IMG-LOGO
Seni Budaya

Achmad Mushoffa, di Antara Popularitas Sabyan dan Kesetiannya terhadap Habib Syech

Senin 1 Juli 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Achmad Mushoffa, di Antara Popularitas Sabyan dan Kesetiannya terhadap Habib Syech
null
Jakarta, NU Online
Ungkapan klasik yang menyatakan, setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya sepertinya patut disematkan kepada band beraliran gambus, Sabyan. Sepanjang dua tahun terakhir di bulan Ramadhan, lagu-lagu yang dibawakan Sabyan nyaring terdengar di setiap titik keramaian. Tak hanya di pusat perbelanjaan, lagu-lagu seperti Deen Assalam, Ya Maulana, Ya Habibal Qolbi hingga Ya Asyiqol Mustofa, tak pernah absen masuk daftar lagu yang diputar pihak manajemen hotel maupun cafe.

Kelompok musik gambus yang beranggotakan Khoirunnisa alias Nissa (vokalis),  Ahmad Fairuz alis Ayus (keyboard), Sofwan Yusuf atau Wawan (perkusi), Kamal (darbuka), Tubagus Syaifulloh alias Tebe (biola), dan Anisa Rahman (backing vokal), ini telah menyejajarkan diri di antara deretan nama-nama beken yang sudah lebih dulu terkenal, seperti Via Vallen, Siti Badriah, Anji, band musik Armada atau Noah.  

Media infotainment, TABLOIDBINTANG, pernah merilis lagu-lagu yang sempat viral sepanjang tahun 2018. Deen Assalam yang dibawakan ulang Sabyan bertengger di urutan ke-4 dengan 185 juta penonton, satu trip di atas Meraih Bintang - Via Vallen yang mendapat pengunjung 114 juta. Lebih dari itu, "Deen Assalam" tercatat sebagai lagu kedua terbanyak yang dicari melalui mesin pencarian Google Indonesia di tahun 2018. 

Lagu Deen Assalam pada mulanya dibawakan penyanyi asal Uni Emirat Arab, Sulaeman Al Mughny. Namun berkat suara lirihnya Nissa, serta penyegaran pada aransemen musiknya, lagu ini langsung melejit dalam waktu tak lama, kemudian menjadi viral dengan meraup jutaan views di YouTube.  Sampai saat ini, setidaknya dari mulai diunggah pada Mei 2018, video musik Deen Assalam versi Sabyan telah ditonton sebanyak 236 juta kali.  

Selain Deen Assalam, peraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia 2018 kategori Karya Produksi Lagu Spiritual Islami Terbaik, ini juga punya beberapa lagu lain yang viral. Seperti Habibal Qalbi, yang telah dilihat lebih dari 305 juta kali di YouTube, juga lagu Ya Maulana berhasil menorehkan angka 262 juta views. Persepsi publik yang selama ini menilai lagu-lagu beraroma islami hanya bertahan di musim Ramadhan, telah gugur berkat kehadiran Sabyan.  
     
  
Mendayung Popularitas Sabyan dan Habib Syech

Di antara deretan lagu yang dibawakan oleh Sabyan, ada satu lagu yang juga ngehit di kancah musik Indonesia.  Lagu Ya Asyiqol Mustofa yang dirilis di YouTube pada bulan April 2018 telah meraup penonton hingga di atas 210 juta.    

Banyak yang menduga bahwa lirik shalawat Ya Asyiqol Mustofa ditulis musisi asal Timur Tengah. Padahal, lagu yang menggambarkan tentang para perindu Nabi ini ditulis pemuda asal Kudus, Jawa Tengah, bernama Achmad Mushoffa.  

Bagi masyarakat sekitaran Kudus, nama Achmad Mushoffa sudah tidak asing lagi di pendengaran pencinta shalawat.  Selain menciptakan puluhan lagu pujian kepada Nabi, pemilik suara merdu ini telah lama bergabung di grub hadrah Al-Mubarok sebagai vokalis. 


(Achmad Mushoffa. Foto: pribadi)

Kepada NU Online, Shofa, begitu biasa disapa, mengisahkan awal mula ketertarikannya kepada musik-musik islami.  Ia mengaku sejak kecil lingkungan keluarga telah mengenalkan sekaligus membentuk pribadinya mencintai sholawat.

"Di rumah, sering  memutar lagu shalawatan, ayah dan ibu saya suka lagu-lagu shalawat,"  kata Shofa, di kediamannya, Demangan, Kudus, Sabtu, (29/6).

Karir musisi Shofa  dimulai  saat bergabung dengan grup shalawat di kampungnya. Hingga kemudian, ketika duduk di bangku kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) tahun 1999, ia diajak bergabung grup hadrah Al-Mubarok, di bawah lembaga pendidikan Madrasah Qudsiyyah.

"Anggota Al-Mubarok ini kan laki-laki semua, saya yang masih kecil saat itu, diambil untuk mengganti suara perempuan, menjadi backing vokal," jelasnya.

Sejak itu, Shofa mulai terbiasa tampil di depan umum melantunkan shalawat di berbagai acara. Tak hanya di forum pengajian, melainkan juga sering dapat undangan upacara pernikahan hingga walimatul khitan

Pada tahun 2005, setelah beberapa kali grub hadrahnya melakukan regenerasi, Shofa akhirnya ditunjuk sebagai vokalis utama. Menurutnya, dalam setiap angkatan Grup Al-Mubarok dituntut melahirkan album baru.

"Saya bersama teman-teman seangkatan saat itu,  bekerja keras untuk bisa membuat album," kenangnya.

Berkat usaha yang gigih, album shalawat yang berisikan tujuh lagu itu selesai digarap dengan baik.  Di antaranya, Ya Assiqal Musthafa, Sholatun Bissalamil Mubin, Ya  Rasulullah ya Man, dan Ya Laitani.

Lagu-lagu ciptaan Shofa kemudian direkam menggunakan kaset pita. "Untuk lagu shalawat, satu kaset pita biasanya cukup dengan maksimal enam sampai tujuh lagu," jelasnya.

Album dalam bentuk kaset audio itu dipasarkan di wilayah Kudus. Selain pemasarannya menggunakan jaringan alumni Madrasah Qudsiyyah yang tersebar di Jepara, Demak, dan Pati. Tak disangkanya, album religi itu juga diminati oleh para peziarah Sunan Kudus. 

"Mungkin dari sini, banyak yang suka, dan beberapa judul di album tersebut dilantunkan beberapa grup hadrah di berbagai daerah, terutama marak di Jawa Timur," jelas pria kelahiran 8 Oktober 1986 ini.

Salah satu lagu berjudul Sholatun Bissalamil Mubin, mulai dikenal masyarakat luas ketika pada tahun 2010, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, yang telah memiliki ribuan jamaah sering membawakan lagu tersebut di setiap momen shalawatan.

Shofa menceritakan perkenalannya dengan Habib Syech terjadi antara tahun 2001-2002. Habib Syech yang berasal dari Solo ini tak jarang menggelar shalawatan di Kota Kretek. 

"Dulu jamaahnya masih sedikit, belum ada yang mengenal, paling banyak jamaah yang hadir sekitar 300 orang," terangnya.

Habib Syech kemudian memilki ide untuk menggabungkan grup-grup hadrah di Kudus menjadi satu, dan diberi nama Ahbaabul Musthofa. Dengan bakat alami yang dimilikinya, Habib Syech kemudian menarik Shofa menjadi backing vokal utama.

"Ya saya tahu semua daerah di Indonesia, hingga keluar negeri, berkah shalawat bersama Habib Syech," tegasnya.

Pada tahun 2011, Shofa menerima telepon dari tim manajemen Haddad Alwi. Komunikasi itu berlangsung dengan pokok pembahasan mengenai perjanjian royalti untuk lagu Sholatun Bissalamil Mubin. Musisi kelahiran Banjarnegara, 13 Maret 1966 itu tertarik untuk memasukkan lagu tersebut dalam album Cinta Rosul.

"Itupun setelah mendapat izin dari Habib Syech, andai kata saat itu Habib Syech sebagai guru saya melarang untuk mendapat royalti, ya saya tidak akan teken," jelasnya.

Tak hanya Habib Syech dan Haddad Alwi, di tahun 2012, grup band Vertizone dari Yogyakarta juga mencover lagu ciptaan Shofa dengan judul yang sama. Menurut Shofa, lagu tersebut dibawakan dengan sangat baik, dan bisa diterima secara luas.

Puncak popularitas karya Shofa terjadi ketika lagu Ya Asyiqal Musthafa dibawakan ulang Sabyan. Untuk pertama kalinya ia bertemu personil Sabyan pada tahun 2018 saat manggung di Kudus. 

Beberapa waktu setelah pertemuan di bulan November 2018, pada pertengahan tahun 2019, tim manajemen Sabyan menyodorkan kontrak royalti pada setiap lagu yang  dibawakan, termasuk penandatanganan pemakaian lagu Ya Asyiqal di film Menjemput Mimpi yang sudah tayang sejak 27 Juni kemarin. 

"Saya akan terus mengajak siapapun untuk bershalawat, terutama para generasi milenial, karena dengan shalawat hidup kita akan nikmat dan selamat," pungkasnya. (Abraham Eboy/Zunus Muhammad)  

Bagikan:
Kamis 23 November 2017 5:30 WIB
MUNAS-KONBES NU 2017
Rudat, Tarian Sambut Prajurit Pulang Perang
Rudat, Tarian Sambut Prajurit Pulang Perang
Apa jadinya bila pencak silat digabung gerakan tarian Saman, beriring hadrah, ditampilkan dalam waktu bersamaan? 

Indah dan ritmis. Itulah yang tersaji saat acara Khitanan Massal NU Care-LAZISNU di Pesantren Darul Hikmah, Kota Mataram, Rabu (22/11).

Adalah Sanggar Sopo Angen yang menampilkan sajian indah dan ritmis melalui seni tari dan musik tradisional khas Lombok, Rudat.

Delapan penari kompak melakukan gerakan menendang, memukul, kuda-kuda dan gerakan silat lainnya. Namun, gerakan tersebut tidaklah cepat-cepat dilakukan seperti pada pertarungan dengan ilmu silat yang sebenarnya, karena mereka harus menyesuaikan musik dari enam orang penabuh yang mengiringi.

Seni tari rudat, demikian nama tarian dan musik yang dipertunjukkan itu.

“Rudat gabungan hadrah, saman, dan silat khas Lombok,” kata pimpinan dan sekaligus pelatih Sanggar Sopo Angen, Johan Pribadi.

Para penari mengenakan kostum khas, yakni baju dan celana warna hitam beraksesoris rimbe-rimbe berwarna keemasan pada bagian luar kaki. Selain itu penari dilengkapi kain selempang bapang. 

Sementara kepala ditutup dengan sorban warna putih dan tarbus (peci) warna merah. Tak lupa kacamata juga dipakaikan untuk menambah kegagahan para penari yang melukiskan sebagai para prajurit.

Di Lombok, seni tari rudat bermula pada zaman masuknya peradaban Islam. Tarian menggambarkan kebahagiaan para prajurit yang menang usai berperang.

“Tarian juga sebagai penyambut pulangnya tentara Islam usai berperang, disambut dengan gegap gempita,” kata Johan lagi.

Tari rudat amat lekat dengan budaya Islam, seperti pemakaian rebana sebagai salah satu alat musiknya. Juga lagu-lagu yang ditampilkan semacam shalawat atau pepujian kepada Nabi. 

“Ada yang bilang rudat ini asal katanya dari raudah yang berarti taman surga,” Johan menambahkan.

Tetapi, kekinian jenis lagu yang ditampilkan tidak sebatas lagu-lagu islami saja. Itu tergantung pementasan dilakukan dalam acara apa. Setelah usai ijab qabul dalam sesi nyongkolan—arak-arakan pengantin tradisional suku Sasak, acara resmi pemerintahan, dan hari besar Islam, adalah momen ditampilkannya tari rudat. 

“Kadang kami membawakan lagu-lagu dangdut lama kayak lagu-lagunya A Rafik dan Rhoma Irama,” tutur Johan yang aktif dalam grupnya sejak 2013. 

Mengenai penabuh dan instrumen yang digunakan, Johan menyebut penabuh jidor 1 orang, tar (rebana) 1-4 orang, seruling satu orang.

“Sekarang karena zaman modern kadang melibatkan pemain keyboard kalau di pentas tertentu,”  ujar pemuda berbadan besar itu.

Satu Hati
Untuk menyiapkan pentas hari itu, Sopo Angen berlatih sehari sebelumnya. Terapi mereka juga melakukan latihan rutin seminggu dua kali, yaitu hari Sabtu dan Ahad.

Menurut Johan tidak semua orang bisa menjadi penari rudat. Meski gerakannya terlihat mudah, biasanya yang bisa menjadi penari rudat adalah orang-orang yang memiliki bakat atau garis keturunan yang juga penari rudat. Untuk Sanggar Sopo Angen sendiri, para penari berasal dari satu desa.

“Penari kami warga sekitar (sanggar). Tidak tahu bagaimana sejarahnya melatih orang dari kampung lain susah. Tarian rudat juga susah dilakukan orang yag belum terlatih,” Johan menjelaskan.

Para penari yang Johan ajak hari itu, bervariasi umurnya. Ada yang masih SD, ada yang sudah duduk di bangku SMA.

“Anggota sanggar ada yang sudah bekerja. Hari ini banyak yunior yang ikut menari,” kata Johan yang belum lama ini menampilkan sanggarnya menyambut tamu dari BKKBN di kantor Provinsi. 

Mengenai nama sanggar, Johan menjelaskan Sopo Angen artinya satu hati.

“One heart. Semangat yang ingin ditampilkan dalam tarian kami adalah satu hati,” kata Johan.

Semangat satu hati itu tergambar juga dari penuturan salah satu penarinya, Ardian. Siswa kelas 3 SMP 1 Labu Api itu bergabung dalam sanggar sejak masuk SMP atau sekitar dua tahun lalu.

“Awalnya ingin mengembangkan kesenian, ya tertarik kalau lihat tari rudat,” ujarnya.

Bagi Ardian kesusahannya adalah pada saat latihan harus menjaga kekompakan.

“Harus kompak dan disiplin,” katanya.

Sejauh ini, Ardian ikut pentas rata-rata tiga kali dalam sebulan.

Ada pula Diandri Martinus yang sudah bergabung selama enam tahun, tepatnya sejak kelas 1 SD.

“Kesusahannya kalau melakukan gerakan pencak,” kata siswa kelas 2 SMP yang bercita-cita menjadi ustad.

Sama dengan Ardian, Diandri juga ingin terus mengembangkan tari rudat. (Kendi Setiawan)

Sabtu 24 Juni 2017 0:4 WIB
Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Perayaan Idul Fitri di Indonesia
Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Perayaan Idul Fitri di Indonesia
Foto: Ilustrasi

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Peringatan Hari Raya Idul Fitri begitu dinanti-nantikan oleh jutaan Muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan, umat  Islam di Nusantara ini dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan puasa, begitu berbunga-bunga, tak seperti umat lain di berbagai penjuru dunia. Dalam menyambut Idul Fitri kali ini, berikut kami sajikan sembilan fakta menarik seputar “keriuhan” Idul Fitri di Indonesia, yang tak ingin “biasa-biasa” saja.

Pertama, arus mudik. Arus mudik ini adalah arus orang-orang yang pulang dari kota-kota besar menuju kampung halaman atau tempat asalnya. Jutaan orang tenggelam di terminal, stasiun, bandara, dan khususnya di jalan raya. Mulai dari H-7 Idul Fitri, arus kendaraan biasanya padat merayap, dan tak sedikit memakan korban. Mereka rela dan mau berjuang dalam kemacetan demi untuk bertemu keluarga. Arus seperti ini akan terjadi lagi ketika mereka kembali ke kota untuk melanjutkan mimpi dan meraih asa.

Kedua, takbiran. Di malam Idul Fitri, takbiran–atau melantunkan takbir berulang-ulang–adalah hal yang paling romantis dan menakjubkan. Suara lantunan takbiran inilah yang membuat orang tak kuasa berada di luar kampungnya, atau tak bersama keluarga. Kadang, takbiran diadakan keliling kampung dengan oncor dan alat musik tradisional. Dengan iringan tabuhan bedug yang khas, takbiran di malam Idul Fitri begitu mengharukan, dan mampu menderaikan air mata. Bagi yang ada di tanah perantauan, bersiap-siaplah untuk tersayat hatinya dan berlinang air matanya mendengar lantunan kebesaran ini: Allâhu akbarullâhu akbarullâhu akbar; Lâ ilâha illallâh wallâhu akbar, Allâhu akbar walillâhilhamdu...dan selanjutnya.

Ketiga, ziarah kubur. Sudah menjadi watak dan tradisi Muslim Nusantara untuk tak melupakan leluhurnya. Menjelang Idul Fitri, mereka berbondong-bondong menuju ke makam orang-orang yang merupakan asal-usulnya. Mereka tak melupakan sejarah. Di hari-hari ini, pedagang bunga laku keras, omzet berlipat-lipat dari biasanya. Di depan makam leluhurnya, mereka merapalkan ayat-ayat suci dan doa kepada orang-orang yang dicintainya agar senantiasa dalam naungan-Nya, dilanjutkan tabur bunga, sebagai ganti pelepah kurma basah yang disebut dalam salah satu hadits nabi untuk mengurangi siksa kubur.

Keempat, suara petasan. Petasan ini juga disebut mercon atau long di beberapa daerah. Ada yang terbuat dari kertas, ada juga dari karbit, atau bambu (bumbung). Suaranya seperti bom atau meriam. Di tahun 90-an, di mana petasan masih bebas, semarak Idul Fitri begitu terasa. Gelegar dan gemuruh suara bersahut-sahutan di mana-mana. Sayang, seiring larangan dari otoritas karena “efek sampingnya” yang membahayakan, petasan kini jarang terdengar. Lebih disayangkan lagi, petasan dilarang tetapi tidak untuk produk-produk tertentu seperti kembang api, yang sepertinya produk impor. Di hari Idul Fitri, suara petasan di Indonesia adalah sebuah tradisi, sejarah dan legenda yang sungguh sayang untuk dilewatkan.

Kelima, THR. Kepanjangannya adalah Tunjangan Hari Raya. THR biasanya diberikan oleh pengusaha kepada buruh, politisi kepada konstituennya, pejabat kepada bawahannya, atau pimpinan kepada para pendukungnya. THR bisa berupa uang, sembako, atau hal-hal lain yang sekiranya menunjukkan simpati dan cinta untuk menghadapi hari bahagia. Terkhusus bagi anak-anak, THR berupa salam tempel. Hal inilah yang membuat orang berduyun-duyun menukarkan uang receh, untuk diberikan kepada anak-anak kecil yang tak kenal lelah silaturrahmi ke sana-sini merajut tali persaudaraan.

Keenam, sidang itsbat. Sidang itsbat adalah sidang penetapan awal Syawwal. Hal ini menarik karena di Indonesia seringkali berbeda-beda dalam penetapannya dan terkerucut pada dua organisasi massa Islam: NU dan Muhammadiyah. Perbedaannya adalah karena keduanya relatif beda dalam memakai standar penetapannya: NU cenderung menggunakan metode melihat bulan (ru’yatul hilal) sedang Muhammadiyah menggunakan perhitungan (hisab). Tak ayal, kadang Idul Fitri di Indonesia terjadi dua kali, bahkan lebih jika dengan ormas Islam kecil lain, kadang pula serentak. Meski demikian, patut disyukuri karena di bawah akar rumput tetap akur, tak ada bentrokan. Jika bersama alhamdulillah, jika beda juga alhamdulillah, karena umat Islam Indonesia unik: beridul fitri dua hari. Mana ada yang lain?

Ketujuh, pakaian baru. Baju baru alhamdulillah, dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama. Itulah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Dhea Ananda dan ngehits di era 90-an. Memang, setelah berpuasa selama sebulan, dosa-dosa kepada Tuhan diampuni dosanya, bagi yang melakukannya dengan takwa. Untuk itu, menyambut hari baru, alangkah eloknya shalat Id dengan pakaian baru, sebagai persembahan kepada Sang Pencipta. Meski demikian, hal ini tak diharuskan karena hakikatnya Idul Fitri bukanlah bagi orang yang berbaju baru, tetapi bagi orang yang ketaatannya kepada Allah kian bertambah. So, jika tak beli pakaian baru, toh masih ada stok lama.

Kedelapan, ketupat opor. Tak lengkap bicara tradisi dan budaya Indonesia tanpa bicara kuliner. Untuk urusan teknologi, kita (masih) kalah dengan Jepang dan Cina. Tapi tidak untuk urusan makanan. Di sini, semua makanan ada, termasuk tradisi di Hari Fitri, yaitu ketupat dan opor ayam. Ketupat adalah nasi lembut yang dimasak menggunakan janur kuning. Sedangkan opor ayam adalah masakan ayam dengan santan, bumbu dan rempah-rempah khas yang kaya rasa sehingga maknyus di lidah. Bagi sebagian Muslim tanah air, tak lengkap melewatkan Idul Fitri tanpa kehadiran ketupat dan opor ayam terhidang di meja makan.

Kesembilan, halal bihalal. Nah, inilah acara yang sangat penting. Dalam doktrin Islam, meski Tuhan Maha Pemaaf dan mengobral maaf-Nya kepada hamba yang taat, tetapi tidak untuk dosa kepada sesama. Juga, karena semakin pesatnya arus urbanisasi, perpindahan penduduk dari desa ke kota, tak memungkinkan untuk sowan, sungkem, dan meminta maaf kepada saudara, teman dan kerabat secara intens. Untuk itu, Walisongo jauh-jauh hari membuat tradisi silaturrahmi untuk maaf-memaafkan ini. Di era Presiden Soekarno–atas usulan organisator NU yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah–halal bihalal ini terlebagakan sebagai sebuah term dan tradisi, yang juga diselenggarakan oleh negara.

Kesepuluh, pertanyaan misterius. Suasana Idul Fitri–atau banyak yang menyebut Hari Lebaran–adalah suasana kehangatan kumpul keluarga. Dalam forum itu, berbagai hal dibicarakan, mulai dari bertanya kabar, pekerjaan sampai hal-hal sepele. Bagi anak yang sudah berumur–baik cowok maupun cewek, apalagi yang jomblo–harus siap-siap berbesar hati menghadapi pertanyaan aneh dan sulit. Berdasarkan Lembaga Survey Asal-asalan (LSA), ada satu pertanyaan yang paling sulit dan misterius bagi para kawula muda, yaitu: “kapan kawin?”

Kesebelas, “Merampok”. Khusus yang terakhir ini, dapat dikatakan tradisi bukan tradisi. Pada umumnya, setelah setahun merantau di kota, mereka pulang ke kampung halaman membawa oleh-oleh dari kota berupa pakaian, makanan atau hal-hal lain sebagai hadiah kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Ini juga sebagai cinta dan identitas bahwa mereka benar-benar bekerja di kota. Meskipun demikian, kata pepatah tak dapat dipungkiri: kasih ibu sepanjang jalan, sedangkan kasih anak sepanjang penggalan. Ketika sang anak hendak balik ke kota, orang tua membalasnya dengan bekal aneka macam: dari berkarung beras, makanan, sayuran, jajanan, sampai tanaman. Seakan anak tak mudik, tapi merampok orang tua!


*) Santri, tinggal di Purworejo.

Senin 27 Juni 2016 19:30 WIB
Gita Danaya Luncurkan Album Religi
Gita Danaya Luncurkan Album Religi
Jakarta, NU Online
Keinginan Gita Danaya untuk mengeluarkan album religi akhirnya terwujud. Setelah merampungkan tugasnya sebagai anggota DPR, ia kembali meningkatkan eksistensinya di belantika musik Indonesia.

"Alhamdulillah akhirnya mini album religi saya bisa selesai bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sejak dulu saya ingin sekali nyanyi sambil dakwah juga,” ucap Gita Danaya saat peluncuran albumnya di Auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, Rawamangun, Jakarta Pusat, Ahad (26/6) petang.

Mini album bertajuk "Ampunanmu" itu terdiri dari enam lagu, yaitu; Ampunanmu, Sanjunganku, Bila Ajal Tiba, Marhaban Ya Ramadhan, Berkah Ayah Bunda, dan Dirikan Sholat.

Menurut perempuan kelahiran Garut 10 Oktober 1985 ini, lagu-lagu religi yang ada dalam albumnya cukup komplit. Selain Ampunanmu sebagai hitz, lagu berjudul Sanjunganku dinilai sebagai ungkapan memohon syafaat (pertolongan) kepada Nabi Muhammad Saw.

“Lagu Sanjunganku ini bersholawat kepada Rasulullah. Sebab kita ini butuh syafaatnya,” kata penyanyi jebolan salah satu ajang pencarian bakat ini.

Album religi Ampunanmuini dikerjakan bersama musisi Hendri Lamiri, Arif Iskandar, Din Dika, dan H. Ihwan AS,  yang tak lain adalah suaminya.

“Kang  Haji (H Ihwan AS) menciptakan lima lagu di album ini. Padahal sebelumnya nggak kepikiran, tapi saya mikir kenapa nggak Kang Haji aja. Kan dia ini basiknya orang pesantren, kenapa nggak,” ujar Gita perihal peran suaminya.

Proses kreatif pembuatan album ini digarap cukup singkat. Setelah materi lagu terkumpul sekitar dua minggu, proses rekaman juga tidak butuh waktu lama. “Sekitar sebulan untuk merampungkan seluruhnya,” ungkap Gita. 

“Semoga lagu-lagu ini bisa dinikmati dan berharap masyarakat senang karena ini album religi yang kentaldengan ajaran Islam,” tutup Gita. (Zunus)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG