IMG-LOGO
Daerah

KIS-JKN, Harapan Kesehatan Nahdliyin di Bondowoso

Ahad 16 Juni 2019 9:0 WIB
Bagikan:
KIS-JKN, Harapan Kesehatan Nahdliyin di Bondowoso
Sejumlah kartu untuk masyarakat. (dok. harian pilar)
Bondowoso, NU Online
Banyak warga yang menerima manfaat dari keberadaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan kartu tersebut, mereka bisa mendapatkan layanan kesehatan secara baik, tanpa harus mengeluarkan biaya.

Karena itu Klinik Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur melakukan kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BJPS).  Lewat kebersamaan tersebut, klinik melayani pasien KIS-JKN ataupun pasien mandiri semenjak dua tahun lalu.

“Dalam fasilitas kesehatan dan tenaga medis, kami komitmen melayani pasien  pemegang kartu KIS-JKN,” kata penanggung jawab Klinik RSNU Bondowoso  Mochammad Yasin, Sabtu (15/6).

Menurutnya, klinik kebanggaan warga sekitar dan Nahdliyin tersebut tidak pernah mempermasalahkan peserta dari mana dan dari mana. “Asalkan peserta KIS-JKN, kita rawat di tempat dan kita bebaskan rawat jalannya," jelasnya.

Dalam praktiknya, pasien yang datang terlebih awal diperiksa di Unit Gawat Darurat (UGD), atau rawat jalan. “Kalau lewat pemeriksaan harus rawat inap, maka akan dirawat inap, demikian juga bila rawat jalan,” jelasnya. 
Layanan dasar tersebut menjadi standar layanan ketika pasien pertama berada di klinik. “Baik pasien pemegang kartu KIS-JKN maupun umum, standarnya demikian," katanya.

Layanan awal tersebut tidak dikenakan biaya. “Mereka yang tidak mampu dan tidak memiliki kartu KIS-JKN sekalipun dilayani dengan gratis, mulai dari UGD, hingga rawat jalan,” ungkapnya.

Dengan demikian, yang sudah menikmati pelayan di tempat kita, tidak hanya yang pemilik kartu KIS-JKN, juga pasien mandiri dan Askes," terangnya.

Menurutnya, saat ini setidaknya ada 70 peserta yang terdaftar untuk rawat jalan. “Sedangkan kita membutuhkan idealnya sebanyak tiga ribu peserta," ungkapnya. Sehingga dengan demikian lebih leluasa memberikan pelayanan kepada masyarakat, lanjutnya.

Selama menerima pasien KIS-JKN dan pasien umum, klinik berupaya memberikan pelayanan secara optimal. “Kita mengedepankan kejujuran dalam memberikan pelayanan, artinya disampaikan kepada pasien terkait apa yang akan dilakukan klinik. Termasuk jika klinik tidak mampu melakukan tindakan medis, turut disampaikan secara terbuka,” terangnya. Mengapa hal ini dilakukan, karena pada prinsipnya semua pasien harus bisa mendapat pelayanan yang  terbaik dari tenaga kesehatan yang ada, lanjutnya.

Dengan layanan yang demikian prima dan mengedepankan kepuasan pasien secara terbuka, tidak sedikit yang lebih memiliki Klinik RSNU. “Bahkan ada juga yang awalnya dirawat di salah satu rumah sakit di kawasan Bondowoso dengan fasilitas VIP, akhirnya lebih memilih layanan kami,” bangganya.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa pelayanan harus demikian tulus dan profesional. "Bila dilayani dengan baik, maka akan semakin banyak pasien yang menerima manfaat. Pada saat yang sama pasti layanan tersebut akan diwartakan kepada keluarga dan kalangan lain,” urainya.

Karenanya klinik ini bisa berkembang dan menjadi kebanggaan. Juga yang tidak kalah penting adalah bahwa keberadaannya mampu memberikan manfaat kepada warga sekitar, khususnya nahdliyin.

“Karenanya kami berharap kepada seluruh masyarakat Bondowoso, seluruh pengurus NU dari tingkatan PCNU, MWCNU sampai rantingnya mau berbondong-bondong dan ikut mendorong, bergabung di tempat kita menjadi peserta BPJS yang memilih faskesnya di tempat kita,” ajaknya.

Dengan demikian manfaat dari klinik bisa dirasakan sejumlah kalangan. "Sehingga kita bisa menghidupi rumah sakit ini dengan lebih baik, mampu memberikan pelayanan dengan lebih baik dan cita-cita para pendiri dan kiai,” harapnya. 

Harapan Itu Bernama KIS-JKS
Salah seorang pemegang karrtu JKN-KIS di Bondowoso, Robbica Sastra Dijaya mengemukakan sangat menikmati layanan kesehatan yang dirasakan di Klinik RSNU.

Warga Desa Lojajar RT 02 RW 01Kecamatan Tenggarang ini mengatakan, selama ini manfaat menjadi peserta KIS-JKN dapat meringankan biaya pengobatan, sehingga mempermudah untuk mengatasi masalah kesehatan pasien.

"Selama ini pernah saya gunakan kartu JKN BPJS mandiri untuk pemeriksaan faskes tingkat pertama," jelasnya. 
Kartu BPJS mandiri JKN digunakan untuk memeriksakan anak pertama. “Selain berguna untuk pemeriksaan, juga berfungsi melanjutkan pemeriksaan untuk dirujuk ke spesialis di rumah sakit zona terdekat,” akunya.

Dirinya bersyukur selama menjadi peserta JKN tidak mendapatkan masalah berarti. “Kendala seperti administrasi, biaya dan pengobatan justru teratasi dengan baik di klinik RSNU Bondowoso ini," bangganya.

Hal sama juga dirasakan Bani Istu, pemilik kartu KIS dari Desa Kajar RT 12 RW 4 Kecamatan Tengarang yang mempunyai kartu KIS untuk seluruh keluarga yakni suami dan anaknya.

"Salama ini saya berobat di RSUD Bondowoso,” katanya.

Pengalaman yang tidak terlupakan adalah saat berobat lebih tepatnya operasi tumor di punggung, "Alhamdulillah pada waktu itu pakai kartu KIS dan tidak ada biaya sama sekali,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan KIS-JKN sebagai solusi atas masalah kesehatan yang diderita masyarakat, khususnya kalangan yang tidak mampu. “Saat mendapatkan keluhan kesehatan senang-senang susah,” katanya.

Dikatakan senang karena dipastikan dengan membawa KIS-JKN tidak ada pembiayaan. “Susah juga kalau tahu ternyata ada keluhan kesehatan pada diri sehingga terbayang punya masalah kesehatan,” tandasnya.

Setiap orang tentu saja ingin selalu sehat. Karena bagaimanapun juga sakit akan menyiksa tidak hanya diri, juga orang sekitar. “Namun ketika sakit dan memiliki KIS-JKS, maka masalah pembiayaan tidak menjadi kendala,” jelasnya.

Karena itu dirinya berharap program tersebut dapat terus berjalan dan ditingkatkan. “Agar masyarakat Indonesia di sejumlah daerah bisa mendapatkan layanan kesehatan terbaik,” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi).

Bagikan:
Ahad 16 Juni 2019 23:0 WIB
Organisasi Tidak Akan Maju, Bila Abaikan Silaturahim
Organisasi Tidak Akan Maju, Bila Abaikan Silaturahim
Hlal Bi Halal IPNU-IPPNU Brebes, Jateng
Brebes, NU Online
Ketua Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Wanasari, Kabupaten Brebes Jawa Tengah KH Sobarudin menandaskan, organisasi takkan pernah maju kalau para pengurusnya abaikan silaturahim. Sebab inti dari berorganisasi  adalah silaturahim.

"Bagaimana akan melaksanakan tugas organisasi kalau tidak bersilaturahim," ujar KH Sobarudin saat mengisi Halal Bi Halal Keluarga Besar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Brebes di SMK Maarif NU Wanasari, Ahad (16/6).

Menurutnya, ajang silaturahim ini jangan sampai lepas. Semua pengurus dan anggota harus sering sering main ke rumah masing-masing. Sehingga kenal dengan seluruh anggota keluarga pengurus dan anggota. Juga bersilaturahim dengan kiai, tokoh agama, ulama, dan dengan kepengurusan di atasnya dan badan otonom NU lainnya.

"Para pimpinan di lembaga pemerintahanpun harus disilaturahimi. Seperti Bupati, Dandim, Kapolres, Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Kementerian Agama, dan instansi vertikal lainnya," jelasnya.

Dengan bersilaturahim, lanjutnya, akan mendapatkan banyak ilmu di luar sekolahan atau madrasah. Untuk itu, Pelajar NU bisa mencari ilmu di seluruh lini kehidupan untuk bekal hidup diri dan organisasi di kemudian hari. "Sebagai kader IPNU dan IPPNU jangan putus mencari ilmu, baik ilmu agama ataupun ilmu umum, baik di dalam organisasi atau di dalam sekolah. Karena menuntut ilmu sangat penting sekali untuk modal ke depan," jelas KH Sobarudin.

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Brebes Dwi Satrio menjelaskan, Halal Bi Halal diikuti perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU Se-Kabupaten Brebes.

Kegiatan tersebut dirangkai dengan sosialisasi Website yang terintegrasi dengan PW IPNU Jateng dan Sistem Informasi Administrasi (SIA) PC IPNU Brebes. "Sosialisasi website ini sebagai tindaklanjut dari rencana PW IPNU Jawa Tengah yang telah diprogramkan pada tahun 2019," jelasnya.

Dwi Satrio mengajak kepada jajaran pengurus yang hadir untuk menjadikan momentum halal bi halal sebagai ajang silaturahim dan saling memaafkan. Sehingga dalam berkhidmah akan ada kekompakan antar pengurus. "Mari kita jadikan momentum halal bi halal ini sebagai ajang saling memaafkan dan intropeksi diri, dengan harapan organisasi kita semakin baik, solid dan maju sesuai dengan  visi dan misi organisasi," pungkasnya. (Wasdiun/Muiz)
Ahad 16 Juni 2019 22:0 WIB
Tiga Tugas Pokok NU Menurut Ketua NU Muara Enim
Tiga Tugas Pokok NU Menurut Ketua NU Muara Enim
Pengurus PCNU Muara Enim, Sumsel
Muara Enim, NU Online
Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Ahmad Mujtaba mengatakan, berjuang untuk NU sama dengan berjuang untuk Rasulullah SAW. Karena NU didirikan oleh Ulama, dan ulama adalah pewaris Para Nabi. Maka, dalam berkhidmah di NU harus selalu semangat dalam menghidupkan NU.

"Jadi berbanggalah jadi pengurus NU, tapi jangan kebanggaan itu disalahgunakan, akan tetapi harus untuk memperjuangkan NU agar bermaslahat untuk umat, bangsa, dan NKRI," ujarnya.

Hal itu disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Muara Enim Ahmad Mujtaba dalam acara Halal bi Halal di Gedung NU Desa Pulau Panggung, Sabtu (1506).

“Di Semende dari Ulu sampai Ilir secara Amaliah Alhamdulillah selalu terjaga dan terawat. Karena mayoritas masyarakat Semende terlahir dengan adat istiadat keagamaan yang kuat yang satu kesatuan dengan tradisi dan prinsip NU,” tuturnya.

Dikatakan, NU di Semende Raya pernah berjaya. Saksi kejayaan NU di Semenda adalah kantor NU yang berdiri megah. NU tingkat kecamatan (MWC) atau desa (ranting) di Semende ini sudah punya gedung mandiri sebagai sarana syiar dakwah.

“Kalau kita cuma simpatisan atau pecinta NU, maka cintailah NU sepenuhnya,” imbuhnya.

Diakuinya juga, mungkin banyak tokoh-tokoh agama di Semende yang belum terakomodir di kepengurusan MWCNU. Dirinya meminta kepada kader NU, tidak menjadi kader munafik. Yaitu orang yang seolah-olah cinta NU, tapi justru menjadi perusak NU. 

“Minimal ada tiga tugas pokok NU sejak didirikan sampai sekarang. Pertama, menjaga Agama Islam agar terus dianut oleh mayoritas bangsa ini," unkapnya. 

Kedua, lanjutnya, menjaga tegaknya akidah ahlussunnah waljamaah. Ketiga, menjaga tegaknya negara yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa yakni NKRI,” terangnya.

Pada kegiatan Halah Bi Halal (HBH) sekaligus pelantikan pengurus MWC NU se-Kabupaten Muara Enim ini dihadiri Bupati Muara Enim yang diwakili oleh Kabag Kesra H Zulfikar, Perwakilan dari PT Bukit Asam Aminuddin, Ketua MUI sekaligus Mustasyar PCNU Muara Enim KH Muhammad Dainawi Gerentam Bumi, Rais PCNU Kiai Miftah Kaprawi dan segenap jajaran pengurur PCNU Muara Enim. (Suhendra/Muiz)


Ahad 16 Juni 2019 21:45 WIB
Wabup Sorong Ajak Warga Jaga Toleransi dan Keberagaman
Wabup Sorong Ajak Warga Jaga Toleransi dan Keberagaman
Halal bi halal PCNU Sorong, Ahad (16/6)
Sorong, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sorong menyelenggarakan acara Halal bi Halal, Ahad (16/6). 
Selain dihadiri oleh para kiai, acara yang berlangsung di Masjid Jami' Al Muttaqin itu turut dihadiri oleh Wakil Bupati Sorong, tokoh masyarakat, perwakilan pondok pondok pesantren dan Nahdliyin se-Kabupaten Sorong.

Ketua PCNU Kabupaten Sorong, KH Rofiul Amri menyebut acara ini merupakan ajang untuk berhalal-halalan dan menumbuhkan ukhuwah islamiyah, ukhuwah nahdliyah sekaligus menjaga nilai-nilai ukhuwah wathaniyah di tengah kondisi bangsa yang sedang terpolarisasi akibat pilpres dan pileg.

"Mari bersama kita merajut kembali kebersamaan dan persatuan bangsa. Jaga terus Indonesia," pesannya.

Wakil Bupati Sorong, Suka Harjono atas nama pribadi dan pemerintah daerah menyampaikan permohonan maaf apabila ada kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Ia juga mengapresiasi kegiatan halal bi halal yang diselenggarakan oleh keluarga Besar Nahdlatul Ulama.

Wabup mengajak seluruh umat Islam, khususnya masyarakat Kabupaten Sorong bahu membahu menjaga toleransi dan keberagaman bangsa. "Tunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Saling menghargai, menghormati dan saling memaafkan," ujarnya.

Ia mengatakan Kabupaten Sorong merupakan daerah yang cukup baik nilai keberagamannnya. Ia meminta NU harus menjadi garda terdepan dalam mengawal dan merawat nilai-nilai tersebut.

KH Ahmad Sutedjo selaku rais syuriyah PCNU Kabupaten Sorong mengatakan penggagas istilah halal bi halal adalah salah seorang pendiri NU, yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah. "Diawali pada 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik bersilang pendapat, enggan duduk dalam satu forum untuk mencari solusi terbaik bagi bangsa. Pemberontakan juga terjadi di sejumlah daerah," tuturnya.

Ia meneruskan, di pertengahan Ramadhan 1948, Bung Karno meminta pendapat dan saran KH Wahab Chasbullah untuk mengatasi kebuntuan situasi politik Indonesia saat itu. "Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim," katanya.

Para elit politik tidak mau bersatu, karena mereka saling menyalahkan, dan itu merupakan dosa. "Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi dipakai istilah halal bi halal," kisahnya.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara menghadiri silaturahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal'. 

Di akhir tausiyahnya, Kiai Sutedjo mengajak hadirirn untuk menumbuhkan rekonsiliasi sosial, saling bersatu, hindari hoaks, caci maki dan saling menghujat. "Karena hal itulah yang merusak tatanan nilai sosial kita. Kita ini saudara baik yang sesama agama maupun saudara sebangsa dan setanah air," pungkasnya. (Abdul Salam/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG