IMG-LOGO
Daerah

Aktif di IPNU-IPPNU, Sarana Diakui sebagai Santri Mbah Hasyim


Senin 15 Juli 2019 18:30 WIB
Bagikan:
Aktif di IPNU-IPPNU, Sarana Diakui sebagai Santri Mbah Hasyim
Suasana Makesta PAC IPNU-IPPNU Mojoanyar, Mojokerto.
Mojokerto, NU Online
Banyak cara untuk diakui sebagai santri dari KHM Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim). Salah satunya dengan menjadi pengurus NU. Karena Mbah Hasyim berkata siapa yang mau mengurusi NU, maka akan diakui sebagai santrinya. Dan beliau mendoakan yang bersangkutan husnul khatimah beserta anak cucunya.

Penegasan disampaikan Chafida selaku Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

Hal tersebut disampaikannya pada acara Masa Kesetiaan Anggota atau Makesta Mojoanyar yang berlaangsung di MI Roudlotul Hikmah Babatan, Desa Ngarjo, Kecamatan Mojoanar, Sabtu hingga Ahad (13-14/7).

Chafida menjelaskan, Makesta Mojoanyar ini mengambil tema muhibbah, muhimmah, iqstiqamah. Selain niat yang menjadi langkah pertama, selanjutnya adalah muhibbah dari kata mahabbah yang artinya cinta.

“Kita diharapkan cinta kepada apa yang kita lakukan dan apa yang kita pilih. Cinta terhadap agama, juga terhadap NU, dan akhirnya cinta organisasi IPNU dan IPPNU,” katanya. Dengan demikian akan bisa dan mampu memberikan apa saja terhadap apa yang dicintai, lanjutnya.  

Bekerja keras dan loyalitas merupakan arti dari kata kedua yakni muhimmah. dan yang terakhir adalah istikamah. “Beristikamah di NU, khususnya di IPNU IPPNU dilakukan dengan menjaga loyalitas dan konsisten dalam berorganisasi sejak pelajar, sehingga kelak di hari tua akan bermanfaat di masyarakat,” kata Chafida.

Ia kembali mengingatkan pesan KHM Hasyim Asy'ari yang berkata siapa mau mengurusi NU maka akan dijadikan santrinya. “Siapa yang menjadi santriku, kata Mbah Hasyim akan didoakan husnul khatimah beserta anak cucunya,” jelasnya.

Karena itu kesempatan berkhidmah di IPNU dan IPPNU juga sebagai sarana diakui sebagai santri Mbah Hasyim. “Maka marilah kita menjadi santrinya Mbah Hasyim dengan cara berjuang di IPNU IPPNU dan beristikamah hingga berakhir dengan husnul khatimah,” harapnya.

Halimatus Sa’diyah dari Pimpinan Cabang (PC) IPPNU Kabupaten Mojokerto memberikan pesan bahwa Makesta adalah sebagai sarana menanamkan keyakinan. “Makesta juga sebagai sarana menanamkan keyakinan bahwa IPNU-IPPNU merupakan pilihan organisasi yang tepat sebagai sarana perjuangan,” tegasnya. 

Kegiatan ini bernama Mario yang merupakan singkatan dari Makesta Mari Riyoyo. Kegiatan merupakan gerbang awal rekan rekanita menjadi kader pelajar NU dalam menjalani organisasi di IPNU IPPNU. 

Mohammad Aslan Bakhris berharap peserta memiliki rasa kecintaan terhadap IPNU dan IPPNU. “Berani dan cerdas dalam berorganisasi hingga konsisten dalam menegakkan Aswaja di Nahdlatul Ulama untuk segmen pelajar,” kata ketua pelaksana ini.

“Dalam mengikuti Makesta, peserta harus menumbuhkan niat yang ikhlas dalam menyerap semua materi yang diberikan dan sungguh-sungguh dalam mengamalkan nilai-nilai aswaja di Nahdlatul Ulama,” katanya. 

Kegiatan tidak hanya diikuti peserta dari wilayah Mojoanyar, melainkan juga ada dari PAC Bagsal, PC Kota Mojokerto hingga PC Lamongan.. 

Pembukaan Makesta dihadiri PC IPNU IPPNU Kabupaten Mojokerto, Rais dan Ketua MWCNU Mojoanyar,  Muspika dan badan otonom seperti Muslimat NU, Fatayat NU, serta pengurus yayasan MI Roudlotul Hikmah. (Syaiful Alfuat/Ibnu Nawawi).

Bagikan:
IMG
IMG