IMG-LOGO
Nasional

Usia 66 Tahun, Ketum PBNU Akan Maksimalkan Hidupnya untuk Pesantren dan NU

Rabu 3 Juli 2019 22:55 WIB
Usia 66 Tahun, Ketum PBNU Akan Maksimalkan Hidupnya untuk Pesantren dan NU
Jakarta, NU Online
Peringatan ulang tahun ke-66 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj yang jatuh pada hari ini, Rabu (73/7) diadakan di hotel Mulia, Jakarta Pusat. Pada acara tersebut hadir sejumlah menteri seperti Menristekdikti Muhammad Nasir, Menpora Imam Nahrawi, dan Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo, dan jajaran pengurus PBNU.

Di akhir acara, Kiai Said memotong tumpeng yang telah dipersiapkannya. Ia memotong nasinya, kemudian potongan pertamanya untuk istrinya, Nyai Hj Nurhayati.

Kepada awak media, Kiai Said mengungkapkan rasa syukurnya atas usia yang diberikan Allah. “Alhamdulillah wa syukrulillah, saya mendapatkan nikmat yang sangat besar bisa diberi usia yang panjang sampai 66 tahun berkat doa semuanya, teman-teman,” kata Kiai Said.

Kiai Said mengatakan, di saat tidak muda lagi itu, usianya akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan pesantren dan NU yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Ia juga berkomitmen akan mempertahankan prinsip-prinsip Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang toleran.

“Nahdlatul Ulama ingin membangun masyarakat yang beradab, berbudaya, dan bermartabat,” ucapnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sosok Kiai Said, berikut profil singkatnya:

Ahmad Naufa Khoirul Faizun melalui tulisannya yang dimuat NU Online pada Rabu 18 Januari 2017 menuturkan bahwa Kiai Said lahir di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat pada 3 Juli 1953. Ia lahir dari pasangan KH Aqil Siroj dan Nyai Hj Afifah.

Said kecil tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda. 

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra Mekkah, Arab Saudi dari sarjana hingga doktoral. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
IMG
IMG