IMG-LOGO
Nasional

Pesan Kiai Said Saat Resmikan Gedung SMP-SMK NU Cijeruk, Bogor

Rabu 10 Juli 2019 23:30 WIB
Bagikan:
Pesan Kiai Said Saat Resmikan Gedung SMP-SMK NU Cijeruk, Bogor
Peresmian SMP dan SMK NU Cijeruk, Bogor, Selasa (9/7)
Bogor, NU Online
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj meresmikan Gedung SMP dan SMK NU Cijeruk Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/7).

Kiai Said mengatakan warga NU agar bisa berperan di masyarakat. Peran-peran ini dilakukan melalui peran agama, peran pendidikan, budaya, ekonomi, sosial dan peran organisasi. 

"Jadi umat Islam harus mendirikan organisasi. Kalau personal itu akan sulit. Ummatan wasahaton, seperti Hadrotusyekh KH Hasyim Asy'ari dengan para ulama lain menjadi bukti bahwa beliau sudah mengaplikasikan ayat tersebut caranya yaitu dengan mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama," tutur Kiai Said di hadapan ribuan tamu undangan yang memenuhi halaman gedung sekolah NU itu. 

Warga NU saat ini dapat mencontoh semangat KH Hasyim Asy'ari yang mendirikan Nahdlatul Ulama dengan asas Ahlussunnah wal Jamaah. "(Mbah Hasyim Asy'ari) membentuk NU dengan para kiai lain yang hingga saat ini memberi manfaat bagi masyarakat luas di tanah air, bahkan untuk saat ini banyak negara-negara lain ingin belajar dan mendirikan NU," imbuh Kiai Said.

Sementara itu, Ketua PCNU Bogor, H Romdhon menyampaikan gedung SMP dan SMK NU Cijeruk sebagai bukti kepedulian PCNU Bogor terhadap dunia pendidikan.

"Gedung baru SMP dan SMK NU Cijeruk diharapkan mampu menjadikan sarana dan prasarana bagi masyarakat atau orang tua untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Sebab, sekolah ini satu-satunya di Kecamatan Cijeruk," ujar H Romdhon.

Peresmian dilakukan dengan penandatanganan peresmian oleh Kiai Said dan disaksikan oleh Kepala Kemenag Jawa Barat, HA Buchori. Acara ditutup dengan doa oleh KH Abidin asal Tenjo Kabupaten Bogor.

Turut hadir Kapolres Kabupaten Bogor, AKBP A Dicky, Dandim Bogor beserta jajaran. Banom-banom NU seperti Ansor, Banser, IPNU dan IPPNU turut memeriahkan acara yang berlangsung hingga sore hari. (Abdul Hakim Hasan/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Rabu 10 Juli 2019 22:30 WIB
ISNU: Ekonomi Kerakyatan Harus Diperkuat
ISNU: Ekonomi Kerakyatan Harus Diperkuat
Ali Masykur Musa
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, mendorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan   dengan intervensi penuh negara untuk memenuhi hajat hidup masyarakat. Hal itu menurut Ali terkonsep dalam gagasan Arus Baru Ekonomi Indonesia (ABEI). 

Sementara  Ketua Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Juri Ardiantoro mengungkap perlunya sosialisasi dan penyadaran seluruh stakeholder tentang agenda penerapan Arus Baru Ekonomi Indonesia (ABEI) dalam kebijakan pemerintah. 

Menurut Juri, ABEI bisa memoderasi  ketimpangan ekonomi di Indonesia. Hal itu disampaikan Ali Masykur dan Juri dalam Diskusi terbatas tentang Arus Baru Ekonomi Indonesia dalam Negara Kesejahteraan Pancasila, yang dihelat Master C 19, di Jalan Cirebon 19, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10 Juli 2019).

Ali Masykur yang pernah menjabat Komisioner Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI 2009-2014, mengatakan, ABEI yang digagas oleh K.H Ma’ruf Amin, sangat selaras dengan prinsip dan nilai ekonomi Pancasila yang diamanatkan UUD 1945. 

“ABEI ini mendorong penerapan azas kekeluargaan dan gotong royong, sesuai Pasal 33 UUD 1945. Juga azas Wellfare, yang mengamanatkan agar segala kebijakan ekonomi diarahkan untuk kemakmuran rakyat, sesuai pasal 23 UUD 1945. Prinsip kebijakan bottom up yang sering disampaikan Kiai Ma’ruf juga mengisyaratkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menyusun kerangka kebijakan ekonomi. Semua itu, bias diterapkan di antaranya dengan penguatan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K),” paparnya.

Sementara Juri Ardiantoro dalam paparannya mendorong perlunya strategi transisi dalam penerapan ABEI.

"Abah selalu menekankan perlunya penguatan masyarakat yang lemah ekonominya, tanpa melemahkan yang kuat. Prinsip moderasi ini bisa mengurai ketimpangan ekonomi," ujarnya

Rabu 10 Juli 2019 21:30 WIB
Ketua PBNU Beberkan Penyebab Orang Jadi Radikal
Ketua PBNU Beberkan Penyebab Orang Jadi Radikal
Ketua PBNU Robikin Emhas.
Jakarta, NU Online
Ketua PBNU Bidang Hukum, HAM, dan Perundang-Undangan Robikin Emhas mengungkapkan betapa mudahnya jika seseorang ingin menjadi radikal. Pasalnya, seseorang tidak perlu mendalam ketika belajar ilmu agamanya.

Menurutnya seseorang kalau mau jadi radikal cukup kutip sepenggal ayat, tidak usah dikaitkan dengan asbabun nuzul dan lainnya. Kalau mau jadi liberal cukup tahu agama sedikit-sedikit, niscaya akan menjadi orang yang menafsirkan agama semau prespektifnya saja, tapi tidak dari Tuhan.

"Tidak perlu belajar ilmu mantiq, atau nahwu sorrof. Langsung saja belajar terjemahan Al-Qur’an. Kemudian dipakai jadi modal memamakai jubah kebesaran, pakai surban, dan berani pidato di mana-mana. Karena cara belajararnya seperti itu (serampangan), maka otomatis konteks turunnya ayat atau hadist, asbabun nuzul, dan asbabul wurud pasti gak paham. Nah, kalau tidak paham hampir pasti akan jadi radikal," ujar Robikin saat mengisi Pelatihan Kader Aswaja yang diadakan oleh PW Muslimat NU DKI Jakarta di Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Rabu (10/7).

Robikin menegaskan NU melakukan sebaliknya. Karena, NU mengedepankan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Ajaran Aswaja yang dimaksud adalah sesuai dengan firman Allah, Wa każālika ja'alnākum ummataw wasaṭal. Islam yang dikembangkan adalah Islam moderat dan toleran. Itulah perintah Allah kepada Nabi Muhammad. 

Lalu bagaimana ajaran Islam yang moderat dan toleran yang sebenarnya? Robikin mengatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj sering menyatakan, Islam yang kita kembangkan seperti yang dilaksanakan Rasulullah, sebagaimana perintah Allah itu adalah yang moderat.

"Maka untuk jadi moderat orang harus minimal pintar. Syarat pertamanya harus pintar, ilmunya mendalam. Kalau tidak pintar dan tidak mendalam ilmunya, tidak banyak perspektif. Ketika melihat sesuatu maka tidak mungkin menjadi moderat," papar Robikin.

Kemudian, bagaimana orang bisa jadi toleran? "Toleran itu menghargai keberagamaan, menghormati perbedaan pendapat, tidak melakukan kekerasaan dalam mencapai tujuan," ujarnya.

Moderat dan toleran menjadi bagian dari aplikasi mandat atau tanggung jawab yang diemban NU. Pasalnya, NU mengemban dua mandat. Mandat yang pertama adalah mandat keagamaan, (mas’uliyah diniyah) yaitu mengemban tugas keagaamaan, kedua adalah memanggul mandat kebangsaan, (mas’uliyah wathoniyah). 

"Kedua mandat tersebut yang harus dijalankan oleh Nahdliyin sebagai warga atau pengurus NU, baik di struktural, lembaga ataupun banomnya," tegasnya.

Mandat keagamaan dan kebangsaan tersebut, kata Robikin, tidak bisa dipisahkan. Sebagai Nahdiyin tidak bisa hanya atas nama mengemban mandat keagamaan saja, lalu tidak mempedulikan atau mengabaikan mandat kebangsaan.

"Misalnya kita mengampanyekan Indonesia harus menjadi negara Islam. Nah, itu pertama jelas bertentangan dengan mandat kebangsaan, bahkan dalam konteks keagaamaan sendiri harus kita evaluasi," katanya.

Memahami esensi mandat keagaaman NU adalah untuk mengamalkan, memperakitkkan, menyebarluaskan, dan mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana yang diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Robikin mengumpamakan, jika seseorang menyebut istilah radikal asosiasinya adalah kanan. Maka di posisi kanan ini, orang tersebut merasa tidak perlu tahu sebelah tengah dan sebelah kiri. "Tapi jika kita harus moderat maka kita harus melihat semuanya bukan hanya kanan, tengah dan kiri. Semuanya harus kita lihat, baru kemudian kita mengambil sikap,"  bebernya. (Anty Husnawati/Kendi Setiawan)




Rabu 10 Juli 2019 20:45 WIB
Belajar Toleransi Paling Sederhana, Mendengar Tanpa Menghakimi
Belajar Toleransi Paling Sederhana, Mendengar Tanpa Menghakimi
Jakarta, NU Online
Toleransi buka hanya untuk disuarakan, tetapi juga harus diupayakan dan dilakoni sebagai suatu sikap menghadapi perbedaan. Terlebih Indonesia merupakan negara dengan kompleksitas perbedaan yang cukup tinggi. Pasalnya, terdapat banyak agama, ratusan suku dan bahasa.

Meskipun demikian, belajar toleran tidak perlu jauh-jauh harus berinteraksi langsung dengan orang lain yang berbeda latar belakang budayanya. Putri Indonesia Perdamaian 2017 Dea Goesti Rizkita Koswara menyampaikan bahwa toleransi dapat dipelajari dari hal yang paling sederhana, yaitu mendengar.

“Mendengar tanpa menghakimi itu paling di tahap sederhana,” katanya kepada NU Online pada saat Konferensi Pers program Sabang Merauke, pada Rabu (10/7) di Graha Mitra, Lantai 2, Jl. Gatot Subroto Kav. 21, Jakarta.

Psikolog anak itu juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Ambon, Maluku. Kota tersebut pernah bersitegang karena provokasi agama dengan pembakaran masjid dan gereja yang konon dilakukan oleh orang yang agamanya berbeda. Peristiwa tragis berdarah-darah itu pun tak terelakkan. Bahkan, sampai ada pembelahan kampung, pemukiman Nasrani dan Muslim terpisah.

Saat ini, katanya, pemukiman tersebut sudah menyatu kembali. Mereka sudah hidup berdampingan sebagaimana sedia kala.

Dea bersama seorang relawan Muslim menemui seorang kakek Nasrani di sana. Ternyata, kakek relawan yang menemaninya merupakan penolong kakek Nasrani yang ia temui. “Kakek relawan yang Muslim menjadi penyelemat Nasrani ,” katanya menceritakan.

Selain Dea, hadir pula Putri Indonesia 2018 Sonia Fergina Citra. Perempuan asal Belitung itu mengangkat tema toleransi sebagai suatu hal yang dibawa pada ajang Miss Universe.

Be diverse be tolerance (menjadi berbeda, menjadi toleran),” katanya merupakan tema yang ia angkat saat keikutsertaannya pada Miss Universe.

Pilihan tema tersebut tentu saja bukan tanpa alasan. Ia memiliki latar belakang keluarga yang heterogen. Selain keturunan Tionghoa plus Belanda yang pernah tinggal di Merauke, ia juga lahir dari orang tua yang berbeda agama. Kakak dan pamannya juga berbeda dengannya.

Tak ayal, toleransi bukanlah barang baru baginya. Terlebih, meskipun ia memilih sebagai penganut Katolik, rumahnya persis berada di depan masjid. “Toleransi sudah dididik sejak kecil dari orang tua,” katanya.

Menurutnya, toleransi dengan masyarakat yang berbeda latar belakang tentu harus dilakukan sebagai individu masing-masing agar mengalaminya secara langsung. “Harus dirasakan sendiri bagaimana perbedaan itu terasa,” pungkasnya.

Sabang Merauke merupakan sebuah program yang mengikutsertakan 20 peserta dari tingkat SMP dan 20 peserta dari tingkat perguruan tinggi untuk tinggal di sebuah keluarga dengan latar belakang budaya, suku, dan agama yang berbeda. (Syakir NFAbdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG