IMG-LOGO
Fragmen

Sejarah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama

Kamis 16 Mei 2019 2:0 WIB
Bagikan:
Sejarah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
tokoh-tokoh NU
KH Ghozali Masroeri, Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama, salah seorang tokoh sepuh NU saat ini, pernah mengatakan, seluruh lembaga dan badan otonom NU berfungsi untuk dakwah Islam dan khidmah kepada umat. NU sendiri bertujuan untuk hal tersebut karena didirikan oleh para ulama pesantren yang menghabiskan usianya dalam berdakwah.

Berdasarkan AD/ART NU yang mendapat pengesahan dari Hindia Belanda pada 1930, secara tersurat, tujuan NU berdiri adalah: Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitoe: ”memegang dengan tegoeh pada salah satoe dari madzhabnja Imam ampat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris Asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboehanifah An-Noe’man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kemaslahatan Agama Islam.”

Berdasarkan pendapat Kiai Ghozali di awal, dengan demikian, dakwah NU adalah mengupayakan segenap perangkatnya untuk tujuan Islam Ahlussunah wal Jamaah.   

Namun, secara kelembagaan, NU merasa perlu untuk membentuk lembaga sendiri di bidang tersebut, maka terbentuklah lembaga yang kini disebut Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama atau LDNU. Menurut NU Online, LDNU bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan agama Islam yang menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah. Sementara menurut Ensiklopedia NU, lembaga tersebut di antara tugasnya adalah mengkoordinasikan para dai dan daiyah dalam menjalankan dakwah kepada masyarakat baik secara tulisan maupun lisan hingga ke masyarakat terpencil. 

Lalu sejak kapan lembaga tersebut eksis? Di dalam Ensiklopedia NU, tidak disebutkan tanggal dan tahun kapan lembaga tersebut dibentuk. Ensiklopedia itu hanya menyebutkan beberapa kiai yang pernah mengetuainya, yaitu KH Saifuddin Zuhri, KH Ahmad Ghozali, KH Syukron Makmun, KH Nuril Huda, KH Zakky Mubarok. Selanjutnya, KH Manarul Hidayat, KH Maman Imanulhaq Faqih, dan saat ini KH Agus Salim .

Berdasarkan data ensiklopedia tersebut, dengan menyebut paling awal KH Saifuddin Zuhri, berarti aktivitas atau cikal bakal lembaga tersebut telah dimulai pada akhir masa penjajahan Belanda atau antara tahun 1930 hingga 1940-an. Bisa jadi pula beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. 

Berdasarkan buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, cikal-bakal lembaga dakwah NU, bisa dipastikan dimulai pada beberapa tahun NU berdiri. Di dalam buku tersebut, asal Banyumas Jawa Tengah tersebut mengatakan:  

Kami tergabung dalam ikatan mubaligh, namanya Nashihin, yaitu setelah di kampungku berdiri Nahdlatul Ulama. Tiap malam Selasa para mubaligh dibagi untuk mengunjungi beberapa desa. Kiai Khalimi tidak ketinggalan. Kami membuat kelompok, masing-masing 2 atau 3 orang mubaligh. Tentu saja umumnya berkendaraan sepeda. Kelompok paling "celaka" kalau di dalamnya termasuk kiai ini. Sebabnya, pertama: beliau tak pandai naik sepeda, dan kedua: beliau tak pernah mau membonceng sepeda, saru atau tidak pantas katanya. Lebih baik jalan kaki. Mau tak mau yang lain-lain solider jalan kaki. Berapa kali dianjurkan agar belajar naik sepeda, namun beliau tak mau. Mengapa? Biar saudara mengerti bahwa semua orang mempunyai kekurangan dan cacat. Cuma Nabi saja yang tak punya cacat, begitulah jawabnya. Yang menarik perhatian lagi adalah rokoknya. Beliau selalu mengisap rokok cengkeh, yang menurut anggapan masyarakat di kampungku rokok priyayi. Kadang-kadang rokok putih. Bukan rokok klembak-menyan. Anak-anak kadang-kadang nyeletuk: "Priyayi kok tidak bisa naik sepeda...!‖

Tokoh lain yang merupakan "produk" dari didikan dakwah NU adalah KH Zainul Arifin, panglima Hizbullah kelahiran Barus, Sumatera Utara. Namun, ia memulai dari pengkaderan dakwah melalui salah satu badan otonom NU, yaitu Gerakan Pemuda Ansor (dulu disebut Ansor Nahdlatoel Oelama, ANO). Kemudian di samping kemampuannya sendiri, ia menjadi seorang yang dikenal sebagai aktivis NU, berdakwah untuk daerah Batavia dan Jawa Barat. Kelak ia kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri pada masa pemerintahan Soekarno. 

Nashihin
Berdasarkan Guruku Orang-orang dari Pesantren, lembaga dakwah NU pada mulanya disebut nashihin, para penasihat atau orang-orang yang memberikan nasihat agama. Maksudnya adalah para dai yang dikenal sekarang. Hal yang terkait nashihin tersebut, pernah dibentuk pada muktamar NU ketiga di Surabaya pada 1928. Pada muktamar tersebut, untuk mempercepat dan memperkuat dakwah Ahlussunah wal Jamaah, para kiai memutuskan untuk membentuk Majelis Khamis atau Komisi Lima. Komisi yang dipimpin Kiai Shaleh Banyuwangi tersebut beranggota Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri. 

Berdasarkan buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam, majelis itu memutuskan membentuk Lajnatun Nashihin, semacam komisi propaganda untuk menyiarkan NU ke berbagai daerah. Anggota Lajnatun Nashihin ini terdiri dari sembilan orang KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Raden Asnawi, KH Ma’shum, KH Mas Alwi, KH Musta’in, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Halim Leuwimunding dan KH Abdullah Ubaid. 

Sementara M. Rikza Chamami pada tulisannya Propaganda NU Lewat Jam’iyyatun Nashihin yang dimuat di NU Online, menyebut Jam'iyyatun Nashihin. Ia mengutip pendapatnya KH Maimoen Zubair demikian: “Jam’iyyah Nashihin ini adalah sebuah organisasi yang ada kaitannya dengan masalah pengajian. Dahulu namanya nasehat. Kalau sekarang namanya diganti menjadi pengajian”.

Bahkan, masih menurut Rizka, embrio Jam’iyyatun Nashihin sudah ada sebelum NU berdiri. Ia kemudian mengutip pendapatnya Amirul Ulum (2014) yang menyebutkan, di Jawa Tengah, sesepuh Jam’iyyatun Nashihin adalah KHR Asnawi Kudus, KH Ma’shum Ahmad dan KH Khalil Masyhuri dibantu dengan ulama muda, KH Zubair Dahlan (ayah KH Maimun Zubair). 

Lembaga Dakwah NU dan Media Sosial
Pada tahun 1991, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam satu artikelnya mengatakan, pada tahun 2010, NU mengalami transformasi keempat, yaitu teknologi informasi. Apa yang dikatakan Gus Dur tersebut, tepat adanya. Sejak tahun itulah media sosial merebak. Dan sebagaimana yang dikatakan Gus Dur pula, jangan sampai NU gagal seperti transformasi ekonomi yang digalakannya pada transformasi ketiga. 

Jika dikaitkan dengan pendapat Gus Dur tersebut, Lembaga Dakwah NU, mau tidak mau harus memanfaatkan teknologi informasi. Dakwah melalui video yang disebarkan melalui media sosial menjadi keniscayaan. Namun demikian, dakwah konvensional pun tetap berjalan. Di tingkatan pusat, Lembaga Dakwah PBNU rutin mengadakan kader dai. Tiap bulan lembaga tersebut mengadakan pengajian umum di halaman PBNU yang dimulai dengan tahlil, istighotsah, shalawat, dan ceramah umum. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 16 Mei 2019 11:49 WIB
Ungkapan KH Saifuddin Zuhri terhadap Sosok KH Hasyim Asy'ari
Ungkapan KH Saifuddin Zuhri terhadap Sosok KH Hasyim Asy'ari
Keteladanan merupakan kunci. Kalimat tersebut adalah simpul untuk menggambarkan bahwa para ulama pesantren tidak hanya berjuang secara fisik dan jiwa melawan penjaja, tetapi juga keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat Indonesia kala itu. Pergerakan nasional, baik yang dilakukan oleh para santri dan tokoh-tokoh nasionalis tidak pernah terlepas dari nasihat, bimbingan, arahan, doa para kiai.

Tidak terpungkiri bahwa perbedaan pandangan kerap terjadi. Bahkan seringkali menimbulkan perdebatan. Namun, para ulama memberikan teladan meskipun perbedaan pandangan tersebut menyeruak dan menjadi perhatian masyarakat. Justru tokoh-tokoh tersebut menjadi panutan seutuhnya, baik ketika menyikapi persamaan atau perbedaan.

Seperti terlihat ketika KH Hasyim Asy’ari berbeda pendapat terkait penggunaan terompet dan genderang yang dipakai oleh Barisan Ansor NU (BANU). Kiai Hasyim Asy’ari membolehkan para pemuda Ansor menggunakan terompet dan genderang sebagai simbol penyemangat gerakan. Sedangkan telah sejak lama KH Raden Asnawi Kudus mengharamkannya.

KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) mengungkapkan bahwa ketika itu Hadhratussyekh memperlihatkan sepucuk surat dari Kiai Asnawi kepada putranya, KH Wahid Hasyim. Selama Hadhratussyekh bercakap-cakap dengan putranya, Saifuddin Zuhri amat terpesona terhadap Kiai Hasyim yang merupakan ulama besar itu.

Usia Kiai Hasyim Asy’ari kala itu (5 Desember 1940) mendekati 70 tahun, karena dilahirkan pada hari Selada Kliwon, 24 Dzulqo’dah 1287 atau 14 Februari 1871. Bicaranya amat jelas sejelas sasarannya. Sikapnya ramah-tamah, air mukanya jenih dan selalu menyenangkan hati para tamunya. Bahkan tak jarang Hadhratussyekh melayani sendiri para tamunya dengan membawa makanan dan minuman yang dihidangkan meski ada khadam (pelayan) khusus yang melayani sang tamu.

Sikap terhadap sesama ulama pun sangat hormat, sekalipun kepada yang lebih muda. Tidak jarang kepada ulama yang sebaya usianya, apalagi kepada yang lebih tua, ia menganggapnya sebagai guru. Tak mengherankan ketika berbicara mengenai Kiai Raden Asnawi, ia menyebutnya dengan, “guru saya yang mulia, Kiai Raden Asnawi Kudus”.

Hadhratussyekh memperlihatkan surat Kiai Asnawi kepada KH Wahid Hasyim. Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa Arab yang amat sempurna. Ia memperlihatkan kepada putranya bagian-bagian yang dirasa amat berat dalam bahasa Arab (Kiai Hasyim Asy’ari biasa berbicara kepada putranya dalam bahasa Arab. Tetapi sebaliknya, Kiai Wahid Hasyim melayani pembicaraan ayahnya dalam bahasa Jawa halus, kromo inggil. Bukan karena bahasa Arab Kiai Wahid Hasyim kurang sempurna, tetapi untuk memperlihatkan sikap tawadhu kepada orang tuanya).

Lalu Kiai Hasyim Asy’ari mengalihkan perhatiannya kepada Saifuddin Zuhri. “Saudara Saifuddin, saya baru menerima sepucuk surat dari guru saya yang mulia Kiai Raden Asnawi Kudus. Ini dia suratnya.” Meskipun diperlihatkan kepadanya, Saifuddin Zuhri bersikap pasif saja. Ia merasa terlampaui kecil untuk melibatkan diri dengan kedua ulama besar tersebut. Karena itu, Saifuddin hanya menanggapinya dengan, “inggih, inggih” seperti yang dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim.

Kiai Hasyim Asy’ari berkata, “Aku merasa susah sekali, karena Kiai Raden Asnawi guru saya itu marah kepada saya. Sebabnya, karena saya mengizinkan terompet dan genderang yang dipergunakan anak-anak kita, Ansor NU, padahal Kiai Raden Asnawi mengharamkannya.”

Hadhratussyekh kemudian bercakap-cakap dengan putranya dalam bahasa Arab. Dalam percakapan itu, Hadhratussyekh meminta pertimbangan putranya, apakah tidak sebaiknya surat tersebut dijawab dengan lemah lembut dan dikirimkan lewat kurir. Sebab, menurut Kiai Wahid Hasyim, persoalan perbedaan pandangan itu diharapkan selesai sebelum perhelatan Muktamar ke-15 NU di Surabaya pada 1940 dibuka. (Fathoni)
Senin 13 Mei 2019 23:30 WIB
Karomah Moyang Gus Dur, Sebelum Lahir Allah Berikan Ujian Berupa Bongkahan Emas
Karomah Moyang Gus Dur, Sebelum Lahir Allah Berikan Ujian Berupa Bongkahan Emas
Makam Kiai Usman di Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang
Jombang, NU Online
Pesantren Tebuireng dan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang punya ikatan keluarga yang sangat kuat. Tokoh pesantren ini dipersatukan pada jalur KH Soichah. Kiai Soichah nama aslinya adalah Abdus Salam, punya dua menantu bernama KH Said dan KH Usman. Kiai Abdus Salam merupakan putra Kiai Abdul Jabbar putra Kiai Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Kiai Abdurrohman (Joko Tingkir).

Dari jalur KH Said lahir KH Hasbullah yang kemudian melahirkan KH Abdul Wahab Hasbullah. Sedangkan KH Usman menurunkan Halimah (Winih) yang kelak dinikahi oleh KH Asy'ari dan melahirkan Pendiri Pesantren Tebuireng, KH Hasyim Asy'ari.

Kiai Usman sendiri menikah dengan putri Kiai Soichah bernama Layyinah. Kemudian menurunkan Halimah (Winih), Tandur, Cukul, Lilir dan Jebul. KH Usman merupakan putra dari KH Hasan yang berasal dari Demak, Jawa Tengah. Konon, KH Hasan masih keturunan dari Raden Patah, pendiri kerajaan Demak Bintoro. Kiai yang biasa disapa Mbah Hasan adalah seorang yang haus akan ilmu, kemudian sampailah ia di padepokan yang dipimpin KH Soichah.

Menurut Pengasuh Pesantren Al-Ghozali Bahrul Ulum, KH Jauharuddin Al-Fatih, Kiai Said saat itu lebih fokus pada pelajaran syariat dan bertempat tinggal di sisi barat sungai yang dinamai Dusun Tambakberas. Sedangkan Kiai Usman bermukim di bagian timur sungai, Dusun Gedang. Dua menantu Kiai Soichah ini menekuni ilmu yang berbeda, Kiai Said di bidang syariat dan Kiai Usman bagian ilmu thariqat.

"Pesantren Bahrul Ulum dirintis sejak tahun 1825 dan Pesantren Tebuireng dirintis pada tahun 1899. Dua pesantren ini punya hubungan yang kuat, jadi wajar kalau KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah itu punya hubungan yang sangat dekat, karena pendahulunya KH Said dan Kiai Usman sama-sama menantu pendiri Pesantren Bahrul Ulum Kiai Soichah" kata Kiai Jauharuddin Al-Fatih saat dijumpai di kediamannya, Senin (13/5).

Jalur thariqat Kiai Usman didapatkan lewat Kiai Wahab dari Jorosan yang mengamalkan thariqat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Dan ketika Kiai Usman meninggal dunia pengembangan pondok thariqat pindah ke Kapas, Peterongan, Jombang dikarenakan ia tidak punya penerus anak putra. 

Hingga saat ini, jamaah thariqat ini masih eksis dan terus memiliki pengikut. Sementara sisa santri yang masih ada sebagian pindah ke sebelah barat sungai, bergabung dengan pondok Kiai Said. Sebagian lagi ikut menantunya bernama Kiai Asy'ari ke Jombang bagian selatan tepatnya di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang. Kemudian dari sini berkembang menjadi Pondok Pesantren Tebuireng.

Ada kisah menarik saat Kiai Usman belum lahir. Saat ia masih di dalam kandungan sang ibu, ayahnya Kiai Hasan mengalami kejadian unik. Saat itu Kiai Hasan sedang memasak nasi di atas tungku, tiba-tiba telihat benda berkilau di dasar tungku. Setelah diamati oleh Kiai Hasan, tampaklah bongkahan-bongkahan emas. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil cangkul dan menggali tanah untuk mengubur emas tersebut sambil meratap, "Bukan ini duh Gusti yang hamba cari. Bukan ini".

Kiai Hasan mengharapkan keturunan yang bisa melampiaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan. Doanya pun terkabul, tak lama kemudian lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Usman. Usman kemudian dititipkan kepada Mbah Soichah untuk dididik secara langsung. Pemuda bernama Usman ini akhirnya menjadi salah seorang murid terpandai sehingga Mbah Soichah merasa perlu mengangkatnya sebagai menantu.

Selain menitipkan putranya ke ulama, Kiai Hasan dan sang istri sepanjang pernikahan dan ketika mengandung, suami-istri ini melakukan tirakatan. Tirakatan tersebut antara lain berpuasa selama 22 tahun lamanya.

"Kiai Usman adalah sosok kiai yang kuat dzikir dan tirakatnya, masjid tempatnya wiridan masih ada hingga saat ini. Masjid itu diberi nama Al-Utsmani," jelas KH Jauharuddin.

Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Kabupaten Jombang ini menjelaskan, Kiai Usman selain sebagai tokoh agama ahli tharikat ia juga merupakan ahli dalam pengobatan. Banyak masyarakat sekitar yang datang ke rumahnya untuk berobat. Bila ditelisik, rumah Kiai Usman berada di lokasi yang saat ini ditempati  Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 3 Jombang, tepatnya barat MTsN 3 Jombang.

Bahkan Kiai Usman punya tempat khusus untuk menumbuk atau menghaluskan obat yang akan diberikan kepada pasien. Tempat tersebut berupa batu yang cukup besar dan bagian tengahnya dilombangi. Sehingga tak mengherankan bila di kemudian hari ada keturunan KH Usman yang menjadi dokter, bernama dr Umar Wahid.

"Batu ini masih ada di depan asrama Pangeran Dipenogoro Pondok Induk Bahrul Ulum Tambakberas. Bisa dicek di sana, bisa difoto juga. Insyaallah masih dijaga sama pengurus," jelas Kiai Jauharuddin.

Doa Kiai Hasan yang ingin memiliki keturunan yang soleh-solehah tampaknya terwujud lewat Kiai Usman. Hal ini bisa kita lihat dari keturuannya yang kelak menjadi tokoh besar seperti KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, KH Karim Hasyim, Nyai Khoriyah Hasyim dan Muhammad Yusuf Hasyim. Di era modern ini, keturunan Kiai Usman terus menghiasi perkembangan Indonesia seperti Gus Dur, KH Shalahuddin Wahid, dan Yenny Wahid.

Menurut juru kunci makam Kiai Usman yang bernama Mbah Fatih, di antara keturunan Kiai Usman yang punya perhatian khusus ke tempat peristirahatan terakhir Kiai Usman adalah Gus Dur. Presiden RI ke-4 ini pada tahun 2001 secara khusus membangun lokasi sekitar makam agar para peziarah lebih nyaman. Bahkan sebelum wafat pada tahun 2009 lalu, Gus Dur masih menyempatkan diri ziarah ke Tambakberas.

"Dulu makamnya tidak sebagus ini, sekarang sudah ada atap, pakai keramik, dan kamar mandi juga ada. Gus Dur yang merenovasi bangunan ini. Sering datang ke sini, dan kadang tidak ada yang tahu kalau ia ke sini," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)
Senin 13 Mei 2019 16:15 WIB
KH Hasyim Asy’ari Tentukan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 9 Ramadhan 1364
KH Hasyim Asy’ari Tentukan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 9 Ramadhan 1364
Peran ulama pesantren yang cukup sentral membuat seluruh komponen pejuang kemerdekaan Indonesia tidak ingin melepaskan diri dari bimbingan para ulama. Hal ini dibuktikan ketika para pejuang nasionalis seperti Bung Karno, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain-lain senantiasa sowan ke KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.

Meminta nasihat, saran, dan masukan para kiai bagi para pejuang merupakan hal penting karena segala sesuatunya tidak terlepas dari Rahmat dan Ridho Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah. Hal ini relevan dilakukan karena para ulama merupakan manusia yang paling dekat dengan Tuhannya.

Meminta nasihat terjadi ketika Bung Karno, dan kawan-kawan hendak memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim Asy’ari memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhur (penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Hal itu sesuai dengan catatan Aguk Irawan MN dalam Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012) yang menyatakan bahwa awal Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus, utusan Bung Karno datang menemui KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan? Dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan negeri ini. Tak lama dari itu, sahabat Mbah Hasyim semasa belajar di Mekkah (Hijaz) yang memang selama itu sering surat-menyurat, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina untuk pertama kali memberikan dukungan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan hari kemerdekaan Indonesia dikonsultasikan terlebih dahulu kepada KH Hasyim Asy’ari. Lalu Kiai Hasyim mengumpulkan para ulama secara bersama-sama untuk melakukan munajat kemudian istikharah agar Allah memberi petunjuk hari yang tepat.

Maka setelah para ulama memusyawarahkan hasil istikharahnya, dipilihlah tanggal 9 Ramadhan 1364 H yang secara kebetulan itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Angka Sembilan adalah simbol numerik tertinggi,  hari Jumat adalah penghulu atau raja-nya hari dalam sepekan dan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia telah melalui proses yang panjang dan berdarah-darah dari seluruh elemen bangsa. Selain pertempuran militer dengan pihak penjajah, para pejuang seperti Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahid Hasyim, KH Wahab Chasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya juga melakukan langkah diplomasi. Diplomasi tersebut tidak hanya berhenti di tataran dalam negeri, tetapi juga luar negeri sehingga kemerdekaan Indonesia kala itu langsung mendapat dukungan banyak negara di dunia.

Diplomasi luar negeri dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari sendiri dengan melakukan korespondensi dengan Syekh Al-Amin Al-Husaini. Saat itu, janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini.

Sampai pada 3 Oktober 1944, Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010) mencatat, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang ketika itu juga menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.

Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.

Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944.

KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso tersebut.

Catatan sejarah tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari sisi diplomasi internasional. Selain itu, Kiai Hasyim dibantu para kiai lain juga menyiapkan pasukan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mengantisipasi kemungkinan perang pasca kemerdekaan diproklamirkan.

Kemungkinan tersebut terjadi, sebab tentara NICA Belanda yang menumpang sekutu hendak kembali menguasai Indonesia setelah Jepang takluk kepada tentara sekutu. 10 November 1945 di Surabaya merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, di mana para santri dan seluruh rakyat Indonesia berhasil menumpas agresi militer Belanda II sehingga mampu mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG