IMG-LOGO
Internasional
RAMADHAN DI LUAR NEGERI

Merajut Cinta di Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo Korea Selatan

Sabtu 25 Mei 2019 3:15 WIB
Bagikan:
Merajut Cinta di Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo Korea Selatan
Moh Fathurrozi di Korea Selatan.
Korea Selatan adalah salah satu negera idaman para mellenial untuk travelling, karena keindahan kotanya yang tertata rapi dan bersih. Bukan sekedar keindahan alam dan penataan kotanya, kuliner Korea juga bisa menggoyang lidah para penikmatnya.

Selain itu, K-Pop musik modern Korea merupakan magnet tersendiri bagi para millenial, apalagi soal penampilan dan life style-nya yang menjadi ikon paling digemari saat ini. Dalam dunia telekomunikasi, Korea tidak ketinggalan, Samsung dan LG termasuk salah satu produk telekomukasi terbesar dan terkenal di seantero dunia.

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini saya kembali diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Korea dalam rangka Safari Ramadhan sebagaimana tahun-tahun yang lalu. Perjalanan saya ke Korea kali ini, atas undangan Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo bekerjasama dengan PCINU Korsel, untuk kegiatan keagamaan selama Ramadhan dan Idul Fitri 1440 Hijriah.

Melalui penugasan dari PCINU Korsel, perjalanan saya kali ini bersama tujuh dai muda dari pesantren NU. Ketujuh dai tersebut adalah Kiai Mahmudi, alumni Pesantren At-Taqwa; Kiai Masdain, alumni Pesantren Darussalam; Rifqi Sururi, alumni Pesantren Al-Hikam Depok.

Kemudian ada juga Ali Fitriana, alumni Pesantren Daruttauhid Malang; Faridur Rohim, alumni Pesantren Hadiqah Usysyaqi Al-Qur’an Ciwaringin Cirebon; Moh Azmi Alify, alumni Pesantren Lirboyo Kediri; dan saya sendiri dari Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo. 

Perjalanan saya menuju Korea kali ini malalui penerbangan rute Jakarta Soekarno-Hatta International Airport menuju Incheon International Airport transit di Kuala Lumpur. Perjalanan udara ini dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kuala Lumpur menggunakan pesawat Malaysia Airnes dengan nomor flight MH0712, Jumat 10 Mei 2019 pukul 09.10 WIB pagi, dan tiba di bandara Kuala Lumpur pukul 12.25 waktu setempat.

Transit sejenak di negaranya Ipin dan Upin, Malaysia, sekitar dua jam, kemudian melanjutkan perjalanan dari Kuala Lumpur pada pukul 14.05 menuju ke Incheon International Airport dengan menggunakan pesawat yang sama dengan nomor flight MH0038. Kami pun tiba di Negeri Ginseng pada pukul 21.45 waktu setempat. Alhamdulillah.

Setelah keluar dari pesawat, kami bertujuh antre di bagian Imigrasi untuk pemeriksaan. Alhamdulillah lancar tanpa pertanyaan yang blibet. Seperti biasa bagian ini, Imigrasi, menjadi momok yang menakutkan bagi para pengunjung, sebab, biasanya, banyak pertanyaan yang diajukan, sebagaimana yang terjadi pada saya tujuh tahun yang lalu. 

Setelah mengantre pengambilan bagasi, kami keluar menuju pintu kedatangan dan langsung disambut oleh Ketua Tanfidziyah PCINU Korsel, Kia Ali Nur Rahim, dan segenap pengurus PCINU Korsel serta Banser Korsel. Kami pun digiring ke parkiran mobil menuju Sekretariat PCINU Korsel. Di sana kami sudah ditunggu oleh Rais Syuriyah PCINU Korsel, KH Ulin Huda al-Amin.

Setelah tiba di Sekretariat PCINU, kami disambut hangat oleh Rais Syuriyah PCINU Korea Selatan. Kami pun bercengkrama dan beramahtamah sekaligus sahur bersama dengan para pengurus PCINU Korsel dan sebagian jamaah Masjid Al-Mujahidin Incheon. Perlu diketahui bahwa Kantor Sekretariat PCINU bersampingan dengan Masjid Al-Mujahidin.

Setelah melakukan sahur bersama, saya dan sebagian jamaah Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo yang ikut menjemput ke bandara berpamitan menuju kota Uijeong-bo.

Tahun 2013 lalu adalah awal perjalanan saya ke Negeri Ginseng sekaligus sebagai perintis bersafari Ramadhan dari kalangan Nahdhiyin (sebutan warga Nahdlatul Ulama) ke Korea Selatan dalam rangka keagamaan. Saat itu, saya pernah singgah ke salah satu masjid yang ada di daerah atas, dekat Seuol, yatu Uijeong-bo. Kota ini dekat dengan kota perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.

Di Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo ini, kala itu saya mengisi beberapa rangkaian keagamaan, termasuk shalat berjamaah, Tahlil bersama, Tarawih bersama, Tadarus bersama dan pembekalan tentang zakat profesi. Di masjid ini, tidak semua jamaah adalah kalangan Nahdliyin. Namun, mereka semua kompak dalam soal keagamaan serta mengesampingkan perbedaan.

Kala itu, kota ini tidak seramai dan sepadat sekarang, sebab pada saat itu masih dalam tahap pembangunan. Meskipun demikian, kota Uijeong-bo tetap memesona, indah, dan bersih. Alhamdulillah, saat ini saya kembali kota Uijeong-bo untuk mengemban amanah sebagaimana tujuh tahun yang lalu. Tepatnya di masjid Al-Ikhlas. Masjid ini terletak di tengah-tengah kota Uijeong-bo, dekat pusat pembelanjaan; mal atau pertokoan bawah tanah, stasiun kereta cepat, dan pasar tradisional. 

Menurut sebagian jamaah, pemilihan letak di tengah-tengah kota seperti ini, adalah upaya dan sebagai alternatif untuk memudahkan transportasi kaum Muslimin di Korea berkunjung walau sekedar melaksanakan shalat sunah dan iktikaf, selain 'berthawaf' ke tempat pembelanjaan.

Berpuasa di kota Uijeong-bo, saat ini terasa sedikit lebih nyaman dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Sebab saat ini sedang musim semi, banyak tetumbuhan yang sedang mekar, dan hawanya pun relatif bagus, sejuk. Berbeda pada tahun 2013, kala itu sedang musim panas bahkan puncaknya musim panas. Suasana yang lebih sejuk di Ramadhan tahun ini agak meringankan umat Islam di Korea Selatan yang harus berpuasa menahan lapar dan dahaga selama 17 jam setiap harinya.

Tradisi yang paling semarak di masjid dan mushala pada umumnya di Korea adalah saat melaksanakan buka puasa, yaitu berbuka puasa bersama, layaknya para santri di pesantren tradisional. Utamanya di hari libur seperti Sabtu-Ahad. Mereka berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan buka bersama, Tarawih, dan sahur bersama.

Sementara untuk hari aktif bekerja, Senin hingga Jumat, jumlah jamaah di setiap masjid dan mushala bervariasi. Kembang-kempisnya jamaah tergantung posisi geografis masjid dan mushala itu. Jika masjid dan mushala itu berada di kawasan pabrik dan dekat dengan tempat tinggal jamaah, jumlah jamaahnya relatif banyak. Seperti di kota Incheon dan Ansan yang masuk daerah atas, atau Changwoen dan Gimhae di daerah bawah. Namun, jika letak geografis masjid itu jauh dari kawasan pabrik maka jumlah jamaahnya bisa dihitung jari.

Masjid Al-Ikhlas Ujieong-bo, sebagaimana saya jelaskan di awal, terletak di tengah-tengah pusat kota Ujieong-bo, bukan di kawasan pabrik. Sementara tempat tinggal mayoritas para jamaah masjid ini berada di kawasan pabrik, yang hampir rata-rata jarak tempuh antara tempat tinggal dan masjid satu jam perjalanan. Demi memakumurkan masjid ini,  ada sebagian pengurus yang rela tinggal di masjid.

Ini artinya, jika hari aktif kerja Senin-Jumat, jumlah jamaah masjid ini bisa dihitung jari, ditambah lagi ada sebagian jamaah yang kerja malam hari. Namun, pada hari libur kerja, Sabtu-Ahad, hampir semua jamaah Masjid Al-Ikhlas berbondong-bondong berangkat ke masjid walau sekedar silaturahim.
 
Jadwal aktivitas saya di masjid ini secara umum terbagi dua; hari aktif kerja dan hari libur kerja. Di hari kerja, saya hanya mengimami shalat lima waktu, Tarawih, mengisi kajian sebelum dan setelah Tarawih, Tadarus Al-Qur’an bersama dan kajian setelah Subuh. 

Kajian sebelum Tarawih dan setelah Subuh adalah membaca kitab Nashaihul Ibad, karya anak bangsa, Syaikh Imam Nawawi al-Bantani. Sedangkan kajian Tarawih adalah membaca kitab Safinatunnaja disertai syarahnya, Kasyifatussaja. 

Sementara itu, untuk hari libur kerja beban aktivitas bertambah, yaitu Tadarus Tajwid dan tadabbur kandungan Al-Qur’an setelah shalat Dzuhur dan Ashar. Dalam pelaksanaan kajian ini, saya membatasi durasi waktunya antara 15-30 menit, sebab mayoritas dari jamaah ini bukan berasal dari kalangan pesantren. Selain penyampaian kajian kitab, di akhir kajian ada waktu untuk tanya jawab. Durasi waktu tanya jawab kadang menyita waktu yang sangat lama. Antusias dan keaktifan mereka mereka relatif tinggi. Hal ini dikarekan faktor fenomena yang dialami mereka dalam keagamaan dan bersosial sangat kompleks.

Dalam menyampaikan isi materi, saya fokus pada tiga aspek. Pertama, aspek keimanan. Aspek keimanan ini saya implementasikan dalam aspek syukur. Mensyukuri semua anugerah yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi. Mensyukuri dalam bisa beraktivitas dan bisa bertanggungjawab mencari nafkah untuk keluarga. Mensyukuri dapat melaksanakan ibadah dengan baik di Bumi Ginseng walau mayoritas penduduknya adalah non-Muslim. Mensyukuri atas hidayah yang diberikan oleh Allah dapat memakmurkan masjid dengan damai dan tenang. Syukur adalah sikap agung yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Nabi bersabda, "Siapa yang tidak mau berterima kasih kepada sesama, maka sejatinya tidak tidak mau berterima kasih kepada penciptanya."

Kedua, aspek rahmat Tuhan. Aspek ini, saya arahkan mereka untuk selalu optimis dalam menjalani kehidupan ini tanpa harus banyak mengeluh soal materi dan lainnya. Aspek ini mengedepankan sikap positif dan optimis dalam malangkah tanpa disertai rasa pesimis. Ampunan Tuhan sangat luas dibandingkan beban dosa yang kita pikul. Tujuan hidup adalah beribadah dan mengabdi kepada Sang Khaliq. Apa pun yang telah berlalu dari kehidupan kita, harus menjadi pelajaran yang berharga, namun hidup harus terus malangkah. Tidak boleh putus asa atas kasih sayang Tuhan. Hanya orang kafir yang berputus asa terhadap kasih sayang-Nya.

Ketiga, aspek ukhuwah islamiyah. Aspek ini saya tekankan pentingnya persaudaraan antar sesama Muslim. Seorang Muslim yang baik adalah orang Muslim yang lain selamat dari kejahatan lisan dan tangannya. Termasuk menjaga sikap dalam berinteraksi dalam bermedia-sosial; men-share konten-konten hoaks, menulis status yang berpotensi menyinggung perasaan orang lain, dan mencaci maki. Saring sebelum sharing. Kebaikan apa pun, jika disertai dengan menggunjing, mencaci maki dan menyalahkan orang lain maka nilai kebaikan itu akan terkuras oleh keburukannya. Nabi tidak pernah mengajarkan sikap keras, mencaci maki, dan menyalahkan orang lain.

Ketiga aspek di atas selalu saya tekankan untuk menetralisir cara pandang yang berlebihan dalam beragama, bersikap moderat dalam menghadapi realita dan seimbang dalam berkomentar.

Jamaah Masjid Al-Ikhlas ini hampir semuanya berstatus jomblo. Maka, dalam pengajiannya yang saya isi selalu disertai joke-joke segar agar mereka antusias mengikuti kajian.

Kajian di Masjid al-Ikhlas Uijeong-bo Korsel juga diikuri melalui medsos dengan mengetik 'Masjid Al-Ikhlas Uijeongbo'.

Selamat menunaikan ibadah puasa sepuluh terakhir.

Salam cinta dari Uijengbo.

Moh Fathurrozi, Dai Ambassador PCINU Korsel 2019.

Bagikan:
Sabtu 25 Mei 2019 15:30 WIB
Sekjen PBNU: NU Dukung Penuh Upaya Perdamaian Palestina
Sekjen PBNU: NU Dukung Penuh Upaya Perdamaian Palestina
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.
Jakarta, NU Online
Mencermati kondisi terkini yang terjadi di Timur tengah, khususnya di Palestina, Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Helmy Faishal Zaini menegaskan dukungannya terhadap upaya pemerintah Indonesia.

"Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengapresiasi dan mendukung keputusan gagasan dan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia terkait kondisi terkini di Palestina," katanya dalam siaran pers yang diterima NU Online Sabtu (25/5) siagn.

Kesempatan Indonesia sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB, menurutnya, memang harus bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan perdamaian di Palestina. 

Dukungan ini, kata Helmy, merupakan bagian dari amanat Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur pada tahun 2015 yang lalu.

"Kembali mendorong pemerintah Indonesia untuk terus melakukan upaya-upaya strategis guna mewujudkan kemerdekaan Palestina. Upaya ini sejalan dengan amanat Muktamar 33 Nahdlatul Ulama di Jombang tahun 2015," ujarnya.

Bagi Nahdlatul Ulama, katanya, apa yang terjadi di Palestina itu bukan konflik soal agama saja, namun lebih dari itu merupakan konflik kemanusiaan.

Lebih lanjut, Helmy juga menjelaskan bahwa NU tidak hanya mendorong pemerintah Indonesia, tetapi juga mengambil langkah lain dalam berupaya mewujudkan amanat Muktamar ke-33 itu, yakni dengan senantiasa berkomunikasi dengan banyak pihak.

"Nahdlatul Ulama sendiri juga melakukan sejumlah langkah dan upaya strategis untuk membantu penyelesaian konflik di Palestina. NU secara intens menggalang komunikasi dengan pelbagai pihak untuk memberi masukan demi tercapainya kedaulatan Palestina," ucapnya.

Helmy menegaskan bahwa sejak tahun 1938, sikap NU tidak berubah. NU, imbuhnya, sangat konsen dan komitmen mendukung kedaulatan Palestina. Oleh karena itu, NU menyambut baik gagasan Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menlu Retno LP Marsudi.

"NU mendukung penuh tiga agenda penting terkait perdamaian di Palestina, yakni memberikan perlindungan bagi penduduk sipil Palestina, memulihkan kondisi sosial politik, dan juga mengupayakan perdamaian antara Israel dan Palestina," pungkasnya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Sabtu 25 Mei 2019 7:0 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Nuzulul Qur'an dan MTQ di Amsterdam
Nuzulul Qur'an dan MTQ di Amsterdam
Penulis diapit pengurus Masjid Al-Ikhlas PPME Amsterdam.
Gema musabaqoh tilawatil Qur'an pancaran ilahi
Cinta pada Allah, Nabi dan negara wajib bagi kita
Limpah ruah bumi Indonesia adil makmur sentosa
Baladatun thoyyibatun wa robbun ghofur pasti terlaksana

Demikianlah cuplikan syair lagu Mars MTQ yang dikumandangkan sebagai pertanda perhelatan akbar perlombaan pencarian qori dan hafidz Al-Qur'an terbaik di setiap pembukaan MTQ di Indonesia. Mars itu menggema setiap MTQ baik di tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Saya ingat betul mars itu, karena saya pun salah satu alumni MTQ ini.

Bukan hanya di Indonesia, di Belanda pun ada gelaran MTQ serupa. Di bulan Ramadhan ini, PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) Al-Ikhlas Amsterdam menyelenggarakan MTQ untuk anak-anak dan remaja Indonesia di Belanda sebagai wujud kepedulian terhadap baca tulis Al-Qur'an. Acara ini digelar setiap tahunnya dalam rangka mengisi dan menyambut malam Nuzulul Qur;an.

"Pada tahun ini, konsep MTQ akan ditambahkan lagi dengan menceritakan sejarah diturunkannya Al-Qur'an, membaca hafalan surat-surat pendek, membaca saritilawah dengan penghayatan yang baik, dan mengungkapkan hukum-hukum tajwidnya," ungkap Iva, Sekretaris PPME Al-Ikhlash Amsterdam. 

Waktu pelaksanaan acara ini sudah ditetapkan yaitu akhir pekan, saat anak-anak libur sekolah dan orang tua juga libur bekerja. Rencananya MTQ ini akan digelar pada hari Sabtu 25 Mei 2019. Panitia Ramadhan Divisi Dakwah sudah menyiapkan acara ini dengan semangat. Terbukti dengan hadiah dan thropi yang sudah dipesan untuk tiga peserta terbaik. Saya bersama Ustadz Tamsil, Ustadz Muharrom, Ustadz Mustofa, dan Ustadz Hasanul Hasibuan, diminta menjadi juri MTQ ini.

Rencananya, MTQ akan digelar seharian penuh. Mulai pagi sampai menjelang takjil. Cabang yang dilombakan ada empat, dan peserta yang mendaftar sekitar 50 orang. Alhamdulillah, banyaknya calon peserta ini menandakan antusias dan kecintaan anak-anak dan orang tua terhadap Al-Qur'an, meskipun mereka tinggal di Amsterdam. Semoga di bulan Ramadhan yang merupakan bulan diturunkannya Al-Qur'an, Allah memberikan kita semua keberkahan Al-Qur'an.

Arena MTQ menggunakan ruang-ruang kelas yang ada di Madrasah Al-Ikhlas. Di lantai 1 digunakan untuk lomba membaca hafalan surat-surat pendek dan saritilawah. Di lantai 2 akan digunakan sebagai arena untuk menceritakan sejarah Al-Qur'an dan pengungkapan hukum-hukum tajwid.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, MTQ ini sangat disukai oleh anak-anak dan pelajar Indonesia di Belanda karena di samping sebagai penambah wawasan dalam pengetahuan Al-Qur'an, mereka juga bisa saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga, pengetahuan dan hafalan yang telah mereka dapatkan dapat terus terjaga dan bertambah.

Selain itu, MTQ ini digelar sebagai media dakwah dan syiar Islam yang dilakukan oleh PPME Al-Ikhlas Amsterdam dari salah satu program-program yang sudah dibuat dalam memajukan dan mengembangkan Islam di Eropa, khususnya di Belanda.

Berkaca pada tahun lalu, menurut panitia Ramadhan PPME Al-Ikhlas, dengan diadakannya acara ini, banyak orang tua yang terharu melihat anaknya fasih dan mahir dalam membaca Al-Qur'an, sehingga mereka kagum dengan indahnya Al-Qur'an. Banyak juga para muallaf yang tidak mau beranjak mendengarkan lantunan bacaan dan hafalan yang dibacakan oleh anak-anaknya saat mengikuti perlombaan.

Semoga dengan itu pula, semakin banyak lahir generasi yang mencintai Al-Qur'an, menghafalnya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Amiin....

H Khumaini Rosadi, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ichsan Bontang, Dai Tidim Jatman, Dai Ambasador Cordofa, Dosen STIT Syam Bontang, Guru PAI SMA YPK Bontang, Muballigh LDNU Bontang, Imam Masjid Agung Al-Hijrah Kota Bontang, tengah bertugas dakwah Ramadhan di Belanda.





Jumat 24 Mei 2019 15:30 WIB
Otoritas Malaysia Razia Warga Tak Puasa, Bisa Didenda Rp3,4 Juta
Otoritas Malaysia Razia Warga Tak Puasa, Bisa Didenda Rp3,4 Juta
Ilustrasi makanan di restoran (Phinemo)
Segamat, NU Online
Otoritas Segamat, sebuah kota di negara bagian Johor, Malaysia, memiliki cara unik ketika ‘menangkap’ warga Muslim di kota tersebut yang tidak puasa di bulan Ramadhan. Ada petugas khusus yang diminta menyamar menjadi koki dan pelayan restoran untuk secara diam-diam mengambil foto umat Islam yang tidak menjalankan puasa Ramadhan.

Mengutip laman AFP  dan The New Straits Times, Rabu (23/5), Dewan Kota Segamat, Masni Wakiman, mengatakan, ada 32 petugas penegak hukum dewan lokal distrik Segamat, yang ditugaskan menjadi koki dan pelayan samaran. Mereka dikerahkan dan ditugaskan untuk memantau 185 restoran, kedai kopi, dan rumah makan yang berada di bawah naungan Dewan Kota.

"Kami telah secara khusus memilih petugas penegak hukum yang berkulit gelap untuk melakukan penyamaran ini," kata Wakiman. 

Kata Wakiman, mereka yang ditugaskan menyamar menjadi koki dan pelayan fasih berbahasa Indonesia dan Pakistan sehingga para pelanggan tidak akan menaruh curiga kepada mereka. Bahkan, dua diantara 32 petugas tersebut begitu lihai menyajikan makanan seperti menyiapkan roti canai, mee goreng mamak, dan teh. 

“Mereka terdengar meyakinkan ketika berbicara bahasa Indonesia dan Pakistan sehingga pelanggan akan percaya bahwa mereka benar-benar bekerja untuk memasak dan menyajikan makanan,” jelasnya.

Menurut Wakiman, para petugas tersebut akan secara diam-diam menjebret ketika warga Muslim sedang menikmati makanan dan minuman yang telah disajikan pada siang hari bulan Ramadhan. Foto tersebut kemudian akan dikirim ke Dewan Urusan Islam Segamat untuk ditindak lanjuti.

Diketahui, Johor adalah salah satu negara bagian Malaysia yang menerapkan hukum syariat, selain hukum nasional. Di Johor, warga Muslim yang kedapatan tidak puasa di bulan Ramadhan bisa dihukum penjara 6 bulan dan denda hingga 1.000 ringgit (setara Rp 3,4 juta).

Kebijakan itu menimbulkan pro dan kontra di Malaysia. Khadi Kota Segamat menyambut baik langkah tersebut. Dia menghimbau agar pengusaha rumah makan tidak melayani warga Muslim saat bulan Ramadhan. 

“Perbuatan sebagian kecil umat Islam ini sungguh memalukan dan memberikan impresi yang buruk mengenai agama Islam di mata pemeluk agama lain,” katanya.

Sementara itu, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan hak perempuan Islam, Sisters in Islam, mengecam kebijakan tersebut. Mereka menganggap kebijakan itu memalukan dan meminta otoritas Segamat menghentikannya.  

“Kami sangat menuntut agar semua pihak menghentikan tindakan memata-matai yang memalukan ini,” kata Sisters in Islam dalam pernyataannya. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG