IMG-LOGO
Daerah

Ulama Kyrgiztan Hadiri Wisuda PAUD Al-Kautsar Bogor

Ahad 30 Juni 2019 11:0 WIB
Bagikan:
Ulama Kyrgiztan Hadiri Wisuda PAUD Al-Kautsar Bogor
Wisuda PAUD Al-Kaitsar, Rabu (26/6).
Jakarta, NU Online
Pendidikan Anak Sekolah Dini (PAUD) Al-Kautsar sebagai bagian dari Yayasan Al-Ittihad Al Islami Citayam, Bogor, Jawa Barat mengadakan wisuda pada Rabu (26/6) lalu. Ada yang istimewa pada pelepasan siswa yang diikuti 40 siswa ini, yakni hadirnya Syekh Abdumazhid Isomudinov dari Kyrgiztan.

Ulama yang di negaranya juga sebagai dosen dan mempunyai lembaga pendidikan itu menceritakan kekagumannya akan budaya Indonesia. "Selain itu, beliau juga banyak bertanya mengenai hakikat NU, mulai dari Banser sampai peci Nasional," kata aktivis NU Bogor Ustadz Abdul Hakim Hasan, Ahad (30/6).

Menurut Ustadz Hakim, selain menghadiri wisuda siswa PAUD Al Kautsar, Syekh Abdumazhid Isomudinov juga bersilaturahim ke beberapa lembaga NU di Bogor. Pada acara pelepasan siswa tersebut, kata Ustadz Hadi, Syekh Abdumazhid menerima mushaf Al-Qur'an dan bendera Nahdlatul Ulama.

"Mushaf Al-Qur'an dan bendera NU diserahkan oleh H Agus Riadi mewakili PCNU Bogor. Hadiah tersebut sebagai simbolisasi kenang-kenangan, tanda tali silaturahim untuk saudara Muslim di Kyrgistan dari Indonesia," lanjutnya.

Penyerahan disaksikan oleh pengurus Pergunu Kota Depok dan Bogor yang juga hadir pada kesempatan itu.

Sementara itu, Ustadz Hadi Hasan, dalam sambutanya mewakili yayasan pada kesempatan itu mengatakan lingkungan sekolah tentulah berbeda dengan lingkungan keluarga dan lingkungan rumah. Si kecil mungkin terbiasa mengantri di rumah, misalnya bergantian mainan dengan saudara sepupu  Namun di sekolah, ia akan menghadapi lebih banyak orang dengan karakter yang lebih bervariasi pula.

Begitulah salah satu yang ingin ditanamkan dalam dunia pendidikan, menanamkan karakter kepada peserta didik usia dini (PAUD), mengajarkan akhlak dan kebiasaan yang baik di sekolah untuk diterapkan di rumah dan masyarakat. 

"Cita-cita tersebut juga yang ingin dicapai Yayasan Al Ittihad Al Islami Citayam melalui unit PAUD Al Kautsar yang melepas siswa-siswi santri yang telah menyelesaikan program PAUD," katanya.

Ustadz Hadi Hasan, juga mengatakan harapannya semoga anak-anak yang telah lulus PAUD menjadi shaleh dan shalehah. "Menjadi penerus dan pejuang seperti para alim ulama Nahdliyah yang jasa-jasanya sudah terukir dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia," ujar Ustadz Hadi Hasan.

Menurutnya, kita harus cinta kepada alim ulama dengan menitipkan anak-anaknya di lembaga pendidikan, sekolah, majlis taklim yang benar-benar jelas siapa gurunya, siapa ustadznya. Dewasa ini menjadi kekhawatiran banyak orang jika sampai menaruh anak di sekolah yang salah, di mana terkadang anak-anak diajarkan untuk membenci kepada seseorang, diajarkan anti-baca Maulid, Tahlil, ziarah kubur.

"Apakah Bapak Ibu sekalian ridha kalau anaknya lulus dari sebuah sekolah lantas mereka malah membenci karena amaliah kita, Bapak Ibu sekalian ketika meninggal dunia, apa tidak mau dibacakan Yasin, Tahlil," tukas Ustadz Hadi.

Menurut Ustadz Hadi, hal inilah yang banyak terjadi. Apabila salah kita memasukkan anak ke lembaga pendidikan yang tidak berhaluan dengan Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, maka itu akan menjadi bahaya. 

H Agus Riadi menambahkan anak-anak sejak usia dini harus diajarkan cinta kepada ulama. "Ajari dan perkenalkan mereka akan shalawat, cinta kepada Nabi, ulama dan para pejuang khususnya Nahdliyin," ujarnya.

Menurut Agus Riadi, sejak zaman sebelum kemerdekaan, kita adalah bangsa yang sangat mencintai para ulama. Sebagai contoh, Soekarno saat diundang ke Uni Soviet oleh Michael Gorbachev meminta syarat, yaitu temukan dan bangun makam Imam Bukhari.

"Karena beliau (Presiden Soekarno) sangat dicintai oleh masyarakat Indonesia," ujar H Agus.

Pada wisuda tersebut hadir pula mewakili Himpuna PAUD Indonesia Bunda Umi, jajaran pengurus LTM NU, LTN NU Kab Bogor, LDNU Kabupaten Bogor, dan segenap Ansor Banser yang mengamankan berjalannya acara dari pagi hingga siang hari. Acara ditutup doa oleh Ustadz Muhammad Darwis. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Ahad 30 Juni 2019 23:58 WIB
PW Pergunu Bali Harap Lahir Kader NU yang Andal
PW Pergunu Bali Harap Lahir Kader NU yang  Andal

Denpasar, NU Online
Tidak salah Pimpinan Wilayah (PW)  Pergunu Bali memilih H. Makhfud sebagai ketuanya. Sebab, berkat polesan dan sentuhan tangannya penampilan Pergunu Bali semakin seksi.

Di tengah kesibukannya sebagai asesor provinsi dan pengawas madrasah di Kota Denpasar, ia selalu mempunyai waktu untuk mengurus Pergunu.

Soal waktulah sesungguhnya yang membuat banyak orang tidak maksimal dalam menunaikan kewajibannya. Tapi ini tidak berlaku bagi H Makhfud.

“Ketika saya menerima jabatan itu (Ketua PW Pergunu),  maka saya wajib punya waktu mengabdi di Pergunu,” tukasnya di sela-sela pertemuannya dengan Korwil PP Pergunu di Denpasar, Jumat (28/6).

Menurutnya, waktu menjadi hal yang  sangat krusial dalam mengemban sebuah jabatan. Apalagi mengurus NU di daerah ‘terpencil’. Maka memang harus disediakan waktu yang cukup untuk berkhidmah pada NU melaui Pergunu.

“Saya berpikir ingin membesarkan Pergunu di Bali,” tukasnya.

Konfigruasi agama-agama yang notabene Islam merupakan minoritas di Bali, tak membuat H Makhfud berkecil hati. Justru dirinya mengaku semakin tertantang untuk memajukan Pergunu di Bali.

“Dan yakin saya bisa, atas dukungan dan doa pengurus yang lain, tentu,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut H. Makhfud memaparkan keinginannya agar Rakerwil Pergunu Bali tanggal 13-14 Juli 2019 mendatang di Bedugul Tabanan tersebut dapat dijadikan momentum untuk konsolidasi, di samping malahirkan program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Harapa saya juga agar semua PC dan PAC yang ada bisa hadir dan memaksimalkan pertemuan tersebut sebagai ajang konsolidasi dan penguatan PW Pergunu Bali,” ucapnya.

H Makhfud bertekad kelak di Bali akan muncul kader NU yang terlahir dari Pergunu untuk dakwah, dan demi mewujudkan  masyarakat yang moderat, inklusif dan menjadi obor muslim yang berterima dengan semua kalangan.
“Itu harapan saya dan harapan kita semua,” pungkasnya. (Aryudi AR)

Ahad 30 Juni 2019 23:0 WIB
Masuk Nominasi NU Jatim Award, Ini Program Unggulan Muslimat NU Blitar
Masuk Nominasi NU Jatim Award, Ini Program Unggulan Muslimat NU Blitar
Pemaparan program Muslimat NU Blitar di NUJatim Award
Surabaya, NU Online
Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Blitar, Jawa Timur dinyatakan masuk sebagai salah satu nominasi yang akan bertanding di babak final ajang NU Jatim Award 2019. Kegiatan ini diadakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dan puncak dari kegiatan ini berlangsung di Surabaya pada Ahad (30/6) hingga Selasa (2/7).

Untuk Muslimat NU, ada enam cabang yang berhasil masuk pada tahap grand final ini, yakni Pamekasan, Lamongan, Jombang, Sidoarjo, Kota Batu, dan Kabupaten Blitar. Keenam cabang Muslimat NU ini memberikan presentasi apa saja program unggulan yang mereka miliki pada Ahad (30/6) yang berlangsung di Gedung PWNU Jawa Timur.

Pada saat memberikan presentasi atas program-program unggulannya, Muslimat NU Blitar langsung dipimpin oleh ketua mereka, Hj Masluchy. Sebelumnya, rombongan ini menampilkan yel-yel yang telah mereka ciptakan sebelumnya.

Ada beberapa program unggulan yang ditampilkan saat pembacaan presentasi. yakni pengajian rutin di 22 anak cabang, pelatihan manasik haji bagi muslimah dan anak-anak, pondok janda lansia, penerbitan buku Risalah Shalat, dan masih banyak lagi lainnya.

Hj Masluchy yang merupakan pengasuh pesantren putri Nasyrul Ulum Modangan Nglegok, Blitar ini menjelaskan program dengan rinci. Yang pertama ia jelaskan adalah mengenai pelaksanaan pengajian yang diadakan di 22 anak cabang yang ada di bawah PC Muslimat NU Blitar.

“Pengajian rutin yang kami adakan di 22 anak cabang yang berjalan rutin tiap Rabu Pahing. Alhamdulillah berjalan dengan lancar, meskipun medan cukup berat,” jelasnya.

Ia melanjutkan, Blitar merupakan daerah yang lebih kuat nasionalisnya. Jadi, pengadaan pengajian ini merupakan wujud penguatan keislaman terhadap masyarakat Blitar. “Untuk melakukan penguatan Islam di Blitar dengan melalui pengajian rutin,” ungkapnya.

Tak hanya itu saja, ternyata adanya pengajian ini sangat membantu masyarakat, khususnya para pedagang. Bahkan pada saat ini sudah terbentuk komunitas pedagang Muslimat NU Kabupaten Blitar. “Bahkan sudah ada sekitar 70 pedagang yang masuk ke dalam grup komunitas pedagang Muslimat NU Kabupaten Blitar. Mereka berasal dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari Sidoarjo dan Kediri,” tukasnya.

Selain pengajian rutin, ada juga program berupa pemberian pelatihan manasik haji bagi muslimah dan anak-anak. “Dalam hal ini, kami bekerjasama dengan pihak Kementerian Agama. Untuk pelatihan manasik haji bagi anak-anak sendiri merupakan langkah untuk pengenalan sedini mungkin, bahkan pesertanya hingga ribuan,” bebernya.

Ia melanjutkan dengan memberikan penjelasan terhadap program Pondok Janda Lansia. Menurutnya, program ini sebagai bentuk kepedulian dari Muslimat NU terhadap para janda lansia akan kebutuhan spiritual dan rohani.

“Selain pembinaan ibadah, dalam program ini juga diadakan senam lansia. Harapan kami adalah selain mendapatkan jiwa yang sehat, para peserta juga mendapatkan kesehatan rohani. Dan kegiatan ini semua ditanggung oleh Muslimat NU Blitar,” ujarnya.

Di akhir, ia mengatakan program terdekat dari Muslimat NU Kabupaten Blitar adalah peluncuran buku Risalah Shalat. Kegiatan ini rencananya akan berlangsung pada saat pelaksanaan Halal bi Halal yang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa, pada Ahad (7/7).

“Penerbitan buku Risalah Shalat bertujuan untuk membantu para muslimah yang masih awam. Insyaallah akan kami launching pada saat halal bi halal bersama bu Khofifah pada Ahad (7/7) nanti,” pungkasnya. (Hanan/Muiz)

Ahad 30 Juni 2019 22:0 WIB
Batsul Masail di Kota Tegal Kembali Menggeliat
Batsul Masail di Kota Tegal Kembali Menggeliat
Kegiatan bahtsul masail NU Kota Tegal
Tegal, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Lembaga Batsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kota Tegal, Jawa Tengah M Ridho berharap Kota Tegal meskipun wilayah kecil dan kota metropolis, jangan sampai kegiatan batsul masail ditiadakan alias vakum. "Justru saya berharap minimal dapat berjalan, syukur-syukur bisa semarak seperti di kabupaten-kabupaten lainnya," ujar Ridho kepada NU Online di gedung NU Kota Tegal, Sabtu (29/6).

Kegiatan Lembaga Batsul Masail (LBM) NU Kota Tegal, kini aktif kembali setelah bertahun tahun mengalami kevakuman. Kegiatan tersebut dilakukan setiap awal bulan, dan diikuti perwakilan MWCNU dan Ponpes se-Kota Tegal. 

Sebetulnya, kata Ridho, yang juga aktif dalam kegiatan batsul masail Lirboyo, justru di kota metropolis seperti Kota Tegal inilah, banyak persoalan-persoalan yang perlu dikaji. "Apalagi dengan teknologi saat ini yang semakin maju. Salah satu contoh yang saat ini sedang kami bahas, yakni mengenai kesucian pakaian yang di cuci melalui jasa laundry," jelasnya.

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tegal Hasan MK yang menaungi lembaga batsul masail juga mensupport penuh kegiatan tersebut. "Seluruh sarana dan prasarananya biar kami dari PCNU yang menghandle," terangnya.

Katib Syuriyah PCNU Kota Tegal Kiai Yazid Muttaqien menilai, kumpul bareng sama para ustad muda dalam majelis bahsul masail itu asyik. Apalagi mendiskusikan masalah agama bukan berdasar akal sendiri, tapi berdasar pendapat para ulama yang terserak dalam berbagai kitab yang ditulis ratusan tahun lalu. 

"Ke depan, dari wadah batsul masail inilah, para asatidz muda dari berbagai lulusan pesantren dapat ikut bergabung bersama dalam berjuang di tubuh NU demi kemaslahatan umat dan juga menjaga tradisi amaliyah aswaja," harapnya. 

Bahtsul Masail merupakan sebuah forum diskusi antar ahli keilmuan Islam -utamanya fiqih- di lingkungan pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Di forum ini, berbagai macam persoalan keagamaan yang belum ada hukumnya, belum dibahas ulama terdahulu, dibahas secara mendalam. 

Mengutip pendapat KH Sahal Mahfudh, Anam menyebutkan bahwa bahtsul masail tidak berbeda dengan istinbath (pengambilan hukum) atau ijtihad. Karena kedua istilah tersebut cenderung “wah”  di lingkungan pesantren NU, maka kemudian digunakan istilah bahstul masail.

“Lingkungan NU Tidak berani memakai istilah itu (istinbath atau ijtihad), maka dibuatlah istilah bahtsul masail,’ jelasnya.

Menurut Anam, bahtsul masail memiliki lima keunikan atau kekhasan. Pertama, konsep bersama-sama (jama’i). Forum bahtsul masail yang diselenggarakan di lingkungan NU pasti melibatkan banyak orang dari berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, hadits, dan lainnya. Di sini, sebuah persoalan dilihat dan ditinjau secara komprehensif.  

Kedua, tidak mengutip langsung Al-Qur’an dan hadits. Anam mengatakan, adalah sesuatu yang berbahaya kalau merujuk langsung kepada Al-Qur’an. Mengapa? Al-Qur’an itu memiliki makna dan tafsiran yang banyak sekali. Kalau langsung mengutip Al-Qur’an, maka dikhawatirkan akan merujuk arti yang satu yaitu arti terjemahan.

Ketiga, mengutip pendapat ulama secara qouliyah. Di forum-forum bahtsul masail, para peserta seringkali merujuk kepada pendapat ulama terdahulu dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya mereka menarik pendapat terdahulu dengan persoalan yang sedang terjadi saat ini. 

Keempat, selalu mengutip teks-teks berbahasa Arab. Bagi Anam, ini adalah sesuatu yang problematis karena yang dikutip dalam bahtsul masail hanya kitab-kitab yang berbahasa Arab. Sedangkan, banyak kiai dan ulama NU yang menulis dalam bahasa Indonesia dan pegon. Namun karena karya tersebut ditulis di luar bahasa Arab, maka tidak dikutip. Padahal isinya tidak kalah dengan yang berbahasa Arab, bahkan bisa saja lebih berisi.

Kelima, anggotanya tidak tetap. Para anggota yang bersidang di sebuah forum bahtsul masail tidak lah tetap. Biasanya mereka berganti-ganti. Namun yang pasti, anggota yang ikut bersidang dalam bahtsul masail memiliki kecakapan dalam bidang keilmuan Islam. (Wasdiun/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG