IMG-LOGO
Nasional

Innalillahi, Kiai Tolchah Hasan Wafat

Rabu 29 Mei 2019 14:45 WIB
Bagikan:
Innalillahi, Kiai Tolchah Hasan Wafat
Salah satu ungkapan belasungkawa untuk KH Tolchah Hasan.

Jakarta, NU Online

Innalillahi wainna ilaihi rajiun...

Berita duka kembali menyapa warga NU. Mustasyar PBNU KH Tolchah Hasan meninggal dunia. Kabar tersebut pertama kali NU Online terima dari Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuqi Mustamar, Rabu (29/5) siang ini.

"Kira-kira setengah jam yang lalu. Kiai Tolchah meninggal di Rumah Sakit di Malang," kata Kiai Marzuqi Mustamar melalui sambungan telepon, siang ini pukul 14.35 WIB.

Kiai Marzuqi Mustamar juga mengimbau warga NU untuk menjalankan shalat gaib bagi Kiai Tolchah dan agar bisa mendoakan almarhum Kiai Tolchah Hasan agar khusnul khatimah.

"Mugi-mugi khusnul khotimah. Nyuwun kanti sanget, pengurus NU lan warga NU kirim doa lan shalat ghoib kagem KH Tolhah Hasan, (Semoga khusnul khatimah. Mohon dengan sangat, penguru NU dan warga NU agar mengirim doa dan menjalankan shalat gaib untuk KH Tolchah Hasan," kata Kiai Marzuqi.

Kabar tersebut dibenarkan oleh Hardadi Arilangga, menantu Kiai Tolchah Hasan.

"Wafat tadi jam 14.10 WIB di Paviliun VIP A Wijaya Kusuma RS Saiful Anwar, Kota Malang," kata Hardadi yang seorang dokter. 

Almarhum rencananya akan dimakamkan di kompleks Pesantren Bungkuk Singosari, bakda shalat Tarawih malam ini.

"Di situ (kompleks makam) kan ada makam Kiai Masykur, lalu ibunya," lanjut Dokter Hardadi.

Saat berita ini ditulis, jenazah masih berada di RSSA, dan tengah dilakukan pengurusan jenazah Kiai Tolchah.

Pertengahan Mei lalu, salah satu putri Kiai Tolchah, Fathien Furaida mengabarkan Kiai Tholchah beberapa hari terakhir memang kerap keluar-masuk RS.

Kiai Tolchah merupakan Menteri Agama (Menag) pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan aktif sejak muda di NU. Pada Muktamar NU ke-33 tahun 2015, Kiai Tolchah juga salah satu kiai yang masuk dalam Ahlul Hali wal Aqdi. Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam PBNU mendampingi KH Sahal Mahfudh.

Achmad Nur Kholis dalam artikel yang dimuat NU Online menjelang penyelenggaraan Muktamar NU tahun 2015 menuliskan Kiai Tolchah Hasan atau Prof Dr KH Muhammad Tolchah Hasan, dilahirkan di Tuban, Jawa Timur pada 1936. Ia merupakan seorang tokoh yang multidimensi, sebagai ulama, tokoh pendidikan, pegiat organisasi yang tekun dan juga seorang tokoh yang aktif di pemerintahan. 

Sebagai seorang ulama, tulis Nur Kholis, Kiai Tolchah adalah sosok dengan keilmuan yang mendalam. Penguasaannya terhadap teks-teks agama ditunjukkan dengan aktivitasnya mengajar di pondok pesantren dan di berbagai perguruan tingi. Sebagai seorang tokoh agama ia juga mampu menciptakan pemikiran-pemikiran segar dalam pemahan terhadap agama. Buku populer yang ia tulis (disamping banyak karya yang lain) adalah Ahlussunnah wal Jamaah dalam Tradisi dan Persepsi NU.

Perannya sebagai ulama juga ditunjukkan dengan eksistensi Masjid Sabilillah di Singosari Malang yang dibangun bersama salah seorang founding father NKRI, KH Masykur. KH Masykur menunjuk kiai alumni Tebuireng ini sebagai ketua panitia pembangunan masjid itu.

Kiai Tolchah mampu mengembangkan Masjid Sabilillah menjadi sebuah masjid yang tidak hanya menonjol sebagai tempat ibadah, melainkan tempat pengembangan masyarakat dengan memberdayakan masjid berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sekolah mulai tingkat dasar sampai lanjutan, kegiatan sosial ekonomi dengan adanya LAZIS Sabilillah, Poliklinik sebagai pusat kesehatan masyarakat.

"Semuanya itu dikelola dengan baik di bawah Masjid Sabilillah. Hal demikian ini menunjukkan bahwa KH Tolchah mampu mengembangkan masjid sebagai pusat peradaban seperti masa lalu," tulis Nur Kholis. (Kendi Setiawan)



Bagikan:
Rabu 29 Mei 2019 23:0 WIB
Bersih-Bersih Suluk Lesbumi NU Lampung
Bersih-Bersih Suluk Lesbumi NU Lampung
Bandar Lampung, NU Online
Bertempat di komplek Pesantren Al Muttaqien Jalan Imam Bonjol Gang Terong No 29 Kemiling Raya Bandar Lampung, jajaran keluarga besar Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Seni Budaya dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Propinsi Lampung gelar Suluk Lesbumi Lampung dan Maiyahan Dua Lapanan dan pada bulan Ramadan ini untuk ketiga kalinya, dengan mengusung tema Bersih – Bersih, Selasa (28/5) malam.
 
Sekretaris PW Lesbumi NU Propinsi Lampung Gus Khairul Anwar menyampaikan disela – sela acara, menyampaikan, tema diatas kami jabarkan artinya di bulan suci Ramadhan 1440 H, ini kita wajib menelanjangi diri kita sendiri, menelanjangi kesombongan kita, menelanjangi keangkuhan kita, menelanjangi sifat "merasa" kita, merasa pinter, merasa cantik, merasa kaya, merasa cakep, merasa memiliki, merasa menguasai, dan merasa-merasa yang lain.
 
"Suluk Lesbumi ini memahami Bersih-bersih dalam arti hakiki, bahwa kita wajib mengenali diri kita sendiri yang kadang kala seringkali dikuasai oleh nafsu angkara murka, kemudian kita wajib menyeimbangkan antara kebutuhan Hablu Minallah dan Hablu Minnannas", tambah mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung ini.
 
"Sebagai amanah struktur dan kultur kita Aswaja An-Nahdliyyah, maka wajib bagi kita sebagai generasi muda Nahdlatul Ulama untuk meneguhkan dan menanamkan kembali menjadi tonggak Islam Nusantara dengan Wirid Saptawikrama" tutupnya.
 
Hadir dalam Suluk Lesbumi Lampung dan Maiyahan tokoh – tokoh NU, para aktivis muda NU, para santri, budayawan, dan lain – lain.
 (Akhmad Syarief Kurniawan/Abdullah Alawi)
Rabu 29 Mei 2019 22:0 WIB
LKSB: Tujuan Demokrasi adalah Kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat
LKSB: Tujuan Demokrasi adalah Kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat
Jakarta, NU Online
Intelektual muda Nahdlatul Ulama yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategi Bangsa (LKSB), Abdul Ghopur mengatakan memahami demokrasi harus komprehensif agar  dapat mengetahui hakikat dari demokrasi tersebut. Menurutnya, demokrasi dalam arti lain bukanlah tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan yakni kemakmuran, kesejahteraan dan kedaulatan rakyat.  
 
Pernyataan itu disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategi Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur saat menghadiri kegiatan Silaturahim dan Dialog Kebangsaan oleh Lembaga Kajian Strategi Bangsa (LKSB) dan Rumah Millenial di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (29/5).
 
"Pertama, pemahaman demokrasi haruslah komprehensif dalam artian memahami demokrasi bukan sebatas demokrasi bukan tujuan melainkan alat, untuk mencapai tujuan. yakni keadilan kemakmuran, kesejahteraan dan kedaulatan rakyat," ujarnya.
 
Ia menjelaskan, demokrasi di berbagai belahan dunia seperti di eropa dan negara negara barat semakin maju karena sikap masyarakatnya yang dewasa dan mengerti apa itu demokrasi. Sementara di Indonesia, kata Ghopur, nyaris mengalami kemunduran, bahkan jika tidak diberikan pemahaman yang kuat soal demokrasi tersebut, sangat mungkin demokrasi di Indonesia gagal terwujud.
 
"Dalam  kontek indonesia demokrasi kita, dari sisi simbolik dan ritual nampak begitu pesat kemajuannya. Namun jauh mundur ke belakang dari sisi subtansial," ujarnya.
 
Terpenting yang harus dipahami oleh masyarakat umum, demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang menitik beratkan kepada permusyawaratan rakyat, permufakatan rakyat dan perwakilan rakyat. Selanjutnya, demokrasi di Indonesia adalah demokrasi yang mengusung nilai nilai luhur bangsa yang menjamin kerukunan dan keutuhan bangsa.  
 
"Kemudian, demokrasi kita menitik beratkan kepada keselamatan bangsa serta menjamin kepercayaan pada tuhan yang maha esa," tuturnya.
 
Ia menegaskan, demokrasi bukanlah pemicu perpecahan antar bangsa, demokrasi adalah indikator bersatunya masyarakat untuk mewujudkan cita cita kemerdekaan Indonesia. Kuncinya, masyarakat harus menerima perbedaan pandangan dan legowo atas berbagai kebijakan yang telah disepakati atas nama bangsa Indonesia.

"Padahal, sebagaimana  kita ketahui, perbedaan adalah rahmat dan kita wajib mengelolanya dengan bijaksana," katanya.

Hadir pada kegiatan tersebut Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Bina Suhendra, Ketua Rumah Milenial Sahat Martin, Ketua Umum Himpunan Putra Putri Angkatan Darat (Hipakad), Hariara Tambunan, Pendeta PGI, Rommy Sormin dan puluhan peserta dari berbagai kalangan.
(Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)   
 

Rabu 29 Mei 2019 21:40 WIB
Gandeng Uncen dan Tokopedia, Kemendes Sosialisasikan Digital Marketing
Gandeng Uncen dan Tokopedia, Kemendes Sosialisasikan Digital Marketing
Jakarta, NU Online
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT) bekerjasama dengan Tokopedia dan Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura melaksanakan sosialisasi dan Workshop Digital Marketing Partnership Tokopedia Corner dan Tokopedia Scholarship pada Senin (27/5) lalu di Uncen Jayapura, Papua.

Kasubdit Kemitraan Usaha pada Direktorat Pengembangan Ekonomi Lokal, Ditjen PDT Kemendes PDTT, Dahlia mengatakan bahwa pelaksanaan worskop ini Kemendes PDTT memfasilitasi Tokopedia dan Uncen yang nantinya diharapkan dapat membantu mengajak UMKM di Jayapura untuk bisa memasarkan produk-produknya secara online.

"Harapannya melalui Tokopedia Corner, entrepreneurship di mahasiswa Universitas Cenderawasih akan tumbuh dan berkembang serta dapat membantu dan mengajak UMKM lain di Jayapura untuk bisa memasarkan produk-produknya secara online," katanya.
 
Menurutnya, persoalan pemasaran produk di Daerah Tertinggal tidak hanya terkait aksesibilitas dan minimnya sarana prasarana. Namun juga rendahnya pengetahuan masyarakat tentang literasi digital. 

"Dengan kegiatan workshop ini sangat penting untuk melahirkan calon-calon pengusaha baru yang diharapkan bisa memajukan perekonomian daerah. Apalagi, tokopedia sudah dikenal dalam menjalankan bisnis onlinenya dalam memasarkan produk atau barang dari berbagai kalangan," katanya.

Perlu diketahui bahwa Tokopedia telah membangun program di Universitas terpilih yang memiliki misi untuk membangun inkubasi bisnis untuk pertumbuhan ekonomi wilayah setempat melalui pemasaran produk lokal secara digital. Tokopedia membentuk program untuk Universitas yaitu Tokopedia Corner dan Tokopedia Scholarship. 

Tokopedia Corner adalah sebuah tempat yang akan dibangun di Universitas untuk menjadi wadah bagi para mahasiswa yang memiliki bisnis dan ingin berjualan secara online serta tempat pengambilan barang dengan program gratis ongkos kirim bagi mahasiswa. 

Tujuan dari didirikan Tokopedia Corner ini untuk mempermudah hidup mahasiswa melalui teknologi dan menumbuhkan jiwa entrepreneurship bagi mahasiswa. Sedangkan Tokopedia Scholarship adalah program beasiswa yang didedikasikan untuk mahasiswa terbaik dari jurusan Teknik dan data. 
 
"Melalui kegiatan workshop ini, Tokopedia akan membuka Tokopedia Corner di Universitas Cendrawasih sebagai sarana promosi tenant produk lokal dan pusat pengiriman produk melalui Tokopedia," katanya.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG