IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

LPBINU Jateng Gencarkan Kampanye Islam Ramah Lingkungan

Jumat 12 Juli 2019 2:0 WIB
Bagikan:
LPBINU Jateng Gencarkan Kampanye Islam Ramah Lingkungan
Semarang, NU Online
Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah berkomitmen menggencarkan pemahaman Islam ramah lingkungan kepada masyarakat.

Ketua PW LPBI NU Jateng, Winarti mengatakan bahwa ajaran agama Islam memerintah kepada umatnya untuk sensitif, sadar dan ramah terhadap lingkungan dan sosial. Hal tersebut sebagai perwujudan khalifah yang memperhatikan kemaslahatan dan kemakmuran bumi.

"Sebagai salah satu lembaga yang mendapat amanah dalam isu kemanusian, bencana dan lingkungan, dari PWNU Provinsi Jateng, tentu kita berkewajiban mengusung pemahaman Islam yang ramah lingkungan khususnya di provinsi ini," ujarnya, Kamis (11/7).

Wilayah Jawa Tengah, jelas dia, memiliki banyak jenis potensi bencana baik terkait aktifitas manusia seperti banjir, kebakaran dan polusi. Termasuk aktifitas alam seperti gunung berapi, tsunami, tanah longsor, hingga gempa.

"Pada sisi yang lain, agama Islam mengenal pembahasan kesalihan yang berorentasi ke pemikiran keagamaan yang memiliki nilai praksis pada keberpihakan pada pembangunan sosial lingkungan  yang berkelanjutan," terangnya.

Beberapa waktu berselang, LPBI bersama CARE CAFE menyelenggarakan diskusi di Semarang. Tema yang diangkat adalah Kearifan Lokal: Antara Kesalehan Ritual, Sosial dan Lingkungan.

Aktifis lingkungan Muzzayinul Arif berharap PW LPBI NU Jateng terus berupaya memasukkan isu-isu lingkungan ke dalam berbagai kegiatan keagamaan sampai ke seluruh pelosok desa yang paling jauh dari pusat keramaian.

Misalnya dalam acara kenduri, syukuran, tahlilan dan kegiatan-kegiatan sejenisnya. “Kegiatan-kegiatan ini menjadi sarana untuk tidak saja memupuk pemahaman ajaran Islam yang memberi rahmat bagi sekalian alam, akan tetapi juga meningkatkan ikatan atau kohesi sosial yang ada,” katanya. Sehingga solidaritas kemanusiaan dan lingkungan tercermin dalam perilaku masyarakat, lanjutnya.

Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) sekaligus aktifis lingkungan yang intens dalam persoalan sanitasi air dan kelestarian lingkungan Rudatin Windraswara mengemukakan, praktik kearifan lokal yang ada di sekitar Jawa Tengah dan Indonesia tersirat ada upaya pemuliaan lingkungan dan sosial.

"Salah satu contoh aktual adalah kegiatan adat terkait  sumber air yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah,” ungkapnya. Contoh lain adalah misalnya bagaimana kearifan menjaga wilayah hulu yang biasanya masih berupa lahan dengan vegetasi lebat untuk dianggap sakral dan secara tersirat juga sebagai konservasi daerah tangkapan sumber air, lanjutnya.

Semua tindakan dan perilaku tersebut, kata dia, adalah bentuk kearifan lokal yang harus dibingkai dengan konteks kekinian. "Karena ternyata mengandung arti sebagai bentuk kesalehan ritual, sosial dan sekaligus lingkungan," tandasnya. (Red: Ibnu Nawawi)
 

Tags:
Bagikan:
Jumat 12 Juli 2019 23:30 WIB
Mahasiswa Unwaha Jombang Adakan Pelatihan Komputer bagi Warga
Mahasiswa Unwaha Jombang Adakan Pelatihan Komputer bagi Warga
Peserta pelatihan komputer oleh mahasiswa KKN Unwaha Jombang.
Jombang, NU Online
Mahasiswa Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah atau Unwaha Jombang, Jawa Timur memberikan pelatihan komputer. Kegiatan tersebut sebagai bagian dari rangkaian Kuliah Kerja Nyata atau KKN yang diselenggarakan di Desa Mundusewu, Kecamatan Bareng.  

Pelatihan komputer difokuskan kepada para remaja dari setiap dusun di Desa Mundusewu. Masing-masing dusun mengirimkan perwakilan dua warga untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari tersebut.

“Ada dua bahan pelatihan yang disampaikan yaitu pengoperasian microsoft office dan desain grafis menggunakan software coreldraw,” kata Febrian, Jumat (12/7). 

Menurut pemateri pelatihan tersebut, kegiatan digelar sejak Kamis hingga Jumat (11-12/7) dengan menempati salah satu ruangan di SDN Mundusewu 1.

“Tujuan diadakannya pelatihan ini untuk membantu masyarakat agar tidak hanya melek teknologi, akan tetapi dapat membuka peluang di era digital ini,” jelasnya. Pelatihan juga menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu masyarakat, lanjutnya.

Dalam penjelasannya, pelatihan hanya sebagai salah satu dari sekian banyak program kerja yang dilaksanakan selama KKN berlangsung. “Tujuan besar dari kegiatan ini agar dapat membawa perubahan terhadap masyarakat khususnya remaja supaya lebih melek teknologi,” ungkapnya.

Dirinya berharap, para peserta dapat menyerap ilmu yang telah diberikan serta mampu mempraktikkannya. "Semoga peserta yang hadir bisa mengembangkan apa yang telah dipelajari dari pelatihan ini," harapnya.

Sementara itu, Lela, salah satu peserta perwakilan dari Dusun Banyu Urip menyatakan bahwa pelatihan sangat bermanfaat. “Diharapkan bisa membuat masyarakat khususnya para remaja di Desa Mundusewu menjadi lebih maju dan berkembang,” katanya.

Lela juga mengakui bahwa awalnya tidak terlalu tertarik terhadap pelatihan semacam ini karena dipandang sangat ribet. “Tetapi setelah mengikuti pelatihan, ternyata materinya tidak rumit dan cukup mudah dipelajari,” akunya.

Selama pelatihan, peserta terlihat sangat antusias dalam mengikuti materi yang disampaikan. Tidak sedikit dari mereka yang turut menanyakan sejumlah kesulitan saat pelatihan berlangsung. 

Pemateri cukup cekatan dalam memberikan penjelasan tambahan, sehingga peserta bisa memahami materi yang telah diberikan. (Umam Nababan/Ibnu Nawawi)

Jumat 12 Juli 2019 21:0 WIB
Dakwah NU Harus Menyentuh Kebutuhan Dasar Warga
Dakwah NU Harus Menyentuh Kebutuhan Dasar Warga
foto: ilustrasi
Jombang, NU Online
Dakwah yang dilakukan kader Nahdlatul Ulama (NU) yang berada di Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) hendaknya berbeda dengan para pendakwah pada umumnya. 

"Setiap dai NU harus lebih memperhatikan pola atau strategi dakwah yang digunakan. Apakah strategi tersebut sudah bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar jamaah atau belum bahkan tidak sama sekali," ungkap Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur, H Didin Ahmad Sholahudin.

Menurut dia, yang sangat penting untuk dijadikan kajian mendalam oleh para dai NU adalah menyusun strategi yang tepat guna untuk para jamaahnya, sehingga nilai-nilai dakwah tersampaikan dengan baik kepada mereka.

"Karena yang kita alami, arah dan strategi dakwah kita pascapelatihan apapun di NU seringkali hanya itu-itu saja dan monoton serta kerap tak bersinggungan langsung dengan kebutuhan dasar warga," katanya, Jumat (12/7).

Sebetulnya, kata pria yang pernah memimpin Pengurus Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jombang ini, NU punya banyak potensi serta basis dakwah yang jelas dalam hal membumikan dakwah-dakwahnya. Meski demikian masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, yaitu para dai dituntut bisa merumuskan strategi yang tepat.

"Dan saya sering menamakan dengan istilah peta dakwah strategis NU," ujar Gus Didin sapaan akrabnya.

Menurut pandangannya, LDNU Jombang saat ini punya kesempatan baik untuk memetakan dan merumuskan strategi dakwah yang bisa bersinggungan langsung dengan kebutuhan masyarakat (jamaah). 

"Melalui Pendidikan Kader Dakwah Nahdlatul Ulama (PKDNU) angkatan kedua yang diselenggarakan sejak 12 hingga 14 Juli mendatang, LDNU bisa merumuskan strategi-strategi dakwah lebih mendalam," jelasnya.

Setidaknya narasumber yang dipercayai menyampaikan materi-materi bisa membahas peta dakwah strategis NU, khususnya di Jombang. "Saya sangat berharap pembicara dapat mengulas dengan lugas dan detail tentang peta dakwah di seluruh kecamatan di Jombang, sekaligus memberikan arahan yang strategis dalam penerapan dakwah NU seharusnya," ucapnya.

Menurut dia, ada satu materi yang menarik dan mendukung dalam pembahasan pemetakan strategi dalam berdakwah. Yakni metodologi dakwah NU. Materi ini akan mnjadi salah satu materi dari sekian materi dalam pengkaderan dai NU melalui PKDNU nanti.

"Sehingga pelatihan kita yang seringkali hanya sekedar mencetak kader dakwah, kali ini seharusnya bisa lebih dari itu," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Jumat 12 Juli 2019 20:30 WIB
Konfercab Pergunu Majalengka Kuatkan Perannya bagi Masyarakat
Konfercab Pergunu Majalengka Kuatkan Perannya bagi Masyarakat
Konfercab Pergunu Majalengka, Jumat (12/7).
Majalengka, NU Online
Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Majalengka, Jawa Barat mengadakan Konferensi Cabang (Konfercab), Jumat (12/7). 

Ketua Pergunu Majalengka H Cece Saefudin mengajak pada kader muda NU khususnya para guru-guru muda NU Majalengka untuk bersama-sama membangun Pergunu. Majalengka secara historis memiliki irisan dengan beberapa organisasi lainnya. Hal ini tidak dinafikan bawa Pergunu di Majalengka tidak lepas dari tantangan.

"Oleh karenanya, ini merupakan kewajiban para guru-guru muda NU untuk menguatkan dan mengukuhkan Aswaja di kalangan guru-guru Nahdiyin," katanya.

Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pergunu Majalengka dalam masa khidmatnya adalah mengadakan pelatihan kurtilas bagi guru-guru NU dengan memasukan nilai-nilai Aswaja yang diselenggarakan di Sabilul Chalim Desa Leuwimunding. Selain itu, kepengurusan Pergunu Majalengka juga telah mengupayakan peluang beasiswa S2 dan S3 bagi para guru-guru NU.

Hal senada diutarakan oleh Saepullah selaku Ketua Pergunu Jawa Barat yang menyatakan selah satu program Pergunu ke depan adalah penguatan moderasi Islam bagi para guru-guru Nahdiyin melalui potensi akademik. Caranya dengan mendorong semua anggota Pergunu minimal menempuh pendidikan sarjana.

"Di samping itu, semua anggota Pergunu harus memiliki potensi keaswajaan. Jangan sampai orang Pergunu sendiri tidak memahami Aswaja," katanya.

Realita yang tak dapat dinafikan adalah banyak anggota Pergunu sendiri yang tidak mengenyam pendidikan pesantren namun aktif di NU. Secara amaliah, kata Saepullah, mereka memahami NU namun dalam harakiah belum mumpuni. "Di sinilah perlu diperkuat potensi keaswajaan bagi para anggota Pergunu," ujarnya. 

Sapullah juga mengajak para generasi muda Pergunu untuk sama-sama membangun NU Majalengka. Meskipun Pergunu terbilang baru sebagai salah satu Banom yang ada di PCNU Majalengka, dengan potensi yang dimiliki para kadernya sangat optimis memiliki potensi untuk maju.

Sementara itu, Dedi Mulyadi selaku Ketua PCNU Majalengka, menjelaskan secara historis bagaimana perjalanan NU hingga berdirinya PCNU Majalengka. Secara singkat NU datang ke Majalengka bertepatan dengan berdirinya dengan NU secara Nasional. Tidak terlepas dari adanya pendiri NU sendiri berasal dari Majalengka yakni KH Abdul Halim.

"NU di Majalengka memiliki potensi berkembang cukup besar. Oleh karenanya diperlukan khidmat para generasi muda Pergunu untuk kembali memperjuangakan NU yang telah dirintis oleh para pendiri NU," kata Dedi.

Ia juga berpesan, siapa pun yang terpilih sebagai ketua Pergunu tetaplah bersatu dan bersama-sama membangun Pergunu ke depannya. (Dewi Anggraeni/Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG