IMG-LOGO
Internasional

Arab Saudi Siap Sambut Jamaah Haji Via Jalur Laut Tahun Ini

Selasa 16 Juli 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Arab Saudi Siap Sambut Jamaah Haji Via Jalur Laut Tahun Ini
Ilustrasi: jamaah haji Indonesia (gulf business)
Jeddah, NU Online
Arab Saudi siap menyambut para jamaah haji yang datang melalui Pelabuhan Jeddah tahun ini. Otoritas terkait Saudi bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan memastikan kenyamanan para jamaah dan juga memfasilitasi mereka, mulai dari tiba di Saudi hingga pulang ke negara asal.

Seperti dilaporkan Arab News, Selasa (16/7), Pelabuhan Jeddah akan mulai menerima kedatangan para jamaah haji pada 17 Juli sampai 6 Agustus 2019. Otoritas Saudi memperkirakan, jumlah jamaah yang haji via jalur laut tahun ini mencapai 22 ribu orang, atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 16 ribu jamaah.

Pelabuhan Jeddah kini didisain mampu menampung 800 orang per jam. Ada lima ruang tunggu di pelabuhan tersebut; tiga untuk kedatangan dan dua untuk keberangkatan. Semua ruang tunggu dilengkapi dengan peralatan dan fasilitas untuk melayani para jamaah haji dan membantu mereka menyelesaikan prosedur keluar dan masuk Saudi.

Diantara fasilitas dan peralatan yang disediakan di Pelabuhan Jeddah diantaranya 28 bus baru, 700 troli bagasi, dan 14 perangkat canggih untuk mengangkut bagasi. Tidak hanya itu, lebih dari 266 petugas ditempatkan di pelabuhan itu untuk melayani para jamaah tahun ini. Mereka berposisi sebagai pilot maritim, kapten kapal, pengawas teknis dan operasional, tim keamanan, staf yang bertanggung jawab untuk operasi di stasiun, serta manajemen urusan teknis.

Tidak hanya Pelabuhan Jeddah, Pelabuhan Yanbu juga memiliki terminal untuk menerima kedatangan jamaah haji. Setelah mengalami perluasan, pelabuhan ini bisa menampung jamaah hingga 2.800 orang, dari sebelumnya 1.000 orang. 

Pelabuhan Daba juga telah mulai menerima jamaah haji yang datang ke Saudi via jalur laut. Pelabuhan ini diproyeksikan mampu menampung 40 ribu jamaah sepanjang musim haji tahun ini. 

Terus tingkatkan pelayanan

Pemerintah Arab Saudi terus meningkatkan pelayanan bagi para jamaah haji setiap tahunnya. Pekan lalu, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi akan mengeluarkan kartu pintar berteknologi tinggi untuk 25 ribu jamaah haji di Mina tahun ini. Langkah ini merupakan program rintisan yang diluncurkan pihak otoritas terkait untuk menjaga keamanan dan keselamatan jamaah haji.

Kartu pintar ini menyimpan informasi pribadi jamaah haji. Mulai dari status kesehatan, tempat tinggal, hingga perincian perjalanan tiap jamaah yang memilikinya. Tidak hanya itu, kartu ini juga dilengkapi dengan detektor lokasi untuk melacak pergerakan jamaah haji. Sementara pemantauan mereka dikelola di ruang kontrol di Mina. 

“Ini adalah tahap eksperimental dari inisiatif haji cerdas yang sedang kami kerjakan, dan kami akan mempelajari sejauh mana hal itu mungkin menguntungkan bagi jamaah haji,” kata Kepala Perencana dan Strategi di Kementerian Haji dan Umrah, Saudi Amr al-Maddah, dikutip laman Arab News, Kamis (11/7) lalu.

Dikatakan al-Maddah, jumlah pemegang kartu pintar akan terus ditingkatkan setiap tahunnya. Pihaknya mengaku siap bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait dari negara-negara lainnya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Selasa 16 Juli 2019 16:0 WIB
Hal-hal yang Kini Boleh Dilakukan di Saudi, padahal Dulu Dilarang Keras
Hal-hal yang Kini Boleh Dilakukan di Saudi, padahal Dulu Dilarang Keras
Bendera Arab Saudi (Anadolu Agency)
Riyadh, NU Online
Arab Saudi dikenal sebagai negara yang ketat dan ‘banyak mengatur’ warganya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Banyak larangan yang dihadapi perempuan Saudi seperti menyetir mobil sendiri, datang ke bioskop, menonton sepak bola di stadion dan konser, dan sejumlah larangan lainnya.

Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu banyak hal yang dulunya dilarang dilakukan –terutama perempuan, namun kini diperbolehkan. Lantas, apa saja hal-hal yang kini boleh dilakukan padahal dulu dilarang keras?

Pertama, menonton bola di stadion olah raga. Pada 2018 lalu, perempuan Saudi untuk pertama kalinya diperbolehkan datang ke stadion untuk menonton sebuah pertandingan olah raga. Meski demikian, Saudi tetap menerapkan peraturan ketat, yakni memisahkan tempat duduk laki-laki dan perempuan. Pertandingan antara al-Ahli melawan al-Batin yang digelar pada Jumat, 12 Januari 2018 menjadi penanda diperbolehkannya perempuan menonton di stadion olah raga. 

Sebetulnya pada 2017, pemerintah Arab Saudi sudah mengizinkan perempuan untuk memasuki stadion King Fahd di Riyadh. Namun bukan untuk menghadiri acara pertandingan olah raga, melainkan perayaan Hari Nasional (al-Yaum al-Wathani) yang jatuh pada 23 September. Dikutip dari Arab News, Rabu (20/9/2017), dalam peringatan 'hari kemerdekaan' ke-87 itu para wanita duduk terpisah dari laki-laki lajang.

Kedua, mengendarai kendaraan. Kerajaan Arab Saudi merupakan satu-satunya negara yang melarang perempuan untuk mengemudi mobil. Larangan ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Hingga akhirnya, Senin, 4 Juni 2018, Otoritas Arab Saudi mengeluarkan Surat Izin Mengemudi (SIM)  bagi perempuan. 

10 perempuan mendapatkan SIM Saudi setelah menukarkan SIM internasionalnya di Departemen Lalu Lintas Umum di beberapa kota di Saudi. Pada pekan selanjutnya, ada sekitar dua ribu perempuan Saudi yang akan mendapatkan SIM, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Resmi Kerajaan Saudi, SPA.

Hal ini menyusul kebijakan baru Kerajaan yang ditandatangani Raja Salman pada September 2017 yang menyatakan bahwa perempuan Saudi akan diizinkan mengemudi ‘sesuai dengan hukum Islam’ per 24 Juni 2018.

“Ini merupakan momen bersejarah bagi setiap perempuan Saudi,” kata pembaca acara televisi Saudi, Sabika al-Dosari, setelah larangan mengemudi bagi perempuan dicabut, kepada kantor berita AFP dikutip NU Online, Ahad (24/6/2018) dari bbc.com. 

Ketiga, perempuan boleh keluar rumah tanpa mahram. Pada Selasa, 18 September 2018 lalu, Universitas Princess Nourah binti Abdulrahman yang baru-baru ini membolehkan mahasiswinya untuk pergi dan pulang sendiri dari kampusnya tanpa didampingi mahram.  

Dikutip dari bbc, Selasa (18/9), ada beberapa alasan mengapa Universitas Princess Nourah binti Abdulrahman menerapkan langkah yang tidak biasa itu. Diantaranya adalah memudahkan aktivitas mahasiswi dan keluarga, mengurai kemacetan di luar kampus, dan melonggarkan sistem mahram bagi perempuan Saudi.

Menurut Undang-Undang Saudi, peran dan hak perempuan sangat dibatasi. Saat bepergian, mereka harus mendapatkan izin dari wali laki-laki atau keluarga. Begitu juga ketika menikah atau keluar dari penjara. Tentu saja itu sangat memberatkan bukan hanya bagi perempuan, tapi juga laki-laki karena mereka harus menemani perempuan mahramnya.

Apa yang dilakukan Universitas Princess Nourah binti Abdulrahman itu hendak diadopsi pemerintah Saudi. Dilaporkan, Saudi akan mencabut aturan yang menyebutkan kalau perempuan harus mendapatkan izin mahramnya atau laki-lakinya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Dengan demikian, aturan yang mengatur sistem perwalian wanita di Saudi akan semakin longgar.

Rencananya, sesuai laporan Wall Street Journal yang mengutip sumber senior pemerintah pada Kamis (11/7/2019), aturan itu akan dicabut tahun ini. Maka dengan itu, perdebatan mengenai sistem perwalian di Saudi akan berakhir. 

Sebelumnya, laki-laki ‘mengontrol’ istri atau mahram perempuannya melalui aplikasi bernama Absher. Namun, aplikasi pengontrol buatan pemerintah itu mendapat banyak kecaman. Hingga akhirnya, pemerintah berencana untuk mencabut aturan perempuan harus mendapatkan izin dari pria ketika bepergian.

Keempat, menonton bioskop. Arab Saudi membuka bioskop pertama di ibu kota Riyadh pada 18 April 2018. Selama lima tahun ke depan, kedua pihak diperkirakan akan mendirikan 40 bioskop di 15 kota Saudi sebagaimana yang dilaporkan kantor berita SPA. Jumlah itu akan terus meningkat hingga mencapai 100 bioskop di 2 kota Saudi pada 2030.

Pengumuman ini muncul setelah pemerintah Arab Saudi mengumumkan pada Desember 2017 lalu bahwa larangan menonton film di bioskop yang sudah berumur 35 tahun akan dicabut tahun ini. Diketahui, Arab Saudi melarang penuh pemutaran film di bioskop pada 1980-an.

Namun demikian, setiap film yang tayang di bioskop disensor untuk menjaga moral. Menariknya, tidak ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan di bioskop, sebagaimana tempat publik lainnya di Saudi.

Kelima, pengacara perempuan diizinkan membela klien. Pada Selasa, 8 Mei 2018, Kementerian Kehakiman Arab Saudi mengumumkan bahwa kini pengacara perempuan diperbolehkan membela klien di pengadilan nasional. Kementerian Kehakiman juga merilis data bahwa jumlah pengacara perempuan mengalami kenaikan. Jika dibandingkan dengan lima tahun yang lalu, jumlah pengacara perempuan di Saudi melonjak 20 kali lipat lebih pada tahun 2017.

“Pada 2013, hanya ada 10 pengacara berlisensi di Arab Saudi. Kini, 221 pengacara perempuan secara resmi terdaftar di kementerian,” tulis Kementerian Kehakiman Saudi.

Kerajaan Saudi melalui Kementerian Kehakiman mendorong agar perempuan Saudi berkiprah di bidang hukum dan menjadi pengacara.

Keenam, menggunakan WhatsApp dan Skype. Pemerintah Arab Saudi juga mencabut larangan penggunaan aplikasi WhatsApp, Skype, dan lainnya pada 2017 lalu. Sehingga masyarakat Arab kini bebas menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut. Diketahui, pemerintah Saudi melarang penggunaan aplikasi-aplikasi itu pada 2013 silam. 

Menurut otoritas terkait, kebijakan itu dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari efek negatif yang dapat merugikan kepentingan publik. Pemerintah Saudi akhirnya mencabut larangan itu setelah aplikasi internet berkembang begitu massif hingga mempengaruhi perdagangan internasional.

Tidak lain, pencabutan beberapa larangan tersebut adalah bagian dari Visi 2030 yang digagas sang Putera Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Untuk menyukseskan agendanya itu, MBS melakukan berbagai macam reformasi dan modernisasi. (Red: Muchlishon)
Selasa 16 Juli 2019 13:0 WIB
Ribut-ribut Arab Saudi dan Qatar Terkait Haji
Ribut-ribut Arab Saudi dan Qatar Terkait Haji
Ka'bah (Istimewa)
Jakarta, NU Online
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi membantah kalau pihaknya telah menghalang-halangi warga Qatar melaksanakan ibadah haji dan umrah di Makkah. Malah pihak Saudi mengaku sudah membuka pelayanan online untuk mempermudah pemesanan tiket dan tempat tinggal bagi warga Qatar. Pihak Saudi menegaskan, tuduhan itu tidaklah benar.

“Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menolak tuduhan yang disampaikan Kementerian Awqaf dan Islam Qatar bahwa kami menghalangi mereka yang ingin melaksanakan ibadah haji dan umrah,” demikian kutipan pernyataan Kementerian Haji dan Umrah Saudi, seperti dilaporkan laman kantor berita resmi Saudi, SPA, Sabtu (13/7) lalu.

 Saudi menjamin, pihaknya akan menerima semua jamaah haji dari negara manapun dan memperlakukan mereka dengan cara yang sama. Tidak ada yang dibeda-bedakan karena asal negaranya. 

Kementerian Haji dan Umrah Saudi juga meminta, otoritas terkait di Qatar memfasilitasi calon jamaah dari negara tersebut dan menghilangkan segala hambatan yang ada. Sehingga mereka bisa datang ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji dengan lancar.

Meski demikian, karena ketegangan politik antar kedua negara tersebut, pihak Saudi menekankan agar Kementerian Awqaf dan Islam Qatar tidak menggunakan maskapai penerbangan Qatar Airways untuk mengangkut para jamaah, namun menggunakan maskapai internasional lainnya.

Sebelumnya, otoritas Qatar mengatakan kalau warganya kesulitan memesan tiket dan akomodasi untuk keperluan ibadah haji warganya. Arab Saudi dan Qatar tengah berkonflik dalam dua tahun terakhir ini. Ketegangan politik diantaranya keduanya sudah tentu berdampak pada sektor kehidupan masyarakat di dua negara itu. Selama kurun waktu itu, banyak warga Qatar yang dinilai kesulitan melaksanakan ibadah haji dan melakukan banyak hal lainnya yang berhunungan dengan Saudi.

Pada Mei lalu, pemerintah Qatar mendesak Arab Saudi untuk mencabut segala macam larangan dan batasan bagi warga negaranya yang ingin melaksanakan ibadah haji. Menurut Kementerian Awqaf dan Islam Qatar, kebijakan pembatasan perjalanan membuat para pemandu jamaah haji tidak bisa datang ke Saudi untuk memberikan bimbingan kepada para jamaah. Padahal, layanan itu sangat diperlukan para jamaah.

Pada 2016, sebelum berkonflik, ada 12 warga Qatar yang melaksanakan ibadah haji. Namun setelah terjadi konflik, banyak warga Qatar yang memilih melaksanakan perjalanan secara independen ke Saudi untuk melaksanakan ibadah haji.

Sebagaimana diketahui, pada Juni 2017 lalu, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain memblokade Qatar. Alasannya, Qatar dianggap merusak stabilitas di Timur Tengah karena mendukung kelompok teroris, termasuk Ikhwanul Muslimin. Qatar menolak tegas tuduhan itu. Namun ada dugaan bahwa kedekatan Qatar dengan Iran lah yang membuat empat negara tersebut khawatir sehingga melakukan blokade terhadapnya. (Red: Muchlishon)
Senin 15 Juli 2019 16:0 WIB
5 Ribu Kamp Rohingya Hancur Akibat Hujan Deras
5 Ribu Kamp Rohingya Hancur Akibat Hujan Deras
Kamp Pengungsi Rohingya (Istimewa)
Cox’s Bazar, NU Online
Ribuan gubuk yang menjadi tempat tinggal pengungsi Rohingya di kamp pengungsian di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh, hancur akibat hujan lebat yang menerjang wilayah tersebut. Setidaknya, ada 10 orang yang meninggal dalam insiden tersebut.

Dilaporkan AFP, Senin (15/7), Badan Meteorologi Bangladesh menyebut, sejak 2 Juli lalu wilayah distrik Cox’s Bazar dilanda hujan deras dengan curah hujan mencapai 58,5 cm. Cox’s Bazar merupakan lokasi pengungsian bagi 1 juta warga Rohingya yang melarikan diri dari operasi militer Myanmar di wilayah Rakhine 2 tahun lalu. 

Menurut juru bicara Organisasi Migrasi Internasional (IOM), hujan deras tersebut menyebabkan longsor di komplek kamp pengungsian Rohingya. Sebagaimana diketahui, banyak kamp-kamp pengungsian Rohingya berdiri di lereng-lerang bukit yang rapuh. Kondisi semakin buruk karena kamp pengungsia hanya terbuat dari bambu dan terpal saja. IOM merinci, ada sekitar 4.889 kamp pengungsi yang hancur setelah terkena bencana longsor.

Sesuai laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejak April lalu lebih dari 200 longsor terjadi di komplek pengungsian pengungsi Rohingya. Kejadian ini juga berdampak kepada para pengungsi lainnya di Cox’s Bazar. Penyaluran logistik dan aktivitas mereka menjadi terganggu.

Hujan deras yang menyebabkan longsor dan banjir menjadi momok tahunan bagi para pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian Cox’s Bazar. Pada 2017 saja, sedikitnya 170 orang meninggal akibat hujan deras. Geografis tanah yang berbukit-bukit dan banyaknya hutan yang digunduli membuat longsor semakin sering terjadi di wilayah pengungsian Rohingya. 

Sekitar 750 ribu Muslim Rohingya telah meninggalkan kampung halamannya di Negara Bagian Rakhine di barat Myanmar pada 25 Agustus 2017 lalu setelah tentara Myanmar melakukan operasi militer di wilayah tersebut. Mereka kemudian mengungsi ke beberapa wilayah di perbatasan Bangladesh.

PBB menilai, apa yang dilakukan Myanmar sebagai upaya untuk pembersihan etnis atau genosida. Namun demikian, pemerintah Myanmar menolak penilaian itu. Mereka berdalih, operasi militer tersebut adalah dimaksudkan sebagai upaya untuk memerangi kelompok ekstremisme dan terorisme. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG