IMG-LOGO
Daerah

Pergunu Jateng Buka Beasiswa S2 dan S3

Kamis 11 Juli 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Pergunu Jateng Buka Beasiswa S2 dan S3
Jajaran pengurus Pergunu Jateng dan Unwahas.
Jakarta, NU Online
Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah bekerjasama dengan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang membuka beasiswa bagi guru-guru NU.

Beasiswa untuk tingkat S2 dan S3 ini berdasarkan Memorandum of Agreement antara Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah dengan Universitas Wahid Hasyim Semarang nomor 0052/PW/PERGUNU/IX/2018–285/PPs-UWH/IX/2018 dan hasil rapat koordinasi pengurus PW Pergunu Jateng, Pengurus Yayasan Wahid Hasyim, Rektor dan Direktur Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim pada tanggal 19 Juni 2019.

Rektor Unwahas mengatakan kader-kader NU khususnya yang bergelar Doktor, harus mampu bersaing, baik di level lokal, nasional maupun internasional. Oleh karenanya loyalitas, militansi dan kemampuan akademik yang mumpuni dari peserta beasiswa harus menjadi pertimbangan dalam seleksi yang akan datang.

"Seleksi diadakan dua tahap. Tahap pertama oleh PW Pergunu dan tahap kedua oleh Pascasarjana Unwahas. Dengan begitu loyalitas, militansi dan kemampuan akademik akan benar-benar bisa  diketahui dan menjadi pertimbangan dalam meluluskan peserta," kata Rektor Unwahas H Mahmutarom.

Ia menegaskan seleksi dalam dua tahap tersebut bukan berarti mempersulit, tetapi untuk mendapatkan peserta yang benar-benar mempunyai niat meningkatkan kualitas akademiknya. "Kalau tidak perguruan tinggi NU yang memikirkan itu, lalu siapa lagi?" tutur Rektor.

Sementara itu, Wakil Ketua Yayasan H Satrian mengatakan motivasi dan integrasi baik di bidang akademik dan administrasi merupakan aspek yang harus difpkirkan bersama.

Syarat utama untuk mengikuti beasiswa ini adalah menjadi anggota Pergunu dibuktikan dengan KTA Pergunu dan memiliki baju batik resmi Pergunu, tutur Faojin.

Adapun dalam MoU tersebut dinyatakan bahwa Universitas Wahid Hasyim Semarang memberikan bantuan pendidikan Program S2 (Pendidikan Agama Islam dan S2 Muamalat/Hukum Ekonomi Syariah) dan S3 (Pendidikan Agama Islam). Bantuan pendidikan SPP Program S2 dan S3 sebesar 50 persen.

Seleksi akan diadakan oleh PW Pergunu Jateng dan Universitas Wahid Hasyim dengan runtutan waktu sebagai berikut:

1. Penyerahan berkas persyaratan pendaftaran 29 Juni - 21 Agustus 2019
2. Seleksi Administrasi 22 – 24 Agustus 2019
3. Ujian Kompetensi oleh PW Pergunu Jateng 30 Agustus 2019
4. Ujian Seleksi oleh PPs Unwahas 30-31 Agustus 2019
5. Pengumuman Hasil Seleksi 5 September 2019
6. Pendaftaran dan Registrasi bagi yg lulus seleksi 6-14 September 2019
7. Perkuliahan Mahasiswa PPs Unwahas 16 September 2019
8. Peserta wajib memakai Batik Pergunu dan bawahan hitam pada saat mengikuti Ujian Seleksi.

Sementara materi Ujian Seleksi meliputi Psikotes, Pengetahuan Umum (Ke-Aswaja-an), Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Wawancara.

Persyaratan Akademik meliputi:
1) Calon peserta adalah Anggota Pergunu Jawa Tengah dibuktikan dengan KTA Pergunu
2) Berijazah S1 (bagi pendaftar S2) dan S2 (bagi pendaftar S3) dengan IPK minimal 3.0
3) Memiliki kemampuan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.

Persyaratan Administrasi
Calon peserta mengajukan permohonan tertulis untuk memperoleh bantuan Program Beasiswa Strata-2 dan Srata-3 kepada Ketua PW Pergunu Jawa Tengah, melalui Perguruan Tinggi yang dituju sesuai jurusan yang diminati dengan lampiran sebagai berikut:
1) Fotocopy ijazah dan transkrip nilai S1 yang telah dilegalisir bagi pendaftar S2
2) Fotocopy ijazah dan transkrip nilai S2 yang telah dilegalisir bagi pendaftar S3
3) Surat Rekomendasi dari Pengurus Cabang Pergunu setempat
4) Surat Ijin Belajar dari Pimpinan Tempat Mengajar
5) Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
6) Fotocopy Kartu Tanda Anggota (KTA) Pergunu
7) Daftar Riwayat Hidup
8) Surat pernyataan sanggup menyelesaikan studi dalam 4 (empat) semester (bagi pendaftar S2) dan 7 (tujuh ) semester (bagi pendaftar S3) ditandatangani di atas materai Rp.6000; dan apabila dalam waktu tersebut tidak bisa menyelesaikan studi maka selanjutnya biaya ditanggung sepenuhnya oleh yang bersangkutan yakni bagi S2 registrasi Rp500.000 pers semester, dan bagi S3 Rp5.000.000 per semester.
9) Pas Foto berwarna ukuran 3 x 4 sebanyak 5 lembar
10) Rencana Proposal Tesis (bagi pendaftar S2) sebanyak 2 Exemplar
11) Rencana Proposal Desertasi, minimal 20 halaman ukuran kertas A4 dengan sepasi 1,5 (bagi pendaftar S3) sebanyak 4 Exemplar.
12) Melampirkan Foto copy Piagam Penghargaan (jika ada)

Semua berkas dimasukkan ke dalam amplop besar dan ditujukan kepada 'Panitia Seleksi S2 dan S3 Beasiswa PERGUNU JATENG Tahun 2019 (an. Sdr. Imam Khoirul U.)' dan disertai dengan identitas pengirim. Seluruh berkas dikirimkan melalui Pos Kilat Khusus Tercatat paling lambat tanggal 21 Agustus 2019 (cap pos) atau datang langsung ke Kantor Fakultas Agama Islam UNWAHAS Jl Menoreh Tengah X/22 Sampangan Kota Semarang. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 11 Juli 2019 23:15 WIB
Sikap Wasathiyah NU Dalam Teori 'Kasab'
Sikap Wasathiyah NU Dalam Teori 'Kasab'

Jember, NU Online  
Salah satu ciri khas sekaligus keunggulan NU adalah penekanan sikap wasthiyah (moderat) yang merupakan bagian dari ajaran Islam Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Tidak hanya dalam menyikapi persoalan kebangsaan sebagaimana selama ini kerap diperbicangkan. Namun dalam  masalah tauhid, sikap moderat juga digunakan.

“Dalam masalah apapun, NU selalu mengambil peran wasathiyah, termasuk dalam terori kasab (usaha),” ucap Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat mengisi pengajian Aswaja di aula kantor PCNU Jember, Selasa (9/7).malam.

Menurutnya, dalam teori kasab, terdapat dua kelompok besar yang pemikirannya ‘saling’ berhadapan satu sama lain. Yaitu kelompok Qodariyah dan Jabariyah. Menurut Jabariyah, manusia tidak punya kekuatan. Manusia tak ubanya bagai wayang yang bisa bergerak jika digerakkan oleh dalangnya, sehingga tak punya kreasi, karena kekutannya berada di tangan sang dalang (Allah).

Ironisnya, dengan pemahaman yang demikian itu, kelompok Jabariyah pernah mengambil legitimasi terhadap perbuatan sewenang-wenang penguasa yang disebutnya semua adalah atas kehendak Allah.

“Jadi meskipun penguasa berbuat lalim masih ditoleransi dengan menyandarkan pada pemahaman bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah,” terangnya.

Sedangkan kelompok Qodariyah memandang manusia sebagai pelaksana tunggal dalam memanfaatkan kekuatannya yang diberikan oleh Allah. Jadi apapun yang dilakukan oleh manusia  tidak ada hubungannya dengan kehendak Allah, karena perbuatan manusia adalah urusan manusia sendiri.

“Nah, NU dengan Aswajanya berada di antara dua kelompok ini,” tukasnya.

Gus Aab, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa manusia memang diberi kebebasan untuk melakukan apapun, namun kekuatannya tetap di bawah bayang-bayang  kekuasaan Allah. Sehingga usaha apapun yang dilakukan, dan apapun yang terjadi bukan semata-mata karena usaha manusia tapi juga ada campur tangan kehendak Allah.

Dikatakannya, ada rumusan yang sangat elok dari Abul Hasan  Al-Asy’ari terkait dengan teori kasab. Al-Asy’ari mengimbau agar manusia selalu percaya kepada kekuatan dirinya tanpa mengabaikan kemahakuasaan Allah, dengan kalimat yang bijak: Jangan pikirkan sejauh mana pengaruh takdir terhadap usaha yang akan anda lakukan, dan jangan pula anda berpikir sejauh mana pengaruh usaha yang anda lakukan terhadap hasil yang akan dicapai.

“Jika usaha menggunakan format pemikiran Al-Asy’ari, maka manusia tak akan stres jika usahanya gagal, dan tak akan sombong jika usahanya berhasil,” pungkasnya. (Aryudi AR)


Kamis 11 Juli 2019 22:30 WIB
Terbiasa Disiplin, Santri Bisa Jadi Tentara
Terbiasa Disiplin, Santri Bisa Jadi Tentara
Heri (dua dari kiri) santri yang jdi tentara
Subang, NU Online
Lulusan pesantren tidak semuanya akan menjadi ustadz atau kiai, seleksi alam akan membawa santri masuk ke dalam berbagai profesi yang berbeda, satu di antaranya di bidang militer, bahkan santri sangat berpotensi berkarir di dunia militer karena kebiasaan disiplin sudah diterapkan di pesantren.

"Alhamdulillah saat Heri (santrinya yang jadi TNI) ikut seleksi dan latihan di TNI, tadi dia bilang tidak terlalu kaget dan dianggap sudah biasa karena kebiasaan disiplin ketika mondok disini," ungkap Kiai Musyfiq.

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Attawazun Kalijati Subang, Jawa Barat KH Musyfiq Amrullah saat menerima kunjungan alumni pesantrennya yang saat ini menjadi anggota TNI dan berdinas di Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu (10/7).

Dijelaskan, santri punya nilai lebih ketika mengikuti seleksi militer baik di institusi TNI maupun Polri karena santri memiliki nilai religius yang memang pada dasarnya tujuan utama santri adalah tafaqquh fiddin (memahami dan mendalami ilmu-ilmu agama).

"Peran santri yang notabene disiapkan untuk penerus ulama, kini santri bisa hadir dan dibutuhkan di berbagai kelompok profesional akibat tuntutan zaman, termasuk dalam segmen militer," tandas mantan Ketua PCNU Subang dua periode itu.

Karena, kata dia, santri dipandang sudah terbiasa dalam menjalani kehidupan yang disiplin, berkarakter, dan mandiri. Maka wajar kalau dunia militer membutuhkan sosok santri masuk dalam komunitasnya.

Di semua pesantren, tambah Wakil Katib PWNU Jawa Barat itu, para santri dilatih disiplin mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, kebiasaan disiplin inilah yang akan membentuk karakter dan potensi santri yang akan menjadi bekal hidupnya di masa depan.

"Sebenarnya setiap manusia itu punya potensi di berbagai bidang, tinggal bagaimana para orangtua mengetahui dan memoles potensi anaknya itu," ungkapnya.

Lebih lanjut Kiai Musyfiq mengutip salah satu Hadits Nabi yang menyatakan bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan 'fitrah' yang ditafsirkan sebagai lingkungan dan potensi sehingga orangtua ditantang untuk menggali dan memoles potensi tersebut agar bisa berkilau sebagaimana batu berangkal yang diolah dan dipoles jadi batu akik yang punya karakter dan nilai.

"Fitrah ada juga yang mengartikannya sesuatu yang kosong, sehingga bisa dibentuk apapun oleh lingkungannya, tapi sebagian lagi ada juga yang mengartikannya adalah potensi," ujarnya.

Potensi ini, lanjut dia, diberikan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam surat At-Tin fi ahsani taqwim, namun demikian potensi ini akan terbenam dan tidak akan muncul jika dibiarkan begitu saja karena tidak ada yang menggali dan memolesnya. 

"Jika orangtua belum berhasil mengetahui potensi dan karakter anaknya, masukkanlah ke pesantren Insyaallah seiring berjalannya waktu potensi anak tersebut akan terlihat," tutupnya. (Aiz Luthfi/Muiz)
Kamis 11 Juli 2019 22:0 WIB
Pahlawan Demokrasi di Pontianak Terima Bantuan dari Gusdurian
Pahlawan Demokrasi di Pontianak Terima Bantuan dari Gusdurian
Pontianak, NU Online
Gelaran Pemilihan Umum atau Pemilu telah usai. Namun ada yang tersisa dari pesta demokrasi tersebut, yakni gugurnya sejumlah petugas yang kemudian disebut sebagai pahlawan demokrasi. 

Sebagai bentuk kepedulian, Jaringan Gusdurian menyalurkan santunan untuk keluarga penyelenggara Pemilu yang gugur dalam tugas. Kali ini bantuan disalurkan kepada ahli waris di jalan Komyos Sudarso, gang Kelapa 1 No.01 Kecamatan Pontianak Barat, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (10/7). 

“Ini adalah sebagai komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi, Jaringan Gusdurian turut serta mendukung penyelenggaraan Pemilu 2019 secara damai dan demokratis sesuai prnsip yang diajarkan Gus Dur,” kata Jay Akhmad. 

Koordinator Sekretaris Nasional atau Seknas Jaringan Gusdurian ini mengemukakan sangat peduli dengan berita gugurnya sejumlah petugas Pemilu. “Mereka adalah para pejuang demokrasi yang gugur dalam menjalankan tugas, kami turut berempati dan berbela sungkawa,” ungkapnya. 

Sebagai bentuk empati, Seknas bekerja sama dengan kitabisa.com, telah membentuk relawan untuk menyalurkan bantuan kepada ahli waris para penyelenggara Pemilu yang meninggal dalam menjalankan tugas. 

“Kami akan menyalurkan santunan ke 51 korban di 34 daerah atau  kabupaten di seluruh Indonesia,” jelasnya. 

Sedangkan Mohammad selaku Koordinator Jaringan Gusdurian Pontianak menyampaikan bahwa dalam menjalankan tugas, relawan melakukan pendataan korban guna penyaluran bantuan. Juga pendokumentasian selama peyaluran bantuan, bertindak atas nama dan menjaga nama baik Jaringan Gusdurian. 

“Untuk area Pontianak, kami telah melakukan penyaluran,” kata Mohammad.

Dirinya terus berkoordinasi dengan Seknas maupun relawan di daerah agar penyaluran ini berjalan optimal dan tepat sasaran. 

“Kami berharap semoga para keluarga yang ditinggalkan bisa diberikan kekuatan dan ketabahan pasca ditinggalkan almarhum ataupun almarhumah yang gugur dalam bertugas,” tuturnya. 

Menutup paparannya, komunitas Gusdurian Pontianak  menyatakan bahwa santunan ini tentunya tidak bisa mengganti kerugian imateril keluarga.

“Namun kami berharap hal ini bisa menjadi pengingat bahwa duka keluarga yang ditinggalkan merupakan duka kita semua,” tandasnya.

Suharto selaku orang tua almarhumah Wulan yakbni Panwascam Pontianak Barat mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. 

“Kami juga kagum kepada sosok Gus Dur sebagai mantan presiden yang sangat memerhatikan masyarakat kecil dan memberikan teladan kepada masyarakat,” kata Suharto. Dirinya juga mendoakan Komunitas Gusdurian agar semakin bermanfaat untuk bangsa, negara dan agama. (Lulu/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG