IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Harlah Ke-16 NU Online: Meluaskan Khazanah Keislaman, Merawat Keindonesiaan

Kamis 11 Juli 2019 17:0 WIB
Bagikan:
Harlah Ke-16 NU Online: Meluaskan Khazanah Keislaman, Merawat Keindonesiaan
Puji syukur kepada Allah subhanahu wataalla bahwa pada 11 Juli 2019 ini NU Online menginjak tahun yang ke-16. Dalam rentang waktu ini, kami terus belajar dan mengalami berbagai dinamika seiring dengan situasi yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama, di Indonesia, ataupun perkembangan dalam dunia Islam. Capaian hari ini merupakan tahapan untuk langkah selanjutnya untuk terus melayani kebutuhan informasi masyarakat. Kami terus berusaha untuk meningkatkan kapasitas dan menyiapkan diri menghadapi atau mengantisipasi perkembangan-perkembangan baru agar tetap selalu relevan. 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memiliki visi besar dan jangka panjang ketika mendirikan NU Online pada tahun 2003, yaitu untuk memudahkan saluran komunikasi antara pengurus dengan pengurus di semua level atau antara pengurus dengan warga NU dan pemangku kepentingan NU lainnya. Pada awal 2000-an, internet belum banyak menyebar di lingkungan masyarakat. Penggunanya hanya mereka yang memiliki komputer atau laptop. Dari situlah, tim kecil NU Online belajar bagaimana mengelola sebuah media daring. Dan seiring dengan berjalannya waktu, ketika teknologi  internet telah berkembang melalui telepon cerdas, maka NU Online telah cukup banyak belajar sehingga mampu melayani kebutuhan informasi daring dari masyarakat secara lebih mudah.  

Sebagai situs resmi NU, kami mengabarkan berbagai aktivitas, program, dan kebijakan yang diselenggarakan oleh seluruh perangkat organisasi NU di semua level. Inovasi pelayanan kepada warga NU yang kelihatannya sederhana dan biasa-biasa saja, dapat menjadi inspirasi dan direplikasi di tempat lain. Hal ini akan meningkatkan dampak sebaran dan kualitas layanan NU kepada masyarakat. Di tengah kesimpangsiuran informasi, maka keberadaan media rujukan menjadi sesuatu yang sangat penting. 

Kanal-kanal keislaman merupakan kanal paling populer. Kami berusaha melayani kebutuhan informasi keislaman, dari yang paling dasar untuk masyarakat awam sampai pada level atas yang menjadi konsumsi para kiai dan pegiat bahtsul masail. Konten-konten keislaman dibahasakan secara sederhana sehingga mudah dipahami. Hal yang penting adalah, NU Online selalu menyampaikan berbagai ragam pendapat ulama dalam satu masalah, lalu kami merekomendasikan pendapat yang paling kuat. Ini penting untuk membiasakan publik bahwa dalam masalah-masalah furuiyah, ada banyak pendapat yang muncul. Sikap dogmatis yang menganggap bahwa hanya ada satu pendapat yang benar dan kemudian menilai pendapat lain salah potensial menyebabkan kerenggangan di masyarakat.  

Nahdlatul Ulama meyakini bahwa bentuk negara Indonesia saat ini beserta Pancasila sebagai dasar negaranya merupakan bentuk ideal. Sekalipun hampir mencapai 74 tahun Indonesia, visi bersama kebangsaan ini masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keinginan sebagian kecil kelompok yang mencita-citakan berdirinya khilafah atau bentuk negara lainnya. Menjadi bagian dari kerja-kerja NU Online untuk mengembangkan narasi Indonesia yang damai, sejahtera, dengan penghargaan terhadap keragaman yang ada saat ini yang sesungguhnya dapat menjadi kekuatan luar biasa jika dikelola dengan baik. 

Di tengah maraknya kabar hoaks yang menyebar tak terkendali di media sosial, maka NU Online berusaha menjadi rujukan otoritatif. Informasi yang diunggah di NU Online telah melalui proses verifikasi beberapa tahap sehingga memiliki akurasi lebih tinggi. Kami juga berusaha untuk mengembangkan literasi digital kepada masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial. 

NU Online juga memiliki tugas besar bagaimana mengembangkan jejaring informasi di lingkungaan Nahdlatul Ulama. Sinergi dari media-media NU yang sudah merambah beragam segmen akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Sebuah cita-cita besar untuk berdakwah secaara sejuk dan ramah di dunia maya guna memberikan rasa damai di masyarakat di tengah hiruk-pikuk media sosial tak dapat dilakukan sendirian. Kerja-kerja bersama di antara orang yang memiliki visi yang sama merupakan sebuah kemutlakan. 

Dari waktu ke waktu, kepercayaan publik terus bertambah. Berdasarkan situs pembanding alexa.com atau similarweb.com, peringkat dan jumlah pengunjung NU Online kini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa situs-situs online milik media cetak arus utama yang dikenal oleh publik. Tentu kepercayaan ini merupakan buah dari kerja keras dari tim redaksi NU Online dan dukungan dari banyak pihak seperti para kontributor NU Online yang mengirimkan berita dari tempatnya masing-masing, para penulis keislaman yang dengan tekun mencari rujukan paling otoritatif dan menuliskannya untuk masyarakat, para mitra yang berasal dari berbagai institusi yang bekerja sama dalam mensosialisasikan berbagai program kerja sama, dan pihak-pihak lainnya. Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para pihak yang telah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk. 

Terima kasih kepada para pembaca NU Online yang telah menjadikan kami sebagai rujukan informasi. Tentu masih banyak hal perlu ditingkatkan. Insyaallah dengan kerja keras dan kerja cerdas, disertai dengan dukungan dari semua pihak, insyaallah kami dapat terus meningkatkan dan mengembangkan layanan kepada masyarakat. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Ahad 7 Juli 2019 19:45 WIB
Melayani Umat dengan Aksi Nyata
Melayani Umat dengan Aksi Nyata
NU Jatim Award 2019 telah selesai digelar dan menempatkan PCNU Sidoarjo sebagai juara umum. Tentu ini sebuah kebanggaan bagi warga NU Sidoarjo bahwa sejumlah program dan perangkat organisasi NU yang berada di daerah tersebut menjadi yang paling bagus di Jawa Timur.  Ini merupakan hasil kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu. 

Kinerja sejumlah perangkat organisasi NU yang mendapatkan juara, yang bisa diartikan bahwa mereka menjadi yang terbaik menunjukkan bahwa mengelola organisasi NU tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi harus dilakukan secara serius dan penuh dedikasi agar mencapai kinerja yang maksimal. Berorganisasi berarti menyatukan berbagai kapasitas berbeda-beda dari setiap orang agar mencapai hasil yang maksimal.

Berdakwah, tidak dapat dimaknai sekadar menjadi dai yang kemudian berceramah di panggung atau dari majelis ke majelis. Model dakwah seperti itu hanya salah satu dari sekian banyak jalan dakwah yang bisa dilakukan, di antaranya melalui aksi konkret. Progam-program nyata yang menyentuh masyarakat akan mampu menumbuhkan keterikatan masyarakat kepada NU. Bahwa keberadaan NU tidak hanya memberi nasihat terkait masalah agama, tetapi juga memberi solusi permasalahan sehari-hari. 

Contoh nyata adalah yang dilakukan oleh BMT (Baitul Mal wat Tamwil) NU Jatim yang mampu melepaskan banyak orang dari jeratan renternir.  Jika dakwah sekadar menyampaikan pesan di panggung bahwa riba itu haram, tetapi tidak member solusi nyata terhadap masalah yang dihadapi para pedagang kecil dari jeratan renternir, maka pesan-pesan tersebut tidak akan memberi banyak makna. Tetapi ketika diiringi dengan langkah nyata dari pengurus NU, maka pesan-pesan agama itu menjadi sesuatu yang bermakna yang mengubah perilaku masyarakat. 

Langkah PWNU Jatim untuk menggelar NU Award merupakan hal yang patut diapresiasi. Hal ini akan menumbuhkan semangat menjadi yang terbaik di antara cabang-cabang NU setempat. Tentu saja, penghargaan adalah sebuah bonus apresiasi dari sebuah kerja, bukan tujuan utama karena ketika kita mengabdi kepada NU, tujuan utamanya adalah melayani umat dengan baik. 

Dari capaian penghargaan ini, masyarakat akan tahu, PCNU mana saja yang memiliki kinerja baik dan tidak. Dari situ juga akan diketahui kerja-kerja dari kepengurusan di masing-masing daerah.  Sesungguhnya menjadi pengurus NU bukan cuma untuk gagah-gagahan, tetapi di dalamnya terdapat amanah pelayanan masyarakat yang besar. 

Kompetisi akan menumbuhkan kreativitas baru yang sebelumnya tidak muncul. Organisasi secara keseluruhan agar berpikir bagaimana menjadi yang terbaik daripada yang lain. Sebagai contoh, Ansor Lamongan menjadi juara tahun ini karena kreativitasnya dengan pengelolaan database administrasi berbasis online sehingga file digitalnya tidak akan hilang sebagaimana dokumen berbasis kertas.

Dakwah dengan aksi nyata sesungguhnya merujuk kepada keberhasilan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah.  Beliau membela orang-orang tertindas yang dieksploitasi oleh elite setempat. Orang-orang pinggiran dari suku-suku di Arab berdatangan ke Madinah untuk mendapatkan pelayanan dan perlindungan dari Nabi Muhammad. Hal yang sama juga dilakukan para Wali Songo atau para pendiri Nahdlatul Ulama. Mereka melakukan sesuatu yang nyata kepada masyarakat dalam dakwahnya. 

Dengan model dakwah seperti ini, ajaran kelompok radikal atau ajaran menyinpang lainnya akan susah masuk ke daerah Jawa Timur karena masyarakat merasa dekat dan terlayani oleh Nahdlatul Ulama. Bahkan bagi sebagian orang, hal ini akan menggerakkan mereka untuk membantu memberdayakan NU sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Bantuan bisa dalam bentuk yang beragam, mulai dari kesediaan untuk menyempatkan diri menjadi pengurus NU, menyumbangkan sebagian harta untuk kegiatan NU, menjadi pendukung aktivitas-aktivitas NU, atau dukungan dalam bentuk lainnya. 

Yang lebih penting lagi adalah, bagaimana kesuksesan yang dicapai oleh para pemenang NU Jatim Award ini bisa direplikasi ke daerah lainnya. Ada kiat-kiat sukses yang bisa diterapkan sehingga daerah lain tidak perlu lagi mencari cara untuk berhasil dengan hanya berdasarkan pendekatan trial and error (coba dan gagal).  Upaya untuk belajar ini salah satunya telah dilakukan oleh PCNU Tasikmalaya yang melakukan studi banding ke Jatim untuk belajar menjadi lebih baik. Atau langkah yang dilakukan PCNU Banyuwangi yang belajar ke PCNU Jombang bagaimana mengelola lembaga dakwahnya 

Pemberian penghargaan dalam skala nasional mungkin layak untuk mulai dipikirkan. Ada banyak kreativitas dalam pengelolaan organisasi di berbagai kepengurusan NU di seluruh Indonesia yang selama ini hanya dikenal di daerahnya masing-masing karena belum terpublikasikan dan kisah suksesnya belum disebarkan. Jika ini digali dan disebarluaskan, maka dapat menjadi sarana belajar bagi daerah lainnya. 

Hal ini sekaligus untuk memetakan kondisi NU di masing-masing wilayah. Kondisi di Jawa Timur yang menjadi basis terbesar NU dengan infrastruktur organisasi yang sudah mapan tentu berbeda dengan situasi di Papua atau NTT di mana Muslim menjadi minoritas. Pemetaan ini untuk mengetahui potensi dan masalah yang muncul di masing-masing wilayah dan selanjutnya, kebijakan apa yang tepat serta dukungan seperti apa yang diperlukan bagi daerah tertentu. Pada akhirnya, semuanya tentu didedikasikan untuk melayani umat dengan lebih baik. (Achmad Mukafi Niam)
Sabtu 29 Juni 2019 21:30 WIB
Kita Semua adalah Pemenang dalam Pesta Demokrasi
Kita Semua adalah Pemenang dalam Pesta Demokrasi
Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa gugatan pasangan 02 tidak dikabulkan. Dengan demikian, sudah terdapat kepastian hukum bahwa pasangan 01 menjadi pemenang dalam pemilu presiden 2019. Inilah upaya terakhir dalam sengketa pemilu karena hasil keputusan MK mengikat dan tidak ada lagi upaya hukum di atasnya. Tahapan selanjutnya seperti penetapan sampai dengan pelantikan bisa dijalankan dengan kepastian. Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai pasangan terpilih dapat segera mulai merancang program pemerintahannya sesuai dengan janji kampanyenya. Selanjutnya, ketika sudah dilantik, bisa langsung tancap gas.

Kini tidak ada lagi pasangan 01 atau 02. Semuanya kembali ke 00. Rakyat Indonesia kembali bersatu untuk membangun bangsa ini. Sesungguhnya, proses pemilihan pemimpin nasional ini adalah bagian dari pembangunan ini. Jangan sampai proses ini merusak tujuan yang sebenarnya dengan terus memelihara pertentangan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam kontestasi pilpres 2019. 

Kampanye pemilu presiden 2019 yang berlangsung selama 10 bulan cukup panas dan melelahkan. Perang kata-kata dan pernyataan membuat panas masing-masing pendukung. Hoaks bertebaran di media sosial. Kondisi ini mengakibatkan hubungan persaudaraan atau pertemanan yang sebelumnya akrab menjadi renggang karena perbedaan pilihan politik. Semuanya harus kembali sebagaimana semula. Politik tidak boleh memecah belah dan melupakan hal-hal yang lebih penting seperti kemanusiaan dan upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Politik hanyalah cara bagaimana kita mengelola berbagai kepentingan bersama. Politik adalah menegosiasikan berbagai kepentingan untuk mencapai konsensus. Bukan untuk menang-menangan. 

Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin bukan hanya pemimpin bagi 55 persen rakyat yang memilihnya, tetapi pemimpin bagi seluruh rakyat. Pemilu merupakan proses untuk memilih pemimpin terbaik di antara beberapa calon. Dengan demikian, pasti hanya satu yang akhirnya terpilih. Masing-masing pendukung tentu merasa bahwa calon yang dipilihnya merupakan orang yang terbaik. Pasti ada kekecewaan karena calon yang diidealkan menjadi pemimpin dan menjalankan visi misi kepemimpinannya ternyata gagal. Di sinilah perlunya sikap legowo dari kontestan dan para pendukungnya bahwa mereka ternyata mendapatkan suara lebih sedikit sehingga calon lain yang berhak menjadi presiden dan wakil presiden. 

Tugas pertama pemimpin terpilih adalah memastikan adanya rekonsiliasi dari pihak-pihak yang berkompetisi dalam pilpres. Dalam konteks ini, maka pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto merupakan hal yang penting karena hal ini menyimbolkan sikap kenegarawanan mereka dengan menerima apa pun hasil keputusan MK. Pertamuan ini diharapkan dapat menurunkan tensi di kalangan para pendukung masing-masing pihak. 

Ada banyak hal yang perlu diperbaiki dalam pemilu selanjutnya. Ratusan KPPS yang meninggal merupakan tragedi buruk yang baru pertama kali terjadi dalam proses penghitungan suara yang berlangsung secara maraton akibat banyaknya kertas suara yang harus dihitung.  Sejumlah persoalan lain yang terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya juga belum terselesaikan.

Kini saatnya melihat ke depan. Ada banyak persoalan bangsa yang menunggu penanganan serius dan kerja bersama. Presiden terpilih akan memimpin orkestra kerja-kerja bersama tersebut. Ada banyak janji yang disampaikan kepada rakyat selama masa kampanye. Jangan sampai janji-janji tersebut sekedar janji kosong sebagaimana sering dialamatkan kepada para politisi yang banyak berjanji kepada rakyat ketika kampanye tetapi lupa akan janjinya setelah terpilih. 

Indonesia sesungguhnya adalah negara yang kaya dalam berbagai hal. Banyak kekayaan alam yang bisa diolah untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa. Ada banyak ahli yang kompeten yang siap melakukan berbagai peran dan fungsi. Jangan sampai potensi tersebut salah kelola yang akhirnya malah menimbulkan kemudharatan, bukan kemaslahatan. Di beberapa negara, kekayaan alam bahkan menimbulkan konflik antar sesame anak bangsa. Kekayaan hanya dimiliki oleh sekelompok kecil elit sementara rakyat jelata dalam kondisi kemiskinan yang akut. Jangan sampai hal ini terjadi di Indonesia. Sumber daya manusia yang kompeten, jika tidak dikelola dengan baik, akan pindah ke negara lain yang mampu memberikan kesejahteraan dan peluang karir yang lebih menjanjikan. 

Pada periode pertama kepemimpinannya, Jokowi memiliki visi besar dalam pembangunan infrastruktur. Dan ini diakui cukup membantu aksesibilitas masyarakat. Tetapi ada keluhan dalam sektor lain seperti bidang penelitian yang kurang mendapatkan perhatian, masalah kualitas pendidikan, korupsi, radikalisme, dan lainnya. Hal-hal tersebut juga membutuhkan perhatian dan penanganan yang baik. 

Menjadi oposisi juga bagian dari sistem untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Ada adagium bahwa power tend to corrupt. Yaitu, kekuasaan rawan disalahgunakan jika tidak ada pengawasan. Di sinilah peran pihak oposisi untuk melakukan pengawasan berbagai kebijakan pemerintah yang mungkin saja kurang tepat atau tidak berjalan dengan baik.  Menjadi oposisi yang baik bukan berarti mengkritisi setiap kebijakan pemerintah, tetapi seharusnya memberikan apresiasi atas keberhasilan yang dcapai. Toh semuanya untuk rakyat. Oposisi, tidak berarti menghalangi kerja-kerja pemerintah agar kinerjanya buruk sehingga pada pemilu selanjutnya dapat dikalahkan.  

Pemilu sudah usai. Segala perbedaan pendapat terkait pilihan pemilu sudah waktunya diakhiri. Kini saatnya menatap Indonesia ke depan dengan sedemikian peluang dan tantangan yang harus dihadapinya daripada terus-terusan memelihara permusuhan dan perbedaan pendapat yang tidak produktif. Semoga pemimpin terpilih dapat menjalankan amanah yang diberikan dengan baik. Amin. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 22 Juni 2019 21:30 WIB
Menjaga Kehormatan Mahkamah Konstitusi
Menjaga Kehormatan Mahkamah Konstitusi
Ilustrasi (Antara)
Dalam beberapa hari ini, perhatian publik tertuju pada persidangan sengketa pemilu yang digelar di Mahkamah Konstitusi setelah pasangan capres 02 Prabowo Sandi mengajukan sengketa hasil pilpres ke pengadilan tersebut. Sejumlah tuduhan kecurangan yang selama ini hanya tersebar di media sosial atau pernyataan orang per orang yang disampaikan di media kini diuji kebenarannya di hadapan sembilan hakim konstitusi.  

Dalam sebuah kontestasi keras yang melibatkan banyak orang seperti di Indonesia, wajar jika ada yang kecewa karena hasilnya tidak sesuai dengan harapan yang diinginkannya. Namun, yang penting adalah bagaimana upaya penyelesaian dari kondisi seperti ini. Forum sidang pengadilan adalah tempat yang paling tepat. Ini menunjukkan sikap kenegarawanan pihak-pihak yang bertikai terkait dengan pemilu. Di situlah seluruh bukti dan argumentasi dari pihak-pihak yang bersengketa diuji.

Sidang di Mahkamah Konstitusi berlangsung maraton dengan menghadirkan para saksi untuk memperkuat tuntutan yang mereka ajukan. Pihak yang dituntut pun mengajukan argumentasi tandingan. Karena disiarkan secara langsung melalui televisi atau siaran streaming di internet, maka siapa pun bisa mengikuti persidangan tersebut, kapan saja dan di mana saja. Publik bisa menilai argumentasi yang diajukan oleh masing-masing pihak, apakah didukung bukti yang kuat atau apakah didasarkan argumentasi yang sahih. Namun, keputusan tetap ada di tangan para hakim.

Pemilu 2019 mengulang pertarungan antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto pada 2014.  Namun, pertarungan kali ini lebih karas karena salah satunya penggunaan sentimen agama sebagai bahan kampanye serta penggunaan media sosial yang semakin meluas. Polarisasi ini menyebabkan masing-masing pendukung tidak melakukan pencarian informasi yang berimbang terhadap masing-masing kandidat. Akibatnya yang muncul adalah militansi dukungan yang semakin menguat. 

Polarisasi ini terlihat nyata misalnya di provinsi tertentu, pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin unggul lebih dari 80 persen di Bali dan Papua sementara Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno unggul telak di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Barat. Joko Widodo unggul di provinsi yang mayoritas penduduknya non-Muslim sedangkan dua keunggulan telak Prabowo adalah provinsi yang masyarakatnya mengidentifikasi diri sebagai Muslim yang taat. Tentu saja, situasi seperti ini kurang bagus dalam kerangka masyarakat Indonesia yang selama ini merupakan masyarakat yang plural dengan model keragaman yang luar biasa, seperti suku, agama, ras, atau golongan. 

Pola-pola dukungan kelompok masyarakat yang terpolarisasi ini dapat diidentifikasi lebih lanjut dengan tingkat ekstremitas yang tertentu. Militansi dukungan kepada masing-masing capres terlihat dari Peningkatan jumlah persentasi pemilih yang datang ke TPS dibandingkan dengan pemilu-pemilu presiden sebelummya. Ini menunjukan adanya peningkatan kesediaan pemilih untuk memperjuangkan calon yang dipilihnya agar tidak kalah dari calon lawan.  

Jangan sampai presiden terpilih kurang mendapat legitimasi bagi kelompok tertentu yang sebelumnya mendukung kandidat lawan. Sebagian besar masyarakat setelah hari pencoblosan pada 17 April lalu sudah kembali kepada aktivitas normalnya. Mereka menerima siapa pun presiden yang terpilih yang mendapatkan suara terbanyak. Tetapi ada pula yang belum puas karena merasa adanya kecurangan yang terjadi secara terstruktur, masif, dan sistematis (TSM). Isu ini harus diselesaikan secara tuntas. Di sinilah peran Mahkamah Konstitusi untuk menguji apakah klaim tersebut benar. 

Mengatakan bahwa pemilu di Indonesia kali ini sudah benar-benar bersih dari berbagai persoalan tentu sesuatu yang naïf. Dengan besarnya jumlah pemilih dan luasnya sebaran lokasi pemilihan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tentu ada sejumlah ketidaksempurnaan. Berbagai temuan persoalan yang diajukan ke MK sudah diajukan ke MK. Para hakim konstitusi yang nantinya akan memutuskan apakah hal tersebut bersifat TSM atau tidak. Temuan-temuan ini nantinya menjadi bahan perbaikan untuk pemilu selanjutnya. 

Kita tentu berharap para hakim MK yang terhormat benar-benar mampu membuat keputusan yang tepat dan bijak karena hal ini menyangkut masa depan bangsa, bukan hanya bagi mereka yang menang atau kalah dalam sengketa tersebut. Keputusan pengadilan bukan hanya soal kebenaran formal tetapi juga keadilan secara substansial, yaitu rasa keadilan yang diterima oleh sanubari rakyat Indonesia. Jika hal ini mampu diwujudkan, maka sisa-sisa persoalan akan benar-benar tuntas dan pemimpin yang terpilih akan memiliki legitimasi yang kuat di hadapan seluruh rakyat.  

Penyelesaian sengketa pemilu melalui MK bersifat final dan mengikat. Artinya tidak ada lagi proses banding atau digugat di tempat lain. Karena itu, apa pun hasilnya, pihak yang kalah dan para pendukungnya harus menerimanya dengan legowo. Setelah proses pengadilan itu selesai, sudah tidak ada pengadilan lainnya. 

Presiden dan wakil presiden ditetapkan dan kemudian dilantik pada bulan Oktober 2019 mendatang. Jangan sampai pihak yang kalah, kemudian menuduh hakim MK bertindak curang atau tidak independen. Jika ada pihak yang tidak menerima kekalahan, hal ini menunjukkan sikap ketidakdewasaan dalam menerima hasil.  Jika ini terjadi, bangsa ini akan terus bergulat dengan dirinya sendiri sementara berbagai persoalan penting tak dapat terurus dengan baik. (Achmad Mukafi Niam) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG