IMG-LOGO
Nasional

Pesan Gus Solah ke Pansel KPK, Pilihlah yang Tidak Pernah Korupsi

Sabtu 6 Juli 2019 20:15 WIB
Bagikan:
Pesan Gus Solah ke Pansel KPK, Pilihlah yang Tidak  Pernah Korupsi
Kunjungan KPK ke Pesantren Tebuireng Jombang
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Salahuddin Wahid mengemukakan, saat ini Panitia Seleksi (Pansel) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang bekerja. 

"Saya berpesan harus ada rekam jejak antikorupsi dan tidak boleh ada rekam jejak korupsi sekecil apapun terkait perkara. Kalau ada akan jadi disintegrasi," ungkapnya saat pertemuan dengan pimpinan KPK di Aula Gedung KHM Yusuf Hasyim, Jumat (5/7).

Menurut pengamatannya, pimpinan KPK pada tahun 2015-2019 ini, tidaklah mengalami gonjang-ganjing seperti pimpinan yang dahulu. "Seperti pada zamannya Pak Sigit, Pak Candra, dan Pak Bambang Wijoyanto. Yang mana pada saat itu Operasi Tangkap Tangan (OTT) itu sudah sering terjadi, akan tetapi ternyata penggemarnya masih banyak juga," tambahnya.

Cucu Hadratussyech KH Hasyim Asy'ari ini juga memberikan catatan pada KPK agar bisa lebih baik lagi di masa depan. Ia mengomentari beberapa kasus yang ditangani KPK saat ini dan adanya dugaan pegawai KPK yang memiliki loyalitas ganda.

"Saya coba mengomentari atau mengambil komentar yang terbanyak. Contoh tentang ICW atau tentang Transparansi Internasional yang mencatat lambatnya penanganan APBN elektronik dan dugaan korupsi Garuda yang melibatkan tindak pidana pencucian uang Setya Novanto, juga disinyalir ada loyalitas ganda pegawai KPK yang berasal dari lembaga seperti kepolisian dan kejaksaan yang berpotensi mengganggu jalannya penanganan perkara," paparnya.

Kiai Salahuddin menyebutkan, Transparency Internasional dalam laporan berjudul Strengthening Anti-Corruption Agencies in Asia Pacific sudah memberikan sejumlah rekomendasi bagi Indonesia. Salah satunya adalah memenuhi kebutuhan penyidik KPK agar dapat meningkatkan kapasitasnya dalam pemberantasan korupsi dan investigasi kasus.

"Walaupun KPK sudah baik jalannya, sudah ada gedung yang baru, tetapi mungkin jumlah penyidiknya masih cukup banyak kekurangan," ujarnya.

Sebagai perbandingan, Kiai Salahuddin menyebutkan Negara Hongkong dulu dikenal sebagai negara korupsi. Setelah didirikan ICEC, kini Hongkong berada di peringkat ke 14, dari 100 negara dengan indeks kurs 90 sekian. Indonesia kini masih berada pada posisi ke 89 dengan indeks yang tidak seberapa. Padahal pada tahun ini ditargetkan pada indeks 40.

"Semoga seleksi pimpinan KPK nanti berjalan lancar," tutupnya.

Diketahui, salah satu isu yang lagi hangat saat ini di Indonesia adalah seleksi calon pimpinan KPK periode 2019-2023. Pendaftaran calon pimpinan KPK sendiri dibuka mulai 17 Juni sampai dengan 4 Juli 2019. 

Bagi mereka yang berminat maka akan melalui sejumlah tahapan seperti seleksi administrasi, tes uji kompetensi yang diikuti dengan assessment, tes kesehatan, dan wawancara. Ada sekitar 348 nama telah mendaftarkan diri. Mereka berlatar belakang advokat, aktivis, anggota Komisi Kepolisian Nasional, staf khusus Kapolri, Staf khusus KSAU, hakim, hingga pegawai KPK.

Dari internal KPK yang mendaftarkan diri yaitu Pahala Nainggolan, Mohammad Tsani Annafari dan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pelayanan Masyarakat KPK Giri Suprapdiono. (Syarif Abdurrahman/Muiz)

Bagikan:
Sabtu 6 Juli 2019 22:30 WIB
Indonesia Bukan Negara Islam Tapi Negara Islami
Indonesia Bukan Negara Islam Tapi Negara Islami

Probolinggo, NU Online
Ketua Suluh Kebangsaan, Muhammad Mahfud MD menegaskan Indonesia tidak perlu diubah sebagai negara Islam tapi cukup jadi negara islami. Menurutnya, ada perbedaan antara Islam dan islami.  Kalau negara Islam adalah negara yang memformalkan ajaran Islam dalam ketanegaraan dan produk hukum yang dihasilkannya. Sedangkan islami terkait negara yang warganya melaksanakan kehidupan selaras dengan nilai-nilai Islam, misalnya jujur, toleran, saling menghormati dan sebagainya.

“Justru sikap-sikap islami tumbuh di negara yang bukan Islam,” tuturnya saat menjadi narasumber dalam Seminar Islam Wasathiyah, Pancasila dan Islam Syariah di aula Madrasah Aliah Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (5/7).

Mahfud lalu  mengutip hasil sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dirilis  sekitar 4 tahun lalu. Hasil penelitian tersebut, katanya, menemukan fakta bahwa negara yang paling islami di dunia adalah Selandia Baru. Di situ tidak banyak umat Islam tapi justru perilaku warganya paling islami jika diukur dari nilai-niai Islam. Salah satu  ukurannya adalah warganya toleran, jujur, tertib dan sebagainya yang itu merupakan nilai-nilai universal dalam Islam.

Mahfud mengungkapkan jika terjadi kecelakaan di Selandia Baru, maka dengan sigap dan cekatan orang-orang yang mengetahuinya memberikan bantuan, dan dompetnya ‘aman’.

“Tapi kalau di Indonesia ada orang kecelakaan juga ditolong, tapi kadang dompetnya hilang,” jelasnya.

Mahfud kemudian bercerita pengalaman KH Hasyim Muzadi yang disampaikan kepada dirinya soal perilaku islami negara Taiwan. Padahal Taiwan bukan negara Islam, malah cenderung ke komunis.

Suatu ketika, kata Mahfud, Kiai Hasyim naik taksi menuju kesebuah hotel. Namun sampai di hotel, Kiai Hasyim ingat bahwa tas kecilnya ketinggalan di taksi yang baru saja mengantarnya ke hotel. Kiai Hasyim bergegas menuju resepsionis untuk memberitahukan soal tas kecilnya yang tertinggal tersebut.

“Ternyata tas kecil tersebut sudah ada meja resepsionis, dikembalikan oleh si sopir taksi. Walaupun tidak kenal orangnya. Dan langsung diserahkan kepada Kiai Hasyim. Dan saya beberapa tahun lalu ke Taiwan, merasa aman-aman saja. Betul kata Kiai Hasyim,” urainya.

Mahfud menegaskan, perilaku islami lebih pentig dari sekadar gontok-gontokan berteriak untuk  membangun negara Islam.

“Indonesia kedepan kita bangun, namanya bukan negara Islam tapi negara yang mempuyai watak islami, warganya berperilaku islami,” pungkasnya. (Aryudi AR)


Sabtu 6 Juli 2019 21:45 WIB
Pergunu: Mustahil Pendidikan Agama Dihilangkan dari Sekolah
Pergunu: Mustahil Pendidikan Agama Dihilangkan dari Sekolah
Waketum Pergunu Aris Adi Leksono.
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu), Aris Adi Leksono mengatakan munculnya opini akan dihilangkannya pendidikan agama dari sekolah yang kembali mencuat sebagai hal kontrakdiktif dengan kultur masyarakat Indonesia.

"Opini ini kontradiktif dengan kultur masyarakat Indonesia, yang dalam kehidupan sehari-hari syarat dengan nilai agama," kata Aris, Sabtu (6/7) malam di Jakarta. 

Aris menganggap bahwa opini itu mustahil diterapkan di Indonesia. Karena sejarah mencatat bahwa Indonesia lahir tidak lepas dari nilai agama. Hal itu bisa dilihat dari dasar negara Indonesia. Dalam Pancasila nilai agama menjadi dasar pertama dalam penyelenggaraan Negara. 

"Pendapat menghilangkan pendidikan agama di sekolah itu mustahil dilaksanakan. Negara ini lahir dari para tokoh agama, tentu nilai agama menjadi dasar utama dalam penyelenggaraan Negara. Dalam Pancasila misalnya, jelas sila yang pertama secara subtansi mengisyaratkan nilai agama menjadi dasar dalam berbangsa dan bernegara," terang pria yang juga dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Nahdlatul Ulama Indoensia (Unusia).

Lebih lanjut, mantan Ketua PW Pergunu DKI Jakarta ini menuturkan bahwa salah besar kalau pendidikan agama menjadi pemicu lahirnya gerakan intoleran yang memicu gerakan radikalisme dan ekstremisme. Ideologi intoleran justru lahir dari pemahaman agama yang dangkal, tanpa ada bimbingan guru. Maka wajib pendidikan agama ada di sekolah, sehingga mampu memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap nilai agama. Karena pada dasarnya tidak satu pun nilai agama yang mengajarkan intoleransi apalagi radikalisme dan ekstrimisme.

"Sejatinya semakin paham agama, harusnya semakin arif dan bijaksana. Karena orang beragama dengan baik, pasti menumbuhkan rasa kemanusiaan. Maka pendidikan agama harus diajarkan di sekolah secara utuh dan mendalam, sehingga benar dalam pemahamannya dan pengamalannya," tandas Aris. 

Menurut Aris pendapat atau opini tersebut tidak perlu ditanggapi berlebihan, karena justru akan menimbulkan kegaduhan di masyakat. "Jika pendidikan agama dihilangkan dari sekolah, Pergunu siap berdiri di barisan terdepan untuk menolaknya dan tetap istiqomah menjaga pendidikan agama terus diterapkan di sekolah," tegasnya. (Red: Kendi Setiawan)
Sabtu 6 Juli 2019 19:30 WIB
Tutup Rakornas Lesbumi, Kiai Said Harap Seni NU Diakui Dunia
Tutup Rakornas Lesbumi, Kiai Said Harap Seni NU Diakui Dunia
Pasuruan, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menutup Rapat Koordinasi Nasional atau Rakornas ketiga Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama di Taman Candra Wilwatika Pasuruan, Jumat (5/7). Kegiatan yang berlangsung sejak Rabu (3/7) lalu dihadiri 64 utusan dari Pengurus Cabang dan Pengurus Wilayah Lesbumi seluruh Indonesia.

"Agenda Rakornas itu sesuai dengan AD/ART NU. Semua lembaga harus mengadakan," kata Kiai Said.
Kiai Said menambahkan, yang paling penting evaluasi apa yang telah dikerjakan apa kekurangannya. “Apa yang belum dan ke depan proyeksinya apa. Itu yang paling penting,” tegasnya.

Di sisi lain, KH Said Agil Siroj mengatakan bahwa budaya Islam itu sudah ada mulai dari dulu hingga kemajuan teknologi budaya yang ada di Indonesia.

“Seniman yang dilandasi oleh iman, itu adalah seniman yang takwa kepada Allah dan sesuai dengan imajinasinya untuk mengembangkan suatu bakat, ” ujarnya.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Ketua Umum Lesbumi PBNU, KH Ng Agus Sunyoto. Lesbumi bukan sebagai entitas yang mengurus dan merepresentasi kesenian bernuansa islami saja. “Tapi memberi arah bagi visi dan rumusan strategis kebudayaan berdasarkan tradisi intelektual khas pesantren,” katanya.

Rakornas ketiga ini mengambil tema Meneguhkan Islam Nusantara di Era Milenial sebagai sebuah sikap dan ikhtiar Lesbumi untuk menjaga dan mengamalkan warisan kebudayaan luhur para penyebar islam masa awal Nusantara.

Sebelum menutup kegiatan, Kiai Said menyampaikan harapan agar Lesbumi atau seninya orang santri dapat diakui oleh bangsa dan  dunia internasional. “Itu harus,” pesannya.

Sementara Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf mengucapkan rasa terima kasih pada seluruh penyelenggara yang sudah mempercayai wilayahnya sebagai tuan rumah Rakornas ke-3 Lesbumi.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada Lesbumi yang telah memilih Kabupaten Pasuruan sebagai tuan rumah,” katanya.

Dirinya juga mengemukakan bahwa apa yang disajikan sebagai persembahan rasa bangga dan hormat kepada Nahdlatul Ulama. “Seluruh potensi, seluruh seni budaya islami Kabupaten Pasuruan yang ditampilkan pada malam hari ini sebagai rasa bangga kepada NU,” tutupnya.

Usai menutup Rakornas 3 Lesbumi NU Kiai Said bersama Kiai Agus Sunyoto menikmati pameran rupa, keris dan topeng yang memamerkan karya seniman Lesbumi. Keakraban terjalin di ruang itu.

"Ini artinya apa?" Tanya Kiai Said ketika menyaksikan salah satu lukisan yang dipajang di sudut ruangan.

Tak hanya itu, ketika sampai pada lukisan yang menggambarkan Gus Dur tengah tersenyum dengan memegang sebuah gitar, Kiai Said berkomentar, "Itu giginya kurang pas itu." Tawa pun merekah dari rombongan yang mengiringi.

Sementara itu puncak acara penutupan Rakornas 3 Lesbumi yang diadakan di Chandra Wilwatikta, Pandaan, Kabupaten Pasuruan pada Jumat (05/07) malam dipadati ribuan santri maupun nahdliyin.

Puncak Rakornas dihadiri Ketua Umun PBNU  KH. Said Agil Siroj, Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf beserta wakil bupati, dan Forkopimda.

Acara menjadi lebih meriah lantaran dihadiri bintang tamu dari ibu kota, Charly Van Houten yang tak lain adalah vokalis Setia Band. Tak ayal, saat Charly menyanyikan lagu berjudul Bintang Kehidupan berhasil memukau ribuan warga NU Pasuruan yang hadir dalam acara ini. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG