IMG-LOGO
Esai

Memaknai Puasa dan Mudik yang Tak Biasa

Jumat 31 Mei 2019 10:0 WIB
Bagikan:
Memaknai Puasa dan Mudik yang Tak Biasa
Oleh Muhammad Ghufron

Setiap tahun umat Islam akan kembali bersua dengan dua bulan penuh makna dalam tradisi Islam, Ramadan dan Syawal. Dua bulan tersebut secara bergandengan dihayati oleh umat Islam sebagai manifestasi rasa bersyukur dan momentum mengevaluasi diri.

Ramadhan dihayati sebagai bulan penuh momentum ekspresi rasa bersyukur atas segala karunia yang telah tuhan limpahkan. Hal yang paling substansial dari rasa bersyukur itu ialah  menahan segala kehendak ego, dan hasrat pukau terhadap gemerlap duniawi. Itulah wujud ejawantah implementasi dimensi vertikal (hablun minallah) yang harus menjejak dalam wilayah praksis. 

Selama bulan itu pula, umat Islam di seluruh penjuru dunia akan kembali menyambut kedatangannya dengan gegap-gempita. Tak terkecuali di Indonesia. Sebagai agama mayoritas yang hidup dalam lingkungan yang begitu kompleks, eksistensi bulan Ramadan mendapat atensi penuh bagi umat Islam. Kedatangannya pun disambut sebagai penanda keberkahan, rahmat, dan ladang menyemai kebaikan.

Dunia hiburan di tanah air yang semula sesak dengan narasi-narasi romantisme, dan hasrat mengejar kesenangan temporal berubah seketika menjadi tontonan bertemakan islami. Produksi perfilman seolah berusaha melepaskan diri dari jeratan belenggu narasi-narasi jamuran menuju narasi spiritual-religius. Hal itu bisa kita lihat dalam setiap tayangan acara televisi selama bulan Ramadhan. 

Tak hanya itu, album-album religi selama bulan Ramadhan mulai menyeruak mewarnai jagat permusikan di tanah air. Para musisi yang sebelumnya gandrung berada di dapur rekaman hanya melahirkan lagu-lagu yang berkelindan dengan rasa, mulai banting setir mengerahkan kelihaian suaranya demi mencapai estetika yang bertendensi pada nuansa rohani. Seolah bulan Ramadhan bak panggung ritus yang menampilkan ekspresi ketaatan iman seseorang. 

Pada titik inilah profanitas bermetamorfosis menjadi sakralitas. Yang sebelumnya terlampau sibuk mengejar urusan duniawi, seketika memarkir kendaraan duniawinya menuju penghambaan yang hakiki pada tuhan-Nya. Di sebagian masjid-masjid kita mendapati segelintir orang yang berusaha menampik sejenak terhadap riuh persoalan materi dengan menggantinya mengevaluasi diri lewat kontemplasi di ruang sunyi. Inilah gerakan konkrit yang pernah diajarkan Rasulullah Muhammad ketika berkhalwat di Gua Hira.

Melakukan khalwati bukan berarti menarik diri dari realitas sosial. Justru dengannya segala riuh dan sumpek dalam kegiatan praksis kita teratasi. Aksi dan kontemplasi keduanya merupakan relasi yang tidak dapat dipisahkan. Inilah yang dalam terminologi Abdul Hadi WM disebut sebagai Aktivisme dan Pasivisme merupakan keterkaitan yang selalu menjejak dalam dinamika kehidupan manusia.

Bulan Ramadan kali ini dimana kedua aktivitas di atas menemukan momentumnya. Ibadah puasa yang dijalani umat Islam bukan hanya dimaknai sekedar melakukan ritus menabung pahala. Lebih dari itu, dalam makna yang cukup substansial puasa mempunyai korelasi sosial yang relevan bagi kondisi umat manusia modern. 

Puasa dan Mudik Sepanjang Masa.
Kita lihat di tahun 2019, gemuruh hangat pemilu yang telah usai digelar tak ubahnya menjadi semacam pagelaran teater yang menampilkan karakter-karakter antagonis. Politisi, kiai, dan masyarakat awam pun seolah terjebak dalam kawah hitam ujaran kebencian dan caci maki. Mereka seolah memajalkan spirit  kebinnekaan yang telah menjadi penyangga pemersatu negeri ini. 

Keberagaman di negeri ini tak lagi mampu disikapi secara arif. Akibatnya yang terjadi justru penyeragaman dengan cara menjustifikasi halal-haram sebagai instrumen melegitimasi suatu masalah. Pada titik ini, umat manusia baik dari kalangan non-muslim harus betul-betul melakukan ritual puasa dan tradisi mudik sepanjang masa sebagai instrumen terwujudnya negara yang berdaulat. 

Puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar dalam tempo yang telah ditetapkan. Lebih dari itu, kita harus betul-betul memaknai dan menyikapi puasa lebih dari sekedar yang sifatnya berbau fisikal. Dengan demikian, puasa secara holistik juga merupakan ritual kesalehan sosial yang harus diimplementasikan dalam setiap gerak langkah kita. 

Segala gerak badan, sorot mata, dan getaran hati sepenuhnya merupakan anugerah tuhan yang wajib kita syukuri. Wujud syukur itu bisa kita ekspresikan lewat memuasai segala tingkah laku dan ego yang terkesan kurang baik. Terutama memuasai mulut untuk menahan diri dari ujaran-ujaran kebencian dan melakukan propaganda atas nama agama. Itulah ejawantah dari keindahan makna puasa yang sesungguhnya.

Terlepas dari hal tersebut, dimensi makna memuasai juga harus kita implementasikan dalam ranah kebangsaan. Sebab adakalanya negeri yang plural ini harus menahan segala bentuk ketimpangan-ketimpangan yang terjadi selama ini di segala poros dinamika kehidupan berbangsa kita. Oleh karena itu, memarkir kendaraan duniawi merupakan sesuatu yang niscaya yang harus dilakukan bagi setiap warga negara Indonesia.

Memarkir kendaraan duniawi berarti tidak melakukan aktivitas yang berlebihan terhadap segala hal yang berbau materi. Tamak, rakus, dan kikir merupakan tungku api yang kapan saja bisa melahap sikap welas asih kita kepada sesama. Disinilah penting kiranya praktik mudik dijadikan sebagai instrumen mengembalikan sikap kemanusiaan kita. Orang-orang yang berusaha mudik sebenarnya telah kembali ke rahim sang ibu (kampung halaman). Tempat dimana Allah meniupkan ruh pertama kalinya bagi manusia. 

Maka ketika ruh sudah ditiupkan segala apa yang diperoleh ketika merantau bukan dijadikan sebagai ornamen pamer kesuksesan. Melainkan berusaha melebur dalam suatu komunitas masyarakat. Berbagi kebersamaan dengan memberikan segala apa yang kita peroleh di tanah rantau, baik materi maupun ilmu merupakan suatu bentuk inti ketulusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Itulah makna tradisi mudik yang sesungguhnya. 

Dengan demikian secara tidak langsung ritual puasa dan tradisi mudik yang kita jalani sesungguhnya telah berusaha mengembalikan fitrah kita. Disitulah kita akan menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Jati diri bukanlah produk artifisial yang hanya bisa diperoleh dengan keangkuhan dan kesombongan, melainkan dengan sikap ketulusan dan kasih sayang kepada sesama. Suatu sikap kemanusiaan yang adiluhung untuk diimplementasikan dalam suatu komunitas sosial. 

Apabila seseorang telah menemukan hakikat jati dirinya, maka orang tersebut ibarat pohon jati yang kokoh dihempas angin. Ia tak akan koyak hidup di tengah-tengah perbedaan ideologi, agama, ras, dan budaya. Sebab ia telah memberikan ruang teduh yang bisa dijadikan modal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mampu mengayomi yang lemah dan memberikan uluran tangan bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Hal ini akan berimplikasi pada sebuah tatanan Ukhuwah Insaniyah. Inilah konsep Islam Rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya.

Akhirnya, makna ibadah puasa dan tradisi mudik  merupakan dua jalinan  yang saling berkait-kelindan menjadi semacam ikhtiar untuk meningkatkan taraf kemanusiaan kita. Secara eksplisit keduanya mengandung makna menahan dan kembali. Puasa bermakna menahan segala ego kita untuk sebuah transformasi diri. Sedangkan mudik telah berusaha mengembalikan diri kita ke jalan yang fitri. Dengan demikian ritual puasa dan tradisi merupakan perjalanan agung umat Islam yang harus dijalani sepanjang masa. Begitu.


Penulis adalah Nahdliyin yang Mengabdikan diri sebagai Arsiparis PP. Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-guluk, Sumenep. Sekaligus Pemangku Adat Literasi di Komunitas Menulis Pasra (Kompas)













Tags:
Bagikan:
Jumat 31 Mei 2019 17:0 WIB
Godin dan Kenakalan Puasa Orang Sunda
Godin dan Kenakalan Puasa Orang Sunda
ilustrasi: utility-share.blogspot.com
Oleh Abdullah Alawi 

Bahasa Sunda telah menyumbangkan satu kata kepada umat Islam Indonesia yaitu ngabuburit. Kata ini telah menasional, bahkan sering diperbincangkan di acara televisi dan radio, diungkapkan di media sosial. Istilah ini, tentu saja tidak ada di Arab Saudi dan negara-negara lain. 

Namun, ada satu kata lagi yang agak populer di kalangan urang Sunda, khususnya anak-anak mudanya, yaitu kata atau istilah godin. Sebagaimana ngabuburit, istilah ini hanya populer setahun sekali, yaitu saat puasa di bulan Ramadhan. 

Kata ini tidak saya temukan di kamus bahasa Sunda yang disusun R. A. Danadibrata. Kamus tersebut, menurut Ajip Rosidi memiliki entri yang cukup banyak, sekitar 40-50 ribu kata. Kamus tersebut disusun sejak lama oleh penulisnya, tapi upaya penerbitannya sekitar tahun 80-an, gagal dan baru berhasil sekitar tahun 2000-an. Sang penulis datang ke berbagai tempat penutur bahasa Sunda untuk mengumpulkannya. Namun, godin tidak termasuk. 

Mungkin godin dianggap istilah yang muncul belakangan sehingga penyusunnya tidak mengenal kata itu. Namun, sedari saya kecil, akhir tahun 80-an, kata itu sudah populer di Sukabumi. Dan ternyata digunakan pula di Bogor, Bandung, Cianjur, dan lain-lain. 

Di dalam Ensiklopedia Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi yang disusun Ajip Rosidi dan kawan-kawan juga tidak ditemukan kata itu. Padahal ensiklopedia tersebut diterbitkan tahun 2000-an. 

Ada dua kemungkinan penyebabnya, karena tim penulis tidak menemukan istilah itu. Kedua, karena memang tidak layak masuk sebagai entri. Meski demikian, kata itu tetap saja ada, dan selalu ada peminatnya.   

Karena tidak ada penjelasan di dua buku tersebut, akhirnya saya menggunakan penjelasan manasuka. Saya mengira, kata tersebut berasal dari bahasa Arab yang terjalin dalam lafal niat puasa. Niat yang diajarkan guru ngaji dan orang tua tersebut adalah Nawaitu shauma ghadin an adai fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati fardhal lillahi ta’ala…. 

Dalam kalimat tersebut ada, ghadin yang berarti esok hari karena niat tersebut dibacakan sejak akhir tarawih malam harinya. Namun ternyata, makn itua “diselewengkan” secara semena-mena. Di Sunda artinya menjadi berbuka puasa. Dan yang lebih mengherankan, berbuka sebelum waktu maghrib. Ini artinya buka puasa ilegal. Penyelewengan berlapis-lapis. 

Siapa pelaku yang menggunakan istilah dengan menukil dari kalimat bahasa asing secara sembarangan ini? Tentu saja saya tidak tahu wong kamus dan ensiklopedia saja tidak memuatnya. 

Tapi baiklah, saya menggunakan dugaan-dugaan dengan teknik kemungkinan lagi. Mungkin kata itu sebetulnya untuk mendeskripsikan anak kecil yang berbuka puasa sebelum maghrib. Hal itu dilakukan karena di dalam bahasa Sunda tak punya istilah berbuka puasa ilegal. Mungkin awalnya tak sengaja, tapi kemudian jadi kebiasaan dan akhirnya kesepakatan. Sayangnya kesepakatan dimanfaatkan orang-orang dewasa. 

Dulu, ketika saya kecil, orang dewasa yang melakukan godin adalah aib. Mereka akan menjadi perbincangan tetangga dan disindir ajengan pada pengajian kuliah subuh. Karena itulah, biasanya godin dilakukan secara gerilya atau sembunyi-sembunyi. Bisa di hutan, di tepi sungai yang sunyi, di dangau sawah yang terpencil karena kalau di rumah akan dimarahi keluarga.

Namun, sekarang godin kerap dilakukan orang dewasa secara terbuka tanpa rasa malu. Dan dilakukan secara berjamaah. 


Penulis adalah asli pituin Sunda, kelahiran Sukabumi

Jumat 31 Mei 2019 4:0 WIB
Pesona Bulan Suci Ramadhan di Negeri Syam
Pesona Bulan Suci Ramadhan di Negeri Syam
Oleh: Muhammad Iqbal Muzakki

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling di nanti kehadirannya. Layaknya seorang pembawa kabar gembira yang di nanti semua orang, bulan Ramadhan juga membawa segudang kebaikan serta kebahagiaan bagi umat Islam seantero jagat raya. Adalah bulan dalam ladang kebaikan, bulan dalam siang malamnya untaian kalam tuhan disenandungkan, bulan dalam penanda mukjizat utama sang pembawa risalah diturunkan, bulan dalam diam dan pulasnya dicatat suatu kebaikan. Kini tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki hari raya Idul Fitri. 

Semoga di sisa hari Ramadhan ini, sebelum bulan maghfirah dijemput oleh hari raya, kita bisa memanfaatkan peluang untuk mengumpulkan pundi-pundi amal ibadah kita yang masih jauh dari kata sempurna. Ya Rabb. 

Tinggal di negeri orang di saat budaya kumpul bersama keluarga berlangsung tentu menjadi momentum yang tersendiri bagi saya. Sedari kecil, semenjak 25 tahun roda kehidupan bergulir, hampir tidak pernah merasakan bulan suci Ramadhan jauh dari kehidupan keluarga meski hanya sepuluh hari terakhirnya lantaran ikut pengajian kilatan balagh Ramadhan di berbagai pondok pesantren. 

Namun tahun ini dan setengah windu ke depan, nampaknya saya akan merasakan euforia bulan suci Ramadhan sepaket dengan hari raya Idul Fitri hidup di negeri orang dan belum bisa bersua dengan keluarga. Menikmati masa-masa tarawih, berbuka, saur, ngabuburit bersama keluarga akan cuti dan libur panjang seiring berjalannya waktu dalam mengemban amanah dari orang tua tercinta. 

Ya, Suriah merupakan negara kuno yang sangat kaya akan sejarahnya. Dalam perjalanannya, terbukti dari banyaknya destinasi wisata dan tak sedikit peninggalan bangunan kuno di segala penjuru negeri ini. Mulai peninggalan zaman Yunani, Romawi kuno, kekaisaran Bizantium, benteng bosra, benteng Aleppo, makam nabi, makam sahabat nabi, tabiin, tabi'it tabi'in, para perawi hadits, para pengarang kitab, ribuan masjid kuno dengan menara menjulang yang syarat akan sejarah, hingga zaman nabi adam dengan ditandainya makam habil dan tempat penyembelihannya.

Bahkan kota Damaskus, ibu kota Suriah, sering disebut kota tertua di dunia karena tidak pernah terputus dari penghuni meskipun silih bergantinya kebudayaan yang dibawa oleh para penguasa kota tersebut. Menurut legenda, kota yang saya duduki saat ini didirikan oleh salah satu cucu Nabi Nuh. Namun bukti sejarah otentik tertua dari pendirian kota Damaskus baru terdapat dalam prasasti Ebla (3000 SM) dan prasasti Mesir (1500 SM) yang menyebut kota ini sebagai "Dimeshq". Tak terbayang, ternyata pengembaraanku kembali mengudara di negeri yang telah merekam jejak sejarah yang sangat luar biasa ini. 

Berbicara pengalaman perdana puasa di negeri orang tentu banyak sekali perbedaannya dibandingkan di negeri sendiri. Mulai perbedaan durasi waktu, cuaca, begitupula budaya dan nuansanya tak seperti di tanah air. Berbeda dengan tanah air maupun negara-negara di Eropa apalagi yang berada di dekat lingkat kutub Utara, negara-negara Arab kawasan timur tengah umumnya memiliki durasi puasa berbeda. Kurang lebih 15-16 jam durasi puasa. Di mulai waktu subuh 03:45 sampai maghrib pukul 17:45 waktu setempat. Lebih lama 2-3 jam dibanding dengan tanah air. Akibat bulan Ramadhan jatuh di musim panas maka durasi berpuasa menjadi lebih panjang. Bahkan di Norwegia dan Inggris puasa akan berdurasi masing-masing 18 dan 19 jam.

Aktivitas dan kegiatan terfavorit selama menjalani Ramadhan perdana di negeri Syam ini selain menghadiri pengajian berpindah dari satu masjid ke masjid lain ialah “tarling” atau tarawih keliling di masjid-masjid kuno. Mulanya penasaran dengan bacaan sang imam yang notabenenya terkenal bacaannya bagus. Tapi tidak tahu mengapa, rasa-rasanya keheranan dan melek akan masjid sekitar tiba-tiba muncul begitu saja saat memerhatikan bebatuan yang berabad-abad lalu ditumpuk rapi. Berbagai keunikan konstruksi masjid tua yang sederhana namun syarat akan historis. Nuansa dinasti Ayyubiyah selalu melekat di dinding-dindingnya. Seperti yang saya lihat di masjid Jami umawi, Rukniyaah, Hanabilah, Siraqah, Muhyiddin Ibnu Arabi, Abdul Ghani Annabulisi, Thowusiyah dll. Puji syukur Alhamdulillah, akibat rasa heran saya yang kian menjadi-jadi, sampai saat ini telah berhasil menaklukkan 17 masjid.

Dalam shalat tarawih para jamaah diberi kebebasan memilih masjid sesuai dengan pilihannya, karena ada dua pilihan yaitu shalat tarawih 20 raka’at atau 8 rakaat dengan durasi waktunya pun berbeda-beda ada yang 1 jam, bahkan sampai 2 jam. Atau bahkan bisa lebih. Sedangkan surat Al-Qur'an yang dibaca terkadang menghabiskan ½ juz, 1 juz, atau lebih. Selama tarling berjalan, saya baru menjumpai tarawih yang terlama di Damaskus yaitu masjid Zaid bin Tsabit mulai pukul 21:15 dan selesai pukul 23.30.

Di kawasan Ruknuddin, terdapat masjid Halalat. Berada di dekat pasar Jumu'ah. Masjid ini merupakan masjid favorit masyarakat sekitar dan mahasiswa Indonesia. Selalu membludak. Di samping dekat dengan tempat tinggal para mahasiswa, durasi shalat tarawih yang sangat bersahabat ini menjadi daya tarik tersendiri.

Lain dari yang lain, ada hal menarik yang tak bisa luput dari pandangan saya. Terdapat sebagian masjid besar modern yang bersedia menayangkan lembaran demi lembaran surat Al-Qur'an dari sorotan sinar projektor ataupun TV LCD berukuran besar seperti masjid Shalahuddin Al Ayyubi, masjid Abu Nur, dan masjid Zaid bin Tsabit. Untuk masjid yang tidak tersedia, biasanya terpampang mushaf-mushaf Al-Qur'an berukuran besar yang ditempatkan di barisan awal. Hal ini tak lain untuk membantu para jamaah dalam menyimak bacaan sang imam. Dan hasilnya, sangat membantu sekali terlebih teruntuk jama'ah yang tidak hafal Al-Qur'an. Bagi saya pribadi, ini merupakan langkah tepat untuk mengurangi rasa kejemuan dan kekurangkonsentrasian dalam menjalankan ibadah tarawih khataman Al-Qur'an yang relatif lama dan capek.

Akhir kata, kegiatan-kegiatan Ramadhan di negeri Syam ini pada dasarnya ialah upaya pengalihan saya terhadap rasa rindu kepada tanah air, guru-guru, orang tua, sanak kerabat dan suasana pondok pesantren dulu. Wallahu A'lam. Semoga bermanfaat.


Damaskus, 25 Ramadhan 1440 H



Jumat 31 Mei 2019 3:30 WIB
Masjid Hizbullah-Sabilillah di antara Kiai Masykur dan Kiai Tolchah
Masjid Hizbullah-Sabilillah di antara Kiai Masykur dan Kiai Tolchah
Oleh R Ahmad Nur Kholis 

Bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama di Nusantara jika saja berkunjung ke Malang Raya, tidaklah sempurna rasanya jikalau tidak berkunjung ke dua masjid bersejarah bagi warga Nahdlatul Ulama. Kedua masjid tersebut adalah masjid Hizbullah yang berada di Singosari, Kabupaten Malang, dan Masjid Sabilillah yang berada di Kecamatan Blimbing Kabupaten Malang.

Dikatakan masjid ini penting bagi warga Nahdlatul Ulama adalah karena keduanya, baik Masjid Hizbullah maupun Sabilillah, didirikan dan menjadi monument sejarah perjuangan Laskar Hizbullah dan Sabilillah utamanya pada peperangan 10 Nopember 1945. 

Masjid Hizbullah merupakan masjid Jami’ pertama yang ada di Singosari Kabupaten Malang. Masjid ini didirikan pada tahun 1907 atas jasa dan prakarsa KH Masykur. Sedangkan Masjid Sabilillah berdiri agak lebih belakangan yaitu dimulai peletakan batu pertamanya pada tahun 1974.

Meskipun berdiri sejak tahun 1907, masjid Hizbullah Singosari pada awalnya tidaklah memakai nama hizbullah pada tahun 1907. Melainkan dinamakan dengan masjid Jami’ Singosari. Hanya saja karena belakangan di sebelah timur masjid sabilillah ini terdapat markaz Hizbullah dan Kiai Masjkur sendiri adalah salah satu komandan Hizbullah region Malang, Singosari pun menjadi pusat kegiatan Laskar Hizbullah. Maka belakangan pengurusan wakaf tanah dan kepengurusan Masjid ini kemudian dipindahtangankan kepada Nahdlatul Ulama. Pada tahun 1996, lima tahun setelah wafatanya Kiai Masjkur sang pendiri, nama masjid jami’ Singosari diganti menjadi: Masjid Besar Hizbullah (Hasan Ishaq, 2017).

Adapaun Masjid Sabilillah di Blimbing Kota Malang adalah beridiri memang untuk mengenang Perjuangan Laskar Sabilillah. Di mana KH Masjkur juga terlibat di dalam laskar itu. Kiai Masjkur kemudian menunjuk menantunya Kiai Tolchah Hasan untuk menjadi ketua panitia pembangunan masjid tersebut. Di mana masyarakat sekitar juga mendukung pembangunannya karena masjid Jami’ Blimbing yang ada sebelumnya sudah tidak mampu menampung jama’ah shalat jum’at.

Dalam pada itu, ketika Kiai Masjkur menunjuk Kiai Tolchah menjadi panitia pembangunan, Ia berpesan kepada menantunya itu:

“Kalau masjid (sabilillah, red) ini tidak kunjung selesai pembangunannya, maka berarti diantara panitia ini ada yang ngentit (korupsi dana).” Kata Kiai Masykur seperti dikisahkan Kiai Tolchah Hasan pada acara halal bihalal masjid Sabilillah pada tahun 2013 silam.

“Jadi jika saja ada pembangunan masjid kok tidak selesai-selesai, berarti panitianya ada yang korupsi.” Lanjut Kiai Tolchah ketika itu.

Adalah menarik pula untuk menilik bagaimana cara meramaikan kedua masjid tersebut ala Kiai Tolchah. Khususnya dengan Masjid Sabilillah di Kecamatan Blimbing Kota Malang, Kiai Tolchah sebagai penerus perjuangan Kiai Masjkur kemudian mengembangkan berbagai unit kegiatan amal di dalamnya. Berbagai kegiatan dan fasilitas untuk kemaslahatan ummat diselenggarakan di sana. Unit-unit Pendidikan mulai tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas, fasilitas dan kegiatan kesehatan, perpustakaan dan juga Lembaga infaq zakat dan shadaqah yang dikembangkan secara baik. Belakangan ini, bahkan Masjid Sabilillah telah melakukan bedah rumah bagi warga sekitar masjid yang rutin berjama’ah di masjid sabilillah.

Adapun Masjid Hizbullah dalam hal ini, sangat terlihat pesat dengan diselenggarakannya berbagai Lembaga Pendidikan yang ada di sana. Hal mana Lembaga-lembaga Pendidikan tersebut berkembang pesat dibawah sebuah Yayasan Pendidikan Islam Al-Maarif yang juga dipelopori Kiai Masykur dan Kiai Tolchah. Semua Lembaga Pendidikan mulai dari tingkat SD-MI, sampai SMA, MA dan SMK di sana berjalan dan berkembang baik dan maju. Partisipasi masyarakat juga tinggi.

Dalam sebuah kesempatan seminar di Unisma yang penulis ikuti, Kiai Tolchah Hasan secara impilisit mengungkapkan bahwa khususnya konsep pengembangan Masjid Sabilillah yang dia kembangkan adalah meniru Universitas Al-Azhar Mesir. Di mana Universitas tersebut berkembang berasal dari masjid yang kemudian menjadi pusat peradaban Islam.

“Al-Azhar itu bahkan memiliki wakaf tanah yang digunakan untuk rumah sakit dan pusat perbelanjaan.” Kata Kiai Tolchah dalam kesempatan seminar itu. 

Demikianlah, Masjid Hizbullah dan Sabilillah berkembang sebagai masjid yang memakmurkan masyarakat sekitarnya.

Sumber:
1. Penuturan pribadi Kiai Tolchah Hasan
2. Penuturan HM Bibit Suprapto
3. Artikel Hasan Ishaq (2017). Masjid Hizbullah, Monumen Perjuangan Laskar Hizbullah Malang. https://ngalam.co

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG