IMG-LOGO
Nasional

Gus Yaqut: Selamat kepada Presiden Terpilih, Saatnya Rekonsiliasi

Jumat 28 Juni 2019 13:13 WIB
Bagikan:
Gus Yaqut: Selamat kepada Presiden Terpilih, Saatnya Rekonsiliasi
Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas
Jakarta, NU Online
Mahkamah Konstitusi (MK) pada Kamis (27/6) malam sudah memutus sengketa Pilpres 2019. Keputusan MK yang tidak mengabulkan seluruh gugatan pemohon telah memberikan kepastian hukum tentang siapa yang jadi pemimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor memberikan apresiasi yang tinggi kepada para hakim MK dan sejumlah pihak yang bersengketa sehingga bisa mengawal keputusan MK dengan damai.

“Sembilan hakim MK telah memberikan teladan tentang prinsip negara hukum dengan keputusan yang berlandaskan kecermatan dan ketelitian melihat fakta hukum,” ujar Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas kepada NU Online, Jumat (28/6) di Jakarta.

Gus Yaqut mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk kembali bekerja sesuai profesinya dan bersama-sama membangun negeri. 

“Keputusan MK yang sifatnya final dan mengikat memberi arti kepada kita untuk menyudahi perbedaan pilihan politik. Mari sama-sama membangun negeri dan selamat bekerja kepada Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan,’’ tegasnya.

Usai sidang di MK tadi malam, dua kandidat langsung memberikan pernyataan politik. Joko Widodo memberikan pernyataan politik di Bandar Udara Halim Perdanakusumah sesaat sebelum bertolak ke Jepang untuk menghadiri KTT G20 di Osaka. Sedangkan Prabowo Subianto memberikan pernyataan politik di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

“Pidato dua tokoh bangsa tadi malam memberikan sinyal kepada kita bahwa keputusan MK sudah diterima oleh kedua kontestan. Pak Prabowo pun sudah memberikan contoh pembelajaran politik yang baik dengan mengakui keputusan MK,” kata Gus Yaqut. 

Menurut Gus Yaqut, sapaan akrabnya, Jokowi dalam pidatonya meyakini kebesaran hati Prabowo dan Sandiaga yang memiliki visi yang sama dalam membangun Indonesia ke depan, mewujudkan Indonesia yang lebih baik, lebih maju, adil dan sejahtera.

Dengan pernyataan dua kontestan pilpres ini, lanjut dia, GP Ansor mendukung upaya rekonsiliasi antara dua pihak demi tegaknya persatuan Indonesia.

“Pak Jokowi dan Pak Prabowo selama ini bersahabat baik. Mereka berdua adalah negarawan, tahu saatnya berkompetisi dan saatnya berangkulan seiring sejalan. Jalan rekonsiliasi Insyaallah sebentar lagi terwujud,” ujar Gus Yaqut.  

Kini, lanjutnya, tugas berat sudah menanti pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih untuk periode 2019-2024, Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin untuk membangun bangsa. 

“Seperti pidato Pak Jokowi di Halim bahwa beliau dan Kiai Ma’ruf adalah presiden dan wakil presiden terpilih untuk seluruh rakyat Indonesia. Pak Prabowo juga berjanji memberikan kontribusi dengan setia kepada konstitusi dan memikirkan kepentingan bangsa yang lebih besar,” terangnya.

“Selamat kepada presiden dan wakil presiden terpilih, saatnya rekonsiliasi,” pungkas Gus Yaqut. (Red: Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Jumat 28 Juni 2019 22:0 WIB
Penyebutan Kata Jawa dalam Manuskrip Arab Kuno
Penyebutan Kata Jawa dalam Manuskrip Arab Kuno
Oman Fathurahman (Foto: uinjkt.ac.id)
Tangerang Selatan, NU Online
Kata Jawa sudah disebut dalam naskah kuno sejak abad ke-17. Hal itu termaktub dalam kitab Ithaf al-Dzaki karya Syekh Ibrahim al-Kurani, seorang mahaguru ulama Nusantara asal Madinah.

"Syekh Ibrahim Al Qurani bercerita, kami menerima kabar dari Jamaah dari komunitas Al-Jawiyin," kata Oman Fathurahman, pengampu Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa) di kediamannya di Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (28/6).

Al-Jawiyin, menurut Oman, merupakan kata kunci yang perlu dipahami. Pertama, jelasnya, kata al-Jawiyin merupakan penisbatan pada orang-orang yang berasal dari Jawa. Namun, perlu diingat, Jawa yang dimaksud oleh ulama yang ahli dalam berbagai bidang keagamaan itu bukan Jawa yang dipahami saat ini.

"Tapi jangan keliru. Sama sekali bukan dari orang Pulau Jawa yang kita kenal. Tapi yang dimaksud adalah Nusantara," jelas guru besar filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Kata Jawa juga disebut secara jelas dan terang, eksplisit, dalam kitab yang salinannya ada 31 buah di seluruh dunia ini. Guru dari Syekh Abdurrauf al-Sinkili itu menyebutnya dengan frasa 'Bilad Jawah".

"Pesan penting dari paragraf ini yang saya jelaskan bahwa pada abad ke-17 kata "Bilad Jawah" pertama muncul di dalam manuskrip Arab," jelas Staf Ahli Menteri Agama ini.

Oman mengaku sejauh yang ia ketahui, kitab tersebut merupakan manuskrip Arab paling tua  yang menyebut tentang Jamaah Al-Jawiyin. Ia juga mengatakan bahwa Azyumardi Azra, guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyebutnya Ashab Al-Jawiyin.

"Sekali lagi saya menegaskan bahwa al-Jawiyin di sini bukan orang-orang Jawa, tetapi orang-orang Nusantara," katanya.

Hal tersebut terbukti dengan penyebutan ulama-ulama luar Pulau Jawa yang diberi laqab al-Jawi, seperti Syekh Abdurrauf Singkel, Syekh Daud al-Fathani Thailand, dan Syekh Abdus Shomad al-Falimbani.

"Ya buktinya nama Abdurrauf Singkel itu juga kan Aminuddin Arraauf as-Singkili al-Jawi, Abdusshomad al-Palimbani juga al-Jawi, Daud Fathoni al-Jawi," terang Oman.

Dalam pekan ini, Oman mengatakan bahwa bukunya akan terbit di Filipina. Buku yang ditulis bersama para akademisi lainnya itu juga menegaskan bahwa Mindanao Filipina juga termasuk al-Jawi.

Sebelum Abad 17 M

Selain naskah Ithaf al-Dzaki, naskah Arab yang juga menyebut kata Jawa juga pernah ditulis oleh Syekh Abdullah ibn As'ad al-Yafi'i (1298-1367) seorang ulama asal Aden, Yaman.

Dalam catatannya, kata Oman mengutip penelitian Michael Laffan, ulama tersebut menyebut Jawa sebagai sebuah tempat yang dihuni oleh umat Islam. "Artinya (Jawi) memang sudah dikenal sebelum Islam kuat masuk ke Nusantara," katanya.

Oman juga menjelaskan bahwa sebelum abad ke-17, kata Jawa juga sudah pernah disebut. Naskah Bujangga Manik, misalnya, yang berkisah tentang santri lelana yang berkelana ke Jawa, Bali, dan daerah-daerah di Pasundan. Hal itu, dilakukannya pra-Islam, sebelum abad ke-14.

"Dia menyebutkan 450 nama tempat di Bali, Jawa, dan Sunda," kata Oman menceritakan isi naskah yang hanya ada satu-satunya dan tersimpan di Inggris itu.

Lebih jauh dari itu, Oman juga menyebut bahwa kata Jawa pernah disebut dalam sebuah prasasti di abad ke-5.

"Apalagi kalau kita mengakses sejarah Tarumanegara sebelum Galuh itu prasasti-prasasti abad kelima keenam itu sudah menjelaskan Jawadwipa," kata alumnus Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya itu. (Syakir NF/Zunus)

Jumat 28 Juni 2019 19:45 WIB
Gus Dur dan Undangan Ketua Geng Motor
Gus Dur dan Undangan Ketua Geng Motor
Ilustrasi Gus Dur
Jakarta, NU Online
KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan sosok ulama yang tak biasa. Selain berkiprah sebagai ulama yang pernah memimpin Nahdlatul Ulama, ia juga merupakan politisi ulung hingga puncaknya menjadi pemimpin nasional sebagai Presiden keempat Republik Indonesia.

Sebagai tokoh yang kiprahnya hingga internasional, Gus Dur tak henti-hentinya menerima tamu dari dalam dan luar negeri. Bahkan dari berbagai pelosok desa di Nusantara. Tentu saja dengan membawa misi yang berbeda-beda. Gus Dur menerima semuanya tanpa pandang bulu. Pintu rumahnya terbuka untuk semua kalangan.

Media Zainul Bahri yang kini menjadi Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengisahkan, ketika ia sowan ke kediamannya Gus Dur ada seorang tamu berambut gondrong mencium tangan Gus Dur berpamitan. Saat ia duduk, sosok yang dikaguminya itu mulai mengawali perbincangan.

"Kamu tahu gak orang berambut gondrong tadi yang minta doa? Ia adalah ketua geng motor gede di Tulungagung Jawa Timur. Ketua geng itu minta saya agar dapat mengisi pengajian bagi pengguna motor-motor gede," kata Media Zainul Bahri menirukan putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim itu.

Gus Dur beranggapan bahwa paling 10-15 orang di Jawa yang punya motor gede. Gus Dur pun, katanya, mengatakan, "Ya insyallah datang". Namun, Gus Dur enggan datang. 

"Eh akhirnya ketua geng ini datang lagi ke sini menagih saya untuk mengisi pengajian," kata Media menirukan Gus Dur.

Akhirnya, kiai singa panggung ini pun datang untuk mengisi pengajian di Stadion Tulungagung. Ternyata, jemaah yang datang sangat ramai hingga mencapai 50 ribuan pecinta motor gede lintas Jawa.

Kata Gus Dur, "Entah beneran apa tidak, karena saya tidak melihat".

Lebih lanjut, Media juga mengungkapkan bahwa menurut cerita Gus Dur, ketua geng motor gede tersebut pekerjaannya adalah masuk ke dalam laut, tiga hari tidak keluar-keluar. Setelah tiga hari dari laut, ia keluar membawa banyak ikan lalu dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Begitulah pekerjaannya. 

Mungkin dari kita tidak akan percaya. Media pun berpikir, ketua geng motor itu paling pakai set scuba atau alat pernafasan oksigen khusus menyelam. "Rasa-rasanya tidak mungkin, tapi wong namanya juga supranatural. Tapi ini fakta," kata Media menirukan Gus Dur. 

"Jadi, tamunya Gus Dur itu aneh-aneh dan unik-unik. Inilah panggungnya Gus Dur," kata penulis buku Satu Tuhan, Banyak Agama: Pandangan Sufistik Ibnu Arabi, Rumi, dan al-Jili, itu. (Syakir NF/Zunus)

Jumat 28 Juni 2019 17:30 WIB
Wacana Gencatan ‘Senjata’ Akun Politis Pascapilpres
Wacana Gencatan ‘Senjata’ Akun Politis Pascapilpres
Gibran dan Kaesang sering melakukan twitwar sekalipun dalam skala humor
Jakarta, NU Online
Gelaran pemilihan presiden 2019 telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menetapkan pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024 pada Ahad, (30/6) lusa. Hal ini menyusul setelah Mahkamah Konstitusi (MK) dalam putusan yang dibacakan pada Kamis (27/6) malam, menolak seluruh dalil permohonan yang diajukan pasangan Prabowo Subiato-Sandiaga Uno.

Menanggapi putusan tersebut, baik Jokowi maupun Prabowo telah sama-sama sepakat untuk menghormati putusan MK. Keduanya menyatakan bahwa putusan tersebut sudah final.

"Kami patuh dan ikuti jalur konstitusi yaitu UUD 1945 dan sistem Undang-Undang yang berlaku. Maka dengan ini kami nyatakan bahwa kami hormati hasil keputusan MK," ujar Prabowo di kediamannya Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis (27/6) malam.

Dalam waktu hampir bersamaan, Jokowi mengajak warga Indonesia untuk besatu kembali dan bersama-sama membangun Indonesia. "Tidak ada lagi 02 dan 01, yang ada hanya persatuan Indonesia," tegas Jokowi saat memberikan pidato sebelum bertolak ke Jepang untuk menghadiri pertemuan negara-negara G20.

Meski kedua kompetitor ini sudah sama-sama menerima, namun suasana perang opini di lini masa media sosial masih tetap berlanjut, kendati tidak terlalu tinggi volumenya. 

Analis media sosial, Ismail Fahmi melalui akun twitter miliknya pada Kamis (27/6), mencermati wacana pembatasan saat putusan Mahkamah Konstitusi. Menurutnya, perhatian publik terhadap sidang putusan MK tidak seramai saat sidang berlangsung sebelumnya. 

"Tak perlu pembatasan akses medsos selama pengumuman putusan MK. Perhatian publik tak setinggi sidang MK. Sementara itu berita artis korea menginvasi top trending topik kita, " tulis dalam akunnya.

Pendiri Drone Emprit ini mencatat, kenaikan volume percakapan tentang putusan MK didominasi oleh clauster 2 (pendukung Prabowo), yang mengharapkan MK berlaku adil dalam memutuskan. Di samping ada tagar lain yang mengajak agar siap menerima setiap putusan MK. 

"Secara umum situasi medsos tampak aman dan kondusif. Perhatian publik tidak setinggi sebelumnya saat sidang MK. Seolah mereka sudah tahu apa hasil keputusan MK, tak banyak berubah dari hasil KPU," kata Fahmi.

Rekonsiliasi Warganet Pascapilpres

Selama periode kampanye, terlebih 10 bulan terakhir, pertarungan opini yang dibarengi dengan melambungkan tanda tagar menjadi sajian setiap waktu. Kedua pendukung pasangan capres-cawapres bahkan sudah melakukan ‘twitwar’ jauh sebelum keduanya mendeklarasikan dan mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum sebagai calon presiden 2019.

Muncul dugaan bahwa pertarungan yang berlangsung di lini masa media sosial tidak akan pernah berhenti, sekalipun pilpres telah berakhir. Dua clauster yang selama ini saling tengkar dinilai akan tetap memainkan narasi sesuai kepentingan guna memelihara militansi pendukung agar sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan dalam hajatan pemilu.

Direktur eksekutif Perkumpulan Prakarsa, yang juga pengamat kebijakan publik, Ah Maftuchan, menilai usai putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat final dan mengikat, seharusnya opini yang dimainkan warganet mengarah pada pasrtisipasi publik dalam kegiatan pembangunan.

"Cuitan ke depan harus dalam konteks partisipasi pembangunan bukan dalam konteks kontestasi politik elektoral," kata Maftuch di Jakarta, Jumat (28/6).

Maftuch mendorong agar wacana rekonsiliasi pengguna media sosial yang sudah sejak lama bertengkar di dunia maya karena perbedaan pilihan politik segera diwujudkan. Ia berharap ada pergeseran dari wacana kritis-destruktif ke kritis-konstruktif.

"Semua warga negara, baik 01 dan 02, harus berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan," ujarnya.

Dukungan yang sama dikemukakan Ketua Pengurus Besar Nahdaltul Ulama, Robikin Emhas. Menurutnya, persatuan, kesatuan dan harmoni sosial adalah bagian ajaran Islam. Bahkan Islam mendorong kesanggupan untuk bekerja sama bukan hanya dengan kelompok homogen, tapi plural.

"Untuk apa? Untuk meningkatkan martabat kemanusiaan dan mewujudkan kesejahteraan bersama. Agar masyarakat mutamaddin bisa terwujud," kata dia.

Untuk itu dirinya mendukung agar rekonsiliasi pascaketerbelahan masyarat akibat pilpres terus dilakukan untuk semua kalangan, termasuk netizen. (Zunus Muhammad)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG