IMG-LOGO
Daerah

Pesantren Sarana Tepat untuk Cegah Radikalisme

Kamis 27 Juni 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Pesantren Sarana Tepat untuk Cegah Radikalisme
Fathul Qodir (kanan)
Surabaya, NU Online
Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa gerakan yang mengatasnamakan suatu kelompok agama, khususnya kelompok Islam semakin massif terjadi. Jika masyarakat tidak segera sadar, hal ini bisa berbahaya dan menjadi salah satu penyebab perpecahan antar anak bangsa.

Hal ini sebagaimana ditulis oleh Ustadz Fathul Qodir, salah satu tim peneliti Aswaja NU Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di akun facebook miliknya pada Rabu (26/6).

Menurutnya, jika dahulu hal-hal yang sering diperdebatkan adalah masalah furu’ syariat seperti absah tidaknya amaliyah qunut, tahlilan, ziarah kubur, dan semacamnya. Namun pada saat ini hal itu sudah mulai bergeser menuju penyerangan terhadap kelompok lain yang tidak sejalan dan satu pemahaman dengan kelompok yang melakukan penyerangan itu.

“Di saat NU dan Muhammadiyah sudah mulai capek bertengkar, sekarang ini muncul kelompok dan aliran yang begitu banyak dan agresif menyerang kelompok lain yang tidak sefaham,” tulisnya.

Ia melanjutkan, kelompok-kelompok ini meliputi wahabi yang mengklaim bahwa ajarannya paling sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah sehingga menganggap melenceng dan sesat kelompok lain karena tidak satu pemahaman. 

“Ada (juga, red) Hizbut Tahrir yang keukeuh memperjuangkan berdirinya khilafah, sehingga sistem negara selain khilafah dianggap kufur dan taghut (setan). Meski sudah dibubarkan namun gerakannya saat ini semakin masif,” bebernya.

Selain itu, alumni Pesantren Lirboyo Kediri ini juga menyoroti fenomena menjamurnya organisasi umat Islam, namun tidak adanya persatuan antara satu sama lainnya. Menurutnya, hal ini diakibatkan oleh sifat yang berlebih-lebihan (ghulluw) dalam memahami dan menjalankan agama.

“Sikap ghulluw muncul lebih banyak dilatarbelakangi karena dangkal memahami ajaran agama, seakan cukup dengan membaca Al-Qur'an dan Hadits tanpa mempelajari perangkat ilmu lain seperti nahwu sharaf, fiqih, ushul fiqh, mantiq, dan balaghah,” tukasnya.

Dikatakan, seseorang sudah merasa paling sempurna dan murni Islamnya, bahkan tidak jarang langsung menjadi ustadz hanya bermodal pelatihan public speaking dan hanya hafal satu dua ayat maupun Hadits Nabi.

Di akhir tulisannya, ia memberikan solusi dari permasalahan tersebut. Ia menyatakan bahwa solusi paling utama untuk menghindari berpikir dan bersikap radikal dalam beragama adalah dengan terus berusaha untuk mengkaji dan memahami ajaran Islam secara mendalam dengan guru ataupun mentor yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang teruji dan bisa didapatkan di pesantren.

"Nah solusi itu ada di pesantren, khususnya pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama. Insyaallah pesantren NU tidak akan melahirkan mutakhorijin (lulusan, red) yang radikalis maupun teroris, dan pastinya juga tidak akan berkhianat terhadap bangsa ini,” tutupnya. (Hanan/Muiz)

Bagikan:
Kamis 27 Juni 2019 23:0 WIB
Dua Bulan Beroperasi, Klinik MWCNU Jombang Siap Layani Pasien BPJS
Dua Bulan Beroperasi, Klinik MWCNU Jombang Siap Layani Pasien BPJS
foto: ilustrasi
Jombang, NU Online
Warga di lingkungan Kecamatan Jombang Kota (Jomkot), Kabupaten Jombang, Jawa Timur saat ini patut berbangga. Ini menyusul Klinik Pratama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Jombang sudah resmi menggandeng pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan siap menerima peserta BPJS.

Dengan demikian, warga sekitar tak perlu juah-jauh mencari lembaga kesehatan yang dapat menerima pasien peserta BPJS guna berobat. Mereka cukup datang ke Klinik Pratama MWCNU Jombang dengan membawa kartu identitas peserta BPJS saat hendak berobat.

Penegasan ini dikemukakan Kepala Klinik Pratama MWCNU Jombang, Subagiyo. Klinik yang masih belum lama resmi beroperasi, sekitar awal April 2019 ini, kini sejak Juni 2019 ini resmi bermitra dengan BPJS. "Alhamdulillah wa syukurillah, tepat mulai Kamis 13 Juni 2019 atau 9 Syawal 1440 H kemarin, Klinik Pratama MWCNU Jombang siap melayani peserta BPJS kesehatan," katanya kepada NU Online, Kamis (27/6).

Ia menjelaskan, untuk jadwal pelayanan pasien BPJS sama seperti pasien pada umumnya (non BPJS). Klinik ini tak membedakan antara pasien jalur umum dengan pasien peserta BPJS. Mereka semua akan dilayani petugas atau tim medis yang bertugas sesuai jadwal yang sudah ditentukan. 

"Jadwal buka mulai Senin hingga Sabtu pada jam kerja 08.00 sampai dengan 20.00 WIB," jelas pria yang juga Ketua Lembaga Penyuluhan dan Batuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Jombang ini.

Di Klinik ini ada beberapa pelayanan yang disediakan, di antaranya UGD 12 jam, poli umum, poli gigi, pengobatan dasar, bedah minor sederhana, laboratorium sederhana, instalasi farmasi, dan nebul atau uap.

Pak Bag sapaan akrab Subagiyo mengatakan, Kliniknya juga didukung oleh peralatan medis yang sudah memadai sebagaimana lembaga-lembaga kesehatan pada umumnya. Untuk itu, kata dia, pasien tak perlu khawatir terhadap alat medis yang dapat membantu pengobatan pasien.

"Meski kategori klinik pratama, kami telah melengkapi dengan peralatan medis yang memadai sesuai standar pelayanan kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI," ungkapnya.

Untuk diketahui, Klinik Pratama MWCNU Jombang merupakan Klinik NU satu-satunya saat ini berdiri di Jombang yang dikelola langsung oleh warga NU sendiri. Meski begitu, pendirian klinik tersebut nantinya diharapkan menjamur di sejumlah kecamatan dan dimotori oleh MWCNU.

Pasalnya, hal itu merupakan salah satu program Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat yang dimandatkan kepada MWCNU-MWCNU untuk direalisasikan, dan MWCNU Jombang Kota yang pertama melaksanakannya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Kamis 27 Juni 2019 22:0 WIB
Gandeng Penyuluh Agama, JPZIS Ma'arif Jombang Menyapa ke Warga Pinggiran
Gandeng Penyuluh Agama, JPZIS Ma'arif Jombang Menyapa ke Warga Pinggiran
Kegiatan JPZISNU Ma'arif NU Jombang ke warga pinggiran
Jombang, NU Online
Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Kabupaten Jombang, Jawa Timur melalui Jaringan Pengumpul Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (JPZISNU) terus melebarkan perannya.

Tak hanya sebagai pengumpul dan penyalur sedekah dan infaq. Namun lebih dari itu, pengurus juga intens menyapa masyarakat pinggiran di sejumlah daerah di Jombang guna memberikan berbagai pendidikan dan pengetahuan. Mereka juga memberikan bantuan sesuai kebutuhan masyarakat yang dikunjungi.

"Kita berikan ceramah agama dan inisiatif pendampingan pelaksanaan jumatan, karena warga di Dusun Papringan, Plandaan jumatannya ke Nganjuk," kata Ketua PC LP Ma'arif Jombang, Nur Khozin kepada NU Online, Kamis (27/6).

Kegiatan ini mereka namai dengan Sawah Ijo atau Safari Dakwah Penyuluh Agama Islam (PAI) Jombang. Dalam hal ini JPZISNU Ma'arif menggandeng kelompok kerja penyuluh agama Islam Jombang. "Kegiatan ini sudah berjalan dua kali setelah yang pertama dilaksanakan di pengajaran Galengdowo, Kecamatan Wonosalam beberapa waktu lalu," ucapnya.

Ia memandang perlunya pengurus Ma'arif serta JPZISNU-nya turun gunung menyapa masyarakat pedalaman secara langsung. Dengan begitu, kata dia, para pengurus akan makin mengerti terhadap kebutuhan masyarakat yang sebenarnya, yang nanti bisa dibantu oleh mereka. "Dengan demikian Sawah Ijo ini akan kita gelar setidaknya dua bulan sekali selama tahun kegiatan 2019-2020," ujar pria yang juga Ketua Pokja Penyuluh Jombang ini.

Dirinya menyebut, beberapa daerah pinggiran yang menjadi pusat kegiatan ini sudah dikantonginya. Beberapa di antaranya Kecamatan Wonosalam, Plandaan, Kabuh, Ngusikan, dan Kecamatan Bareng. "Dalam Sawah Ijo kedua kemarin kita bagikan 45 paket sembako dan peralatan shalat," urainya.

Selain program 'Sawah Ijo', JPZISNU Ma'arif NU Jombang juga telah menyalurkan dana hasil kirab untuk menguatkan program Gerakan Siswa Manteb (GSM) di sejumlah madrasah dan sekolah binaannya.

"Gerakan ini adalah untuk membantu siswa-siswi di madrasah atau sekolah yang dinilai kurang mampu. Bantuan berupa peralatan sekolah, uang tanggungan siswa dan lain sebagainya," kata Ketua Jaringan Pengumpul Zaka, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (JPZISNU) LP Ma'arif Jombang, HM Dzulkhoiri. 

Dikatakan, GSM ini dalam makna Gerakan Sedekah, Infaq Siswa manfaat teman sebaya. Bentuk bantuan anak-anak di madrasah berupa peralatan sekolah dan lain sebagainya yang dibutuhkan siswa. 

"Sasaran utama program GSM adalah kepada siswa dan siswi yang tergolong yatim piatu di masing-masing madrasah. Namun, tidak menutup kemungkinan peserta didik lain yang berekonomi menengah ke bawah juga mendapatkan manfaat program ini asal diusulkan oleh madrasah terkait," ungkapnya.

Penyaluran hasil Kirab Koin JPZISNU LP Ma'arif melalui program GSM-nya bergulir secara bertahap di sejumlah madrasah dan sekolah. Dimulai dari MI Madinatul Ulum Mojokrapak pada 23 Juni 2019 lalu, kemudian di MI Arrosyidin Pulogedang pada 24 Juni 2019. Keduanya termasuk di Kecamatan Tembelang, Jombang. (Syamsul Arifin/Muiz)
Kamis 27 Juni 2019 21:30 WIB
LP Ma’arif NU Kudus Juara Umum Porsema XI Jateng
LP Ma’arif NU Kudus Juara Umum Porsema XI Jateng
LP Ma'arif Kudus Juara Umum Porsema Jateng 2019
Temanggung, NU Online
Berdasarkan pengumpulan medali pada Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif NU (Porsema) XI tingkat Jawa Tengah tahun 2019 yang digelar di Kabupaten Temanggung pada tanggal 24-27 Juni 2019, Juara Umum 1 LP Ma’arif NU Kudus, Juara Umum 2 LP Ma’arif NU Banyumas, dan Juara Umum 3 LP Ma’arif NU Jepara.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma’arif PCNU Temanggung H Miftakhul Hadi menyampaikan bahwa kejuaraan bukan tujuan utama kegiatan Porsema. “Yang tidak juara jangan berkecil hati karena Porsema ini tujuannya untuk silaturahim,” ujarnya.

Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng R Andi Irawan mengatakan bahwa tujuan utama Porsema ada tiga. “Pertama adalah media silaturahim, untuk menyambut persaudaraan warga NU. Kedua, menyiarkan bahwa NU memiliki peran besar untuk memberikan sumbangsih pada kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah,” beber dia.

Data yang kami dapat dari Kemeneg RI beberapa bulan lalu, kata Andi, 95 persen madrasah di Indonesia swasta. “Mayoritasnya adalah miliki NU tentu adalah LP Ma’arif. Jelas ini adalah bentuk nyata peran Ma’arif dalam memajukan mutu pendidikan,” katanya.

Ketiga, memberikan media atas bakat dan minat dalam bidang olahraga dan seni. “Jadi, intinya ada pada nomor satu yaitu menjaga ukhuwah nahdliyah lewat silaturahim,” tegasnya.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa ke depan perlu kegiatan kontinyu berupa penyiapan atlet baik olahraga dan seni di madrasah dan sekolah. “Penyiapan atlet tidak sekadar saat Porsema namun harus ada pembinaan kontinyu,” ujarnya. 

Dalam Porsema XI ini, mengangkat tema Menuju Generasi Emas Aswaja An-Nahdiyah yang Sportif, Kreatif, dan Berkarakter. “Ada tiga kata kunci di sini, yaitu sportif kreatif dan berkarakter. Dalam olahraga dan seni, membutuhkan sportivitas, kreativitas, dan karakter. Hal itu kami harap lahir dari Porsema ini sesuai basic dari nilai-nilai pesantren,” tandas dia.

Sekda Temanggung, menyampaikan bahwa dipilihnya Temanggung menjadi wahana sosialisasi kearifan lokal dan wisata Temanggung. “Kami bangga Temanggung menjadi Porsema XI LP Ma’arif PWNU Jateng. Ini merupakan wahana sosialisasi karena Temanggung ini kota kecil sebagai kota tengah-tengahnya Jawa Tengah, namun dipilih menjadi tuan rumah Porsema,” kata Sekda.

Ia juga mengajak kepada semua peserta Porsema untuk memaknai kesehatan jasmani dan rohani sebagai wahana pembangunan bangsa.

Selain Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng, Ketua LP Ma’arif PCNU Temanggung dan Sekda, hadir juga Tim SC Panitia Porsema Fakhrudin Karmani dan Ziaul Khaq, Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib, Bendahara Panitia Porsema Ahmad Muzammil dan ribuan peserta se Jateng.


Sebagai juara umum, Kontingen Kudus mendapat 14 emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Untuk Banyumas mendapat medali 13 emas, 3 perak, 6 perunggu. “Sedangkan Jepara mendapat medali 12 emas, 14 perak, dan 3 perunggu,” kata dia.

Penetapan Juara Umum sesuai dengan perolehan medali emas yaitu Kudus. “Untuk peringat di bawahnya ada Temanggung, Pati, Batang, Pekalongan, Kota Semarang, Grobogan, Wonosobo dan lainnya,” katanya. (Farid/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG