IMG-LOGO
Daerah

Pelajar NU Sidoarjo Didorong Jadi Ilmuwan dan Berkarakter

Kamis 16 Mei 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Pelajar NU Sidoarjo Didorong Jadi Ilmuwan dan Berkarakter
Wabup Sidoarjo meresmikan peluncuran Ayo Mondok.
Sidoarjo, NU Online
Berbagai strategi pendidikan dalam rangka pemenuhan era revolusi industri 4.0, dan menyongsong revolusi industri 5.0 terus dikembangkan. Salah satunya dengan meluncurkan program Ayo Mondok sebagai cikal bakal boarding school di lingkungan sekolah Muslimat Nahdlatul Ulama. Hal itu sebagai upaya agar pelajar menjadi ilmuwan muda dan mempunyai adab.

Program Ayo Mondok digagas Madrasah Tsanawiyah (MTs) Bilingual Muslimat NU Sidoarjo, Jawa Timur yang mengintegrasikan kuliah adab, coding, dan tes kemampuan Test of English as a Foreign Language (TOEFL).

“Berbagai macam strategi pendidikan dalam rangka pemenuhan revolusi industri di antaranya dengan strategi penggabungan antara adab, science, technology, engineering, art dan mathematic yang diberinama ASTEAM,” kata Syamsuhari, Rabu (15/5).

Menurut Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Bilingual Muslimat NU Sidoarjo tersebut, adab menjadi yang utama dalam pelaksanaan strategi itu. “Karena untuk membentengi peserta didik dari pergaulan bebas, ujaran kebencian, dan maraknya berita bohong atau hoaks,” jelasnya.

Dalam pandangannya, manusia kembali ke adabnya. “Yaitu mencari kebenaran yang hak hanya dari Allah,” katanya usai meluncurkan program Ayo Mondok yang digelar di Heritage Handayani Kahuripan Nirvana Sidoarjo.

Untuk implementasi science tidak hanya sebatas pada teori atau materi pelajaran, tetapi anak didorong untuk menjadi ilmuan-ilmuan muda. “Pemanfaatan teknologi juga tak sebatas penggunaan software, tetapi peserta didik diarahkan membuat kecerdasan buatan, sekaligus sebagai programmer,” ujarnya.

Syamsuhari menargetkan standarisasi penguasaan bahasa Inggris disejajarkan dengan standar TOEFL. “Targetnya, lulus kelas V levelnya 450 dan untuk peserta didik di kelas puncak atau sebelum lulus harus mendapat nilai 500,” harapnya.

Program itu akan dijalankan oleh tiga sekolah di bawah naungan Muslimat NU mulai dari madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah dengan menerapkan sistem boarding school.

Sementara itu Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo KH Maskun mengapresiasi dan mendukung program tersebut. Karena model pendidikan pesantren layak untuk diadopsi dan dimasukkan dalam pendidikan umum. "Program tersebut sangat tepat. Tujuannya yakni untuk membangun karakter bangsa Indonesia," katanya.

Hadir dalam acara itu Wakil Bupati Sidoarjo H Nur Ahmad Syaifuddin, Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur, H Noorshodiq Askandar. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Asrofi juga turut hadir sebagai mitra dalam penyelenggaraan pendidikan. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Kamis 16 Mei 2019 23:0 WIB
Sedekah untuk Orang Meninggal, Bukan Sesajen
Sedekah untuk Orang Meninggal, Bukan Sesajen

Jember, NU Online
Jangan salah paham. Dalam Islam tidak dikenal istilah sejajen. Yang ada adalah sedekah bagi orang  yang telah meninggal dunia. Pengertian sedekah secara umum adalah memberikan sesautu kepada orang lain yang pahalanya diniatkan untuk saudara atau siapun yang telah wafat.

“Tapi kalau sesajen,  pengertiannya beda. Seperti yang selama ini kita tahu,  jadi sesajen yang isinya makanan itu kita taruh di kuburan atau pematang sawah, yang itu dibiarkan hingga habis sendiri, entah dimakan siapa. Kalau sudah habis, mereka bilang ‘oh sudah dimakan sama yang punya’. Itu yang tidak boleh. Kan lebih baik makanan itu diberikan kepada orang biar kenyang,” urai Ketua PCNU Jember, Jawa Timur, KH Abdullah Syamsul Arifin  dalam acara DIAGRA (dialog agama via udara) di masjid Jamik Al-Baitul Amin, Jember, Jawa Timur, Rabu (15/5).

Menurut Gus Aab, sapaan akrabnya, bersedekah intinya sama dengan orang berdoa untuk orang yang telah mati. Sama-sama mengharapkan agar yang mati diberi keselamatan oleh Allah. Kalau dia mendapat manfaat dari doa atau sedekah yang hidup, maka tentu ada imbal balik dari yang wafat,  yaitu berdoa untuk keselamatan yang masih hidup atau yang bersedekah.

“Kita datang ke makam kiai, ulama dan sebagainya, kita berdoa kepada Allah untuk mereka. Kemudian pada saat yang sama, kita juga berharap kepadanya agar berdoa kepada Allah untuk keselamatan kita. Itu tidak ada yang dilanggar, kita berdoa kepada Allah, mereka juga berdoa kepada Allah. Jadi mintanya sama-sama kepada Allah. Yang tidak boleh kalau kita minta selamat kepada yang wafat,” urainya.

Tentang materi sedekah, tidak harus dalam bentuk harta atau uang. Bisa berupa sesautu yang manfaatnya dinikmati orang banyak. Ia lalu mengutip sebuah hadits yang berupa percakapan antara Nabi Muhammad dan sahabatnya.

“Apa yang terbaik untuk dihadiahkan kepada mayit ya Rasulallah....?” tanya seorang sahabat.

“Mengalirkan air!” jawab beliau.

“Kenapa Nabi menjawab seperti itu, karena di situ masyarakatnya memang kekurangan air,” pungkasnya. (Aryudi AR)

Kamis 16 Mei 2019 22:30 WIB
Kampung Gelgel, Miniatur Kebersamaan Muslim dan Non Muslim Bali
Kampung Gelgel, Miniatur Kebersamaan Muslim dan Non  Muslim Bali

Klungkung,  NU Online
Desa  Kampung Gelgel, namanya. Desa yang terletak di Kecamatan/Kabupaten Klungkung, Bali, ini merupakan kampung Muslim. Semua aparat desanya adalah Muslim. Di situ juga berdiri sebuah masjid, Nurul Huda, namanya. Bahkan di desa itu juga berdiri MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri).

Desa  Kampung Gelgel terbentang di atas tanah seluas 8,5 hektar. Jumlah penduduknya mencapai 1.127 dengan 334 Kepala keluaga (KK).

Menurut website resmi Desa Kampung Gelgel, desa  tersebut berdiri sejak abad ke-XIV Masehi, dan merupakan kampung Muslim tertua di Bali. Konon, cikal bakal masrayakat Muslim di Kampung Gelgel adalah pengawal raja.  

Saat itu, Raja Gelgel I (1380 – 1460), Dalem Ketut Ngelesir mengadakan kunjungan ke Kraton Majapahit untuk menghadiri  konferensi kerajaan-kerajaan seluruh Nusantara. Ketika itu kerajaan Bali masih di bawah kekuasaan Majapahit. Saat pulang dari kunjungan tersebut, Dalem Ketut Ngelesir dikawal oleh 40 prajurit pilihan yang dipersembahkan oleh Kerajaan Majapahit, demi keselamatan sang raja.

Nah setelah sampai di Kampung Gelgel, ke 40 prajurit itu, sebagian kembali ke Jawa dan sebagian lagi menetap di Kampung Gelgel. Mereka lalu berasimilasi dan menikah dengan warga setempat hingga bernak-pinak.

“Dan sampai sekarang tetap jadi kampung Muslim dengan segala ciri khasnya,” tukas Korwil IV PW Pergunu Bali, Lewa Karma saat menggelar Safari Ramadhan  di Masjid Nurul Huda, Desa Kampung Gelgel, Rabu (15/5), sebagaimana rilis yang diterima NU Online.

Menurutnya, secara tradisi dan amaliah, warga Muslim Desa Kampung Gelgel adalah NU. Namun mereka tidak mau menonjolkan bendera ormas. Karena itu mereka membentuk organisasi sendiri, namanya Forum Ukhuwah Muslim Klungkung (FUMK).

Dikatakannya, hubungan masyarakat Desa Kampung Gelgel dengan desa tetangga yang notabene dihuni penganut Hindu, cukup baik. Bulan Ramadhan menjadi saksi kebersamaan mereka melalui tradisi mekibung (megibung), yakni makan bersama dalam satu nampan (talam). Umumnya satu nampan untuk 3 sampai 4 orang sebagai manifestasi kesederhanaan sekaligus kebersamaan. Sajian menu makan buka puasa  itu disiapkan secara suka rela oleh masyarakat untuk jamaah dan tamu undangan. Biasanya tradisi mekibung digelar tiap hari ke-10 bulan Ramadhan.

Bahkan tahun 2017, tradisi mekibung dihadiri oleh Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta, tokoh lintas agama, keluarga Puri atau Kerajaan Klungkung hingga kepala desa sektiar.

“Jadi ini (mekibung) merupakan ciri khas yang menandai kebersamaan antara kami dan penganut agama lain,” urainya. (Red: Aryudi AR)

Kamis 16 Mei 2019 22:0 WIB
Pemilu Usai Digelar, Selanjutnya Tunggu Pengumuman dari KPU
Pemilu Usai Digelar, Selanjutnya Tunggu Pengumuman dari KPU
Deklarasi Damai di Bondowoso, Jawa Timur.
Bondowoso, NU Online 
Pemilihan Umum telah selesai dilaksanakan dan tinggal menunggu hasil pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) 22 Mei. Sejumlah ulama bersama tokoh masyarakat di Bondowoso Jawa Timur menggelar deklarasi damai. Kegiatan dilaksanakan di Masjid Al-Falah, Desa Pancoran Kecamatan Kota Bondowoso, Rabu (15/5). 

Pimpinan deklarasi, KH Kurdi Sulaiman menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai wujud apresiasi terhadap perjuangan KPU, Bawaslu, TNI dan Polri dalam pengawalan dan pelaksanaan Pemilu 2019. Sehingga seluruh prosesnya terlaksana dengan baik, aman dan kondusif.

"Kegiatan itu mayoritas dihadari  nahdliyin," kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-furqan, Pejagan, Bondowoso ini.
Selain itu dirinya keberatan dengan sejumlah elit politik yang akan menggelar people power. “Kalau ada kegiatan itu semacam kurang percaya kepada hasil KPU," ungkapnya.

Karena menurutnya, people power kegiatan yang inkonstitusional. “Bahkan dalam agama dianjurkan taat kepada pemerintah,” urainya. 

Dalam pandangannya, bangsa Indonesia telah memiliki pengalaman dan teruji dalam melaksanakan pesta demokrasi. “Karenanya masyarakat harus tunduk kepada undang-undang dan peraturan yang ada,” tegasnya.

Selain deklarasi damai, pada kesempatan agenda tersebut disampaikan pula pernyataan sikap untuk menerima hasil yang diumumkan KPU terkait hasil Pemilu 2019. 

Pernyataa sikap sejumlah tokoh masyarakat tersebut antara lain: 
Pertama, menyampaikan apresiasi kepada KPU, Bawaslu, TNI dan Polri yang sukses mengawal dan melaksanakan Pemilu 2019 dengan baik damai dan lancar. 

Kedua, turut berbelasungkawa atas gugurnya aparat dan petugas Pemilu dalam menjalankan tugasnya. Semoga menjadi amal yang diterima di sisi Allah SWT.

Ketiga, mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh isu yang tidak jelas atau hoaks sehingga dapat memicu tindakan yang menyalahi undang-undang. 

Keempat, mengecam akan adanya gerakan people power yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG