IMG-LOGO
Nasional
OBITUARI

Kiai Abdul Ghofir Nawawi, Dari Cirebon Sebar Kerukunan Beragama di Gorontalo

Selasa 21 Mei 2019 6:0 WIB
Bagikan:
Kiai Abdul Ghofir Nawawi, Dari Cirebon Sebar Kerukunan Beragama di Gorontalo
KH Abdul Ghofir Nawawi
Gorontalo, NU Online
Kabar duka datang dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Gorontalo dan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Gorontalo, Senin, 20 Mei 2019. Sesepuh NU, pengasuh, pendiri Salafiyah Syafi’iyah, KH Abdul Ghofir Nawawi meninggal dunia sekitar pukul 13.15 WITA. Sang Guru meninggal dunia setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bumi Panua, Pohuwato.

KH Abdul Ghofir Nawawi meninggal dunia pada usia 69 tahun. Almarhum meninggalkan seorang anak dan empat orang cucu. Isterinya, almarhumah Mahani Suweleh binti Abdullah Suweleh telah mendahuluinya menghadap Sang Khalik pada tahun 2006.

Sebelumnya, KH Abdul Ghofir Nawawi merupakan santri dari Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dia mendirikan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah pada tahun 1976. Di sisi lain, KH Abdul Ghofir Nawawi dikenal sebagai salah satu tokoh agama yang paling dihormati baik di Kabupaten Pohuwato maupun Provinsi Gorontalo pada umumnya. Itu karena perjuangannya, khususnya dalam dunia pendidikan.

Bahkan atas perjuangannya itu, pria asli Cirebon, Jawa Barat itu diberi penghargaan dari Kementerian Agama RI. Kabar duka ini pun sudah tersebar di media sosial. Tak sedikit warganet mengucapkan belasungkawa atas kepergian Rais Syuriyah PWNU Gorontalo itu.

Riwayat Kelahiran dan Pendidikan

KH Abd Ghafir Nawawi Bin Kiai Nawawi bin Murda’i bin Salam, lahir di Cirebon, pada Senin Pahing 27 Oktober 1947 M atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 1366 H. Riwayat pendidikan almarhum adalah SR Kedondong Kecamatan Susukan Cirebon 1960; MTs Pondok Pesantren Wathaniyah Arjawinangun Cirebon tahun 1964; MA AIN Pondok Pesantren Buntet Cirebon 1966.

Ia juga belajar di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta meluluskan S1 Universitas Syeikh Yusuf Jakarta tahun 1970. Almarhum memperoleh beasiswa dan Gelar MA (Honoris Causa) disiplin ilmu Perbandingan Agama dari Rabithan Alam Islami, Timur Tengah tahun 1978.

Di bidang organisasi, almarhum aktif sebagai pengurus IPNU Cirebon 1964, pengurus GP Ansor di Cirebon 1967, Dai Pembangunan Rabithah Alam Islami Makkah tahun 1978 sampai 2010; dan sejak 1988 hingga wafatnya ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah.

Almarhum juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulut Tahun 1995-2000; Rais Syuriyah PWNU Sulut 1995-2000, Tim Perumus Pembentukan Provinsi Gorontalo tahun 2000, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gorontalo Tahun 2001- 2005, Tim 8 Pembentukan Kabupaten Pohuwato tahun 2002, serta Rais Syuriyah PWNU Gorontalo sejak tahun 2006 sampai wafatnya.

Sejarah Pengabdian Dakwah

Setelah lulus MA tahun 1966 Pimpinan Pondok Pesantren Wathaniyah, Mbah Syatori yang merupakan murid langsung dari Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari meminta santrinya untuk diutus berdakwa ke wilayah Timor Timur, Flores dan Kupang. Karena takzim almarhum kepada kiainya, hanya almarhumlah yang sanggup mengamban amanah dengan bekal wirid dan uang secukupnya berdakwah ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat itu bergejolak.

"Beliau sempat dianurgahi penghargaan Pangkat Sersan II TNI AD oleh Pemerintah RI," tutur adik almarhum, KH Abdul Ghofur Nawawi.

Sepulangnya dari Timur Timur, Abdul Ghofir kemudian kembali ke kampung orang tuanya, karena orang tua tidak menginginkannya masih menjadi anggota aktif TNI, bahkan diminta mengambalikan SK dengan jabatan Sersan II tersebut.

Tahun 1977, ia mengikuti Seleksi Nasional Dai Pembangunan atas perintah dari KH Fuad Amin, menantu KH Syatori dan KH Mustahdi, pendiri Pesantren Tahfidz Winong. Kiai Fuad Amin juga merupakan saudara sepupu dari KH Mahrus Ali Lirboyo. Hal itu juga direstui oleh KH Ali Kamali.

Pada tahun 1978, dari hasil seleksi tersebut kemudian ditempatkan pada Pondok Pesantren Alhuda Kotamadya Gorontalo. Sembari mengajar ia berdakwah. Karena dalam berdakwah ia tegas dan keras, Pemerintah Orde Baru saat itu melarangnya melanjutkan dakwahnya di masjid-masjid dan berupaya memindahkan atau memulangkan ke Jakarta.

Kiai Abdul Ghofir pernah ditawari menjadi PNS di Departeman Sosial, tetapi ia menolaknya. Saat itu ia berada di Kupang. Begitu pula saat berdakwah di Grontalo berlaku hal yang sama, ketika ditawari kembali diangkat menjadi PNS di Departeman Agama, lagi-lagi ia menolak. 

Terpilih menjadi Dai Pembangunan terbaik se-Indonesia saat itu, ia memperoleh hadiah melaksanakan ibadah Haji di Tanah Suci oleh Rabithah Alam Islami tahun 1981. Saat itu pula ia diberi gelar MA (Honoris Causa).

Sekembalinya ke Gorontalo, ia ditugaskan di UPT Trans Marisa 1 Sub A yang sekarang menjadi Manunggal Dab Sub B sekarang menajdi Banuroja, Marisa 2 Sub A yang sekarang menjadi Sari Murni dan Sub B sekarang Menjadi Sidorukun, Marisa 3 Sub A menjadi Pancakarsa 1 dan Sub B sekarang menjadi Pancakarsa 2, Marisa 4 Sub A sekarang Kalimas dan Sub B sekarang Tirto Asri, Malango dan Marisa 5 sekarang Mekarti Jaya. Marisa 6 Sub A, Sub B dan Sub C sekarang Puncak Jaya.
 
Pada tahun 1983-1984, sebagai Dai Pembangunan melaksanakan dakwah melalui metode door to door (dari rumah ke rumah), desa ke desa sampai ke wilayah transmigrasi Marisa 4 yang sekarang menjadi Kecamatan Taluditi. Hal itu sebagai realisasi tugas atau amanah utusan Rabithah Alam Islami yang berpusat di Makkah. Ia juga ditugaskan di Kabupaten Gorontalo tepatanya di Kecamatan Marisa (wilayah transmigrasi Randangan) sampai berdirinya Madrasah Ibtidaiyah tahun 1985. 

Tahun 1988 ia mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat yang menghasilkan keputusan untuk mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah dan melanjutkan mendirikan MTS, MA, SMK, Madrasyah Diniyah dan TK Salafiyah Syafi’iyah yang kesemuanya berada dalam lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.

Tahun 1996 bulan Desember ia mendirikan Majelis Taklim Akbar yang pertama kali dilaksankan di Marisa 5. Majelis ini melaksanakan pengajian setiap bulan sekali yang sampai kini masih berjalan aktif. Dari hasil akhir perjuangan panjangnya, khususnya di Pohuwato, ia memimpikan wilayah Randangan Taluditi sebagai miniatur Indonesia pada aspek kerukunan antarumat beragama. (Abdullah Diko&Murdani Mokodongan/Kendi Setiawan)


Bagikan:
Selasa 21 Mei 2019 23:15 WIB
Rangkul Anak Yatim, Mendes Gelar Buka Bersama
Rangkul Anak Yatim, Mendes Gelar Buka Bersama
Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo
Jakarta, NU Online
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar buka puasa bersama seluruh keluarga besar dilingkungan Kemendes PDTT dan anak-anak yatim di Gedung Balai Makarti Muktitama, Kantor Kemendes PDTT pada Selasa (21/5). Gelaran buka bersama keluarga besar Kemendes PDTT bertepatan dengan hari Ulang Tahun Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo yang ke-54.
 
"Terima kasih kepada seluruh jajaran dilingkungan Kemendes PDTT yang telah menggelar buka bersama ini dengan waktu yang bersamaan dengan hari ulang tahun saya. Saya juga terima kasih karena saya masih diberi kesempatan untuk berbuat bagi rakyat yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saya berharap tugas kita dalam membangun desa menjadi lebih baik, bisa terus kita tingkatkan lagi," kata Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo.
 
Dalam kesempatan buka bersama ini, Eko menyampaikan bahwa bulan puasa menjadi salah satu pembelajaran penting untuk melatih diri agar mampu melaksanakan komitmen yang telah dibuat oleh diri kita masing-masing. selain itu, juga bulan puasa membuat ibadah seseorang menjadi lebih baik.
 
"Kita selalu diingatkan untuk melatih diri kita untuk mampu menahan diri meskipun ada berbagai macam godaan. karena kemampuan menahan diri itulah yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam mencapai cita-citanya," katanya.
 
Eko berharap, kepada seluruh jajaran dilingkungan Kemendes PDTT maupun masyarakat yang berpuasa dapat dimudahkan dalam menjalankan ibadah puasanya dan dapat merayakan hari kemenangan bersama pada Idul Fitri yang merupakan kemenangan kita bersama karena berhasil berbuat baik dan mampu untuk dapat menahan diri dari berbagai macam cobaan karena memiliki komitmen diri yang kuat untuk selalu berbuat baik," katanya.
 
Kegiatan buka puasa bersama jajaran dilingkungan Kemendes PDTT dan anak-anak yatim ini merupakan acara yang setiap tahunnya digelar saat bulan Ramadhan yang bertujan untuk mempererat silaturahim seluruh pegawai. Kegiatan ini dihadiri oleh para pejabat dan pegawai dilingkungan Kemendes PDTT serta turut dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri. 

Selasa 21 Mei 2019 22:30 WIB
Manusia Dianjurkan Menahan Tiga Kesabaran ini
Manusia Dianjurkan Menahan Tiga Kesabaran ini
Sekretaris LDNU HM Bukhori Muslim (ketiga dari kiri)
Jakarta, NU Online
Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU H Mochammad Bukhori Muslim menyatakan salah satu sikap orang yang bersyukur, yakni menerima nikmat yang besar dari Allah SWT, di bulan Ramadhan adalah dengan bersabar.

“Syukur dengan sabar itu berdempatan. Cara bersyukur di bulan Ramadhan itu bersabar,” kata Bukhori Muslim pada kultum puasa di di Masjid An-Nahdlah Gedung PBNU Jl Kramat Raya No 164, Jakarta Pusat, Senin (21/5).

Bukhori lantas mengutip Imam Nawawi tentang sabar yang dibagi menjadi tiga macam, yakni sabar dalam ibadah, sabar dalam maksiat, dan sabar dalam menerima musibah.

Pertama, sabar dalam ibadah. Ia mencontohkan seseorang yang harus sabar dalam beribadah, seperti sabar ketika shalat tarawih lalu menemukan shalat imam yang lama dan sabar dalam bersedekah.

Terkait pentingnya menyedekahkan sesuatu yang dicintainya, Allah dalam Al-Qur'an Surat Ali Imron ayat 92 menyatakan:

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

“Bapak-bapak, 100 ribu sama 2 ribu lebih cinta mana? (100 ribu). Tetapi lebih cinta mana? Sedekah 2 ribu sama 100 ribu lebih sabar mana? (sedekah). Seribu itu gampang. Tapi 100 ribu itu butuh pikir panjang,” ucapnya. 

Kedua, sabar dalam maksiat. Menurut dia, seseorang menahan maksiat seperti tidak ikut memberikan komentar negatif atau saling menjelekkan di media sosial. “Makanya, puasa itu kan imsak, menahan. Nahan jangan maksiat,” tandasnya.

Ketiga, sabar menghadapi musibah. Ia mencontohkan sabar saat tidak menerima Tunjangan Hari Raya (THR). “Ayo kita upayakan mudah-mudahan Allah benar-benar pilih kita khoiro ummatin di bulan mulia,” ucapnya. (Husni Sahal/Musthofa Asrori)

Selasa 21 Mei 2019 22:0 WIB
Muhibbah Qawwali Sufi India Manggung di Unipdu Jombang
Muhibbah Qawwali Sufi India Manggung di Unipdu Jombang
Ramadhan Kareem Muhibbah Qawwali Sufi India di Unipdu.
Jombang, NU Online
Kerja sama saling menguntungkan terus dijalin oleh Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Yang terbaru, kampus yang berada di lingkungan Pesantren Darul Ulum ini menjalin kemitraan dengan pemerintah India.

Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan Ramadhan Kareem Muhibbah Qawwali Sufi India yang berlangsung Selasa (21/5). Kegiatan dipusatkan di auditorium kampus Unipdu dan disambut antusias pimpinan dan mahasiswa kampus setempat.

“Sekadar diketahui bahwa kegiatan ini hanya dilaksanakan di tiga tempat, yaitu Pengurus Besar Nahdlaatul Ulama atau PBNU di Jakarta, Unipdu Jombang dan Universitas Maarif Hasyim Latif atau Umaha Sidoarjo,” kata H Zulfikar As’ad kepada NU Online.

Menurut Wakil Rektor Unipdu ini, kegiatan sebagai rangkaian dari kerja sama antara PBNU dan Pemerintah India. “Ini sekaligus peringatan 70 tahun hubungan Indonesia dan India,” terang Gus Ufik, sapaan akrabnya. 

Menurutnya, kerja sama diawali dengan pameran foto dan kebudayaan India di Kantor PBNU, jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. “Dan Muhibbah Qawwali Sufi India adalah sebagai mata rangkai dari kerja sama tersebut,” ungkap doktor lulusan Unair Surabaya ini. 

“Alhamdulillah, tampilan mereka di Unipdu berlangsung meriah meski siang hari, audiens sangat antusias dan mengikuti kegiatan dengan khidmat,” bangga Gus Ufik.

Manfaat dari kerja sama ini akan dirasakan para mahasiswa dan dosen di Unipdu serta santri Pesantren Darul Ulum. “Kami mendapatkan informasi tentang kesempatan beasiswa dari negara India untuk program S1, S2 dan S3 bagi santri Pesantren Darul Ulum, mahasiswa dan dosen Unipdu,” jelasnya. 

Dalam pandangan Gus Ufik, kerja sama tersebut tentu akan segera ditindaklanjuti. “Seperti diketahui, India adalah salah satu negara yang memiliki kelebihan dalam bidang informasi dan teknologi,” pungkas Gus Ufik.

Kegiatan ini dihadiri Mr Makram Sukhal selaku Direktur Jawarlal Nehru Culture Center, Ketua PBNU, Mohammad Iqbal Sullam serta Hanif Saha Ghafur. (Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG