IMG-LOGO
Opini

Mudik dan Penyegaran Rasa Cinta Tanah Air

Selasa 4 Juni 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Mudik dan Penyegaran Rasa Cinta Tanah Air
Oleh Murdianto An Nawie

Pada 5 Juni 2019 bulan Syawal 1440 Hijriah telah tiba. Umat Islam di seluruh penjuru dunia akan merayakan Idul Fitri. Di Indonesia, perayaan Idul Fitri sebagai hari raya keagamaan mungkin paling masif. Dan salah satu ritual tahunan penting jelang Idul Fitri ini adalah Mudik. Mudik berarti pulang ke kampung halaman setelah seseorang  pergi ke rantau. Bagi sang pemudik, bertemu sanak famili di rumah disaat Idul Fitri tentu sebuah momentum yang amat langka. Sehingga tidak mengherankan jika Idul Fitri juga sekaligus disebut sebagai momentun reuni sosial yang bersifat masif.

Di beberapa belahan di dunia lainnya, tradisi mudik ke kampung halaman juga menandai hampir seluruh perayaan besar keagamaan dan tradisi besar tertentu. Misalnya bagi etnis Tionghoa baik di China daratan atau di tempat lain Imlek menjadi waktu yang tepat bagi seseorang untuk kembali ke kampung halaman. Juga di Turki, Idul Adha adalah waktu di mana orang berduyun-duyun kembali mengingat adn kembali ke kampung halaman. Kampung halam berarti “ibu pertiwi” tempat terlahir dan dibesarkan seorang manusia.

Kampung halaman atau sering disimbolkan sebagai ‘Ibu Pertiwi’ bagi seorang manusia tentu memiliki arti mendalam. Seorang muslim yang baik tentu menjadikan ibu seakan menjadi satu-satunya manusia, yang harus dihormati dan tak boleh disakiti oleh seorang manusia. “surga dibawah telapak kaki ibu” begitu bunyi sebuah hadist Masyhur. Ibu dan kampung halaman adalah kenangan pertama saat manusia lahir dan dibesarkan dengan  kasih-sayang, pelajaran, dan teguran.

Mudik, sesungguhnya tidak lain adalah kerinduan pada ibu, baik ibu dalam artian orang yang melahirkan kita. Maupun ‘ibu pertiwi’, kampung halaman yang menempa kita menjadi manusia dewasa. Kerinduan, berarti adalah cinta yang tertunda, saat orang telah siap memberikan apapun yang dipunyai untuk yang dicintainya yakni ibu pertiwi. Mudik adalah kerinduan yang mendalam, di tandai kecintaan kepada sesama manusia terutama bagi orang tua, saudara, sahabat yang kita layani penuh cinta di kampung halaman. Mereka yang bernasib tentu tidak bernasib semujur orang yang pergi di tanah perantauan.

Oleh karena itu, salah satu bagian penting dari perayaan Idul Fitri adalah orang saling memberi dan menerima maaf atas segala tindakan yang salah dan merugikan orang lain, dalam konteks mudik tentu adalah orang tua, sanak saudara, dan sahabat-sahabat lama. Lebih dari itu, perayaan ini untuk menghubungkan dan menyegarkan kembali hubungan silaturahmi antar individu, walau tidak didasari selalu pada motif “pengakuan salah”.

Para antropolog atau pakar kebudayaan menyebutnya momentum semacam ini sebagai jembatan antara lahir dan batin, di mana rasa adalah suatu istilah yang sangat kompleks didalam unsur keagamaan seorang muslim di Jawa. Dalam momentum ini manusia Jawa memiliki suatu kemampuan untuk merasa, atau dalam pengertian non fisik, yakni ungkapan-ungkapan halus yang bersifat batiniah. Fenomena ini muncul karena berhubungan erat dengan tradisi sufi dan mistik Jawa yang telah berkembang sebelum Islam masuk.

Jembatan lahir batin antara masa kini, masa lalu dan masa depan ini salah satunya adalah menggunakan kesempatan mudik untuk memperkuat tradisi berziarah, ke makam para leluhur, para guru dan ulama di kampung halaman kita. Dalam tradisi ini kita dapat bertawassul, mendoakan mereka yang telah meninggal, sekaligus menggali inspirasi dari perjuangan yang telah mereka torehkan dalam mendidik dan membesarkan generasi masa depan. Dimensi ini sesungguhnya adalah implementasi dari kaidah ´al-muhafadhatu ‘alal qadimis shalih’, di mana spirit perubahan haruslah bersumbu pada aktivitas mengingat dan belajar dari masa lalu yang baik, sekaligus melakukan kreativitas yang lebih bermanfaat.

Mudik, adalah kembali pada ibu pertiwi. Tempat kita di lahirkan. Petandanya bisa jadi adalah dengan aktivitas tabur bunga dan membacakan doa di pusara makam para leluhur, orang tua dan guru kita. Dan tentu ini merupakan tindakan mulia, sebagaimana telah di sebut dalam kitab Ianat at-Thalibin juz II halaman 142 disebut sebuah hadist riwayat Hakim dari Abu Hurairah yang artinya: “Siapa ziarah ke makam orang tuanya setiap hari jum’at, Allah pasti mengampuni dosa-doasanya dan mencatatnya sebagai bakti dia kepada orang tuanya”. Meskipun kita tak bisa mengunjungi pusara makamnya setiap jumat. Setidaknya kita telah melakukannya secara rutin saat menjelang lebaran. 

Selamat mudik, selamat kembali berkunjung ke Ibu Pertiwi. Semoga disegarkan kembali iman kita, disegarkan kembali kecintaan kita kepada negeri ini. Ya, mudik adalah meremajakan kembali, rejuvenasi atas rasa cinta tanah air kita, yang pada akhirnya adalah kesediaan untuk berkorban untuk tanah air tercinta. 


Penulis adalah Dosen Program Pascasarjana INSURI Ponorogo; Tim Litbang PW ISNU Jawa Timur; Aktif di Jaringan Gusdurian

Tags:
Bagikan:
Selasa 4 Juni 2019 18:0 WIB
Lebaran yang 'Fithri'
Lebaran yang 'Fithri'
Ketupat Lebaran (Adobe Stock)
Kuatnya upaya menyambung silaturrahim di momen Idul Fitri turut menciptakan tradisi mudik atau pulang kampung menjelang lebaran tiba. Berkumpul bersama keluarga, saudara, dan handai taulan di kampung kelahiran. Bahkan yang belum sempat pulang kampung menjelang lebaran karena tidak mendapatkan tiket mudik maupun masih harus bertugas di kota, mereka melakukannya pasca-lebaran.

Berbagai kuliner dan makan khas juga dikreasikan masyarakat Muslim Indonesia untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Opor ayam, kupat (ketupat), kue lepat, dan makanan-makanan khas lainnya. Makanan khas tersebut juga bukan hanya sebatas makanan, tetapi mempunyai filosofi dan makna yang sangat dalam.

Seperti kupat yang mempunyai kepanjangan ngaku lepat. Bahasa Jawa tersebut mempunyai arti mengaku salah. Mengakui segenap kekhilafan, dosa, dan kesalahan merupakan hakikat kembali pada kesucian sesuai esensi Idul Fitri. Sebab itu, meminta maaf dan memberi maaf harus menjadi kesadaran bersama untuk memaknai hakikat Idul Fitri dalam arti yang sebenar-benarnya.

Dalam budaya umat Islam di Indonesia, Idul Fitri ini menyatukan berbagai unsur, yakni nilai-nilai agama, penguatan identitas bangsa, penumbuhan tradisi dan budaya positif melalui silaturrahim, serta peneguhan cinta tanah air yang diejawantahkan melalui tradisi mudik atau pulang kampung.

Dengan kata lain, muara dari hari kemenangan ini selain meningkatkan keshalehan spiritual, juga menguatkan keshalehan sosial sebagai tujuan utama manusia dalam beragama. Keshalehan sosial ini akan membentuk keterbukaan pola pikir, keluasan pandangan, tenggang rasa, dan toleransi terhadap seluruh umat manusia, apapun suku, etnis, budaya, ras, dan agamanya.

Memaknai Idul Fitri, Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1999) menjelaskan bahwa fithrah mempunyai tiga arti yaitu suci, asal kejadian, dan agama yang benar. Kalau memahami bahwa idul fitri kembali kepada kesucian, suci itu sendiri mempunyai tiga makna yaitu indah, baik, dan benar. Seseorang yang beridul fitri dia akan selalu menjaga keindahan dalam setiap aspek kehidupan, selalu berusaha mencari kebenaran, dan selalu menampilkan kebaikan.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, Ad-Din Al-Muamalah. Nasihat menasihati dan tenggang rasa juga termasuk ajaran agama karena Nabi juga bersabda, Ad-Din Al-Nashihah. Dengan demikian, setiap yang ber-Idul Fitri harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan; dan dari kesadarannya itu ia bersedia untuk memberi dan menerima maaf.

Fithrah yang juga berarti kesucian dapat dipahami dan dirasakan maknanya pada saat seorang hamba duduk merenung sendirian. Ketika pikiran mulai tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi, akan terdengar suara nurani yang mengajaknya berdialog, mendekat bahkan menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Maha Mutlak, yang mengantarnya untuk menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya, dan betapa kuasa dan perkasanya Yang Maha Agung itu.

Suara yang didengar itu adalah suara fithrah manusia, suara kesucian. Setiap orang memiliki fithrah itu, terbawa serta olehnya sejak kelahiran, walaupun sering terabaikan karena kesibukan dan dosa-dosa sehingga suaranya begitu lemah hanya sayup-sayup terdengar. Suara itulah yang dikumandangkan pada Idul Fitri, yakni Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Jika kalimat pengagungan Allah itu tertancap dalam jiwa, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain selain Allah semata. Tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, tiada tempat mengabdi, kecuali kepada-Nya. Ketika hal itu terjadi pada seseorang, terjadilah apa yang seperti dilukiskan oleh ulama kenamaan Ibnu Sina dalam Al-Isyarat wa Tanbihat (Disadur dari Abdul Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kutub Al-Lubnaniy, 1982) sebagai berikut:

Orang tersebut menjadi arif,  yang bebas dari ikatan raganya. Dalam dirinya terdapat ikatan yang tersembunyi, namun pada dirinya sendiri tampak sebagai sesuatu yang nyata. Ia selalu gembira, banyak senyum. Betapa tidak, sejak ia mengenal-Nya, hatinya dipenuhi oleh kegembiraan. Dengan melihat Yang Maha Suci, semua dianggapnya sama, karena memang semua makhluk Allah. Semua wajar mendapatkan Rahmat, baik yang taat maupun yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah, tidak pula tersinggung, walaupun melihat yang mungkar sekalipun, karena jiwanya selalu diliputi Rahmat dan kasih sayang, dan karena ia memandang keindahan, ia melihat sir Allah (rahasia Allah) terbentang ke dalam qudrat-Nya. Bila ia mengajak kepada kebaikan, ia akan melakukannya dengan lemah lembut, tidak dengan kekerasan, tidak pula dengan kecaman, kritikan yang melukai atau ejekan. Ia akan selalu menjadi pemaaf. Betapa tidak, sedang di dadanya sedemekian lapang, sehingga tidak ada tempat bagi kesalahan orang lain. Ia tidak akan menjadi pendendam. Bagaimana ia mampu mendendam, sedang seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Maha Suci lagi Maha Agung itu.

Seseorang yang ber-idul fitri juga seorang yang berilmu, karena kebenaran yang terkandung dalam makna suci merupakan buah dari pencarian ilmu. Ia juga bisa dikatakan sebagai seorang seniman karena mengekspresikan keindahan. Seseorang yang ber-idul fitri juga manusia budiman karena dengan berbuat kebaikan, ia merupakan seorang yang budiman.

Sebab itu, ketika seorang merayakan idul fitri, dia akan berusaha dalam semua kegiatannya agar menjadi benar, baik, dan indah. Pada hakikatnya ketika seseorang ber-idul fitri, umat Islam mengenakan pakaian takwa, pakaian yang mereka tenun selama bulan Ramadhan, sekaligus pakaian yang mestinya mereka pakai sepanjang waktu, khususnya setelah manusia menempa diri selama sebulan penuh berpuasa.

Dalam konteks ini, manusia harus mengingat pesan ilahi, “Janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, mengurai kembali tenunannya, sehelai demi sehelai benang dalam tenunannya”.

Artinya, jangan sampai setelah mencapai fitri, kita melepaskan kendali sehingga kita kembali melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama. Dengan memasuki idul fitri atau dengan memasuki bulan syawal yang artinya meningkat, manusia diharapkan meningkatkan segala keindahan, kebenaran, kebaikannya, dan meningkatkan ilmunya. Demikianlan makna kesyukuran kepada Allah SWT dan makna di balik hakikat idul fitri. (Fathoni)
Senin 3 Juni 2019 21:30 WIB
Mendamaikan Hisab dan Rukyat
Mendamaikan Hisab dan Rukyat
Ilustrasi (via Pinterest)
Oleh KH Afifuddin Muhajir

Dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan bulan Syawal untuk memulai dan mengakhiri puasa, sampai saat ini jumhur (mayoritas ulama) berpedoman pada rukyat. Yang dimaksud adalah melihat bulan baru (هلال) dengan mata kepala (رؤية بصرية), bukan penglihatan  ilmiah (رؤية علمية) dengan menggunakan perhitungan (حساب).

Bila penglihatan riil dengan mata kepala tidak terjadi meski karena terhalang awan, mereka menggenapkan bulan Sya’ban/Ramadhan menjadi 30 hari.

Dasar mereka adalah hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما 

“Berpuasalah kamu ketika telah melihat hilal Ramadhan dan berhentilah kamu berpuasa ketika telah melihat hilal bulan Syawal. Jika hilal tertutup bagimu maka genapkanlah bulan syakban menjadi 30 hari,” (HR. al-Bukhari dan  Muslim).

Dalam hadits riwayat Ibnu Umar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له

“Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal (Ramadhan) dan janganlah kamu berhenti berpuasa sehingga kamu melihat hilal Syawal. Jika hilal tertutup bagimu maka…”

Bagi jumhur, sabda Nabi (فاقدروا له) merupakan tafsir/penjelasan terhadap sabda Nabi pada hadits yang pertama, (فأكملواعدة) yang bermakna: sempurnakanlah bilangan menjadi 30 hari.

Salah seorang imam besar dari kalangan ulama Syafi’iyah, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij mengompromikan dua riwayat hadits di atas dengan menggunakan pendekatan yang dalam istilah sekarang disebut dengan teori multi-dimensi (نظرية تعدد الأبعاد), yaitu bahwa sabda Nabi (فاقدرواله) bermakna: “perkirakanlah hilal itu dengan menghitung posisi-posisi-nya.” 

Ini ditujukan kepada mereka yang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dianugerahi pengetahuan tentang hisab, sedang sabda Nabi (فاكملوا عدة) ditujukan kepada mereka yang awam di bidang ilmu itu (Fatawa al-Qardhawi).

Yang menarik adalah pendapat Imam Taqyuddin al-Subki, yang diakui memiliki kapasitas sebagai mujtahid. Pendapat beliau dalam masalah ini antara lain dikemukakan oleh Sayyid Abu Bakar Syatha di dalam Hasyiyah I’anah al-Thalibin:

ـ )فرع) لو شهد برؤية الهلال واحد او اثنان واقتضى الحساب عدم امكان رؤيته ، قال السبكي: لا تقبل هذه الشهادة، لان الحساب قطعي والشهادة ظنية، والظن لا يعارض القطع

“Jika satu orang atau dua orang bersaksi bahwa dia atau mereka telah melihat hilal sementara secara hisab hilal tak mungkin terlihat, maka menurut al-Subki kesaksian itu tidak diterima, karena hisab besifat pasti sedangkan rukyat bersifat dugaan, tentu yang bersifat dugaan tisak bisa mengalahkan yang pasti.

Substansi dari pendapat ini ialah bahwa hisab menjadi dasar dalam rangka menafikan, tidak dalam rangka menetapkan.

الحساب حجة في النفي لا في الإثبات

Sayyid Abu Bakar Syatha mengomentari pendapat Imam al-Subki dengan mengatakan:

والمعتمد قبولها، إذ لا عبرة بقول الحسٌاب

“Menurut yang muktamad, kesaksian tersebut diterima, karena pendapat ahli hisab tidak mu’tabar (tidak masuk hitungan).”

Alasan Imam al-Subki : (لان الحساب قطعي والرؤية ظنية) untuk menolak rukyat ketika bertentangan dengan hisab perlu digarisbawahi kemudian ditarik ke kondisi saat ini di mana ilmu astronomi modern telah begitu maju dan akurasinya benar-benar meyakinkan (قطعي). 

Dengan ilmu ini, para ahli astronomi bisa memprediksi terjadinya gerhana beberapa ratus tahun sebelum terjadinya dengan sangat akurat menyangkut tahun, bulan, minggu, hari dan jam, bahkan menitnya.

Dengan  begitu akuratnya (قطعي) ilmu astronomi saat ini maka rukyat yang semula bersifat dugaan kuat (مظنونة), ketika bertentangan dengan hisab turun menjadi sesuatu yang diragukan (مشكوك فيها), bahkan hanya bersifat asumsi saja (موهومة).

Pendapat Imam al-Subki ini merupakan jalan tengah (المنهج الوسطي), sekaligus menjadi ajang perdamaian antara yang fanatik rukyat dan yang fanatik hisab.

Jika pemerintah berpegang pada pendapat ini maka tidak perlu menyiapkan tenaga dan biaya yang cukup besar yang dibutuhkan untuk melakukan pemantauan hilal (الترائي)، ketika seluruh ahli hisab/astronomi sepakat mengatakan bahwa hilal tidak mungkin dirukyat.

تصحيح :
١. فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما
٢. فإن غمٌ عليكم فاقدروا له
وإن كان أحدهما تفسيرا للآخر فالصواب أن المفسّر هو الاول للثاني المجمل ، لا العكس 



Penulis adalah guru besar usul fiqih di Ma'had Aly Situbondo. 

Ahad 2 Juni 2019 9:0 WIB
Hisab itu Bid’ah
Hisab itu Bid’ah
Ilustrasi: Para santri studi praktik ilmu falak
Oleh Muhammad Ishom

Ada dua metode yang sudah biasa digunakan untuk menentukan awal bulan Qamariyah, seperti 1 Ramadhan dan 1 Syawal, yakni metode rukyat dan metode hisab. Pada zaman Rasulullah shallallahu alahi wasallam metode yang digunakan adalah rukyat, yakni melihat langsung ke hilal atau bulan baru. Rasulullah tidak menggunakan metode hisab meski saat itu sudah ada beberapa sahabat yang mempelajari ilmu hisab. 

Rasululah memang tidak pandai berhitung atau hisab sebagaimana pernah beliau nyatakan dalam sebuah hadits berikut ini:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ

Artinya: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi yang tidak menulis dan tidak berhitung. Bulan itu bilangannya begini, begini (dengan isyarat tangan, yakni sekali waktu 29 hari dan sekali tempo 30 hari.” (HR Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menggunakan hisab dalam menentukan awal bulan-bulan Qamariyah. Jika terjadi bulan baru tak dapat dilihat karena alasan tertentu, seperti terhalang mendung, hal yang dilakukan Rasulullah beserta para sahabat adalah melakukan istikmal, yakni menggenapkan bulan Sya'ban atau Ramadhan misalnya, menjadi 30 hari sebab bulan itu hitungannya kalau tidak 29 hari ya 30 hari. 

Perintah melakukan istikmal dapat ditemukan dalam hadits berikut ini:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (berlebaran) kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya) maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari) 

Jadi memang Rasulullah shallallahu alahi wasallam tidak pernah menggunakan metode hisab untuk menentukan awal puasa 1 Ramadhan, hari Idul Fitri 1 Syawal dan sebagainya. 

Pertanyaannya adalah apakah metode hisab itu termasuk bidáh? Bukankah ia merupakan sesuatu yang baru dan tidak pernah dipraktikkan Rasulullah beserta para sahabat? 

Baca juga:
Penentuan Awal Bulan Qamariyah Perspektif NU
Memahami Dalil Rukyat Hilal Melalui Bahasa
Untuk menjawab pertanyaan di atas, diperlukan rujukan sejarah kapan metode hisab mulai digunakan oleh sebagian umat Islam. Tercatat bahwa metode hisab untuk menentukan awal Ramadhan muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-3 Hijriah, atau sekitar 2 abad setelah Rasulullah shallallahu alahi wasallam wafat. Lebih tepatnya pada masa khalifah ke-2 dari Bani Abbasiyah yang bernama Khalifah Ja’far al-Mansyur (wafat 156 H/775 M). Di Mesir metode hisab diberlakukan setelah negeri ini direbut oleh panglima Dinasti Fathimiyyah yang bernama Jauhar as-Siqli pada pertengahan abad ke-3 Hijriah. 

Pada masa itu ilmu hisab sudah dikembangkan, misalnya dengan diterjemahkannya kitab Sindihind karya seorang ahli falak/hisab bernama Manka dari India. Penerapan metode hisab murni tanpa rukyat dinilai banyak ulama sebagai sebuah bid’ah

Di Indonesia salah satu ormas Islam yang gigih menggunakan metode hisab adalah Muhammadiyah. Organisasi ini sangat terkenal di masa lalu, khususnya, dengan jargon anti TBC-nya yang menolak T (Takhayul), B (Bidáh) dan C (Churafat). Namun demikian, hisab tidak dipandangnya sebagai bid’ah. Alasannya adalah hisab yang dilakukannya untuk menentukan awal bulan, khususnya Ramadhan dan Syawal, didasarkan pada pemahaman terhadap perintah Rasulullah dalam sebuah hadits berikut:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Artinya, “ Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan apabila kalian melihatnya maka berhari rayalah, dan apabila kalian terhalang maka taqdir-kanlah. ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalimat فَاقْدُرُوا لَهُ (faqduruulahu - maka taqdir-kanlah) pada akhir matan hadits tersebut dipahami oleh kalangan Muhammadiyah sebagai perintah untuk melakukan perhitungan dengan metode hisab dalam menentukan awal bulan Qamariyah, terutama Ramadhan dan Syawal. Padahal ijma’ ulama memahaminya sebagai perintah untuk men-taqdir-kan dengan istikmal (metode rukyat) sebab hadits tersebut menurut mereka harus dipahami dengan memperhatikan hadits lain tentang istikmal sebagaimana telah disebutkan di atas. 

Oleh karena itu wajar saja jika banyak ulama menilai metode hisab murni tanpa rukyat untuk menentukan awal bulan Qamariyah, khususnya Ramadhan dan Syawal, adalah sesuatu yang baru yang tak pernah dilakukan Rasulullah dan para sahabat. Kalangan NU menggunakan hisab hanya untuk mendukung metode rukyat. Jadi, menurut penulis, hisab untuk keperluan ibadah itu bidáh terlepas apa kategorinya--apakah haram, sunah, wajib, makruh, ataukah mubah. 


Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG