IMG-LOGO
Internasional

Tak Bubar setelah Shalat Id Sebelum Salaman dengan Ulama

Sabtu 8 Juni 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Tak Bubar setelah Shalat Id Sebelum Salaman dengan Ulama
Silaturahim usai shalat Ied di Kairo Mesir
Kairo, NU Online
Shalat Id dimulai pada pukul 05.15 pagi. Bukan karena kepagian, Subuh di Iskandariyah tiba pukul 03.12, sedang matahari terbit pukul 04.58. Meskipun demikian, masyarakat baru pulang dari masjid sekitar pukul 09.00. Pasalnya, sepanjang waktu itu mereka mengantre bersalaman dengan para ulama.

"Mereka sengaja nunggu waktu buat salaman dan cium pipi ulama sehingga proses salam-salaman makan waktu yang cukup lama, Ied jam 5.15 plus salam-salaman jadi selesai kurang lebih jam sembilanan," kata Abdullah Syafi'i, mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Kamis (6/6).

Selepas itu, barulah mereka, katanya, berkeliling melakukan kunjungan ke kerabat dan handai taulan. Sementara para pendatang ada yang diundang ke rumah masyarakat setempat atau berkunjung ke orang-orang Indonesia yang sudah berkeluarga. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan sekretariat organisasi juga melakukan open house terbatas.

Syafi'i hanya butuh waktu 10 menit berjalan kaki untuk sampai di Masjid Amru bin Ash Iskandariyah, tempat ia melaksanakan shalat Id.

Selepas shalat dan bersalaman dengan para ulama di masjid, Syafi'i bersama rekan-rekannya juga sowan ke ulama-ulama. Di antaranya, ia sowan ke Syekh Muhammad Ibrahim Abdul Baits al-Kattani.

Dalam kunjungannya tersebut, selain mengalap berkah dengan salaman dan dipeluk, para pengunjung juga diberikan nasihat olehnya. "Dalam memaafkan, orang harus dengan niat yang tulus, jangan hanya di lisan memaafkan tapi di hati masih menyimpan dendam," ujarnya.

Selain itu, salah satu ulama dengan sanad Shahih Bukhari tertinggi itu juga menyampaikan salah satu akhlak yang bisa dipelajari saat Idul Fitri adalah membiasakan diri sebelum tertidur agar senantiasa memaafkan orang lain, tidak mengingat hal-hal buruk orang lain. "Tetap istiqamah menjalankan ubudiah-ubudiah di bulan Ramadhan meskipun telah berlalu," katanya.

Selain itu, ia juga sowan kepada Syech Ala Musthofa. Dalam kunjungannya tersebut, ia mendapat nasihat untuk senantiasa bershalawat agar kelak mendapat syafaat Nabi. "Tumbuhkan rasa cinta terhadap nabi sampai cahaya nubuwah tertanam pada diri kita," katanya.

Ulama tersebut juga menasihatinya agar memperbanyak muthalaah dan murajaah agar tidak menyia-nyiakan waktu mengingat sedang thalabul ilmi, bukan tholabun naum.

Perjalanan dari satu ulama ke ulama lainnya itu, kata pria asal Betawi itu, menempuh waktu setengah jam. Sementara waktu sowan sekitar satu jam. 

Alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat itu juga menjelaskan bahwa malam hari raya di sana tidak digelar takbir keliling ataupun takbiran semalaman seperti di Indonesia. "Di sini takbiran cuma dari maghrib sampe isya, selanjutnya diisi sama shalat ihyaul lailatil ied," ujarnya.

Ihyaul lailatil Ied dilakukan dengan melakukan shalat witir. Setelah itu, dilanjutkan dengan tadarus, zikir tarekat, dan shalawatan hingga pukul 12 malam. 

Syafi'i selama Ramadhan mengikuti kegiatan di Iskandariyah bersama rekan-rekannya. Menurut seniornya, di kota tersebut para ulama banyak menggunakan bahasa fushah sehingga baik untuk pembelajaran bahasa bagi orang-orang yang baru tiba di Mesir. Bulan suci ini juga libur bagi ia yang baru persiapan bahasa. 

"Sedangkan kalo tahun tahun berikutnya udah susah, soalnya ramadhan musimnya ujian kampus jadi bakal disibukkan dengan belajar," jelasnya.

Kegiatan sebulan penuh itu sudah ditanggung oleh pihak panitia dari senior-seniornya, dari tempat tinggal, kitab, hingga bahan makanan. "Tapi soal siapa yg nanggung biayanya saya gak paham juga, karena tiap kita nanya selalu dijawab 'Itu rezeki dari Allah'," pungkasnya sembari tertawa bahagia. (Syakir NF/Muiz)
Bagikan:
Sabtu 8 Juni 2019 17:0 WIB
Tak Libur, Nahdliyin di Cina Diizinkan Rayakan Idul Fitri
Tak Libur, Nahdliyin di Cina Diizinkan Rayakan Idul Fitri
Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Cina
Chongqing, NU Online
Meskipun Cina bukan mayoritas muslim, pemerintah Cina memberikan kebebasan ruang dan waktu semua aktivitas keagamaan, selama tidak menyalahi aturan yang berlaku.

Hal tersebut dibuktikan sendiri oleh Waki Ats-Tsaqafi, salah seorang Nahdliyin yang tengah studi di Chongqing, Cina. Meskipun kuliah tidak libur, ia dan rekan-rekannya diizinkan untuk merayakan dan melaksanakan shalat Id.

"Kami tetap pergi ke masjid dengan terlebih dahulu izin. Ya  Alhamdulillah diperbolehkan, betapa senangnya kami, karena bisa melaksanakan shalat Id dan merayakan Hari Kemenangan bersama warga lokal ataupun warga internasional," tulis Waki melalui akun Facebooknya pada Sabtu (8/6).

Banyak orang berpikir bahwa Cina tidak bersahabat dengan Islam. Tetapi nyatanya tidak seperti itu. Umat Islam di Cina, katanya, dengan khidmat melaksanakan ibadah, tak terkecuali shalat id.

"Umat muslim, baik warga lokal maupun warga negara asing, melangsungkan salat id di Masjid Kota Chongqing. Masjid satu-satunya di Kota Chongqing ini dipenuhi oleh ribuan jemaah," lanjutnya.

Antusiasme umat Islam untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di Cina, menurutnya, sangat luar biasa sehingga luber. Biasanya untuk shalat Masjid ini hanya menggunakan lantai 15 saja. Tetapi ketika shalat Idul Fitri, masjid ini juga menggunakan lantai 14.

Waki menjelaskan bahwa proses shalat Id di sana sedikit berbeda. Sebelum shalat dimulai, Ketua Asosiasi Muslim Chongqing Imam Ismail Ma Yunfeng melakukan ceramah dengan bahasa Mandarin. "Ini bukan khutbah karena khutbah juga ada setelah shalat dengan menggukanan bahasa Arab," terangnya.

Seperti di Indonesia, setelah proses shalat Idul Fitri, tepatnya setelah khutbah, para jamaah muda dan tua saling bersalaman satu dengan yang lain.

Selain itu, sebagaimana di Indonesia, umat Muslim Cina juga melangsungkan acara silaturahim dan menyantap hidangan bersama usai shalat id.

"Sebenarnya, kami warga Indonesia diajak orang lokal untuk makan-makan di restoran dekat masjid, akan tetapi berhubungan dengan banyaknya warga Indonesia maka kami tidak enak sendiri untuk hadir," tulisnya.

Karenanya, warga Indonesia mengadakan makan-makan bersama di restoran bawah masjid. Hal tersebut membuat satu restoran penuh dengan orang Indonesia ditambah lima warga Thailand dan satu orang Togo. (Syakir NF/Muiz)
Sabtu 8 Juni 2019 5:0 WIB
Internet di Sudan Diputus, Kesempatan Langka Bisa Ucapkan Permohonan Maaf Idul Fitri
Internet di Sudan Diputus, Kesempatan Langka Bisa Ucapkan Permohonan Maaf Idul Fitri
foto: ilustrasi (liputan6.com)
Khartoum, NU Online
Pasca mundurnya Presiden Republik Sudan, Omar Ahmad Al Bashir, Asosiasi Pekerja Professional Sudan (SPA) beserta kelompok oposisi dan rakyat Sudan semakin gencar melakukan demo guna menuntut pemerintahan yang dipegang secara langsung oleh Sipil.

Tuntutan tersebut belum kunjung terwujud dengan tercapainya kesepakatan antara Dewan Transisi Militer (DTM) dengan Oposisi yang menyepakati proses transisi akan berlangsung selama 3 tahun. Sementara tuntutan SPA peralihan kekuasaan kepada sipil harus diselesaikan dalam waktu 15 hari sejak turunnya Presiden Basyir.

Akibatnya, demonstrasi kian meningkat terlebih banyak korban meninggal dari pihak pendemo dan diplomasi ketua DTM dengan beberapa negara Arab pada pertemuan Liga Arab di Makkah yang disinyalir akan semakin memperkuat pemerintahan militer.

Hal itu menggerakkan SPA menyerukan demonstrasi total menolak pemerintahan yang mengakibatkan lumpuhnya beberapa objek vital di Sudan pada tanggal 3 Juni 2019, seperti jalan-jalan protokol, termasuk Bandara Internasional Khartoum. Tak ayal kontak fisik antara aparat keamanan dengan para demonstran tak terhindarkan sehingga menimbulkan banyak korban jiwa. Lebih dari itu, akses internet di seluruh Sudan pun diputus guna meredam arus informasi di antara para demonstran.

Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan 2018-2019 Muthiullah menyampaikan permohonan maaf Idul Fitri sembari menyebutkan bahwa hal yang dilakukannya adalah kesempatan langka.

"Internet di Sudan diputus sejak tanggal 3 Juni, baru dapet wifi yang nyambung, kesempatan langka, mohon maaf lahir batin," tulisnya melalui akun media sosialnya pada Jumat (7/6).

Atas peristiwa tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Khartoum telah memberikan imbauan baik secara formal maupun informal kepada seluruh WNI di Sudan untuk terus meningkatkan kewaspadaan. KBRI, terangnya, memfasilitasi wifi bagi WNI yang ingin berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.

"Alhamdulillah hingga saat ini,  WNI terutama mahasiswa Indonesia di Sudan dalam keadaan aman dan mendapatkan perlindungan di asrama kampus. Mereka yang tinggal di luar kampus pun jauh dari daerah sasaran demonstrasi," jelas rilis tersebut.

Dikarenakan akses internet yang terbatas, bagi kerabat ataupun masyarakat yang ingin menanyakan seputar kondisi terkini di Sudan, PPI Sudan menyarankan untuk dapat berkomunikasi langsung melalui pihak KBRI Khartoum atau kepada perwakilannya di Indonesia, yakni  Muhammad Ruhiyat Haririe dengan kontak +249111673998.

"Kita berdoa semoga kondisi Sudan segera membaik dan kembali kondusif seperti sediakala, serta semoga Allah memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh penuntut ilmu di negeri 2 nil ini," harapnya. (Syakir NF/Muiz)
Kamis 6 Juni 2019 16:30 WIB
Lebaran Jelang Ujian, Nahdliyin Lebanon Tetap 'Sowan' Ulama
Lebaran Jelang Ujian, Nahdliyin Lebanon Tetap 'Sowan' Ulama
Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Lebanon
Beirut, NU Online
Hari Raya Idul Fitri menjadi ajang silaturahim dengan saudara, teman, kerabat, dan tak terlupakan juga para guru. Bagi para mahasiswa di tanah Arab, para ulama menjadi destinasi silaturahim yang tak terlewatkan.

Namun, ujian yang cuma berjarak dua hari dari hari H lebaran 1440 Hijriyah, memperpendek langkah mereka untuk sowan-sowan. Meski waktu yang tersedia sangat terbatas, mahasiswa Indonesia tetap meluangkan waktu, meski tak banyak ulama yang disowani lebaran kali ini.

"Kami gak begitu banyak muter-muter kang tahun ini. Soalnya jadwal ujian di Lebanon yang begitu mepet. Jadi mahasiswa banyak yang udah pulang ke kampus masing-masing," kata Hamid Hodir, Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Lebanon, kepada NU Online pada Kamis (6/6).

Hamid dan dua rekannya melaksanakan shalat Idul Ftri di Masjid Nasional Muhammad al-Amin, Beirut, Lebanon. Ia berangkat dari kampusnya di Daawa University College yang terletak di kota yang sama sejak pukul lima pagi.

"Dekat, dari kampus saya sekitar 15 menit naik angkot," ujar mahasiswa tingkat akhir jurusan Sastra Arab itu.

Dengan merogoh kocek 1.000 Lira Lebanon atau setara Rp9.500 Hamid sudah bisa sampai di tempat tujuan. Menurutnya, transportasi angkot itu paling murah di negara tersebut.

"Van itu yg paling murah untuk transportasi umum di kota Beirut. Satu kali naik jauh dekat selama masih di dalam Kota Beirut harganya 1000 Lira Lebanon / Rp9.500," jelasnya.

Ia memilih shalat di masjid tersebut selain jarak tempuh yang relatif singkat dan masjid nasional, juga khutbahnya disampaikan langsung oleh Grand Mufti Lebanon. "Di masjid tersebut khatibnya langsung oleh Grand Mufti Lebanon, Syekh Abdul Latief Derian," ucapnya.

Selesai melaksanakan shalat Id hingga sekitar pukul 07.15, Hamid berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beirut untuk bersilaturahim dan maaf-maafan dengan masyarakat Indonesia yang ada di sana.

"Setelah shalat Id itu baru saya ke KBRI, silaturahim dengan Bapak Dubes, staf-staf KBRI, dan TNI Unifil yang sedang bertugas menjaga perdamaian di Lebanon, TKI, warga yang bekerja sebagai Spa di perhotelan, para mahasiswa, dll," katanya.

Kunjungan ke KBRI bukan sekadar silaturahim. Di sana juga menjadi obat kangennya dengan Indonesia. Pasalnya, Hamid sudah empat kali lebaran di negeri berjuluk Paris of The East itu. "Empat puasa empat lebaran gak pulang-pulang, sudah ngalah-ngalahin bang toyib kang," ujarnya sembari tertawa.

Di KBRI, Hamid bisa menikmati masakan khas Indonesia sepuasnya. "Obat kangen makanan khas inydonesia pastinya gak ketinggalan," ucapnya.

Hamid juga menjelaskan bahwa masyarakat Lebanon juga disibukkan dengan silaturahim saat lebaran. "Mereka kayak kita lah saling silaturahim juga. Tapi cuma sehari sih, gak kayak kita bisa berhari-hari."

Mereka juga menyuguhkan sajian khas Lebanon seperti nasi mandiyaman, jajanan halawiyat (manisan khas lebanon), dan kopi khas Lebanon, ahweh sada atau kopi hitam murni pahit. (Syakir NF/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG