IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Damainya Lebaran Bersama Pemuda dan Tokoh Lintas Agama di Lampung

Kamis 6 Juni 2019 12:0 WIB
Bagikan:
Damainya Lebaran Bersama Pemuda dan Tokoh Lintas Agama di Lampung
Kunjungan Tokoh Lintas Agama ke Kediaman Ketua NU Lampung

Pringsewu, NU Online
Berpakaian seragam putih dengan warna kuning dan hijau menghiasi bagian lengan dan leher, sejumlah pemuda nampak aktif membantu kelancaran acara shalat Idul Fitri di Pendopo Kabupaten Pringsewu, Rabu (5/6). Menggelar tikar, mengatur arus lalulintas, memarkir dan menjaga kendaraan dilakukan oleh para pemuda ini.

Sesekali mereka berdiskusi dengan para petugas keamanan dan TNI yang juga menjaga keamanan serta ketertiban pelaksanaan shalat yang setiap tahun di gelar oleh Panitia Peringatan Hari Besar Islam Pringsewu. Mereka ini adalah ormas Pemuda Katolik Kabupaten Pringsewu. Selain itu ormas Pemuda Kristen juga ambil bagian dalam kegiatan ini.


Foto: Pemuda Lintas Agama Pringsewu Melakukan Penjagaan Shalat Id di Pendopo

Wakil Sekretaris Pemuda Katolik Komcab Pringsewu Paulus Suwantoro mengaku sangat bahagia dapat berpartisipasi membantu petugas kepolisian dalam mengamankan ibadah umat Islam di Kabupaten Pringsewu.

Ia mengungkapkan juga bahwa keikutsertaan seperti ini dilakukan sudah sejak tahun lalu. Suwantoro pun berharap kehadiran mereka dapat membantu sekaligus menjadi gambaran kerukunan antar umat beragama yang ada di Kabupaten Pringsewu.

"Senang bisa ikut berpartisipasi membantu, dan senang bisa bersilahturahmi dengan masyarakat Kecamatan Pringsewu," ungkapnya.

Kegiatan shalat Idul Fitri yang bertemakan Menebar Maaf, Membangun Kebersamaan di Pendopo tersebut diikuti ribuan jama'ah. Selain Pemuda Katolik dan Kristen, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Pringsewu juga ikut berpartisipasi.

Selain di Pringsewu, partisipasi para pemuda lintas agama juga dilakukan di Posko Mudik Pemuda Ansor Kabupaten Lampung Selatan. Sejumlah pemuda lintas agama menjaga posko yang didirikan di komplek Kantor PCNU Lampung Selatan pada hari H lebaran.

"Ini merupakan hasil koordinasi kami dengan para pemuda lintas agama. Mereka akan menjaga posko arus mudik di Jalan Lintas Sumatera ini untuk tiga hari kedepan. Bergantian dengan anggota Banser yang sudah menjaga Posko dari H-7," kata Pengurus NU Lampung Selatan, Edi Sriyanto melalui sambungan telepon kepada NU Online.


Foto: Pemuda Lintas Agama Menjaga Posko Mudik Ansor Lampung Selatan

Selain menjaga Posko Mudik, pemuda lintas agama pun menjaga beberapa masjid yang digunakan untuk pelaksanaan shalat Id di Kabupaten Lampung Selatan.

"Ini merupakan wujud saling memahami dan saling membantu antar pemeluk agama. Ketika pemeluk agama lain merayakan hari rayanya, dari Ansor dan Banser juga ikut melakukan pengamanan," ungkapnya.

Sementara di hari H lebaran, sejumlah tokoh lintas agama Provinsi Lampung juga menyampaikan selamat Hari Raya kepada umat Islam. Mereka mengunjungi para tokoh agama Islam Lampung di antaranya di kediaman Ketua PWNU Lampung, KH Mohammad Mukri.

"Ya, para tokoh lintas agama kemarin ramai-ramai bersilaturahim ke rumah," kata Profesor yang juga Rektor UIN Raden Intan Lampung ini kepada NU Online di hari kedua lebaran.

Partisipasi para pemuda dan kunjungan silaturahmi para tokoh ini semakin menunjukkan bahwa masih ada dan masih kuat persatuan dan kesatuan di negeri ini. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang terwujudnya kedamaian di negeri tercinta ini. Hanya orang yang tidak beragama yang tidak menginginkan kerukunan dan perdamaian. (Muhammad Faizin)

Bagikan:
Kamis 6 Juni 2019 21:0 WIB
Tradisi Masyarakat Bungo, Usai Ziarah Kubur Silaturahim ke Tokoh
Tradisi Masyarakat Bungo, Usai Ziarah Kubur Silaturahim ke Tokoh
Tradisi silaturahim ke rumah tokoh setempat di Bungo
Bungo, NU Online
Menjelang jam 06.00 pagi, saat matahari mulai menampakkan cahayanya, di saat bersamaan ratusan masyarakat Dusun Karak Apung, Kecamatan Batin Tiga Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi berbondong-bondong menuju titik kumpul untuk shalat Idul Fitri di Masjid Assa'adah.Warga Dusun Karak Apung begitu teguh memegang adat dan tradisi setempat, yakni nama panggilan kepada setiap anak yang dilahirkan. 

Untuk anak pertama cowok diberi gelar adat Kulup, berikutnya 'Bujang' dan anak cowok ketiga dijuluki 'Buyung' dan terakhir 'Jancik'. Seakan ingin terlihat adil, anak perempuan juga diberikan gelar secara berurutan. Pertama 'Tino' lalu 'Supek', kemudian 'Gadis', dan 'Acik'. Gelar tersebut digunakan untuk panggilan setiap hari, terkadang ditambahi nama aslinya sebagai penjelas.

Matahari mulai meninggi, usai shalat Id, mereka melakukan ritual ziarah kubur dan agenda selanjutnya pun sudah menunggu, berbaris rapat hingga matahari terbenam. Agenda tersebut yaitu berkumpul bersama keluarga untuk makan siang, saling bermaaf-maafan lagi dan menunggu adzan Shalat Dzuhur datang.

Biasanya, bagi warga yang memiliki uang lebih mereka akan mengundang warga dusun lainnya datang ke rumah untuk makan bersama dan kirim doa buat leluhur mereka. Sehingga bagi tokoh agama atau tuan guru, hari pertama lebaran mereka bisa berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain hingga belasan kali. Selain itu, mereka tidak pernah absen untuk silaturahim ke rumah para tokoh dusun setempat.

"Menu wajib saat kumpul keluarga itu tempoyak," ujar Kulup Abdurrahman dengan begitu semangat.

Dikatakan, tempoyak sendiri tercipta dari daging durian yang dipermentasi sehingga terlihat cair. Tempoyak begitu menggiurkan bagi penyukanya. Tempoyak sudah tercium dari jarak puluhan meter dan mengaduk-aduk perut pecintanya hingga lapar berat.

Lebaran kurang lengkap biasanya jika tanpa hiburan. Sadar pentingnya hiburan saat kumpul keluarga. Para pemuda Dusun Karak membuat kreatifitas tingkat tinggi, bahkan terbilang rumit. Mereka membuat ayunan yang dinamai 'Buae' dari kayu-kayu hutan. Buae dimodifikasi sekian rupa sehingga bisa berputar keatas dan kebawah. Semua bahan baku 'Buae' diambil dari hasil hutan sekitar dusun.

"Untuk hiburan kita mandiri, bagi pemuda yang sudah menikah mereka membuat 'Buae' dan bagi pemuda yang belum menikah mereka mengelola sungai untuk wisata," tambah Kulup.

Dijelaskan, wisata secara mandiri ini juga berhasil menarik minat wisatawan dari luar desa untuk berlibur bersama-sama. Seperti masyarakat perkotaan yang rindu dengan sungai jernih. Sungai jernih bagi warga perkotaan bisa dikatakan mustahil. Kumuh dan keruh jadi pemandangan setiap hari.

Sejalan dengan antusias wisatawan, pundi-pundi uang pun terkumpul dengan sendirinya. Tradisi Idul Fitri dan kemandirian hiburan membuat suasana hari kemenangan di salah satu tempat terpencil di Jambi ini semakin syahdu dan berkesan, terutama bagi perantau dan pendatang dari luar dusun.

"Suasana ini yang membuat air mata tak terbendung saat lebaran jauh dari keluarga," pungkas Kulup. (Syarif Abdurrahman/Muiz)

Kamis 6 Juni 2019 19:0 WIB
Lebaran Idul Fitri di Pelosok Jambi, Tak Lupa Ziarah Kubur
Lebaran Idul Fitri di Pelosok Jambi, Tak Lupa Ziarah Kubur
Ziarah kubur sai Shalat Id
Bungo, NU Online
Matahari mulai malu-malu menampakkan cahayanya, di saat bersamaan ratusan masyarakat Dusun Karak Apung, Kecamatan Batin Tiga Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi berbondong-bondong menuju titik kumpul untuk shalat Idul Fitri di Masjid Assa'adah.

Perempuan-perempuan cantik dengan warna serba putih membalut tubuh tampak saling berpeluk-pelukan penuh senyum ketika bertemu temannya di sepanjang jalan. Suasana kekeluargaan dan bahagia juga terpancar dari jamaah pria dengan pakaian rapi duduk berjejer melantunkan takbir bersama.

Momen Idul Fitri merupakan hal sakral di dusun yang pimpinan tertinggi dalam pemerintahannya bernama Datuk Rio ini. Tidak seperti umumnya desa lain yang menggunakan istilah kepala desa atau lurah. Di sini nama desa pun diganti dengan nama dusun, lalu bagian terkecil di bawah dusun diberi nama kampung.

Beberapa saat sebelum berkumpul di masjid, warga setempat lebih dahulu melakukan mandi sunah Idul Fitri di Sungai Batang Bungo. Sungai yang jernih, berbatu dan deras. Sederas semangat warganya merayakan kemenangan di hari nan fitri ini.

Dalam obrolan menuju tangga masjid, beberapa warga berbicara dengan bahasa berbeda dari warga asli dan cerita pengalaman di rantau. Hari raya waktu yang tepat bagi perantau meluapkan kerinduan kepada sanak keluarga, tuan guru dan rekan sejawat. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk mudik, meskipun kadang secara ekonomi lagi mengalami  masalah kronis.

"Saya merantau ke Jawa Timur, sudah bertahun-tahun tidak mudik. Tahun ini saya paksakan mudik. Teman dari Malaysia, Batam, Kuala Tungkal, Jambi saja mudik," kata Abdurrahman (26), salah satu warga setempat.

Bagi warga setempat, keluarga layaknya intan permata bahkan bisa lebih. Sehingga bersua dan bercanda gurau bersama sanak famili sangat berarti bagi mereka. Rindu meluap, mengalir terus menerus hingga tak terasa puluhan mata tampak basah kuyup.

Seusai Shalat Idul Fitri, tradisi masyarakat Dusun Karak tidak langsung kembali ke rumah. Mereka berbaris membentuk lingkaran untuk saling salaman lagi, melepas rindu kembali. Usai semua bersalaman, seorang tuan guru langsung memimpin tahlil dan doa bersama untuk keluarga yang sudah wafat. Pemandangan yang sangat indah, ikatan keluarga begitu kuat.

Turun dari tangga masjid, secara otomatis warga kembali berkumpul membentuk kelompok kecil. Kali ini, tradisi yang dilampahi yaitu ziarah kubur nenek-mamak, handai taulan serta keluarga terdekat. Uniknya, semua ikut berziarah, tua-muda, pria-wanita bahkan anak kecil pun berlari dengan senang menjalankan ritual tahunan ini.

Perempuan cantik dan emak-emak (panggilan untuk Ibu-ibu) dengan cekatan membawa alas sebagai tempat duduk saat ziarah kubur. Ada juga yang membawa air dan bunga untuk menaburkan di atas kubur. Setelah sebelumnya beberapa pria terlihat sibuk membersihkan rumput-rumput yang mengaburkan batu nisan.

"Ziarah ini tradisi dari lama, ungkapan kerinduan di hari bahagia kepada nanton (kakek), nihnu (nenek) dan keluarga," tambah pria yang mempunyai gelar adat Kulup ini. (Syarif Abdurrahman/Muiz)
Kamis 6 Juni 2019 11:0 WIB
Geliat Idul Fitri di Pulau Dewata
Geliat Idul Fitri di Pulau Dewata

Buleleng, NU Online
Kegembiraan Umat Islam dalam menyambut datangnya  Idul Fitri mencuat di mana-mana. Tak terkecuali di pulau dewata, Bali. Di daerah yang dihuni mayoritas pemeluk Hindu itu, ekspresi kegembraan umat Islam dalam menyambut Idul Fitri, tetap nyaring, meriah dan didukung warga setempat.

Seperti yang terjadi di Desa Tegallinggah Kecamatan Sukasada Kabupaten Beleleng, Bali. Menyambut Idul Fitri 1440 Hijiriyah, Remaja Masjid Tegallinggah (Formalingga) Desa Tegallinggah,  mengadakan pawai obor keliling, Selasa (4/6) malam.
Pawai obor tersebut mengambil rute, start di halaman Masjid Jamik Al-Miftah, ke arah utara menuju lingkungan Masjd Nurul Ilahi,  lalu menyusuri  jalan ke arah selatan menuju Banjar Mundukkunci, melintasi sebagian besar Pemukiman warga muslim dan sebagian kecil pemukiman warga Hindu.

“Alhamdulillah, pawai obor berjalan lancar, dan mendapat sambutan yang hangat di sepanjang jalan yang kami lalui,” tukas Ketua Formallingga yang juga Ketua Panitia PHBI (Panitia Hari Besar Islam), Juhairi Wahabi sebagaimana rilis yang diterima NU Online.

Menurutnya, pawai obor memang  rutin diadakan oleh Formalingga  setiap menyongsong Idul Fitri dan Idul Adha. Kegiatan tersebut diramaikan oleh anak-anak, remaja, pemuda dan masyarakat dari berbagai dusun/banjar, diantaranya Tegallinggah, Mundukkunci dan Sanisari.

“Mereka sangat gembira melaksanakannya, apalagi setelah sebulan berpuasa Ramadhan,” tuturnya.

Kegiatan tersebut juga  mendapat dukungan dari pemerintah desa dan aparat keamanan setempat dengan melibatkan kepolisian sektor Sukasada, Babinkamtibmas, Babinsa, Linmas dan Banser serta pengamanan swadaya dari masing-masing dusun. Hal ini tak pelak mendapat apresiasi dari Sekretaris Desa Tegallinggah,  Jaini Halim.

“Kegiatan ini sebagai salah satu wujud keterlaksanaan pembangunan bidang keagamaan dan sebagai bukti toleransi ummat beragama,” ucapnya.

Hadir dalam acara tersebut Pj. Perebekel (kepala desa) Tegallinggah, para banjar dinas (kepala dusun) Mundukkunci, para tokoh agama,  dan PAC Ansor Sukasada II. Mereka ikut larut menyaksikan pembukaan dan iring-iringan peserta pawai yang diperkirakan berjumlah 800-an orang.

Desa Tegallinggah sendiri dihuni oleh penganut agama Hindu sebesar 55 persen, dan sisanya penganut Islam. (Aryudi AR).

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG