IMG-LOGO
Opini

Hari Lahir Pancasila dan Proyeksi Tantangan Zaman

Jumat 31 Mei 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Hari Lahir Pancasila dan Proyeksi Tantangan Zaman

Oleh: L Tri Wijaya N Kusuma

Di tengah semaraknya perayaan peringatan lahirnya Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, sudah seharusnya makna kelima sila dalam Pancasila senantiasa diaktualisasikan secara berkesinambungan demi keadilan sosial dan kemaslahatan hajat hidup orang banyak. Pemahaman bahwa Pancasila dirumuskan untuk memperkokoh berdirinya Negara Indonesia perlu kita perkuat kembali di era Industri 4.0 saat ini.

Selain itu dengan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, diharapkan dapat menjadi sebuah oase dalam menjalankan hidup yang lebih baik. Mengingat kembali sejarah berdirinya Indonesia, sebelum Pancasila dirumuskan hingga melewati era reformasi masih banyak rakyat Indonesia yang hidup jauh dari makna sebuah keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Tentunya, melihat fenomena tersebut sudah seharusnya Pancasila tidak hanya menjadi pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara, namun Pancasila juga dijadikan sebagai pedoman dalam mengatur masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera di era industri 4.0.

Dalam menawarkan rekonstruksi makna Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, penulis ingin menyajikan realita dan proyeksi yang akan dihadapi masyarakat Indonesia di dunia kerja pada era industri saat ini.

Dunia industri tengah memasuki era baru, yang disebut Revolusi Industri 4.0.Tak hanya ramai jadi perbincangan dunia, gaung soal industri generasi keempat ini juga terus dibahas di Tanah Air. Hal ini semakin nyata sejak Presiden Joko Widodo meresmikan peta jalan atau roadmap, yang disebut Making Indonesia 4.0. Presiden berharap, sektor industri 4.0 tersebut bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru berbasis teknologi.

Dalam realita saat ini, dapat disaksikan banyak wirausaha baru yang menggagas cara-cara dan platform baru mulai berdatangan. Dari peradaban industri ke peradaban digital, dari perusahaan menjadi platform.
Perlahan kita sudah bisa menyaksikan salah satu 'pendatang baru' di dunia usaha tersebut meraih posisi dominan. Tentu saja tidak mudah mencapai posisi dominan tersebut dan ini jarang kita temui. Namun, ketika berhasil mencapai posisi dominan dalam pasar tersebut, stabilitas pun didapatkan.

Gejala-gejala perubahan besar tersebut sudah mulai nampak. Contohnya pada perubahan industri atau bisnis transportasi, di mana perkembangan transportasi umum berbasis aplikasi atau online dapat membawa dampak cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Sebab, pertumbuhan ekonomi bisa ditopang oleh sektor yang kini semakin berkembang dalam penyerapan tenaga kerja.

Hal ini terlihat dari data yang dirilis oleh Alpha Beta pada tahun 2017, yang menunjukkan sekitar 43 persen dari mitra pengemudi Uber yang disurvei, sebelumnya tidak punya pekerjaan. Jumlah tersebut semakin tergambarkan dari hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir, yang menyatakan bahwa sektor yang melakukan perluasan kesempatan kerja berasal dari sektor transportasi. Selain meningkatkan perluasan kesempatan kerja dan menjadi penyerap angka tenaga kerja yang cukup signifikan, keberadaan transportasi online juga telah menciptakan efisiensi yang ujungnya meningkatkan produktivitas nasional.

Namun, perjalanan ekonomi digital khusus bisnis transportasi di lndonesia, yang belum dipandu oleh sebuah grand design untuk mengatur bidang ini secara menyeluruh, dapat mengancam terjadinya polemik akan sektor ini. Hal tersebut dapat dilihat dari gejolak antara pelaku transportasi online dan konvensional yang terjadi akhir-akhir ini. Sejauh ini, kebijakan yang ditempuh masih bersifat reaktif, parsial dan hanya fokus terhadap sub sektor tertentu.

Perubahan pola sistem transportasi yang diikuti oleh perubahan pola konsumennya telah memberikan dampak psikologis yang besar pula. Alih-alih menerima dan memperbaiki performanya, pengusaha yang masih bersifat konvensional dan mulai tergusur justru memilih langkah-langkah destruktif, seperti pengerahan opini dan massa tandingan. Muaranya adalah tudingan, penyangkalan, dan hambatan. Tidak sedikit dari para pimpinan pengusaha konvensional tersebut yang masih mencari argumentasi tandingan sehingga seakan-akan kemunduran usahanya bukan akibat kelalaiannya merespons secara aktif dan cepat atas perubahan era. Salah satu contoh perusahaan digital yang sudah berorientasi platform adalah Go-Jek.

Di tengah tren pemanfaatan big data, mereka dapat memetakan perilaku konsumen terhadap jasa transportasi hingga delivery produk-produk yang ditawarkan secara online. Secara perlahan namun pasti, mereka mulai memindahkan mindset perusahaan yang selama ini terfokus pada product-based menjadi platform-based

Pancasila dan Tantangan Saat Ini
Kembali pada poin memaknai Pancasila sebagai pedoman dasar kehidupan berbangsa dan bernegara kita, tidak ada salahnya kita coba membangun optimisme di masyarakat bahwa dengan bekerja mengikuti pedoman Pancasila tersebut disertai perkembangan zaman, serta perubahan era digital saat ini, kelak akan ada dampak positif dan prestasi bagi kehidupan bangsa Indonesia. 

Mengutip pernyataan Renald Kasali dalam bukunya the Great Shifting tentang proyeksi kehidupan dan bisnis dalam sepuluh tahun ke depan, generasi milenial diharapkan dapat bereaksi cepat dan aktif merespons perubahan dalam era industri 4.0. Proyeksi pertama bahwa kehidupan dan bisnis akan berpindah secara massif ke dalam platform. 

Kedua, dampak perpindahan kehidupan dari dunia lama ke platform tidak hanya sebatas pada aspek-aspek yang ramai dibicarakan secara sektoral, tetapi juga pada cara, metode berusaha (dari product-based ke platform-based), dan meluas menjadi multi industri. 

Perubahan ini tentu akan memaksa pemerintah untuk dapat segera meremajakan peraturan-peraturan lama, membuat regulasi baru, serta mengubah cara pandang dalam pengelompokan industri dan penciptaan lapangan kerja baru. 

Ketiga, negara (siapa pun pemimpinnya nanti) akan terus menghadapi tekanan-tekanan, baik dari pemain-pemain ekonomi lama maupun pendatang baru, hingga munculnya pelaku baru yang berhasil keluar menjadi pemain utama (dominant player) di pasar. 

Keempat, pekerjaan-pekerjaan yang kita kenal pada abad ke-20 perlahan-lahan akan digantikan oleh pekerjaan-pekerjaan baru yang lebih berbasiskan teknologi. 

Kelima, tak akan ada lagi tempat bagi kelompok medioker yang kurang menuntut diri untuk belajar kembali dan bermental penumpang. Keenam, pendidikan akan mengalami tekanan besar perubahan dari cara pengajaran, teknologi dan standard kualitas. Algoritma, artificial intelligence, dan sistem informasi akan berpengaruh signifikan terhadap proses pembelajaran. 

Ketujuh, pendekatan what to learn akan menjadi using dan berubah menjadi learn how to learn. Kedelapan, salah satu teknologi yang akan sangat berpengaruh dalam kegiatan ekonomi adalah 3D printing yang akan memasuki segala aspek kehidupan. 

Berikutnya, data dan informasi menjadi basis penting dalam perekonomian dan menjadi senjata strategis dalam persaingan. Terakhir, ketika penduduk dunia semakin bergeser ke kota dan membentuk megacities, Indonesia akan berpaling ke desa. Desa akan menjadi tumpuan utama kehidupan dengan wajah ekonomi pedesaannya, yang masih cenderung murni belum terkontaminasi ‘liarnya’ perkembangan teknologi seperti di perkotaan, dan masih tingginya semangat gotong-royong serta warganya menjalankan nilai-nilai Pancasila. 

Seluruh poin proyeksi di atas tentunya dapat menjadi salah satu referensi kita bersama dalam memaknai dan mengisi peringatan kesaktian Pancasila kali ini dan di masa yang akan datang. Nilai-nilai keadilan sosial untuk kemaslahatan hidup rakyat Indonesia masih perlu digaungkan dan diperjuangkan terus di era industri 4.0. Sudah saatnya kemajuan teknologi dimaknai dan dimanfaatkan secara bijak untuk peningkatan produktivitas kerja dan nantinya berdampak pada pertumbuhan positif ekonomi Indonesia.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung.


Dosen Universitas Brawijaya, Malang dan kandidat doktor NCU Taiwan

Bagikan:
Jumat 31 Mei 2019 19:37 WIB
Analisis Kata 'Alaika' pada Doa Gus Mus, Alluhumma Alaika bi Indonesia
Analisis Kata 'Alaika' pada Doa Gus Mus, Alluhumma Alaika bi Indonesia
Oleh Halimi Zuhdy

Kosa Kata dalam Bahasa Arab memiliki makna yang sangat banyak. Demikian juga perubahan setiap katanya, derevasinya, serta memiliki sinonim (taraduf) dan antonim (tadhad) yang sangat kaya, walau menurut Ibnu Jinni tidak ada sinonim dalam Bahasa Arab, namun kekayaan kata itulah yang menjadikan bahasa Arab sangat indah.

Bahasa Arab memiliki 12.302.912 kosa kata. Bahasa Inggris 600.000 kosa kata. Sedangkan bahasa lainnya jauh di bawahnya. Maka, kurang elok, bila hanya menghakimi satu kata dengan satu makna, kecuali ada keterangan tentangnya.

Dalam Bahasa Arab satu kosa kata, bisa memiliki banyak arti. Tidak hanya kata, namun huruf yang berada dalam setiap kata memiliki konotasi yang terkait dengan lainnya, seperti “sin” yang berkonotasi kepada rahasia atau bisikan, seperti sir (rahasia), sihr (sihir, samar), sarir (ranjang, penuh rahasia), hams (bisikan), waswas (bisikan, gangguan) dan kata lainnya yang terdapat huruf “sin”.

Huruf “kha” berkonotasi dengan segala yang mengerikan, menjijikkan, ditakuti, atau tidak disukai, seperti al-khinzir (babi), al-khauf (ketakutan), al-khizyu (kehinaan), al-khalaah (pencabulan), al-khiyanah (penghianatan) dan kosa kata lainnya.

Bagaimana dengan huruf “ain” yang kemudian menjadi “‘ala” dan ditambah dhamir muttashil (bersambung) dengan huruf “ka”, menjadi “‘alaika”. Ini yang menjadi kajian analisis bahasa ke-35 karena selain ramai di media sosial beberapa jam yang lalu, sampai tulisan ini hadir pun masih hangat, yaitu doa Mustasyar PBNU KH Musthofa Bisri (Gus Mus) yang di dalamnya terdapat kata “‘alaika”.

Berasal dari doa yang dipanjatkan oleh KH Musthafa Bisri yang mendapatkan komentar ustadz Umar Hamdan Karrar adalah  “Allumma ‘alaika bi Indonesia” dan beberapa redaksi lainnya yang di dalamya ada kalimat “‘alaika” adalah “‘alaika bi aimmati Indonesia” “‘alaika bi ulama Indonesia,” “‘alaika bi zu‘ama Indonesia,” “‘alaika bi sya‘bi Indonesia.”

Komentar, sanggahan, kritikan atau apalah namanya dari ustadz Umar Hamdan Karra pada kalimat “Masya Allah pinter banget orang ini ya, sampai Indonesia didoakan ‘Allumma ‘alaika bi Indonesia,’ Hei.. Tau nggak anda apa arti doa itu? Arti doa itu ‘Ya Allah, Hancurkan lah Indonesia,’ sanggahan inilah yang kemudian mendapatkan respon dari berbagai netizen dan menjadi viral saat ini.

Mari kita coba analisa dari huruf pertamanya “‘ain”. “‘Ain” adalah huruf ke-18 dari huruf Hijaiyah yang berada di tenggorokan. Huruf ini disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu “‘Ain sin qaf,” dan “kaf ha ya ‘ain shad.” Sedangkan yang bersambung dengan huruf lain sangat banyak.

Huruf ini berkonotasi dengan sesuatu yang tinggi, kemuliaan, dan keagungan; ‘ali (tinggi), ‘alam (semesta), ‘alim (pintar, alim), dan lainnya. Ada 19 kata “‘alaikum” dalam Al-Qur’an, 9 “‘alaihim dan hi,” dan terdapat 17 kata “‘alaina.” Hasil pencarian penulis dilakukan dengan menggunkan Al-Bahits fil Qur’an.

Bila huruf “ ‘ain” bersambung dengan huruf “la dan alif”, “‘ala” (عَلى), maka memiliki beberapa makna, yaitu; 1) al-isti’la’ (الاستعلاء), yang bermakna di atas, 2) al-mushahabah, yang bermakna bersama, menemani (ma‘a), 3) al-mujawazah, yang bermakna melampaui, melebihi, atau bermakna “‘an”, 4) at-ta’lil, yang bermakna penjelasan atau bermakna “alif lam, li”, 5) ad-dharfiyah, yang bermakna kondisi, situasi, tempat atau bermakna “fi”, 6) al-muwafaqah, bermakna “min”, 7) muwafaqah ba’, 8) al-istidrak, 9) kadang sebagai tambahan (zaidah), dan selain makna di atas, ada beberapa ulama yang memberikan arti lain.

Makna huruf “‘ala” saja memiliki arti yang berbeda-beda. Bagaimana jika huruf jarr “‘ala” tersebut disambung dengan dhamir muttashil “ka”/kamu, menjadi “‘alaika” (عليك. Maka dengan kata ini “‘alaika” memiliki makna yang berbeda pula.

“‘Alaika bi” dalam Mu’jamul ‘Ain, dalam Kamus Ma’ani, dan beberapa kamus lainnya, adalah ism fi’il amar (kata benda yang bermakna perintah) yaitu bermakna “ilzam” (keharusan, kewajiban; seharusnya!), “istamsik” (berpegang teguhlan, peganglah dengan erat, teguhkan), terkadang bermakna “khudz” (ambillah).

Contoh yang bermakna “ilzamعليك بتقوى الله (‘alaika bi taqwallah, seharusnya engkau bertaqwa kepada Allah), عليك بالصبر (‘alaika bis shabri, engkau harus sabar), عليك بالاجتهاد (‘alaika bil ijtihad, engkau harus bersungguh-sungguh!). Contoh yang bermakna “khudzعليك به (‘alaika bihi, ambillah!), dan juga ada yang bermakna “tidak apa-apa, tidak masalah” seperti “la ‘alaika.”

Asal kata ini dari “‘ala” yang bermakna tinggi, dan sesuatu yang tinggi itu memiliki kekuasaan dan penguasaan, maka Allah disebut Rabbul a‘la, Tuhan yang maha tinggi. Kepada yang berada di bawahnya, ia menyuruh atau memerintah (amar), tapi bila ke atas disebut “memohon”, atau doa seperti “’alaikum bis shiyam,” wajib bagi kalian berpuasa karena itu perintah dari Yang Maha Tinggi kepada hamba.

Adapun, bila dari bawahan atau lebih rendah, dan menggunakan “alaika”, maka ia bermakna sebuah harapan besar, seperti “‘alaika an ta’khudzani ‘ala baitik,” Aku benar-benar mengharap kau bawa aku ke rumahmu. Kalau seorang bapak menyuruh anaknya, “alaika bi muraja’ati durusik,” kau harus mempelajari kembali pelajaranmu!

Mari kita melirik sedikit di Mu’jam Mukhtar As-Shahah; “‘alaika; ‘alaika Zaidan” (ambillah). ‘Ala adalah huruf khafid. Terkadang ia adalah “ism, fil'i, dan hurf”. (علا) alifnya diganti ya, menjadi “‘alaika” atau “‘alaihi”. Sebagian orang Arab tetap menggunakan alif tersebut; علاك و علاه

Dari beberapa makna “‘alaika” di atas, penulis tidak menemukan yang bermakna “hancurkan” sebagai redaksi Ustadz Umar Hamdan Karrar “Ya Allah, Hancurkan lah Indonesia”, kecuali redaksi tersebut terkait dan berhubungan dengan redaksi yang lainnya, misalnya “‘alaika an tudammira Indonesia”, Hancurkan Indonesia. Namun, bila hanya “‘alaika”, lebih banyak yang bermakna “ilzam, istamsik,” tidak ada khusus yang bermakna “inhar, inkisar, tafakkuk”, hancur.

Dengan demikian, persepsi Ustadz Umar Hamdan Karrar tersebut sangat dipaksakan, dan tidak sesuai dengan berbagai kaidah Bahasa Arab. Selain dipaksakan, juga tidak ada makna yang sesuai dengan beberapa kamus Bahasa Arab.

Namun demikian, kata “‘alaika” bisa memiliki makna berbeda sesuai dengan konteksnya. Sedangkan konteks dan redaksi doa yang dipanjatkan oleh Gus Mus tidak sedikit pun mengarah kepada harapan agar Indonesia hancur. Gus Mus memulai doanya dengan harapan agar para rakyat (kita sedoyo) dan para pemimpin di Indonesia mendapatkan taufiq dan hidayah dari Allah, kemudian kalimat “Allumma ‘alaika bi Indonesia Ya Allah” dan beberapa setelahnya; “‘alaika bi aimmati Indonesia,” “‘alaika bi ulama’i Indonesia,” “‘alaika bi zu’ama Indonesia,” “‘alaika bi Sya’bi Indonesia,” “Ya Ilahana, ya Karim.”

Dari siyaq (konteks) doa tersebut, sangat jauh bila diartikan dengan “hancurkan Indonesia” karena dari permulaan doa, kemudian “‘alaika” dan setelahnya “Ya Karim” tidak ada sedikit pun ditemukan redaksi yang bermakna “inkisar” dan lainnya.

Kajian konteks ini bisa dibaca dalam Ilmu Dalalah. Pemilihan diksi “‘alaika” memiliki arti yang bermacam-macam sesuai konteksnya. “‘alaika bi dzatid din,” pilihlah yang agamis. “‘Alaikumus salam,” Mudah-mudahan kau mendapatkan keselamatan, dan lainnya.

Maka, dapat belajar dari kata “‘alaika” yang berasal dari “‘ala, tinggi, atas”, dan “ka, kamu”, untuk menjadi “aly”, banyak belajar “ilmu” dengan ‘ain kasrah, akan menjadi “alim” menjadi fathah. Suatu saat “‘alaika bi ilm,” kamu harus tahu, maka “takun ‘aliman,” kamu akan menjadi alim.

Mudah-mudahan serpihan di atas bermanfaat. Mudah-mudahan setiap kalimat yang tertulis diridhai Allah. Harapan penulis, umat Islam selalu rukun, hormat kepada ulama. Bila terdapat redaksi yang tidak sesuai, kaji dengan baik, dan gunakan bahasa yang baik.


Penulis adalah khadim Pesantren Darun Nun. Ia juga guru Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang.
Jumat 31 Mei 2019 15:0 WIB
Refleksi Komitmen Kebangsaan dan Keagamaan Gus Dur
Refleksi Komitmen Kebangsaan dan Keagamaan Gus Dur
Gus Dur, lukisan Nabila Dewi Gayatri
Oleh Febi Akbar Rizki

Memahami tentang kebangsaan dan keagamaan tidak bisa lepas dari nama Gus Dur panggilan akrab dari Abdurrahman Wahid, seorang ilmuwan multitalenta yang perhatiannya sangat luas dan beragam. Gus Dur juga menjadi salah satu intelektual muslim Indonesia yang sangat berpengaruh dalam diskursus pemikirannya yang progresif tentang agama, pluralisme, pancasila dan demokrasi. Sehingga terpilih menjadi tokoh terpopuler oleh Surat Kabar Pikiran Rakyat tahun 1989, Majalah Editor tahun 1990 dan Surat Kabar Kompas tahun 1999. Selain penghargaan nasional, dia juga menerima penghargaan Internasional dan sejajar dengan Soekarno karena memperoleh 10 gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari berbagai universitas di dunia. Presiden Republik Indonesia keempat dan Ketua Umum PBNU 1984-1999 ini adalah santri yang berasal dari kalangan pesantren di Tebuireng Jombang. Ayahnya adalah seorang Menteri Agama Pertama Republik Indonesia dan kakeknya KH Hasyim Asy’ari seorang pendiri organisasi besar NU (Nahdlatul Ulama) tahun 1926. Gus Dur juga salah satu keturunan dari penguasa Jawa pada abad ke-15 M, Raja Brawijaya VI. Meski tumbuh di lingkungan pesantren, bukan berarti pendidikan Gus Dur terbatas di bidang keagamaan saja, karena minat bacanya yang sangat tinggi sejak kecil Gus Dur sudah banyak mengonsumsi aneka literatur di luar tradisi keagamaan, seperti novel, biografi tokoh dunia dan sosial-politik dan lain sebagainya.

Greg Barton, peneliti tulisan-tulisan Gus Dur dari Australia menempatkan Gus Dur bersama Nurcholis Madjid, Djohan Effendi dan Ahmad Wahib sebagai seorang cendikiawan neo-modernis Indonesia garda depan. Menurut tafsir Fazlur Rahman sebagai cendekiawan dari Pakistan, istilah neomodernisme menggambarkan sebagai suatu gerakan intelektual yang mengelola kembali modernisme Islam yang kemudian dipadu dengan apresiasi aktual terhadap kekayaan tradisi klasik 

Bagi Gus Dur, Islam dan negara adalah suatu entitas yang terpisah. Menurutnya Islam tidak memiliki konsepsi negara dan sistem pemerintahan yang definitif. Lebih-lebih melihat realita di Indonesia, baik di dalam umat Islam sendiri maupun di kalangan masyarakat secara menyeluruh yang plural. Pancasila merupakan ideologi negara yang tidak memihak pada agama apapun, tidak juga bertentangan dengan ajaran Islam dan yang paling penting posisi Pancasila bisa mengayomi keberagaman atas suku, ras dan agama di Indonesia.

Kesepakatan nasional yang menerima Pancasila sebagai dasar negara kemudian bisa menjadi penjaga keseimbangan antara kebangsaan dan keagamaan di tanah air. Menjelang seratus tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Ideologi Pancasila berhasil mengawal bangsa yang plural ini dan menjadi salah satu sorotan dunia. Seiring berjalannya waktu, arus global terus berkembang, masalah pun makin variatif sehingga membutuhkan respon yang solutif.

Benar bahwa saat ini mulai muncul gerakan Islam yang masif, relatif idealis dan mengklaim kelompoknya adalah yang paling Islam. Simpatisan tersebut masih terus menginginkan berdirinya negara Islam. Spekulasi negara atas nama Islam disuarakan sebagai cita-cita politik mereka dengan keyakinan bahwa negara islam merupakan solusi satu-satunya dari ‘permasalahan dapur’ maupun masalah diplomatik (problematika internal dan eksternal) yang sudah pasti selalu ada di setiap negara, termasuk Indonesia.

Gus Dur; Beyond the Catagories Positivism
Kehadiran Gus Dur di wilayah publik selalu mengundang polemik; apresiasi dan kritik bagi masyarakat secara luas. Setiap perilaku, gagasan dan paradigmanya tidak bisa dimaknai dengan mudah (Beyond the Catagories Positivism). Jika hanya mengandalkan teori atau pemikiran positivistik saja, kemungkinan besar akan salah kaprah dalam menangkap maksud dari penjelasan yang sebenarnya.

Misalnya kebijakan pluralis Gus Dur yang berpengaruh pada kabangsaan dan keagamaan di Indonesia yaitu Keputusan Presiden (Keppes) No 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden (Inpes) No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Keputusan ini bukan berarti bentuk dari kecenderungan Gus Dur hanya pada salah satu etnis, tetapi dengan Keppes No 6/2000 itu, warga keturunan Tionghoa diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan keagamaan serta budaya Tionghoa tanpa harus meminta izin khusus. Lebih-lebih ekspansi dampak dari kebijakan tersebut berpengaruh positif bagi agama Islam secara luas di Cina, sebagai bentuk balas budi kepada Indonesia yang menghilangkan diskriminasi terhadap warga keturunan Tionghoa.

Upaya demokratis yang diusahakan Gus Dur seringkali dinilai kontroversi dan juga dianggap nyeleneh oleh sebagian orang, sejatinya justru mereka yang belum siap menerima pemikiran-pemikiran kritis di luar mainstream dari Gus Dur. Sebab, tujuan dari setiap gagasannya tidak terbatas pada satu golongan tertentu saja, namun cangkupannya luas dan kreatif dalam memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Tidak cukup jika hanya dipahami dengan tendensi rasionalisme dan logika biasa.

Seorang cendikiawan neo-modernis Indonesia yang lain, Ahmad Wahib mengatakan bahwa “Gus Dur bukanlah seorang sosiolog, bukan seorang politikus, bukan seorang politisi, bukan seorang seniman, bukan seorang budayawan, bukan seorang agamawan, bukan seorang feminis dan bukan juga seorang pemikir, tapi Gus Dur adalah semuanya”. Kesegaran leluconnya pun kreatif dan tentunya tetap berbobot dalam hal kebangsaan, keagamaan dan lain-lainnya. Sehingga membuat Gus Dur juga seorang humoris.

Kemudian muncul spekulasi publik yang menyatakan bahwa Gus Dur nyleneh dan membingungkan masyarakat? Berbeda dengan era reformasi saat ini, wacana perpolitikan Orde Baru digunakan oleh pemerintah untuk menyerang lawan politiknya. Pemikiran kritis demi kebaikan negara yang ditujukan terhadap Orde Baru selalu diklaim nyleneh atau dianggap “membingungkan” dalam stigma sosial, untuk tidak mengatakan “mengancam/membahayakan” kekuasaannya. Sehingga terus dipermasalahkan dan melawan atas gerakan kritis dan demokratis.

Ada beberapa tanggapan Gus Dur terkait ayat-ayat yang dijadikan alasan oleh pendukung gagasan negara Islam dalam buku Islamku Islam Anda Islam Kita. Dalam surat Al-Ma’idah ayat 44: Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka orang itu adalah kafir. Menurut Gus Dur: Tidak ada alasan untuk keharusan mendirikan negara Islam, karena hukum Islam tidak bergantung pada adanya negara, karena masyarakat pun masih bisa melakukan perintah agama tanpa adanya larangan yang membatasi. Misalnya seorang muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadhan bukan karena peraturan negara, tetapi karena diperintahkan agama Islam. 

Gus Dur menegaskan dalan bukunya tentang ayat ini bahwa “Subjek yang dikritik dari ayat itu sehingga menjadi zalim, kafir dan fasik yang tidak memutuskan hukum berdasarkan apa yang diberikan Allah adalah kelompok Yahudi. Dengan demikian, yang mendapat celaan itu bukan umat Islam atau Nabi Muhammad Saw.” Kewajiban umat Islam bukan tentang membuat sistem yang kemudian disebut negara Islam, tetapi bagaimana membangun masyarakat Islam agar sesuai dengan ajaran Islam, tanpa harus dilakukan dengan formalitas negara Islam.

Gagasan Pribumisasi Islam
Pribumisasi Islam termasuk salah satu bentuk gagasan Gus Dur yang penting, karena berkaitan dengan agama dan budaya. Seringkali dijumpai sejak dulu hingga saat ini terhadap fenomena Arabisasi di Indonesia. “Bahaya dari proses Arabisasi atau proses mengidentifikasikan diri dengan budaya timur tengah adalah tercabutnya kita dari akar budaya kita sendiri. Lebih dari itu, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan. Pribumisasi bukan untuk menghindari timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan budaya setempat, akan tetapi justru budaya itu sendiri agar tidak hilang. Inti pribumisasi Islam adalah kebutuhan, bukan untuk menghindari polarisasi antara budaya dan agama, sebab memang polarisasi demikian tidak terhindarkan” (dalam “Pribumisasi Islam” hlm. 119). 

Sebagai masyarakat Indonesia yang beragama Islam, maka ikuti ajarannya bukan budaya arabnya. Tidak juga berarti meninggalkan norma agama demi budaya, karena bangsa Indonesia memiliki budayanya sendiri. Pada saat yang sama tetap melakukan sholat, puasa, zakat dan sebagainya sesuai tuntunan syariat. Salah satu contohnya tentang zakat, Nabi tidak pernah menganjurkan ataupun menyebut tentang beras untuk membayar zakat, tetapi gandum sebagai qutul balad (makanan pokok), dan di negara Indonesia gandum bisa berubah menjadi beras, padi dan lain-lain.

Menurut Gus Dur umat Islam yang tinggal di Indonesia adalah: Bagaimana mengisi Pancasila, Negara Kesatuan RI, dengan sistem politiknya menggunakan wawasan Islam yang secara kultural bisa mengubah wawasan hidup orang banyak dengan memperhatikan konteks kelembagaan masyarakat. Penerapannya dengan berpijak pada keadilan sosial, menjalankan nilai-nilai demokrasi, serta merealisasikan amanah UUD 1945 sebagai sikap seorang muslim yang berkebangsaan Indonesia. Sehingga Islam bisa masuk dalam peradaban Indonesia secara kultural tanpa harus diterapkan sebagai sistem.

Pemahaman nash berperan penting untuk mengawal proses Pribumisasi Islam dan kaidah ushul fiqh menjadi dasar dalam implementasinya. Al-‘adah muhakamah (adat istiadat bisa menjadi hukum) dan al-muhafazau bi qodimis ash-shalih wal-ahdzu bil jadid al-ashlah (memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Sebab, suatu yang semula teologis, dalam jangka panjang bisa bergeser kearah kultural. Begitu sebaliknya, suatu yang semula kultural bisa bernilai teologis dalam proses dan waktu yang lama.


Penulis adalah mahasiswa Universitas Islam Malang 

Jumat 31 Mei 2019 2:1 WIB
Memupuk Imajinasi, Menuai Kreasi
Memupuk Imajinasi, Menuai Kreasi
ilustrasi: brilio.net
Oleh Syakir NF
 
Pendidikan menjadi proses yang tidak berhenti. Sebab, manusia bersifat dinamis, terus mengalami perubahan yang tidak akan pernah usai sampai ia mengembuskan nafas terakhirnya.
 
Tak ayal, hal yang paling fundamental dalam kehidupan ini mesti direncanakan dengan matang agar proses itu terus menuju kebaikan dan dilakukan dengan penuh kebaikan pula sebagaimana yang diungkapkan oleh Ralph W Tyler. Ia mengungkapkan bahwa langkah pertama dalam membangun pendidikan adalah membuat tujuan yang bakal dicapai.
 
Selanjutnya, pendidikan harus memberikan pengalaman sebanyak mungkin untuk kemudian dikelola menjadi suatu pelajaran, mana yang patut diterapkan dan mana yang hanya sebagai pengetahuan tanpa perlu dilaksanakan. Terakhir, kata Tyler, pendidikan harus ada evaluasi. Demikian guna melihat kembali kekurangan dan kelebihan langkah yang telah dijalani sehingga dapat diiketahui hal apa yang mesti dipertahankan, ditingkatkan, atau bahkan tidak lagi dilakukan demi efektifitas.
 
Perkembangan zaman juga menuntut manusia terus berkembang. Perubahan yang begitu cepat tidak lagi menghendaki manusia untuk lamban. Jika demikian, ia akan tertinggal jauh. Pasalnya, jarak diputus habis oleh teknologi masa kini. Kita memasuki dunia tanpa batas. Semua orang bisa mengetahui apapun, di manapun, dan kapanpun dalam waktu saat itu juga. Hal ini pula yang membuat orang begitu mudah terpengaruh dengan apa yang ia lihat.
 
Tak ayal, kemajuan teknologi membuat identitas semakin samar. Diskursus dari atas ke bawah begitu berpengaruh. Namun, narasi kecil dari bawah juga mestinya bisa mengemuka. Teknologi memungkinkan itu semua terjadi. Tetapi belum terdengar nyaring di telinga bangsa sampai saat ini. Kemungkinan besar, kekalahan narasi itu karena belum masifnya promosi dan kurangnya dukungan tenaga, baik materil maupun imateril.
 
Sebab, pendidikan tidak hanya yang ada di ruang kelas. Segala sesuatu yang mengemuka juga harus mendidik. Film, misalnya, yang kerap kali mengambil judul berbahasa Inggris. Hal ini tentu memengaruhi pola pikir masyarakat kita, sedikit ataupun banyak. Ia masuk begitu saja tanpa kita sadari. Hal demikian tak jarang luput dari perhatian.
 
Milenial juga selalu berduaan dengan gawainya. Rasanya, tak bisa hidup jika di tangannya tak tergenggam makhluk yang entah kenapa dibentuk kotak itu. Sebab, mereka merasa bisa menemukan segalanya di sana. Sampai-sampai mereka tak terasa jika imajinasi mereka terkurung oleh layar. Idealisme mereka tak bebas dan realitas pun terbatas. Maka tak aneh jika kreatifitas semakin langka. Kemajuan mandeg. Ia berhenti di persimpangan. Sementara golongan tua, masih berpikiran kolot, tak mengakomodasi kemauan muda-mudi. Disparitas pun semakin tinggi. Kesenjangan makin menjadi.
 
Maka, menurut Ahmad Tohari, salah satu sastrawan Indonesia, imajinasi bangsa, warga muda harus dibangkitkan lagi dengan dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni bercerita. Laku demikian sudah jarang lagi kita temui. Dalam pandangannya, dongeng dapat meningkatkan imajinasi seseorang. Pencerita dapat membuat deskripsi yang sedemikian rinci sehingga pendengar dapat membangun imajinasinya dengan utuh. Cerita mengasah pendengar untuk terus mengembangkan potensinya dalam membangun imajinasi.
 
Lama kelamaan, pendengar itu akan mencari sendiri bagaimana pembangunan imajinasi itu diproses, artinya pembuatan ceritanya. Ia pun akan membaca. Imajinasinya akan semakin tajam mengingat tulisan tidak memberi gambaran yang pasti. Gambaran yang sesungguhnya, ada di benak pembaca tersendiri. Bangunan itu tentu saja akan berbeda di benak pembaca mengingat pengalaman yang melatarinya berbeda pula.
 
Dilan, misalnya. Kita tentu berdebat tentang sosok tokoh utama dalam film. Sebab, bagi mereka yang sudah lebih dulu membaca novelnya, imajinasi mereka tentang sosok Dilan bukanlah Iqbal. Atau Milea, bukanlah seorang Vanesha.
 
Dunia literasi kita minim. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebut Indonesia menjadi satu negara dengan literasi yang paling rendah di antara 62 negara. Hanya berada satu tangga di atas Botswana, sebuah negara di Afrika bagian Selatan.
 
Saya tidak bermaksud membenarkan penelitian itu. Saya sejujurnya juga tidak yakin dengan validitas penelitian itu. Bukan tanpa alasan. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya bahasa, kaya aksara, dan kaya manuskrip. Hal ini sebetulnya menjadi tanda bahwa bangsa kita sejak dulu itu melek literasi. Hanya saja medianya tergantikan dengan adanya gawai dan ketiadaan arah bacaan bagi mereka.
 
Entah karena tidak diarahkan bacaannya, atau memang karena informasi kekerabatan mereka anggap lebih penting sehingga generasi milenial ini lebih suka membaca pesan Whatsapp misalnya, ketimbang membaca referensi. Pesan Whatsapp langsung mengarah pada pesan. Ia monotafsir dan tidak imajiner sehingga membatasi ruang pikir pembacanya. Maka, di sini sisi pentingnya sastra. Ia tidak saja memberi hiburan dengan ceritanya, bukan sekadar guna mengisi waktu luang, tetapi membangun pondasi imajinasi agar ke depannya lebih mudah dalam menyusun tumpukan ide menjadi sebuah rumah bagi alam pikir kita.
 
Selain berdampak pada kurangnya membaca, pembangunan imajinasi yang minim juga membuat maraknya orang lebih suka menonton video. Parahnya, vidio yang mereka lihat juga hanya berkisar satu menit dengan melalui media sosial Instagram. Mudah bosan menjadi karakter lain warga yang lahir di akhir dekade abad 20 itu. Demikian menjadikan mereka tidak mengetahui secara tuntas tentang informasi yang disampaikan sehingga menimbulkan pemahaman yang tidak paripurna. Karena itu, muncullah opini yang merupakan tambahan dari suatu fakta yang kebenarannya patut dipertanyakan. Sebab, hal yang diceritakan dari video singkat hanyalah sebuah penafsiran tanpa metode, spontanitas belaka. Tak aneh timbul fitnah, menyebarnya hoaks, dan sebagainya.
 
Akibatnya, bukan saja perang kata-kata di dunia maya, tetapi juga ada kontak fisik di dunia nyata. Keresahan di dunia maya juga mengganggu psikis. Kita tentu tidak bisa mendiamkan narasi media sosial dikuasai oleh diskursus dualisme, adu domba, atau oposisi biner yang menyebabkan benturan. Membagikan berita provokatif sama dengan mengadu domba kelompok yang silang pendapat itu. Diam bukan berarti membela. Diam, kata pepatah, bisa merupakan sebuah emas.
 
Hal ini diperparah dengan adanya simplifikasi agama oleh masyarakat perkotaan. Penyederhanaan ini berdampak pada suatu hukum fiqih yang terasa amat sangat saklek. Padahal, fiqih memiliki berbagai macam varian hukum yang bisa kita pilih sesuai konteks, dengan tetap mengindahkan talfiq sebagai suatu yang tidak diperbolehkan. Setiap sesuatu hanya terdiri dari dua warna yang bertentangan. Tidak demikian mestinya. Dampaknya terjadi pada fanatisme terhadap satu sisi dan merendahkan sisi yang lain. Tak ayal, ada bentrok pada bagian ini. Milenial pun terbawa arus sehingga jika tidak menjadi bulan-bulanan, dia juga yang turut memukuli habis mereka.
 
Demo yang katanya membela agama itu sebagian banyak pelakunya para milenial yang hanya mengikuti arus. Kreatifitas, nalar kritis, dan imajinasi mereka terputus oleh doktrinasi. Doktrin mestinya justru bisa membuka tiga hal tersebut lebih luas lagi. Sebab, mereka dipaksa untuk memilih satu hal, tidak biasa menghadapi banyaknya varian.
 
Kembali ke disparitas antara golongan tua dan muda, X dan Y atau bahkan dengan Z. Di antara harus dibangun jembatan agar kembali tersambung. Pendidikan menjadi satu jalan yang mampu menghubungkannya. Jembatan ini harus terdiri atas dua bahan pokok utama dari tiga generasi ini, seperti, cerita dari masa lalu yang harus difasilitasi dengan gaya terkini. Agar hal lama tidak ditinggalkan oleh masa kini, dan orang dulu juga tidak khawatir dengan masa depan mereka yang bakal lebih banyak terhantam identitasnya.
 
Oleh karena itu, mulai saat ini, mari kita bangun imajinasi dengan membiasakan diri menjadi pendengar yang baik. Selanjutnya, membaca menjadi langkah kedua kita. Kemudian, mulailah membangun ide, kreatifitas, gagasan demi kemajuan bangsa di masa depan.
 

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG