IMG-LOGO
Nasional

Kepada Pemerintah, NU Minta Moderasi Beragama Jadi Kompetensi Guru

Kamis 27 Juni 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Kepada Pemerintah, NU Minta Moderasi Beragama Jadi Kompetensi Guru
Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengusulkan sejumlah hal ke pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Di antaranya tentang moderasi beragama bagi guru, pendekatan guru dalam proses pembelajaran, dan kebijakan kualifikasi guru tentang Kerohanian Islam (Rohis)

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Masduki Baidlowi menyatakan bahwa memasukan moderasi agama sebagai bagian dari komponen kompetensi guru sangat penting untuk memastikan bahwa paham keagamaan seorang guru tidak ekstrem.

Selama ini, hanya empat kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

“Saya kira persoalan moderasi agama ini dijadikan salah satu syarat di dalam kompetensi bagi seorang guru yang ingin menjadi guru profesional,” kata Masduki saat membuka Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan LP Ma’arif PBNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (27/6).

Sehingga menurut Masduki, untuk menjadi guru professional, seorang guru tidak cukup pintar mengajar, tetapi juga secara jelas tidak terpapar paham radikalisme.

“Kalau guru pahamnya ekstrem, jangan diluluskan di dalam proses sertifikasi sebagai guru professional,” ucapnya.

Masduki melanjutkan, moderasi beragama juga hendaknya menjadi materi wajib dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Menurutnya, jika moderasi agama ini diterapkan dalam salah satu poin yang terdapat dalam Standar Nsional Pendidikan (SNP), yakni poin pendidik dan tenaga kependidikan maka Indonesia aman dari ekstremeisme. 

“Bukan berarti yang lain tidak penting dari tujuh standar (SNP) itu. Tapi guru ini menjadi sangat penting. Ekstrem tidaknya Indonesia ke depan sangat tergantung dari persoalan-persoalan standar guru ini. Kalau ini bisa diatasi, maka akan sangat bagus,” jelasnya.

Selanjutnya, ia mengusulkan kompetensi guru ditingkatkan melalui pendekatan pembelajaran secara inovatif dan multiplatform untuk mengikuti perkembangan zaman.

“Saat ini saya kira penguasaan terhadap persoalan-persoalan multimedia dan media sosial itu sangat penting menjadi bagian dari peningkatan kompetensi guru,” ucapnya.

Terakhir, ia mengusulkan agar pemerintah, terutama Kemendikbud bisa merumuskan kebijakan kualifikasi guru terkait dengan Rohis yang ada di lingkungan sekolah karena guru pembina menjadi kunci terhadap organisasi tersebut.

“Di situ harus ada kualifikasi yang sangat ketat bagi guru. Kalau gurunya tidak pas, itu akan menjadi masalah ke depan,” ucapnya.

Ia melanjutkan, organisasi keagamaan yang jelas diakui moderat, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus dilibatkan dalam proses penyusunan dan pengembangan bahan-bahan ajarnya.

“Orang-orang yang sudah terbukti pahamnya moderat itu seperti dari NU dan Muhammadiyah, saya kira mesti dilibatkan di dalam proses rethingking mengenai standar nasional pendidikan ini, terutama yang terkait dengan paham Islam ekstrem,” ucapnya. (Husni Sahal/Fathoni)
Bagikan:
Kamis 27 Juni 2019 23:45 WIB
Berakhirnya Sidang MK, Jokowi: Rakyat Telah Bersuara dan Berkehendak
Berakhirnya Sidang MK, Jokowi: Rakyat Telah Bersuara dan Berkehendak
Cropping video sambutan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Jakarta, NU Online

Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo, mengungkapkan, pemilu yang telah dijalani oleh bangsa Indonesia sebagai pembelajaran dan pendewasaan dalam berdemokrasi. Dengan diumumkannya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Kamis (27/6) malam ini, Jokowi menyebutkan rakyat sudah berbicara dan berkehendak.

"Suara rakyat sudah didengar, rakyat sudah memutuskan dan telah diteguhkan oleh jalur konstitusi dalam jalan bangsa yang beradab dan berbudaya," kata Jokowi dalam sambutan usai pengumuman MK di Jakarta.

Jokowi menyatakan dalam sepuluh bulan ini, melalui pemilu, rakyat telah melalui tahapan-tahapan seperti pendaftaran, kampanye, pencoblosan, penghitungan suara, penetapan hasil rekapitulasi oleh KPU, pengawasan oleh Bawaslu, hingga penyelesaian sengketa pilpres di MA dan MK.

"Semua tahapan telah kita jalani secara terbuka, secara transparan, secara konstitusional. Dan syukur alhamdulilah malam hari ini kita telah sama-sama mengetahui hasil putusan dari Mahkamah Konstitusi. Kita semua menyaksikan proses persidangan di MK yang diselenggarakan secara adil dan transparan, secara terbuka, serta disaksikan seluruh rakyat Indonesia melalui televisi maupun media elektronik lainnya," papar Jokowi.

Ia menyebutkan putusan MK bersifat final yang harus dihormati dan dilaksanakan bersama-sama. Keberhasilan Indonesia yang telah menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil, harus disyukuri.

Jokowi menyampaikan terima kasih ke KPU, Bawaslu DKPP dengan peran masing-masing memastikan terselenggaranya pemilu secara jujur dan adil.

Terima kasih Jokowi juga disampaikan kepada para penegak hukum yang telah menegakkan pemilu dengan adil; TNI dan Polri yang mengamankan proses jalannya pemilu; dan MK yang telah memutus sengketa pilpres secara adil dan transparan.

Selanjutnya, Jokowi mengajak warga Indonesia untuk besatu dan bersama-sama membangun kembali dan memajukan Indonesia. "Tidak ada lagi 02 dan 01, yang ada hanya persatuan Indonesia," tegas Jokowi.

Karenanya Jokowi meminta masyarakat saling menghargai dan saling menghormati. Walaupun pilihan politik saat pemilu berbeda, namun dirinya dan Kiai Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih adalah presiden dan wakil presiden bagi seluruh anak bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi yakin, dengan bersatunya warga Indonesia untuk membangun dapat bersanding dengan negara besar lainnya. Dalam menghadapi kompetisi yang ketat dan unggul, Indonesia harus bersama-sama membawa kesejahteraan bagi bangsa Indoensa.

Disampaikan juga, Jokowi meyakini kebesaran hati dan kenegarawanan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang dikatakannya sebagai sahabat baik.

"Pak Prabowo dan Pak Sandiaga Uno memiiki visi yang sama yakni ke depan membangun masyarakat Indonesia lebih maju dan lebih baik, serta menciptakan masyarakat lebih adil dan sejahtera," ujarnya.

Tak lupa Jokowi sekali lagi terima kasih kepada rakyat Indoenesia yang memberikan kepercayaan dan amanah kepadanya dan Kiai Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-20124. Ia berjanji amanah tersebut akan dijalankan sebaik-baiknya.

Pernyataan senada disampaikan calon wakil presiden terpilih yang juga Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin. Menurut Kiai Ma'ruf, kemenangan kubu 01 pada hakikatnya bukan kemenangan satu pihak. "Tetapi kemaslahatan dan kebaikan seluruh bangsa," katanya.

Ia meminta kemenangan tersebut disikapi dengan sudut sebagai bangsa untuk mengutuhkan, tidak ada lagi friksi-friksi. "Kita adalah satu, kita adalah Indonesia," ujarnya.

Kiai Ma'ruf mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersama-sama dan bahu membahu menyingsingkan lengan baju membangun Indoesia yang adil dan sejahtera. "Mulai malam ini, Bismillah bersama sama membangun negeri ini untuk kebaikan bangsa Indonesia," tegas Kiai Ma'ruf.

Tak lupa, Kiai Ma'ruf memohon doa dan dukungan, serta pengertian dan kesiapan seluruh masyarakat untuk memajukan bangsa Indonesia.

Seperti diketahui Mahkamah Konstitusi (MK) menolak secara keseluruhan permohonan yang diajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terkait gugatan hasil Pilpres 2019. Ketua Majelis Hakim Konstitusi, Anwar Usman, membacakan kesimpulan putusan majelis hakim konstitusi pada Kamis (27/6) malam, pukul 21.15 WIB.

Dalam kesimpulannya, majelis hakim konstitusi menyatakan semua dalil hukum yang diajukan tim pemohon tidak beralasan. Sebelumnya, dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim menolak semua dalil hukum yang diajukan kuasa hukum pemohon. 

Menurut MK, permohonan pemohon tidak beralasan menurut hukum. Dengan demikian, pasangan capres-cawapres Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin akan memimpin Indonesia periode 2019-2024. (Kendi Setiawan)

Kamis 27 Juni 2019 22:30 WIB
Tamu-tamu Gus Dur yang Aneh
Tamu-tamu Gus Dur yang Aneh
Diskusi menjelang walimah safar wetonan Gus Dur, Selasa (25/6)
Bogor, NU Online
Pada Selasa dan Rabu, 25-26 Juni 2019 diadakan Majelis Khatm Al-Qur'an rutin sekaligus Wetonan (Hari Lahir) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Walimah Safar. Acara berlangsung di Padepokan Ngasah Roso Ayatirrahman, Jl Tulang Kuning RT 07 RW 06 Desa Waru, Kecamatan Parung Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Padepokan ini didirikan oleh KH M Mustofa Abd Ghofur dan Lilik Ummi Kaltsum.

Dengan mengundang kerabat, para tokoh, santri, dan para sahabat dari Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta juga hadir untuk memberikan doa. Mereka disambut dengan hangat oleh KH Mustofa Abd Ghofur dan Lilik Ummi Kaltsum yang akan berangkat haji pada tanggal 7 Juli 2019.

Pada hari Selasa (25/6), setelah makan siang diadakan dialog kecil tapi formal di mushala padepokan yang dipimpin oleh KH M Mustofa Abd Ghofur untuk memberikan kata pengantar. Yang menyampaikan kata sambutan, Yusuf Rahman (Dekan), Kusmana (Wakil Dekan I) dan para pejabat lainnya.

"Diadakan Walimah Safar pada 25-26 Juni 2019 karena bertepatan pada weton atau hari lahir Gus Dur pada malam Rabu Pahing yang bertepatan pada 22 Syawal 1440 H. Setiap hari weton Gus Dur, kami istiqamah mengadakan Majelis Khatm Al-Qur'an," terang Lilik Ummi Kaltsum, tuan rumah yang sekaligus menjabat Wakil Dekan II.

Pada giliran sambutan disampaikan oleh Media Zainul Bahri (Wakil Dekan III) menjadi ramai dan seru saat ia menceritakan sosok Gus Dur dan santrinya yakni, M Mustofa Abd Ghofur. Media Zainul Bahri termasuk Gusdurian sejati yang menyukai pemikiran-pemikiran Gus Dur.

"Sekarang Gus Dur sudah tiada, tidak ada lagi sosok Gus Dur. Ketika saya melihat fotonya Gus Dur di dalam rumah Mas Mustofa seolah-olah Gus Dur masih ada. Andai Gus Dur masih ada, beliau pasti sangat bangga, bahwa santri yang dulu dipasrahi (ditugasi meneruskan) untuk menjaga Pesantren Ciganjur kini memiliki pesantren sendiri yang diberi nama Padepokan Ngasah Roso Ayatirrahman," tutur Media.

Media pun menceritakan salah satu kejadian pertemuan dengan Gus Dur. "Saat itu saya datang ke Ciganjur ingin menemui Gus Dur, kira-kira pada pukul 03.30 WIB pagi saya sudah datang, selanjutnya ikut berjamaah subuh. Bagaimana supaya bisa menemui Gus Dur? Melalui bantuan Mas Mustofa dan Bu Lilik Ummi Kaltsum. Sebagai santri, pemangku pertama Pesantren Ciganjur dan anak angkat Gus Dur inilah saya dapat menemui Gus Dur. Waktu itu ngobrol bersama Gus Dur kurang lebih dua jam," tuturnya.

"Mungkin Mas Mustofa akan menerapkan model di Ciganjur dulu. Jadi tamu siapa pun yang datang, baik pejabat atau orang yang berkepentingan pun harus mengisi buku tamu untuk mengantre ketika menemui Gus Dur. Dari buku tamu itu, Mas Mustofa memanggil para tamu yang akan menjadi giliran menemui Gus Dur. Pada pukul 05.30 WIB pagi baru menjadi giliran saya. 'Media Zainul Bahri dan kawan-kawan masuk,'" kisah Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta ketika mencontohkan Mas Mustofa saat memanggil para tamu.

Ia mengisahkan lagi, waktu itu masuk dan bersalaman dengan Gus Dur, juga ada tamu yang berambut gondrong mencium tangan Gus Dur berpamitan langsung pulang. Kemudian giliran Media duduk, tiba-tiba Gus Dur memulai obrolan.

"Kamu tahu gak orang berambut gondrong tadi yang minta doa? Ia adalah ketua geng motor gede di Tulungagung Jawa Timur. Ketua geng tersebut meminta kepada saya agar dapat mengisi pengajian bagi pengguna motor-motor gede. Ah, paling berapa orang di Jawa yang punya motor gede, paling sepuluh atau 15 orang. Saya mengatakan; 'Ya insyallah' datang, tapi saya gak mau datang. Eh akhirnya ketua geng ini datang lagi ke sini menagih saya untuk mengisi pengajian," kata Media menirukan Gus Dur.

Karena orang ini merasa mengganggu ketenangan, akhirnya Gus Dur pun datang untuk mengisi pengajian di Stadion Tulungagung. Apa yang terjadi di sana? Ternyata jamaah yang datang ramai sekali, mencapai 50 ribuan pecinta motor gede lintas Jawa.

"Kata Gus Dur, 'Entah beneran apa tidak, karena Gus Dur tidak melihat," ujarnya lagi menirukan keterangan Gus Dur sambil disambut gelak tertawa para tamu.

Dalam cerita Gus Dur, bahwa ketua geng motor gede tersebut pekerjaannya adalah masuk ke dalam laut, tiga hari tidak keluar-keluar, setelah tiga hari dari laut ia keluar membawa ikan banyak lalu dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Begitulah kerjaannya. Mungkin dari kita tidak akan percaya. Pikir saya, mungkin ia pakai set scuba alat pernafasan oksigen khusus menyelam. Tapi tidak mungkin, namanya juga supranatural. "Tapi ini fakta," kata Gus Dur. Jadi ketua geng motor tersebut memiliki kemampuan masuk ke dalam air.

"Jadi, tamunya Gus Dur itu aneh-aneh dan unik-unik. Inilah panggungnya Gus Dur," kata Media.

Media pun meneruskan cerita Gus Dur. "Kemarin ada tamu datang ke sini, pengantin baru yang ingin membangun rumah masak ya minta duit ke saya. Biasanya kalau ada ibu-ibu datang ke saya minta uang, itu tidak terhitung jumlahnya, datang ke sini meminta uang untuk beli baju anaknya. Lah ini baru nikah, mau bangun rumah datang ke saya, minta uang. Kata Gus Dur, padahal saya sampai umur 45 tahun juga masih ngontrak," kisahnya.

Media menungkapkan itu, sepertinya Gus Dur sedang menyindirnya. "Memang pada waktu itu saya juga masih pengantin baru, istri saya sedang hamil anak pertama," ungkapnya sambil tertawa.

"Inilah cerita saya tentang Gus Dur, kenang-kenangan selama bolak-balik ke Ciganjur dan bertemu dengan Pak Mustofa dan Bu Lilik," pungkas mantan Ketua Prodi Studi Agama-Agama UIN Jakarta.

Dalam akhir sambutanya, Media Zainul Bahri juga mendoakan keluarga KH M Mustofa Abd Ghofur dan Lilik Ummi Kaltsum. "Mudah-mudahan pesantren ini berkembang pesat dan melahirkan santri-santri yang hebat," tutupnya. (M Najib Tsauri/Kendi Setiawan)
Kamis 27 Juni 2019 22:9 WIB
Usai Putusan MK, PBNU Ajak Bersatu demi Kejayaan Indonesia
Usai Putusan MK, PBNU Ajak Bersatu demi Kejayaan Indonesia
Ketua PBNU, H Robikin Emhas. (Foto: Nurdin/NU Online)
Jakarta, NU Online 
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menjelaskan bahwa dalam negara hukum demokratis, legitimasi dan legalitas pemilu diukur oleh dua hal. 

"Pertama, dukungan rakyat berdasarkan perolehan suara terbanyak pemilu. Kedua, daulat hukum yang dicerminkan oleh dipenuhinya ketentuan dan hukum yang berlaku," katanya pada Kamis (27/6) di Jakarta.

Dua hal tersebut, menurutnya, tecermin dalam asas pemilu yang selama ini populer dengan akronim luber dan jurdil (langsung, umum, bebas, dan rahasia, serta jujur dan adil) atau populer juga dengan istilah demokratis dan fairness.

Seperti dimaklumi, KPU setelah melakukan penghitungan dan rekapitulasi perolehan suara pilpres secara nasional. Dari hasil perhitungan tersebut, pasangan nomor urut 01, Ir. H. Joko Widodo dan Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin ditetapkan sebagai peraih suara tertinggi melalui proses pemilu yang demokratis.

"Begitu juga, pemenuhan dari aspek daulat hukum bahwa pilpres berlangsung fairness telah diuji di MK," ujarnya.

Oleh karena itu, Robikin menegaskan sudah tidak ada lagi hal yang diperdebatkan. Apalagi setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan perkara Pilpres.

"Tidak lagi terdapat ruang untuk memperdebatkan pilpres beserta hasilnya setelah MK menjatuhkan putusan sengketa pilpres," ujarnya.

Karenanya, PBNU mengajak seluruh warga Indonesia untuk menerima hasil pilpres dan putusan MK yang mengikat secara hukum.

"Mari kita terima hasil pilpres dengan tingkat partisipasi pemilih tertinggi dalam pemilu demokratis yang dicapai bangsa dan negara ini dengan legowo," ajaknya 

Ia meminta agar pasangan terpilih dan pendukungnya tetap rendah hati. Sementara bagi pihak yang tidak terpilih untuk berlapang dada.

"Yang ditetapkan sebagai paslon terpilih mohon tetap rendah hati dan yang tidak terpilih berkenan lapang dada. Demikian juga dengan para pendukung dan simpatisan masing-masing," katanya.

Sebagai orang beriman, jelasnya, kita meyakini bahwa takdir Tuhan telah tercatat di Lauh Mahfudz jauh waktu sebelum pilpres, yakni ketika setiap manusia masih berada di perut ibu kandungnya masing-masing. 

Karenanya, Robikin juga mengajak untuk mendukung pasangan terpilih dengan memaksimalkan peran dan fungsi masing-masing. "Dengan itu diharapkan upaya mewujudkan tujuan negara sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 secara bertahap dan berkelanjutan bisa dicapai dengan baik," katanya.

Lebih lanjut, ia juga meminta agar tidak melakukan tindakan yang menodai martabat dan kehormatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia di mata dunia. Toh, katanya, sirkulasi kekuasaan melalui pilpres berlangsung 5 tahun sekali. 

Oleh karena itu, dengan berakhirnya sidang perkara sengketa pilpres di MK, ia meminta agar silang pendapat juga berakhir. "Kita akhiri juga segala polemik dan perbedaan pendapat tentang pilpres. Kita kembali bersatu padu dan utuh sebagai bangsa yang berbudaya demi kejayaan Indonesia raya," ujarnya.

Akhirnya, PBNU mengucapkan selamat dan mendoakan pasangan terpilih agar dapat membawa maslahat masyarakat.

"Selamat untuk Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf. Selamat menahkodai NKRI. Semoga masyarakat mutamaddin (adil, makmur, damai dan sejahtera) dapat terwujud atas berkat dan rahmat Tuhan YME, Allah SWT," pungkasnya. (Syakir NF/Zunus)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG