IMG-LOGO
Trending Now:
Opini

Semangat Ramadhan dan Tabayun di Era Post-Truth

Rabu 15 Mei 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Semangat Ramadhan dan Tabayun di Era Post-Truth
Oleh L. Tri Wijaya N. Kusuma

Menjalankan ibadah puasa Ramadhan tentunya kita sebagai warga Muslim telah memahami bersama makna dari puasa tersebut salah satunya adalah bagian dari ikhtiar menahan hawa nafsu. Tidak sedikit dari kita sebagai umat manusia pula yang menyadari bahwa salah satu nikmat Tuhan YME yang bernama hawa nafsu adalah dapat menjadi musuh terbesar dalam kehidupan kita sehari- hari. Ada pepatah yang mengatakan “Seribu kawan terlalu sedikit, tapi satu musuh saja kebanyakan”.

Walaupun mungkin kita dapat menaklukan beribu-ribu musuh sekalipun dalam puluhan bahkan ratusan kali pertempuran, namun sesungguhnya pemenang pertempuran yang sebenarnya adalah orang yang dapat menaklukan dirinya sendiri atas hawa nafsu yang cenderung negatif. Menaklukan diri sendiri terkait hawa nafsu jauh lebih baik daripada menaklukkan hal lain.

Dalam konteks kehidupan sosial bermasyarakat, kita dapat memahami hawa nafsu sebagai salah satu faktor yang jika tidak dapat dikendalikan dan bahkan berlebihan akan membawa dampak negatif. Dampak yang negatif itu bukan saja berimbas kepada diri sendiri tetapi juga kepada realita relasi kemanusiaan kita.

Jika kita mengamati dalam kehidupan sehari- hari saja, banyak ditemukan tanda dari seseorang yang memiliki perilaku yang didasari oleh hawa nafsu yang negatif dan berlebihan antara lain seperti mudah sekali tersinggung (atau bahasa millennialsnya “baperan”) bahkan menyalahkan orang lain, merasa tidak aman bila jabatan/posisinya terusik dan sebagainya.

Jika kita telaah kembali berdasarkan konteks kehidupan beragama khususnya Islam, manusia terbagi menjadi dua golongan. Pertama, yang berhasil dikuasai, dihancurkan, dan dikalahkan oleh nafsu sehingga tunduk di bawah perintahnya. Golongan kedua yang berhasil mengalahkan dan mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu itu tunduk di bawah perintah dirinya.

Memang, nafsu selalu mengajak untuk melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara Allah SWT mengajak hambanya untuk takut kepadanya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu. Di dalam Al-Qur’an, Allah menyifati nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah (tenang), lawwamah (pencela), dan ammarah bis-suu’ (penyuruh berbuat buruk).

Sehingga, baik secara kehidupan social maupun dalam konteks aturan dalam Al-quran bahwa manusia telah diberikan panduan agar mampu mengelola ego dan nafsu nya dengan baik dan benar. Celakanya, memasuki era Post-Truth justru manusi dengan ego dan nafsunya begitu liarnya melempar opini ke publik yang cenderung berdampak negatif.

Dampak di Era Post-Truth

Sudah banyak sumber atau literasi yang membahas apa dan bagaimana perilaku manusia di era post-truth. Salah satunya berdasarkan kamus Oxford, kata post-truth ditempatkan sebagai “Word of The Year” pada tahun 2016 karena kata tersebut begitu banyak digunakan oleh umat manusia, terlebih pada peristiwa terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit).

Pada kedua momen itu, berita hoaks dengan sangat mudah disebarkan kepada masyarakat luas dan mempengaruhi opini publik. Indonesia sendiri mengalami dampak buruk dari era post-truth.Tanpa mengabaikan penyebaran hoaks pada masa sebelumnya, gempuran informasi hoaks bertaburan di media sosial selama 2-3 tahun terakhir, terutama ketika pilpres 2019 tahun ini.

Rakyat terpecah menjadi kubu-kubu yang saling serang, sindir dan lepmar opini di linimasa media sosial hanya berdasarkan informasi yang dapat dikatakan cenderung belum jelas sumber dan kebenarannya. Baru-baru ini kita pun disajikan drama hoax operasi plastik yang mampu menipu salah satu pasangan kontestan pilpres 2019.

Singkatnya, era post-truth adalah era di mana manusia hidup di dalam “kebohongan” dan menganggap hal tersebut tidak lagi sebagai masalah besar. Bisa dikatakan bahwa era post-truth melahirkan suatu informasi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya yang membuat akal budi manusia kesulitan untuk melihatnya secara jelas.

Ruang publik masyarakat modern yang menjadi tempat manusia hidup tidak lagi kondusif untuk menyingkirkan “kebohongan” dan memeluk kebenaran. Pemahaman era post-truth semakin lama semakin kuat tertanam dalam diri setiap manusia tanpa batas negara ataupun kebudayaan, terlebih karena dibantu penyebarannya lewat media sosial dan internet.

Jika kita kembali lagi ke definisi awal sebagai golongan umat manusia, saat dimana memasuki era post-truth tersebut maka kita dapat asumsikan bahwa semakin banyaknya dari kita yang masuk pada manusia golongan pertama, yang berhasil dikuasai, dihancurkan, dan dikalahkan oleh nafsu sehingga tunduk di bawah perintahnya. Akibat dari hawa nafsu nya, banyak dari kita yang terseret arus untuk menyebar berita atau informasi yang belum jelas terbukti sumber dan kebenarannya.

Maka, sudah sepantasnya dalam bulan Ramadhan saat ini kita sebagai umat muslim memanfaatkan sebaik- baiknya untuk belajar lebih untuk menahan hawa nafsu. Selain itu pentingnya menerapkan nilai tabayun, kita ketahui bersama tabayun adalah sebuah ikhtiar untuk meneliti dan menyeleksi suatu berita, tidak secara tergesa-gesa dalam memutuskan suatu permasalahan baik dalam perkara hukum, kebijakan dan sebaginya hingga sampai jelas benar permasalahnnya, sehingga tidak ada pihak yang merasa terdzolimi atau tersakit. Tabayun sangat dibutuhkan di zaman yang penuh fitnah ini. Wallahu’alam


Penulis adalah Ph.D Candidate NCU Taiwan; Anggota PCINU Taiwan; Dosen di Universitas Brawijaya, Malang
Tags:
Bagikan:
Rabu 15 Mei 2019 15:30 WIB
Energi Terbarukan di Indonesia: Tantangan dan Asa Energi Surya
Energi Terbarukan di Indonesia: Tantangan dan Asa Energi Surya
Ilustrasi (infonawacita)
Oleh Ahmad Rahma Wardhana

Pengertian energi terbarukan sedikitnya dapat ditinjau dari dua perspektif, yakni sumber dan pemanfaatannya. Pertama, energi terbarukan berasal dari sumber yang terbarukan secara alami maupun budidaya, berkelanjutan, serta laju produksi yang lebih cepat dibandingkan laju konsumsinya. Contoh sumber yang dimaksud adalah sinar matahari, angin, hujan atau air, pasang-surut dan gelombang air laut, serta panas bumi (secara alami) dan biogas, biomassa, biosolar, bioavtur, serta bioetanol (lewat budidaya). Kedua, energi terbarukan mempunyai empat fungsi khas yaitu menghasilkan energi dalam bentuk listrik, sebagai pendingin atau pemanas air dan udara, sumber energi bagi sarana transportasi, dan memberikan jasa energi untuk wilayah terpencil. (IRENA 2009; REN21 2010; Ellabandkk 2014; dan iea.org 2016)

Salah satu perbedaan mendasar antara energi energi terbarukan dengan energi berbasis fosil (minyak, gas, dan batubara) adalah munculnya emisi gas rumah kaca berupa CO2, CH4, dan N2O, yang dihasilkan oleh energi fosil. Data International Energy Agency (IEA) tahun 2016 menunjukkan bahwa energi terbarukan –bersama beberapa sumber energi non-fosil lain– memasok sekitar 19% kebutuhan energi dunia, dengan kontribusi emisi karbon (CO2) global sebesar 1%. Bandingkan dengan batu bara, misalnya, dengan pasokan energiyang mencapai 27%, ia justru menyumbang hingga 44% emisi karbon. Sementara 32% pasokan minyak bumi menghasilkan 35% emisi karbon dan 22% pasokan gas alamemisinya mencapai 20% dari emisi karbon global. Padahal, emisi gas rumah kaca karena aktivitas manusia sangat dimungkinkan merupakan faktor dominan penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Apa dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim bagi Indonesia? United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim akan menimbulkan reaksi berantai yang mengancam manusia, lingkungan, dan kemakmuran (3P, yaitu people, planet, dan prosperity). Reaksi berantai tersebut adalah cuaca ekstrim, hilangnya keanekaragaman hayati, es global yang mencair, serta gelombang panas dan kekeringan ekstrim. Reaksi berantai ini akan sangat terasa bagi masyarakat, baik ketika terjadi langsung (misal: terhambatnya distribusi barang dan jasa atau kacaunya produksi pangan di darat dan laut karena cuaca ekstrim), maupun ketika berpadu dengan kerusakan lingkungan lain (misal: banjir dan tanah longsor karena cuaca ekstrim dan perusakan hutan atau alih fungsi lahan yang melebihi daya dukung lingkungan).

Sementara hilangnya biodiversitas akan semakin menggerus peringkat Indonesia sebagai negara dengan biodiversitas terbesar ketiga di dunia, sekaligus kehilangan potensi pemanfaatan biodiversitas di bidang pangan (sumber keanekaragaman nutrisi), farmasi (termasuk kosmetik), budaya (termasuk pariwisata), dan energi berbasis makhluk hidup, serta berhentinya beberapa fungsi lingkungan (misal: pemurnian udara dan air, penjaga kesuburan tanah, pengendali alami temperatur dan iklim). Untuk es global yang mencair, gelombang panas, dan kekeringan ekstrim, di antara akibat langsungnya bagi masyarakat adalah banyaknya pulau kecil (berpenghuni maupun tidak) yang akan tenggelam serta semakin parahnya krisis air.

Uraian tersebut semakin menjelaskan kaitan erat antara penggunaan energi terbarukan dengan pemanasan global dan perubahan iklim bagi kita masyarakat Indonesia: bagian dari upaya bersama menghadapi keduanya dengan mengurangi laju bertambahnya emisi karbon yang dilepas ke lingkungan.

Patutlah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha-Esa, karena telah menganugerahkan kepada Indonesia berupa bentang alam yang dapat mendukung berkembangnya energi terbarukan di Indonesia, yakni: (1) matahari bersinar sepanjang tahun; (2) negara beriklim tropis sehigga tidak mengalami musim dingin yang membutuhkan panas secara massif; (3) memiliki lautan yang luas: sumber energi pasang-surut atau gelombang laut; (4) terdapat kawasan perkotaan besar yang padat: sumber energi dari sampah dan limbah; (5) rangkaian gunung api dan hutan: sumber energi panas bumi sekaligus fungsi konservasi air dan biodiversitas; (6) sungai, pegunungan, dan saluran irigasi: sumber energi air (pikohidro, mikrohidro, minihidro, PLTA); (7) biodiversitas terbesar ketiga di dunia: sumber diversifikasi energi berbasis makhluk hidup (biofuel berbasis ekstraksi tumbuhan atau ganggang, panas biomassa); (8) negara kepulauan: peluang kemandirian energi berbasis sumber daya terbarukan lokal. Sungguh, tak pelak lagi, pengembangan energi terbarukan di Indonesia adalah sebuah keniscayaan.

Energi Surya dan Tantangannya

Pengembangan energi terbarukan di Indonesiamasih mengalami beberapa tantangan esensial. Hanya saja, tantangan tersebut bukan menghambat, tetapi justru memicu para praktisi, peneliti, dan pengguna energi terbarukan untuk terus berinovasi. Salah satunya adalah energi terbarukan yang memanfaatkan sinar matahari atau energi surya.

Energi surya sering disebut sebagai PLTS atau pembangkit listrik tenaga surya. Pada dasarnya, PLTS adalah sebuah sistem yang mengubah sinar matahari menjadi listrik. Sistem tersebut sedikitnya terdiri dari panel surya (biasa pula disebut sel surya atau modul surya), baterai (penyimpan listrik), pengatur pengisian, dan inverter (pengubah jenis arus). Panel surya merupakan komponen yang dijemur menghadap matahari dan berfungsi mengubah sinar matahari menjadi listrik. Baterai dibutuhkan apabila listrik akan digunakan di malam hari atau sebagai alat untuk menstabilkan energi listrik dalam memasok peralatan peralatan elektronik sehingga dapat menyala.

Sementara pengatur pengisian digunakan untuk mengatur nyala-padamnya listrik saat mengisi baterai dan saat listrik dari baterai menyalakan alat elektronik, agar tidak melampaui batas tertentu sehingga dapat merusak baterai. Inverter sendiri berfungsi untuk mengubah arus listrik dari panel surya dan baterai yang sifatnya searah (atau biasa disebut DC, yakni listrik yang kutub positif dan negatifnya harus diperhatikan) menjadi arus bolak-balik (atau biasa disebut AC, yakni listrik yang lazim digunakan di listrik PLN). Pengubahan ini diperlukan karena kebanyakan peralatan elektronik membutuhkan listrik jenis bolak-balik.

Uraian komponen PLTS tersebut penulis sampaikan untuk menggambarkan betapa ringkasnya sistem PLTS bekerja, yakni dari sumber sampai dengan penggunaannya dalam menyalakan peralatan elektronik, sehingga dapat dipelajari dan dipahami secara cepat oleh masyarakat kebanyakan. Dikatakan sederhana apabila dibandingkan dengan sistem listrik PLN yang nampak ringkas dari perspektif pelanggan PLN, namun sesungguhnya merupakan sistem yang sangat kompleks, baik di sumbernya (pembangkitan di pembangkit listrik bertenaga uap yang berbahan bakar batu bara, gas, minyak atau pembangkit listrik tenaga turbin yang diputar oleh aliran air) maupun di distribusinya yang melibatkan sangat banyak komponen.

Apakah kemudian berarti penggunaan PLTS menjadi mudah di Indonesia? Belum tentu, mengingat harga listrik per satuan energi PLTS yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga listrik PLN. Di antara banyak faktor yang menyebabkan harga listrik PLTS belum mampu bersaing dengan harga listrik PLN adalah komponen PLTS yang sebagian besar masih impor.

Panel surya, misalnya. Panel surya yang berlabel perusahaan dalam negeri sudah ada dan dapat ditemui di pasaran. Namun produk tersebut tidak 100% buatan Indonesia. Biasanya perusahaan dalam negeri mengimpor lembaran sel surya dalam bentuk besar, kemudian dikemas dalam bentuk panel surya satuan daya tertentu dengan label merek dalam negeri, dan dijual di pasaran. Begitu pula dengan baterai, pengatur pengisian, dan inverter: sebagian telah dirakit di dalam negeri setelah impor dalam bentuk setengah jadi, sebagian yang lain masih 100% impor.

Sebagai gambaran betapa pentingnya bisnis komponen PLTS, data BPS (2019) menunjukkan kenaikan signifikan nilai impor panel surya pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Panel surya yang diimpor dalam bentuk lembaran besar naik dari 7,5 juta dolar AS pada 2016; menjadi 11,1 juta dolar AS pada 2017; dan kemudian mencapai 14,7 juta dolar AS pada 2018. Hal yang sama terjadi untuk panel surya yang diimpor dalam bentuk jadi: 11,8 juta dolar AS pada 2016; 19,4 juta dolar AS pada 2017; dan 33,8 juta dolar AS pada 2018.

Realitas ini sesungguhnya telah dicoba diantisipasi oleh Pemerintah RI melalui Perpres No. 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional yang menyatakan memfasilitasi pendirian industri hulu dan hilir PLTS. Meskipun demikian upaya ini belum nampak nyata hingga saat ini.

Asa Energi Surya

Pendirian industri hulu dan hilir komponen PLTS memang tidak mudah. Dibutuhkan upaya sungguh-sungguh dan serius dari Pemerintah RI bersama-sama dengan kalangan industri dalam dan luar negeri serta dukungan dari kampus sebagai jangkar ilmu pengetahuan dan teknologi, agar kemandirian industri komponen PLTS dapat dicapai.

Sementara tantangan lain yang tak kalah pelik adalah justru bukan dari teknologi, tetapi dari sosial dan kelembagaan. Tidak sedikit PLTS di berbagai wilayah di nusantara yang padam, jauh sebelum usia optimalnya, padahal panel surya sendiri memiliki usia teknis hingga mencapai 20-25 tahun. Hal tersebut terjadi, utamanya karena masalah teknis terkait dengan pemeliharaan dan penggantian komponen yang rusak. Kualitas sumber daya manusia (SDM) penerima manfaat yang belum mampu memelihara dan memperbaiki PLTS serta enggannya penerima manfaat untuk iuran, menjadi pelengkap-penderita realitas tersebut.

Pemahaman masyarakat yang belum maksimal tentang pentingnya iuran, misalnya. Iuran tersebut seyogyanya merupakan instrumen penting pendukung pemeliharaan rutin dan penggantian komponen minor saat terjadi insiden kerusakan. Sementara kelembagaan yang baik diperlukan untuk menggagas sinergisitas dengan sumber pendanaan (CSR, Pemerintah Desa, Kementerian terkait) untuk penggantian komponen mayor di kurun waktu tertentu.
 
Penggantian komponen mayor diperlukan, mengingat usia panel surya yang mampu mencapai 20-25 tahun harus diimbangi dengan penggantian baterai, inverter, dan pengatur pengisian yang usianya hanya sekitar 5-10 tahun.

Sedangkan rendahnya SDM penerima manfaat dalam memelihara dan memperbaiki PLTS hendaknya ditingkatkan dengan melibatkan pendidikan tinggi bersama-sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan setempat untuk membangun jaringan pendukung pemeliharaan-perbaikan PLTS, utamanya dengan memanfaatkan kegiatan penelitian dan pengabdian. Perlu pula pendidikan tinggi bahu membahu dengan organisasi masyarakat sipil yang biasanya sudah memiliki akar kuat di tingkat komunitas, sebagai sasaran penelitian dan pengabdian tentang pengembangan energi surya.

Di tengah kompleksnya tantangan dalam pengembangan energi surya, pemberdayaan masyarakat berbasis energi surya tidak melulu gagal. Di Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, terdapat PLTS yang berhasil memenuhi kebutuhan air baku sejak 2009 sampai saat ini 2019. Jumlah keluarga yang dilayani mencapai 213 sejak 2016.

Iuran berjalan dengan baik, masyarakat tertib dalam menggunakan air sesuai prosedur, petugas pemelihara menjalankan tugasnya, dan organisasi masyarakat sipil bersama perguruan tinggi penggagasnya masih terus berkomunikasi, pun dengan adanya dukungan penuh dari Pemerintah Desa, Kabupaten, hingga Provinsi. Alhasil, tiga pedukuhan ini dipercaya dan dinilai mampu dalam mengelola teknologi, sehingga mendapatkan hibah dan CSR untuk mengembangkan sistemnya pada 2014 dan 2016.

Dua Desa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, energi surya terbukti mampu mengurangi beban masyarakat ketika digunakan dalam kegiatan produktif: memproduksi air minum dengan teknologi reverse-osmosis (RO). PLTS difungsikan untuk menyalakan pompa air dan mesin RO yang kapasitas produksinya mencapai 50 galon air per hari. Warung di dalam desa yang sebelumnya harus mengimporair minum dari luar desa dengan mengangkut air dengan perahu motor menyeberangi Sungai Batanghari, sekarang dapat membeli dari Unit Usaha Air Minum Badan Usaha Milik Desa setempat dengan harga yang lebih murah, yakni dari Rp 8.000,00 per galon menjadi Rp 6.000,00 per galon.

Tentu saja masih banyak kisah sukses lain tentang bagaimana energi surya mampu memberdayakan masyarakat dari seluruh penjuru nusantara. Dua ilustrasi di atas hendaknya dapat menjadi pemantik bagi masyarakat pengguna energi terbarukan lain agar mempublikasikan narasi keberhasilannya. Saling berbagi asa, dengan energi surya.

Apa yang penulis sampaikan dalam tiga tulisan bersambung ini, hendaknya dapat mendorong berbagai komponen bangsa untuk terus serius mengembangkan energi surya. Tantangan pasti ada, pun dengan asa. Pemanasan global dan perubahan iklim tak bisa diselesaikan oleh satu orang, tidak pula satu desa, pun oleh satu negara; tetapi hanya bisa ketika setiap komponen bangsa dari berbagai dunia, termasuk Indonesia, untuk turut berperan serta. Dan asa di energi surya masih ada.

Penjelasan lebih lengkap tentang energi terbarukan khususnya energi surya dari sudut pandang fikih dan teknis di antaranya dapat dibaca dalam dua buku terbitan Lakpesdam PBNU tahun 2018 yang berjudul Fikih Energi Terbarukan – Pandangan dan Respons Islam terhadap PLTS dan Energi Surya Berbasis Komunitas – Meningkatkan Produktivitas Masyarakat Pedesaan melalui Energi Terbarukan.


Penulis adalah Ketua Bidang Riset dan Pengembangan PW LPBI NU DIY, Peneliti Pusat Studi Energi UGM
Selasa 14 Mei 2019 20:0 WIB
Belajar dari Suasana Tarawih di Negeri Kinanah
Belajar dari Suasana Tarawih di Negeri Kinanah
Suasana Qiyamul Lail di Salah Satu Masjid di Mesir
Oleh: Muhammad Nur Hayid 

Shalat tarawih merupakan kegiatan rutin kaum muslimin setiap malam di bulan suci Ramadhan. Shalat ini dilakukan karena merupakan sebuah kesunahan dari Rasulullah SAW dengan harapan agar malam-malam yang diturunkan oleh Allah, di malam bulan suci Ramadhan, diisi dengan dzikir, ibadah serta shalat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sebab bisa jadi dari malam-malam yang dijalani di bulan Ramadhan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yang sering dikenal dengan malam Lailatul Qadar. Dengan shalat tarawih ini diharapkan orang-orang yang beriman yang siang harinya berpuasa, malam harinya bisa mendapatkan kemuliaan lailatul qadar. Karena sudah menyiapkan diri dengan antisipasi shalat setiap malam melalui shalat tarawih.

Di Mesir, kegiatan ini tidak dikenal dengan nama shalat tarawih, tapi qiyamul lail. Maka dari awal petugas bilal atau Imam, langsung memulai shalat tarawih dengan memberi pengumumam persiapan untuk shalat qiyamul Lail. Sang bilal mengucapkan "Shallu li qiyamil lail". Orang-orang Mesir sudah paham bahwa shalat qiyamul lail di malam bulan suci Ramadan itu maknanya adalah seperti shalat tarawih di Indonesia.

Mengenai jumlah rakaatnya, orang-orang Mesir memilih rakaat shalat tarawih dengan jumlah yang beragam. Namun perbedaan ini tidak mengakibatkan saling menyalahkan dan merasa jumlah rakaatnya lah yang paling benar.

Masjid Al Azhar yang sudah berumur 1079 tahun misalnya, memilih shalat tarawih sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat shalat witir. Ini dilakukan dengan dua rakaat satu salam sebagaimana yang dilakukan umumnya di Indonesia oleh warga Nahdlatul Ulama. Di Masjid Sayyidina Husein lebih memilih shalat delapan rakaat dengan empat kali salam atau dua rakaat satu salam dan tiga rakaat witir dalam satu salam.

Semua masjid rata-rata menghatamkan satu juz Al-Qur'an dalam satu malam. Di Masjid Zainab juga di masjid yang lain memilih dengan shalat 23 rakaat yaitu 20 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir. Tidak ada yang melakukan empat rakaat sekali salam.

Semua aktifitas shalat tarawih di Mesir berjalan normal, damai dan tidak ada pertentangan sedikitpun, karena mereka memahami bahwa perbedaan bilangan itu adalah kesadaran untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Bagi yang ingin lebih memaksimalkan ibadah di malam bulan suci Ramadhan, mereka memilih untuk shalat sebanyak 20 rakaat ditambah tiga witir. Tapi ada yang merasa cukup dengan delapan rakaat karena pertimbangan bacaan yang panjang-panjang dengan 1 juz setiap malamnya.

Sementara di Zawiyah atau di Indonesia disebut sebagai pondok pesantren menerapkan shalat tarawih setiap malam lebih dari 23 rakaat. Bacaannya pun lebih dari 1 juz. Syeikh Yusri misalnya, tiap malam menjaga malam-malam bulan suci Ramadan dengan qiyamul lail sampai shubuh. Kegiatan shalat diselingi dengan ta'lim dan minimal menghatamkan bersama murid-muridnya tiga juz setiap malamnya. Malah untuk dirinya sendiri bisa lebih dari tiga juz.

Di Negeri Kinanah ini sendiri terdapat empat mazhab yang berlaku. Mayoritas warga Mesir mengikuti mazhab Imam Malik diikuti dengan mazhabnya Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah, dan terakhir mazhab Imam Hambali. Perbedaan ini dapat terlihat dari amaliah dan cara mereka beribadah.

Sebagai contoh, model shalat yang dilakukan relatif berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Ada yang dalam tahiyat akhirnya tidak dalam bentuk duduk iftirasy namun seperti orang yang jongkok di lututnya. Bahkan sudah biasa terlihat ada orang tidur di bagian shaf (baris) pertama, padahal dibelakangnya banyak yang sedang melaksanakan shalat qiyamul lail dengan khusyuk. Dan ini tidak ditegur serta tidak diusir.

Ada juga yang saat shalat hanya memakai celana pendek persis di bawah lutut. Untuk ukuran orang Indonesia, hal ini sangat tidak sopan karena diibaratkan menghadap presiden, gubernur, atau bupati saja harus rapi. Terlebih menghadap Allah SWT.

Orang Mesir pun pasti sudah tahu dalilnya bahwa Allah memerintahkan agar kita menghias dan memperbaiki diri saat memasuki masjid. Orang Mesir pun pastinya mengerti bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur'an dan hadits. Namun mereka tidak menyalahkan karena memang dalam mazhab Imam Abu Hanifah, aurat laki-laki bukan antara pusar sampai lutut namun yang penting tertutup. Untuk kategori kepantasan sebenarnya sangat tidak pantas.

Namun secara umum orang Mesir betul-betul, ketika shalat, menjaga diri dengan baik. Mereka menggunakan jubah, bercelana, walaupun masih ada yang mengenakan kaos dengan model celana sedikit di bawah lutut.

Kondisi berbeda pemahaman namun tetap saling menghormati ini menunjukkan kematangan beragama umat Islam di Mesir. Hal ini sesuai dengan kata bijak yang mengungkapkan bahwa semakin orang mengerti agama, maka akan semakin toleran ia. Sebaliknya, semakin orang tidak mengerti agama maka akan gampang dimasuki berbagai paham dan gampang semakin radikal serta mudah menyalahkan orang lain.

Penulis adalah ketua rombongan dai dan imam utusan PBNU untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Tadribut Du'at) di Al-Azhar Kairo, Mesir Ramadhan 1440 H.
Senin 13 Mei 2019 0:0 WIB
Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup
Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup
Ilustrasi
Oleh Wahyu Eka Setyawan 

Bumi semakin panas, di beberapa publikasi ilmiah mencatatkan peningkatan suhu hampir mencapai 1 derajat celcius. Maka tidak heran, jika di beberapa titik wilayah suhu bisa mencapai 29 hingga 30 derajat celcius. Belum lagi di kota-kota besar yang selain panas karena cuaca terik, juga diakibatkan oleh polusi yang semakin meningkat tajam. Hal ini menjadi isu bersama, mengenai peningkatan suhu di bumi dengan aneka dampaknya bagi kehidupan manusia.

Salah satu dampak yang nyata akibat peningkatan suhu ialah terganggunya ibadah puasa. Peningkatan suhu ekstrem memaksa tubuh untuk menyesuaikan, tak jarang juga yang gagal beradaptasi dengan ekstremnya suhu. Salah satu dampaknya ialah pusing-pusing, lemas dan kurang fokus. 

Hal ini diakibatkan oleh cuaca panas yang menguras habis energi tubuh, salah satu yang umum ditemui yakni dehidrasi. Tubuh manusia mayoritas adalah cairan, peningkatan suhu ekstrem memaksa cairan di tubuh keluar dengan cepat, melalui pori-pori kulit atau saluran pembuangan.

Hal ini menjadi persoalan serius, yang mana ibadah puasa menuntut kita untuk tidak makan dan minum selama 12 jam lebih. Dengan situasi dan kondisi inilah mengakibatkan kekhusukan ibadah puasa terganggu. Bukan hanya itu saja, di tengah bumi yang tidak baik-baik saja, suhu yang meningkat tajam ternyata bukan satu-satunya ancaman. Masih ada ancaman kekeringan hingga memburuknya kualitas udara. 

Tidak hanya ibadah puasa saja yang terancam, namun ibadah lainnya juga sangat riskan. Seperti ketika kita shalat butuh air bersih, ketika berdzikir membutuhkan udara yang segar dan hal-hal lain yang mendekatkan diri dengan sang khaliq.

Maka dari itu, esensi sesungguhnya ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar. Meningkatkan jumlah kunjungan ke masjid untuk berjamaah, hingga buka dan sahur bersama. Bahkan melampaui tren kekinian yakni sekedar update status di media sosial. 

Namun, ibadah puasa ramadhan secara hakikat merupakan ajakan untuk merefleksikan diri terkait apa yang telah kita perbuat. Mengajak kita untuk berlaku adil serta melawan hawa nafsu, ini sangat relasional dengan upaya pencegahan dari tindakan-tindakan yang berpotensi merusak.

Puasa merupakan wujud transendensi, mencoba berinteraksi dengan sang khaliq. Di dalam aspek teologi Islam mengajak setiap insan untuk kembali ke rabb. Menunjukkan suatu sisi hubungan vertikal, antara makhluk dengan sang khaliq. Selain itu, puasa juga manifestasi dari sisi ekuilibrium. Titik di mana manusia harus egaliter, duduk setara dengan manusia dan makhluk lain baik biotik ataupun abiotik. 

Secara horizontal hubungan tersebut terbagi menjadi dua yakni hablum minannas dan hablum minal alam. Dalam konteks hablum minannas, puasa ramadhan sejatinya mengajak kita untuk memperbaiki hubungan sosial, dalam hal ini termanifestasi dalam shalat tarawih dan aneka kegiatan yang bersifat kolektif. 

Selain itu, ada hablum minal alam yakni mengajak manusia untuk menjaga dan melestarikan alamnya. Dalam konteks ini puasa ialah menahan hawa nafsu, menjaga diri agar tidak berbuat kerusakan dan senantiasa menunjukan sisi rehabilitatif sebagai salah satu manifestasi memperbaiki diri.

Dari konteks ini puasa sejatinya mengajak manusia untuk lebih baik, menahan hawa nafsu agar tidak merusak, memperbaiki diri agar bisa menjaga dan merawat. Karena puasa sendiri merupakan ibadah reflektif, baik secara horizontal maupun vertikal. 

Tentu, hal ini dapat dimaknai jika salah satu cara untuk menanggulangi bencana alam ialah dengan istiqamah berbuat positif untuk bumi. Seperti berupaya untuk menahan, dan menghentikan peningkatan suhu di bumi yang mengakibatkan perubahan iklim.

Maka puasa ramadhan adalah cara jitu untuk merefleksikan diri, hingga masuk ke hakikat dari beribadah dan menjalankan perintah dari Allah SWT. Salah satunya ialah menjaga lingkungan hidup, serta serius dalam melawan perubahan iklim.

Perubahan iklim, rusaknya lingkungan hidup hari ini, merupakan akibat dari rakusnya manusia, perubahan perilaku dari manfaat ke mudharat, dari yang menggunakan sesuai kebutuhan menjadi perilaku boros menjurus ke ghuluw. Semua itu merupakan implikasi dari keserakahan manusia, mereka memakan apapun demi keuntungannya sendiri. Tanpa peduli orang lain dan kontinuitas peradaban manusia.
 
Puasa ramadhan merupakan sebuah cara progresif, karena memiliki syarat materil untuk menjadi sebuah gerakan etis. Etika lingkungan hidup dapat dikonstruksikan melalui puasa ramadhan, sebagai satu langkah konkrit dalam menghadapi perubahan iklim. 


Penulis adalah kontributor NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG