IMG-LOGO
Nasional

KH Ma’ruf Amin: Di NU Tidak Ada yang Tua


Selasa 25 Juni 2019 12:15 WIB
Bagikan:
KH Ma’ruf Amin: Di NU Tidak Ada yang Tua
Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin
Jakarta, NU Online
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama diidentikkan dengan kumpulan para ulama dan kiai yang tidak lain ialah para orang-orang tua. Namun, menurut Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin, di NU justru tidak ada yang tua.

“Nyanyinya saja Syubbanul Wathon (Ya Lal Watahon), jadi kan syubban semua itu, syubban itu artinya kan pemuda. Jadi saya syubban, Kiai Miftah (menunjuk KH Miftachul Akhyar) juga syubban. Jadi di NU enggak ada yang tua itu,” ujar Kiai Ma’ruf Amin, Senin (24/6) malam dalam acara halal bi halal PBNU di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, ia berdoa semoga setelah hari raya yang telah lalu, semuanya mendapat minal ‘aidin wal faidzin yaitu kembali. Kembali pada al-‘audah ma'al fithrah, kembali pada kesucian karena kullu mauludin yuladu ‘alal fithrah.

Dalam konteks NU, calon Wakil Presiden RI itu menekankan bahwa Nahdliyin harus kembali pada prinsip-prinsip ke-NU-an (al-mabadi’ an-nahdliyyah).

“yaitu kembali ke akidah, fikrah, amaliyah, harakah (gerakan), dan jamiyahnya. “NU ini gerakan. Oleh karena itu Nahdlatul Ulama itu kebangkitan. Kalau tidak bergerak, namanya sukutun, bukan nahdlatun,” jelas Kiai Ma’ruf.

Ia juga memaparkan macam-macam harakah yang dilakukan NU, seperti harakah himaiyah atau gerakan melindungi, yakni melindungi warganya agar tidak masuk pada akidah yang menyimpang. Kemudian harakah islahiyah, yakni melakukan perbaikan di berbagai bidang. Selanjutnya harakah khidmatiyah, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, kini banyak orang yang akidah, fikrah, amaliyah, dan harakahnya NU, tetapi jam’iyahnya belum NU. Nahdliyin juga diharapkan kembali kepada aturan yang ada di AD/ART dan keputusan-keputusan NU, baik keputusan muktamar maupun Munas NU.

Ia menganalogikan NU seperti kereta api yang memiliki gerbong dan muatan yang banyak. Kereta api berjalan mengikuti rel karena memiliki tujuan, sehingga nahdliyin tidak boleh keluar dari kereta api.

“NU itu kaya kereta api. Jalannya ada relnya. Jadi nahdliyin itu harus bergerak seperti kereta api yang sudah ada relnya,” ucapnya.

Sementara untuk warga negara Indonesia, kata Kiai Ma’ruf, perlu kembali kepada prinsip-prinisp kenegaraan yang telah disepakati para pendiri bangsa, seperti Pancasila dan UUD 1945. Sebab, sekarang terdapat orang dan kelompok yang tidak mengakui kesepakatan-kesepakatan tersebut.

“Untuk itu ke depan moderasi dalam berpikir dan beragama harus menjadi arus utama di negara ini karena kalau tidak akan terjadi kegaduhan,” tuturnya. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
IMG
IMG