibril bertemu dengan Beliau setiap malam pada bulan Ramadhan sampai penghujung Ramadhan, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur`an kepada Jibril, maka tatkala Beliau bertemu dengan Jibril, Beliau lebih derwaman dengan memberikan kebaikan melebihi angin yang bertiup.” (HR Muslim).

Dari penggalan hadits diatas kita dapat mengetahui salah satu kelebihan Nabi di bulan Ramadhan, yaitu bertambahnya kedermawanan Beliau. Sudah selayaknya memang kita tahu bahwa Nabi sangat dermawan, namun di bulan suci ternyata beliau meningkatkan taraf kedermawanannya. Dari hadits tersebut tersirat perilaku yang harus kita teladani, yaitu menumbuhkan serta meningkatkan sifat dermawan dalam diri, meski zahir redaksi haditsnya tidak instruktif.

Pengimplementasian hadits diatas diantaranya adalah ketika bulan suci, mari yang belum sempat berbagi dan bersedekah kita sedekah di bulan ini. Bagi yang diberi kesempatan berbagi rezeki di bulan-bulan sebelumnya, mari tingkatkan taraf kedermawanannya, dengan niat beribadah dan meneladani sang Nabi.

Selain melalui kitab hadits, kita dapat mengetahui perangai Rasulullah melalui kitab-kitab sirah. Disana akan dijelaskan secara panjang lebar mengenai perangai Nabi selama 63 tahun umumnya. Tentunya tebal dan butuh waktu lama untuk membacanya. Apalagi untuk mengetahui bagaimana Rasulullah di bulan Ramadhan, kita mesti membaca dengan kompleks kitab-kitab sirah nabawi.

Dengan demikian, sangatlah cocok kiranya kita membaca buku yang ditulis oleh saudara Ulin Nuha Mahfudhon, salah satu dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Ciputat. Buku tersebut memuat 15 tema kisah dan ajaran Rasulullah seputar bulan Ramadhan. Buku ini adalah sepenggal riwayat-riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalani hari-harinya di bulan suci Ramadhan.

Banyak sekali teladan-teladan Nabi di bulan Ramadhan yang perlu kita ikuti. Dengan meneladani pengajaran beliau di bulan Ramadhan, semoga nantinya dapat membekas dalam diri, sehingga kita dapat mengamalkan ajaran tersebut di bulan-bulan lainnya.

Penulis banyak mengutip hadits-hadits nabawi dalam penulisan buku ini, begitupun dengan ayat Al-Qur`an yang berkaitan. Riwayat-riwayat yang dikutip derajatnya adalah shahih dan hasan,. Adapun yang dha’îf bahkan palsu maka penulis memberikan catatan kritis dan mengutip pendapat para ulama terdahulu.

Sebagai kontekstualisasi, penulis juga sering menyinggung praktik dan tradisi Ramadan yang berkembang di negara kita Indonesia, semisal tradisi penyambutan Ramadan, takbir keliling, halal bi halal, dan selainnya. Praktik-praktik ini lalu ditimbang berdasarkan ajaran-ajaran Nabi. Jika memang relevan, maka tidak ada alasan untuk menolaknya. Namun jika menyalahi syariat, maka pelan-pelan harus kita tinggalkan.

Buku ini akan membimbing kita bagaimana menapaki sunnah Nabi, dan meneladaninya, serta meraih keberkahan di bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh ampunan dan rahmat.

Peresensi adalah Amien Nurhakim, mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah

Identitas buku:
Judul : Ramadhan Bersama Nabi Saw
Penulis : Ulin Nuha Mahfudhon
ISBN : 978-623-7197-01-0
Tebal : 152 halaman
Terbit : April 2019

Ahad 5 Mei 2019 16:0 WIB
Ketabahan Hati Seorang Istri
Ketabahan Hati Seorang Istri
Aku harus menanggung lukaku sendiri. Tabah mengobati dukaku sendiri, karena ini adalah tirakatku. Karena ini adalah jalan menuju kemuliaanku.

Demikian, Alina Suhita, menguatkan hatinya menghadapi perihnya hidup lantaran tak dianggap oleh suaminya sendiri, Abu Raihan Al – Birruni (Gus Birru). Suaminya hasil perjodohan antara orang tua.

Perjodohan yang dijalaninya, dengan keikhlasan, kendati luka hati senantiasa dirasa. Alina Suhita ''tak pernah diterima'' oleh suaminya sendiri, bahkan meski hidup tak hanya dalam satu atap, melainkan tidur di kamar yang sama.

Sebagai wanita pada umumnya, terkadang Alina Suhita ingin mengadukan perihal kecamuk keluarga dan suasana hatinya pada orang tuanya. Namun dia selalu ingat ajaran kakeknya untuk mikul duwur mendem jero. Dan pepatah Jawa bahwa wanita itu harus berani bertapa (wani tapa), menjadi penguat hatinya untuk menghadapi badai kehidupan rumah tangganya dengan penuh ketabahan dan ketegaran. (hal. 16)

Pelajaran menarik bagaimana ketabahan seorang istri menghadapi badai kehidupan dalam rumah tangganya, itu ternarasikan secara apik dalam novel keren Hati Suhita' karya Khilma Anis.

Sebuah novel yang tidak saja mengajak pembacanya untuk mengeja narasi-narasi apik dengan beragam keteladanan yang sangat dahsyat, melainkan juga penuh filosofi hidup yang sangat dahsyat.

Suhita, misalnya, senantiasa  mengingat ajaran Begawan Wiyasa dalam cerita pewayangan, bahwa orang-orang yang dapat menaklukkan dunia, adalah orang-orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain. Orang yang dapat mengendalikan emosi, ibarat kusir yang dapat menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. (hal. 61)

Pelajaran lain yang sangat dahsyat dalam novel ini adalah falsafah tebu. Betapa untuk memberikan rasa manis terlebih dulu harus digiling, diperas, bahkan diinjak-injak sampai benar-benar mengeluarkan sarinya.

Itu menjadi penanda dan tuladha terkait jerih payah dalam menjalani kehidupan: untuk mencapai kenikmatan, butuh perjuangan yang panjang. (hal. 126)

Dan di luar itu semua, hikmah menarik yang tak bisa diabaikan adalah betapa doa orang tua, khususnya ibu –tak terkecuali mertua- mengambil peran maksimal bagi seseorang untuk tegar dan tabah menghadapi segala cobaan dan dera kehidupan.

''... Ummiku. Mertuaku. Anugerah terbesar dalam hidupku. Yang mencintai sedalam ibuku sendiri. Ummiklah satu-satunya alasanku bertahan di rumah ini''.

Ya, banyak sekali pelajaran dan hikmah dalam mengarungi bahtera kehidupan yang bisa ditelisik dalam novel Hati Suhita ini. Namun tentunya, pelajaran dan hikmah itu hanya akan ''menguap'' dan tidak bernilai apapun, jika kita tak mau menghayati dan mengamalkannya dalam hidup. Wallahu a'lam. 


Peresensi adalah Rosidi, Pemimpin Redaksi Buletin Suara Nahdliyin dan Suaranahdliyin.com, bergiat di Gubug Literasi Tansaro Kudus serta Staf Akademik Bidang Media dan Publikasi pada Ma'had Aly TBS Kudus. 


Identitas Buku
Judul Buku       : Hati Suhita
Penulis             : Khilma Anis
Penerbit          : Telaga Aksara Yogyakarta & Mazaya Media Jember
Cetakan I         : Maret 2019
Halaman         : 405 + x
ISBN                 : 978 – 602 – 51017 – 4 – 8
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG