IMG-LOGO
Daerah

ISNU Jatim: Awas Bahaya Dramatisasi Televisi

Kamis 23 Mei 2019 3:0 WIB
Bagikan:
ISNU Jatim: Awas Bahaya Dramatisasi Televisi
Jombang, NU Online
Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur KH Zahrul Azhar Asumta As'ad meminta masyarakat Indonesia untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi informasi dari dunia televisi. Karena bisa menarik penonton ke ranah sesat pikir.

Dunia televisi adalah dunia industri yang HI COST, para pelakunya harus berpikir keras melakukan segala upaya agar tayangannya mendapatkan pemirsa sebanyak-banyaknya dan ujung-ujungnya adalah roti iklan. Orang tv paham betul untuk meraih itu maka yang paling mudah adalah dengan cara membuat sensasi dengan melibatkan emosi pemirsa.

"Maka mereka akan membuat acara tak akan jauh dari membuat tertawa sampai tertawa banget atau membuat sedih dengan seharu-harunya. Di sinilah mulai masuk unsur dramatisasi dari setiap tayangan. Maka dapat dilihat televisi dengan roti iklan yang besar itu biasanya dari televisi yang isinya drama, telenovela dan variaty show yang melibatkan emosi daripada televisi news," jelasnya, Rabu (22/5).

Ia menjelaskan, programer televisi dituntut untuk membuat program yang bisa mengaduk-aduk emosi pemirsa. Mereka terkadang tidak memperdulikan nilai-nilai atau misi yang harus dibawa, yang penting iklan lancar. Semisal kemarin ada yang mengajukan pertanyaan "berbahaya", seperti yang ditanyakan kepada si Hafidz kecil di sebuah televisi swasta.

"Beredar meme (belum jelas benar atau tidak) tentang pilihan antara memilih ibu atau hafalan Al-Quran. Lalu anak kecil tersebut lebih memilih hafalan membuat saya miris,  jika meme itu benar maka anak tersebut telah menjadi korban dari kejamnya dunia industri televisi dan jika ternyata meme itu tidak benar maka saya juga miris karena banyak sekali pendapat netizen yang sesat pikir karena justru mengamini dan memuji jawaban anak kecil yang lebih memilih hafalan daripada ibu," sesal Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al-Azhar Darul Ulum,  Rejoso Peterongan ini.

Ia menjelaskan, pertanyaan-pertanyaan yang mengandung unsur dramatisasi memang dibutuhkan oleh dunia televisi dan menjebak tersebut adalah embrio dari lahirnya generasi sesat pikir yang akhirnya menyuburkan para pengamal agama yang offside. Mereka tak lagi menempatkan jiwa Rahmah dan kemanusiaan sebagai dasar dalam beragama. Tetapi menjadikan agama sebagai tujuan dari segala yang ada. 

Jika generasi sesat pikir ini kian subur, maka tak heran negeri ini makin dipenuhi oleh para penganut jamaah "jumudiyah" yang kaku dan tekstual. Orang-orang seperti inilah yang akan mudah terhasut dan termakan oleh orang-orang jahat yang mengkapitalisasi agama demi kepentingan kepentingan sesaat dan kekuasaan. 

Terbentuknya karakter sesat pikir jamaah jumudiyah tidaklah tiba-tiba tetapi melalui proses panjang dan salah satu yang mempercepat adalah peran media yang hanya memikirkan kue iklan dan para pelaku politik jahat yang memanfaatkan agama sebagai alat untuk menuju kekuasaan.

"Jadikan kekuasaan untuk menyebarkan nilai nilai agama bukan sebaliknya menjadikan agama sebagai alat mencari kekuasaan karena nyawa akan menjadi pertaruhannya bagi para kaum jumudiah tersebut, lha sejak kecil saja sudah diajarkan mending kehilangan nyawa ibunya daripada hafalannya," tandasnya. (Syarief Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 23 Mei 2019 23:0 WIB
Seberapa Dekat Kita dengan Al-Qur'an?
Seberapa Dekat Kita dengan Al-Qur'an?
KH Abdul Hamid, Pengasuh Pesantren Al Husna Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Ramadhan bulan Al-Qur'an. Segala amalan dilipatgandakan. Sudah seharusnya kualitas dan kuantitas ibadah pun ditingkatkan. Khususnya ibadah membaca kitab suci Al-Qur'an. Inilah mukjizat Nabi Muhammad yang dalam hidup kita menjadi pegangan dan pedoman.

Namun muncul pertanyaan. Seberapa dekat kita dengan Al-Qur'an? Adakah kitab Al-Qur'an dalam rumah kita selalu jadi bacaan? Apakah jumlah kitab Al-Qur'an dan anggota keluarga di rumah kita sepadan? Terlebih, apakah kita bisa lebih meresapi maknanya dengan memiliki kitab terjemah Al-Qur'an?

Renungan ini ditanyakan Pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur'an Al Husna Pringsewu, Lampung KH Abdul Hamid Al Hafidz kepada jama'ah yang hadir pada acara Safari Ramadhan Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu, Lampung di Desa Rejosari, Kamis (23/5).

Ketua MUI Kecamatan Pringsewu ini pun mengajak umat Islam untuk merenungkan pertanyaan berapa juz yang menjadi target untuk dikhatamkan selama Ramadhan. Ia mengungkapkan perbandingan dengan para ulama terdahulu yang berkali-kali khatam khususnya saat Ramadhan.

"Imam Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur'an selama 6000 kali dalam hidupnya. Imam Syafi'i menghatamkan 60 kali selama Ramadhan. Minimal kita bisa khatam satu kali dalam satu bulan ini," kata pria yang meraih doktoralnya di Universitas Negeri Islam Raden Intan Lampung ini.

Target untuk terus menambah kuantitas dalam menghatamkan Al-Qur'an memang berat dirasakan. Namun tekad untuk mewujudkannya perlu terus ditumbuhkan. Karena menurutnya kesuksesan seseorang dapat diukur dari seberapa kuat tekadnya dalam meraih tujuan dan impian.

Selain kuantitas yang harus ditingkatkan, umat Islam juga harus senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk dalam kehidupan. Jika hidup ingin selamat, Allah telah memberikan petunjuk yakni Al-Qur'an.

"Kalau beli barang elektronik, apa itu televisi, kulkas, motor, mobil mesti punya panduan agar dapat mengoperasikannya dengan baik dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga hidup. Allah telah membuat panduan agar selamat dunia akhirat yang tak lain adalah Al-Qur'an," tegasnya.

Oleh sebab itu lanjutnya, umat Islam harus memanfaatkan panduan ini terlebih pada bulan Ramadhan yang ia sebut sebagai Bulan BBM (Bulan Berkah Maghfirah)

"Mari jalankan Ramadhan dengan Premium (prei makan dan minum), lakukan Solar (shalat tambah rajin) , Pertamax (perangi tabiat maksiat), Pertalit (perangi tabiat pelit), LPG (lek pingin ngerti ngaji), dan Bensin (Ben ora isin)," pungkasnya. (Muhammad Faizin)
Kamis 23 Mei 2019 22:30 WIB
Safari Ramadhan Ansor Pematangsiantar Sapa Kawasan Pinggiran
Safari Ramadhan Ansor Pematangsiantar Sapa Kawasan Pinggiran
Pematangsiantar, NU Online
Ansor berkomitmen membentuk dan mengembangkan generasi muda Indonesia sebagai kader bangsa yang cerdas dan tangguh. Juga memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, berkepribadian luhur, berakhlak mulia. Termasuk sehat, terampil, patriotik, ikhlas dan beramal shalih. Dan pada Ramadhan kali ini, menjadi momentum untuk mengaktualisasikan tujuan mulia tersebut.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Arjuna saat memberikan pengarahan kepada tim Safari Ramadhan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Rabu (22/5).

Menurut Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar tersebut mengemukakan, untuk mencapai tujuan organisasi, beberapa usaha harus dilakukan. 

“Salah satunya meningkatkan kesadaran di kalangan pemuda Indonesia untuk memperjuangkan cita-cita proklamasi kemerdekaan dan memperjuangkan pengamalan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

“Sedangkan kedua yakni mengembangkan kualitas sumber daya manusia melalui pendekatan keagamaan, kependidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai wujud partisipasi dalam pembangunan,” ungkapnya.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain pelaksana kegiatan Ridwan Akbar Pulungan, Arif Siregar, Samaun Harahap (Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Siantar Utara), Yoki (Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Siantar Barat). Hadir pula sejumlah tokoh, termasuk Dewan Penasehat PC GP Ansor Kota Pematangsiantar.

Ridwan Akbar Pulungan menyampaikan safari Ramadhan 1440 H difokuskan ke daerah pinggiran. “Ini cara GP Ansor untuk menjalin hubungan kemasyarakatan, meningkatkan kesadaran dan aktualisasi masyarakat sebagai upaya peningkatan kualitas kehidupan berbangsa, terutama kalangan pemuda,” katanya.

Jadwal safari pekan ini akan dilaksanakan pada Sabtu (25/5) malamdi Masjid Al-Ikhlas Bane, Siantar Utara. “Kami mengharapkan kepada keluarga besar GP Ansor dan Banser Kota Pematangsiantar untuk menghadiri dan berperanserta dalam kegiatan tersebut,” pintanya. (Ibnu Nawawi)






Kamis 23 Mei 2019 20:50 WIB
Ulama Jakarta Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat dan NKRI
Ulama Jakarta Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat dan NKRI
Jakarta, NU Online
Para ulama dan pengasuh pondok pesantren di Jakarta menyelenggarakan halaqah perekonomian, Jumat-Ahad, (24-26/5). Forum ini dilaksanakan di Pesantren Al-Wathaniyah As-Shodriyah, Jakarta Timur. Halaqah ini diramaikan dengan bazaar dan buka puasa bersama.

Pengasuh Pondok Pesantren Alwathoniyah As-Shodriyah KH Ahmad Shodri HM, mengemukakan, halaqah ulama Jakarta membahas masalah keumatan sesuai tantangan zaman.

“Di antaranya adalah pemberdayaan ekonomi umat untuk menghadapi kapitalisme global melalui pemberdayaan ekonomi pondok pesantren, moderasi Islam dan peran ulama dalam menjaga keutuhan NKRI.

Kiai Ahmad Shodri menjelaskan, dari forum halaqah ulama Jakarta ini akan disepakati dan dirumuskan butir-butir rekomendasi untuk memberikan kesejukan dan ketenangan kepada masyarakat serta menghindari segala bentuk fitnah, ujaran kebencian, berita hoaks dan provokasi terhadap sesama warga Indonesia.

“Forum ini juga akan merumuskan sikap kritis terhadap segala paham dan gerakan yang bertentangan dengan Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhineka Tunggal Ika serta Undang Undang Dasar 1945,” kata Kiai Shodri.

Panitia Halaqah Ulama Jakarta yang juga Sekretaris Umum MUI Kota Administrasi Jakarta Timur Ma'arif Fuadi menyampaikan, ada beberapa organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang ikut mendukung acara ini.

“Mereka di antaranya MUI Kota Administrasi Jakarta Timur,  Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), Masyarakat Cinta Masjid (MCM), Muballigh Indonesia Bertauhid (MIB) dan lain-lain,” kata Ma’arif. (Red Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG