IMG-LOGO
Daerah

Tagih Janji Bupati, PC PMII Bojonegoro Gelar Unjuk Rasa

Kamis 20 Juni 2019 11:0 WIB
Bagikan:
Tagih Janji Bupati, PC PMII Bojonegoro Gelar Unjuk Rasa
Unjuk Rasa PC PMII Bojonegoro
Bojonegoro, NU Online
Puluhan aktivis yang tergabung dalam Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendemo Bupati Bojonegoro, Anna Mu'awannah, Rabu (19/6). Aksi turun jalan para mahasiswa ini untuk menagih janji kampanye bupati terpilih, utamanya program Kartu Petani Mandiri (KPM).

Orasi unjuk rasa mahasiswa diawali dari Bundaran Sumbang dengan membentangkan beberapa poster dan spanduk, sebelum melanjutkan aksinya menuju gedung Pemkab Bojonegoro. "Kita mempertanyakan program KPM, karena program tersebut tidak bisa menyeluruh dan tidak semua petani bisa mengakses," kata ketua PC PMII Bojonegoro, M. Nur Hayan.

Sebab lanjut Hayan, program petani mandiri itu tidak tepat sasaran karena selain punya kartu KPM juga harus tergabung dalam kelompok tani, padahal masih banyak petani yang belum tergabung di dalamnya.

"Tuntutan kita intinya minta revisi Perbup nomor 48 tahun 2018 pasal 5 dan pasal 7, berikan tanggung jawab sepenuhnya Dinas Pertanian untuk menerbitkan KPM dan perjelas program asuransi gagal panen," pintanya dalam tuntutan saat demo.

Para mahasiswa sempat kecewa, karena saat berorasi di depan Pemkab Bojonegoro hanya ditemui Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabet. Menurut Helmy, saat ini periode bulan April - September Bojonegoro memiliki total lahan pertanian yang digarap sebesar 43.014 hektar. Dari total lahan tersebut, 3.854 hektar sudah panen, 4.804,75 hektar mengalami puso, sementara sisanya masih dalam masa pemeliharaan menunggu masa panen.

"Pemkab Bojonegoro melalui dinas pertanian sebenarnya sudah berupaya untuk menanggulangi gagal panen akibat kekeringan ini," akunya.

Selain itu ia menyarankan petani untuk mengikuti asuransi usaha tani padi, agar apabila petani mengalami gagal panen mendapatkan ganti rugi. Hal itu mengingat beberapa wilayah di Bojonegoro sering mengalami banjir dan kekeringan. Agar petani tidak mengalami kerugian yang parah, maka Pemkab Bojonegoro akan membantu melalui pembayaran premi AUTP. 

"Tahun ini untuk kebutuhan pembayaran premi telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 2,16 miliar, anggaran sebesar itu dapat meng-cover luasan 60.000 hektar," jelasnya.

Ditambahkan, program tersebut merupakan bagian dari PPM (Program Petani Mandiri) yang merupakan program prioritas Pemkab Bojonegoro di sektor pertanian. Program PPM ini diperuntukkan bagi rumah tangga atau keluarga petani yang menjadi anggota Poktan atau kelompok tani ternak pemegang KPM.

Untuk mendapatkan KPM tersebut petani harus memenuhi persyaratan yakni tergabung dalam kelompok tani, memiliki lahan kurang dari 2 hektar, fotokopi Kartu Keluarga, fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau surat keterangan Kependudukan dan Catatan Sipil. Termasuk fotokopi Sertifikat Kepemilikan tanah atau surat keterangan yang dikeluarkan kepala desa atau lurah setempat disertai bukti fotokopi SPPT PBB.

Setelah itu pemilik KPM tersebut nantinya bisa menikmati fasilitas dari PPM di antaranya memberikan akses bagi rumah tangga atau keluarga petani untuk mendapatkan bantuan modal yang berwujud barang dengan nilai maksimal Rp 10 juta. Serta memberikan akses prioritas pelatihan dan pengembangan usaha tani.

"Manfaat lain jaminan pembelian hasil pertanian bekerjasama dengan BUM Desa dan BUMD, asuransi usaha tani padi dan sebagai akses untuk memperoleh beasiswa bagi keluarga pemegang KPM," pungkasnya. (M. Yazid/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Kamis 20 Juni 2019 23:0 WIB
NU Harus Tetap Konsisten sebagai Organisasi Pelayanan
NU Harus Tetap Konsisten sebagai Organisasi Pelayanan
Sekretaris PWNU Jateng, H Hudallah Ridwan
Semarang, NU Online
Sebagai organisasi yang tumbuh dari bawah, Nahdlatul Ulama (NU) harus memprioritaskan gerakan pelayanan untuk kalangan masyarakat kelas bawah.

"Kita menginginkan NU lebih fokus pada gerakan pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah," ujar Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, H Hudallah Ridwan , Kamis (20/6). 

Dikatakan, keberhasilan para kiai mengembangkan NU hingga mampu bertahan sampai saat ini, karena mampu menghadirkan sisi kemanfaatan kehadiran organisasi di tengah-tengah masyarakat.

"Setelah menjadi organisasi besar NU harus tetap pada langgamnya, yakni sebagai organisasi pelayanan, tidak terjebak menjadi organisasi perayaan karena hanya membanggakan jumlah warganya saja, tetapi kurang terurus  dan terlayani," ujarnya.  

Dijelaskan, PWNU Jateng sejak setahun terakhir memberdayakan pengurus di daerah agar memaksimalkan pelayanan kepada warga, sehingga warga masyarakat benar-benar terayomi dan terbantu kesulitannya oleh NU. "Aspek yang disentuh dalam layanan itu tidak terbatas, karena itu saatnya NU mendayagunakan potensi yang melekat pada warganya yang tersebar di mana-mana, namun belum dapat dikonsidir dan disinergikan," tuturnya.

Dia mengatakan, gagasan pemberdayaan ekonomi umat yang dilontarkan anggota musytasar PBNU KH Ma’ruf Amin di forum Halal bi Halal dan halaqah kebangsaan PWNU Jateng bersama KH Ma’ruf Amin beserta Kiai, Cendekiawan, dan tokoh Jateng di Hotel Crown Semarang Rabu (19/6) kemarin dapat dijadikan acuan atau langkah perdana mengawali upaya peningkatan kualitas pelayanan umat.

Di forum itu, tuturnya, Kiai Ma’ruf  melontarkan gagasan aktualiasai pemberdayaan ekonomi umat itu menguatkan yang lemah tanpa melakukan yang sudah kuat atau membesarkan yang kecil dengan tidak mengecilkan yang sudah besar.

"Pihak yang kecil dan lemah dalam konteks ekonomi di Indonesia didominasi oleh warga NU, maka kalau pada saatnya nanti  konsep itu diaplikasikan NU secara organisasi harus mampu menjadi pemandu proses penguatan itu, bukan sebaliknya NU menjadi benalu yang membebani warganya," ujar Kiai Ma'ruf.

Dengan strategi ini maka saat berlangsungnya proses penguatan yang lemah tidak ada yang merasa tersaingi atau tertandingi. Pihak yang kuat atau besar tidak merasa terancam oleh siapapun. (Samsul/Muiz)
Kamis 20 Juni 2019 17:45 WIB
Tingkatkan Kapasitas, Pagar Nusa Jember Lantik Puluhan Pelatih
Tingkatkan Kapasitas, Pagar Nusa Jember Lantik Puluhan Pelatih

Jember, NU Online
Pimpinan Cabang (PC) Pagar Nusa Jember terus bergerak meningkatkan kemampuan.  Peningkatan pelatih baik dari segi kuantitas maupun kualitas, menjadi perhatian serius organisasi bela diri milik Nahdlaltul Ulama ini.

Dalam rangka itu,  PC Pagar Nusa Jember melakukan Pengesahan dan Pelantikan Pelatih di aula PCNU Jember,  Jawa Timur,  Rabu (19/6). Dalam acara tersebut, Ketua PC Pagar Nusa Jember, H  Fathorrozi mengesahkan dan melantik 50 pelatih Pagar Nusa, yang ditandai dengan pemberian sertifikat untuk mereka.

Menurut H Rozi, sapaan akrabnya, ke-50 pelatih itu sudah menjalani proses penggemblengan yang cukup panjang, sehingga dipastikan mereka benar-benar siap baik secara fisik maupun psikis untuk melatih sekaligus mencetak bibit-bibit pesilat baru.

“Jadi kami menyeleksi mereka dulu, lalu dari hasil seleksi itu, kami berikan pelatihan dengan mendatangkan instruktur andal. Jadi mereka sudah siap luar- dalam,” tukasnya kepada NU Online usai acara.

H Rozi menambahkan, rekrutmen anggota baru terus dilakukan melalui unit  Pagar Nusa di sejumlah lembaga pendidikan dan pesantren. Saat ini, katanya, unit Pagar Nusa sudah dibentuk di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Jember,  Universitas Islam Jember, sekolah umum, dan sejumlah pondok pesantren.

“Melalui unit-unit itu kami menerima anggota baru, dan kemudian dilatih dengan jurus dasar, dan selanjutnya berkembang sesuai kamampun mereka,” ujarnya.

Alumnus pondok pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Asembagus, Kabupaten Situbondo itu menegaskan, pihaknya perlu menggenjot kemampuan pesilat Pagar Nusa sebagai persiapan untuk mengikuti sejumlah kejuaraan tahun 2019, baik di internal Pagar Nusa maupun di level kejuaraan umum. Ia berharap agar anggota Pagar Nusa giat berlatih sendiri guna mamastikan kebugaran tubuh sekaligus menambah skill.

“Nanti kami seleksi siapa-siapa yang bisa ikut di sejumlah kejuaraan tahun ini,” pungkasnya. (Aryudi AR).

Kamis 20 Juni 2019 13:30 WIB
Lima Hal untuk Perbaikan Bangsa
Lima Hal untuk Perbaikan Bangsa

Jember, NU Online
Wakil Ketua PCNU Jember, HM Misbahus Salam menegaskan, setidaknya ada lima hal yang harus dipenuhi untuk mencapai Indonesia yang aman, damai, sejahtera dan bermartabat. Kelima hal tersebut adalah konsep yang selalu digemakan oleh KH Hasyim Muzadi semasa hidupnya di berbagai kesempatan.

“Saya termasuk orang  yang sering mendampingi perjalanan beliau (KH Hasyim Muzadi) baik dalam negeri maupun di luar negeri,” ucapnya saat memberikan tausiyah dalam Halal Bi Halal Forum Silaturrahim Lintas Agama di gedung Muslimat NU Jember, Jawa Timur, Rabu (19/6) malam.

Menurutnya, Indonesia bukan negara miskin. Sebab sumber kakayaan alamnya melimpah ruah. SDM (sumber daya manusia)-nya juga lumayan. Namun pengelolaanya masih belum optimal. Karena itu, dengan lima hal tersebut, Indonesia diharapkan terus bergerak menuju keadaan yang lebih baik.

“Kelima hal itu adalah kejujuran, amanah, keadilan, tolong-menolong, dan istiqamah. Jika ini bisa dijaga dan ‘diamalkan’ maka masyarakat akan baik,  dan Indonesia akan baik dari segala sisi,” lanjutnya.

Kejujuran, katanya, merupakan modal utama dalam hidup berbangsa dan bernegara. Ketidakjujuran sumber dari malapetaka sosial, pemicu kerusuhan dan sebagainya.

“Maka kejujuran harus ditegakkan. Saya kira agama apapun, pasti menjunjung tinggi kejujuran,” ulasnya.
Sedangkan amanah berhubungan dengan tanggung jawab. Orang yang tidak amanah pasti mengabaikan tugasnya, bahkan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi.

“Dari situ lahirlah kolusi, korupsi dan nepotisme. Inilah sumber bencana dari segala bencana bangsa,” tegasnya.

Sementara keadilan, lanjut H Misbah, merupakan syarat utama bagi kondusifitas sebuah bangsa, baik dari sisi politik, ekonomi maupun keamanan. Jika ketidakadilan dibiarkan merajalela, maka  akan melahirkan efek domino bagi tindakan-tindakan tak berakhlaq.

“Maka jalan satu-satunya keadilan harus ditegakkan meski tidak gampang,” terangnya.
Konsep berikutnya adalah tolong-menolong. Untuk point ini, kata H Misbah, sudah mentradisi di tengah-tengah masyarakat meski perlu dijaga dan ditingkatkan lagi. Sebab seiring kemajuan zaman, budaya hidup nafsi-nafsi sudah mulai merebak di perkotaan.

“Dan yang terakhir adalah istiqamah atau konsisten. Ini menyangkut disiplin kita dalam bekerja, mamanfaatkan waktu dan sebagainya,” pungkansya. (Aryudi AR).

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG