IMG-LOGO
Daerah

Lebaran Topat untuk Lestarikan Budaya Berbasis Agama

Kamis 13 Juni 2019 0:0 WIB
Bagikan:
Lebaran Topat untuk Lestarikan Budaya Berbasis Agama
Bupati Lombok Tengah (tengah pegang ketupat)
Lombok Tengah, NU Online
Perayaan Lebaran Topat (ketupat) yang dilaksanakan masyarakat muslim di Lombok, dipusatkan di sejumlah titik yang dimeriahkan dengan berbagai even. Usai prosesi adat, Lebaran Topat termasuk di Kawasan Mandalika Khusus (KEK) Lombok Tengah.

Lebaran Topat di Kabupaten Lombok Tengah dipusatkan di wilayah Pembangunan ITDC yang merupakan tempat rencana perhelatan Motor GP 2021 mendatang, yakni di pantai Senek Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. pada Rabu (12/6).

"Kegiatan lebaran topat ini nantinya diharapkan bisa menjadi even nasional, sebagaimana even-even lainya seperti Festival Bau Nyale yang kini sudah menjadi even nasional," kata Bupati Lombok Tengah, HM Suhaili FT di hadapan ribuan masyarakat yang hadir.

Dikatakan, untuk memeriahkan Lebaran Kopat, Pemerintah Daerah (Pemda) menyiapkan acara khusus, yakni 'Festival Syawal' bertujuan untuk pelestarian budaya masyarakat Sasak setelah melaksanakan 6 hari puasa syawal setelah hari raya Idul fitri dengan menikmati ketupat dan opor serta berbagai macam olahan makanan lainnya yang biasanya dilakukan di berbagai tempat objek wisata.

"Jadi ini diawali dari aktivitas masyarakat Sasak yang telah menjalani puasa 6 hari di Bulan Syawal," ucapnya.

Bupati Lombok Tengah menyatakan, kegiatan Syawal Sholah Sholeh Sholoh ini akan dijadikan event tahunan yang akan memperkaya budaya masyarakat Lombok Tengah yang memberikan pesan perdamaian dan persaudaraan berbagai belahan dunia. Karena lebaran topat dihajatkan sebagai wadah silaturrahmi, tidak hanya sesama muslim tapi juga saudara yang berlainan agama.

“Kegiatan ini akan kita tetapkan sebagai agenda tahunan,” tegas Bupati Lombok Tengah.

Bupati juga akan berusaha mengemas festival Syawal ini semeriah mungkin layaknya festival bau nyale sehingga bisa menjadi event nasional.

Perayaan Lebaran Topat menurut Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlaul Ulama (PCNU) Kabupaten Lombok Tengah ini bukan hanya sekedar lebaran, namun untuk melestarikan budaya masyarakat yang didasari dengan ajaran agama, yakni berupa anjuran berpuasa sunah 6 hari setelah hari raya Idul Fitri.

"Lebaran Topat inilah lanjutnya yang menjadi hari kemenangan bagi mereka yang puasa sunnah selama 6 hari itu dan dirayakan secara terus menerus hingga saat ini," kata bupati dua periode ini.

Dikatakan Bupati, tradisi turun temurun ini dilaksanakan masyarakat Lombok sepekan setelah hari Lebaran atau setelah menunaikan puasa sunah Syawal selama 6 hari berturut-turut. 

Pada Lebaran topat, jelas Bupati, masyarakat Lombok Tengah mengunjungi tempat-tempat yang dianggap mempunyai nilai-nilai sakral, terutama makam. Mereka mendoakan dan menghormati leluhur yang berdakwah membawa Islam di Pulau Lombok. (Hadi/Muiz)
Bagikan:
Kamis 13 Juni 2019 23:55 WIB
Lampung Berangkatkan 7.488 Calon Jama'ah Haji 2019, Ini Jadwalnya...
Lampung Berangkatkan 7.488 Calon Jama'ah Haji 2019, Ini Jadwalnya...
Foto: Haji (Ist.)

Bandarlampung, NU Online
Pada musim haji tahun 2019, calon jama'ah haji beserta petugas haji dari Provinsi Lampung berjumlah 7.488 orang. Jumlah ini terbagi menjadi 19 kelompok terbang yang akan dimulai pada 11 Juli sampai dengan 5 Agustus 2019.

Berdasarkan jadwal resmi yang dikeluarkan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung dan ditandatangani oleh Kepala Kanwil Kemenag H Suhaili selaku Kepala Staff Penyelenggara Haji tertanggal 11 Juni 2019, sebagian calon jama'ah haji dari Lampung masuk pada gelombang 1 dan sebagian ada yang diterbangkan pada gelombang 2.

Gelombang 1 terdiri dari 5 keloter yakni Keloter 4 Lampung Tengah, Keloter 5 Lampung Utara, Keloter 6 Bandar Lampung, Keloter 20 Lampung Timur, dan Keloter 22 Lampung Selatan dan Bandar Lampung.

Sementara gelombang 2 terdiri dari 14 kloter yakni Keloter 25 Bandar Lampung, Keloter 27 Metro, Keloter 30 Pesawaran, Lampung Barat, Bandar Lampung, Keloter 36 Lampung Tengah, Keloter 41 Lampung Timur, Keloter 45 Tanggamus, Metro, Lampung Utara, Bandar Lampung, Keloter 48 Lampung Tengah, Keloter 49 Pringsewu, Keloter 52 Waykanan, Mesuji, Lampung Timur, Bandarlampung.

Masih di gelombang 2 yakni Keloter 55 Tulang Bawang Barat, Lampung Tengah, Pesisir Barat, Bandarlampung, Keloter 59 Tulang Bawang dan Bandarlampung, Keloter 61 Bandar Lampung, Keloter 62 Bandarlampung, Pringsewu, Lampung Selatan, Lampung Utara, Lampung Barat, Tanggamus, Tulang Bawang, Lampung Timur, dan Keloter (Gabungan Jakarta dan Banten) Lamteng, Metro, Mesuji, Waykanan, Pesawaran.

Berikut data kloter, tanggal masuk asrama dan keberangkatan serta jumlah jama'ah dan petugas yang akan berada di wilayah Raudhah 1, 2 dan Syisyah 1:

Gelombang 1 (satu)
1. Keloter 4 Lampung Tengah
Masuk Asrama : 10 Juli 2019
Berangkat : 11 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

2. Keloter 5 Lampung Utara
Masuk Asrama : 11Juli 2019
Berangkat : 12 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

3. Keloter 6 Bandar Lampung
Masuk Asrama : 12 Juli 2019
Berangkat : 13 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

4. Keloter 20 Lampung Timur
Masuk Asrama : 17 Juli 2019
Berangkat : 18 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

5. Keloter 22 Lampung Selatan dan Bandar Lampung
Masuk Asrama : 18 Juli 2019
Berangkat : 19 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

Gelombang 2 (Dua)
6. Keloter 25 Bandar Lampung
Masuk Asrama : 19 Juli 2019
Berangkat : 20 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

7. Keloter 27 Metro
Masuk Asrama : 20 Juli 2019
Berangkat : 21 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

8. Keloter 30 Pesawaran, Lambar , Balam
Masuk Asrama : 21 Juli 2019
Berangkat : 22 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 390 orang

9. Keloter 36 Lamteng
Masuk Asrama : 23 Juli 2019
Berangkat : 24 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 390 orang

10. Keloter 41 Lamtim
Masuk Asrama : 24 Juli 2019
Berangkat : 26 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

11. Keloter 45 Tanggamus, Metro, Lampura, Bandar Lampung.
Masuk Asrama : 26 Juli 2019
Berangkat : 27 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

12. Keloter 48 Lamteng
Masuk Asrama : 27 Juli 2019
Berangkat : 28 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

13. Keloter 49 Pringsewu
Masuk Asrama : 28 Juli 2019
Berangkat : 29 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

14. Keloter 52 Waykanan, Mesuji, Lamtim, Balam
Masuk Asrama : 29 Juli 2019
Berangkat : 30 Juli 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 390 orang

15. Keloter 55 Tubaba, Lamteng, Pesbar, Balam
Masuk Asrama : 31 Juli 2019
Berangkat : 1 Agustus 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

16. Keloter 59 Tuba dan Balam
Masuk Asrama : 2 Agustus 2019
Berangkat : 3 Agustus 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

17. Keloter 61 Bandar Lampung
Masuk Asrama : 3 Agustus 2019
Berangkat : 4 Agustus 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

18. Keloter 62 asal Balam, Pringsewu, Lamsel, Lampura, Lambar, Tanggamus, Tuba, Lamtim
Masuk Asrama : 4 Agustus 2019
Berangkat : 5 Agustus 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 407 orang

19. Keloter (Gabungan Jakarta dan Banten) Lamteng, Metro, Mesuji, Waykanan, Pesawaran.
Masuk Asrama : 4 Agustus 2019
Berangkat : 5 Agustus 2019
Total Jama'ah dan Petugas: 87 orang
(Muhammad Faizin)

Kamis 13 Juni 2019 21:0 WIB
Kiai Muzakki, Sosok Kiai yang Istiqamah
Kiai Muzakki, Sosok Kiai yang Istiqamah

Jember, NU Online
Nama KH Ahmad Muzakki Syah tak asing lagi di telinga masyarakat Jember. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiri, Jalan Manggar No.139A, Gebang Poreng, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini termasuk muballigh yang  super sibuk. Betapa tidak, tiap malam ia tak pernah absen mengisi  pengajian bagi jamaah manaqiban Syekh Abdul Qodir Jailani di berbagai daerah, bahkan hingga ke manca negara seperti Brunai dan Malaysia.

“Bagi saya,  mengisi pengajian bukan sekadar memenuhi  undangan jamaah, tapi lebih dari itu untuk membimbing masyarakat agar  tak melupakan Allah. Lebih khusus lagi, saya ingin terus menghidupkan amalan dan tradisi para kiai (NU),” tukasnya kepada NU Online di kediamannya, Kamis (13/6).

Menurut Kiai Muzakki,  dirinya tak pernah lelah melayani umat (berdakwah). Sejak awal memang sudah nawaitu untuk berdakwah, membimbing  jamaah di manapun dan kapanpun dibutuhkan. Walupun demikian, Kiai Muzakki mengaku tak  pernah melalaikan tanggung jawabnya di pesantren yang diasuhnya, termasuk kegiatan dzikir manaqiban Syekh Abdul Qodir Jailani yang digelar setiap Kamis (malam Jumat) di Pondok Pesantren Al-Qodiri.

“Kalau (malam) Jumat, saya tidak bisa ngisi di luar, karena di sini (pesantren) ada dzikir manaqib,” lanjutnya.

Kiai Muzakki cukup istiqamah dalam memimpin dzikir manaqiban Syekh Abdul Qodir Jailani. Jamaah pun tambah membludak. Lebih-lebih dzikir malam jumat legi, ratusan ribu jamaah memadati halaman pesantren yang sangat luas itu.  Mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara, bahkan juga dari Brunai dan Malaysia.

“Mereka semua ingin berdzikr semua kepada Allah mohon keselamatan,” jelasnya.

Soal keistiqamahan Kiai Muzakki, memang laik diacungi jempol. Setiap Kamis (malam jumat) ia dipastikan memimpin dzikir manaqiban di pesantrennya. Kalaupun kebetulan dia melakasanakan umrah atau haji, maka tetap memimpin dzikir manaqiban dan memberikan tausiyah via sambungan telepon seluler.

“Saya percaya bahwa amalan yang dilakukan secara istiqamah akan memberikan keistimewaan pada pelakunya. Apapun jika isitiqamah diamalkan, atau dilakukan, pasti membuahkan hasil,” tambahnya.

Saat ini Pondok Pesantren Al-Qodiri memiliki santri sekitar 3.500 orang. Selain menyelenggarakan pengajian kitab kuning dengan model sorogan,  pesantren ini juga mendirikan lembaga formal, yaitu TK, SD, SMP, MTs, MA, SMK, dan STAIQOD (Sekolah Tinggi Agama islam Al-Qodiri). (Aryudi AR).

Kamis 13 Juni 2019 19:0 WIB
KH Tolchah Hasan, Sosok Kiai dan Guru Besar yang Merakyat
KH Tolchah Hasan, Sosok Kiai dan Guru Besar yang Merakyat
KH Tolchah Hasan
Malang, NU Online
KH Muhammad Tolchah Hasan merupakan sosok kiai, alumni pesantren Tebuireng, yang cukup terkenal keulamaannya. Intelektualitas dan keulamaannya sudah tidak diragukan lagi. Hal ini terbukti dengan kegiatan akademiknya yang selalu memberikan pemikiran-pemikiran segar dalam merespon fenomena perkembangan zaman dan masyarakat saat ini.

Sebagai seorang ulama, Kiai Tolchah mampu membuktikan diri dengan keteguhan dalam memegang dan mengamalkan ajaran agama serta dekat dengan rakyat kecil.

Ada keunikan tersendiri mempelajari sosok Kiai Tolchah Hasan dalam hal pendidikan formalnya di perguruan tinggi. Beliau praktis hanya menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Merdeka Malang pada program studi Ilmu Pemerintahan. Adapun jenjang magister dan doktor-nya adalah pemberian sebagai kehormatan atas kiprahnya di masyarakat. Demikian pula jabatan Guru Besar Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Islam Malang (Unisma).

Demikian kesaksian HM Bibit Suprapto, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Malang periode 2009-2014 yang merupakan salah satu orang dekat Kiai Tolchah di Malang sejak keduanya berkiprah di Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang.

"Pak Tolchah itu magister dan doktornya bahkan sampai guru besarnya adalah honoris causa," kata pria yang akrab dipanggil Pak Bibit itu.

Kiai Tolchah merupakan sosok kiai yang memiliki segudang aktifitas yang cukup padat. Bahkan sampai usianya menginjak 80-an tahun, beliau merupakan kiai dengan mobilitas aktivitas yang sangat tinggi. Dan yang patut dicontoh adalah Kiai Tolchah selalu menyelesaikan urusannya secara tuntas, rapi dan terstruktur.

Di balik aktivitas yang cukup padat, Kiai kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini juga masih sempat menyapa masyarakat bawah dalam aktivitas kesehariannya. Berbagai aktivitas sosial dalam bentuk santunan yang diselenggarakan secara pribadi sering dilakukan dengan mengundang masyarakat dhuafa sekitar, maupun kegiatan lainnya.

Dwi Ari Kurniawati, salah satu pegawai di Pascasarjana Unisma memberikan kesaksian mengenai sisi sosial kemasyarakatan yang dimiliki Kiai Tolchah Hasan ini. Dikatakannya, Kiai Tolchah dalam setiap acara Halal bi Halal menekankan kepada seluruh civitas akademika Unisma untuk memegang prinsip persamaan derajat sesama manusia.

"Pak Prof. Tolchah yang selalu merakyat dengan bilang ''Jangan membeda-bedakan status," kata Dwi kepada NU Online, Rabu (12/6).

Ia juga menambahkan bahwa bukti merakyatnya Kiai Tolchah bisa dilihat dari kebiasaan Kiai Tolchah yang lebih suka makan lesehan bersama para stafnya di Unisma.

"Bukti merakyatnya adalah bahwa beliau dan putra-putri beliau lebih berkenan makan lesehan dengan yang lain meskipun disediakan VIP," kata Dwi. (R. Ahmad Nur Kholis/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG