IMG-LOGO
Fragmen

Respon Gus Dur saat Disarankan Mundur dari Kursi Presiden

Kamis 18 Juli 2019 17:15 WIB
Bagikan:
Respon Gus Dur saat Disarankan Mundur dari Kursi Presiden
Sampai sekarang saya sependapat andai saja Gus Dur mundur sendiri, itu jauh lebih baik. Namun, ya tidak apa-apa. Bangsa Indonesia tidak marah. Mereka menerima Gus Dur dan mengakui disitulah keanehan Gus Dur. (Franz Magnis Suseno dalam Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa, 2017: 136)

Romo Magnis merupakan salah seorang sahabat Gus Dur yang menyarankannya untuk mundur dari kursi presiden ketika dirinya didera politisasi kekuasaan dengan berbagai macam tuduhan. Namun, bukan Gus Dur namanya jika tidak mempunyai keteguhan pendirian. Apalagi posisi Gus Dur tidak terbukti bersalah secara hukum terhadap kasus yang menderanya.

Saat situasinya benar-benar diujung tanduk, Romo Magnis kala itu diminta sejumlah tokoh yang juga kawan-kawan Gus Dur untuk memberikan masukan dan pandangan untuknya mengenai situasi politik yang dihadapi. Empat minggu sebelum Gus Dur dilengserkan, delapan orang kawan mendatangi Gus Dur di istana.

Di istana ada putri Gus Dur yang senantias setia mendampingi ayahnya, Yenny Wahid. Romo Magnis berbicara apa adanya kepada Yenny bahwa Gus Dur sebaiknya mundur ketimbang diturunkan. Mendengar aspirasi tersebut, Yenny mewanti-wanti mungkin Gus Dur bakal marah. Tetapi Yenny tetap mempersilakan Romo Magnis dan kawan-kawan untuk menyampaikan langsung saran tersebut kepada Gus Dur.

Mendengar saran untuk mundur, ternyata Gus Dur tidak marah di tengah situasi yang serba panas kala itu. Dengan tenang Gus Dur menjelaskan kepada kawan-kawannya yang aktif di Forum Demokrasi mengapa dirinya tidak mau melakukan pengunduran diri. Intinya, apa yang dia lakukan benar. Justru DPR dan MPR-lah yang inkonstitusional.

Di tengah ketegangan politik yang menginginkannya untuk mengundurkan diri itu, Gus Dur justru sempat menanggapinya dengan humor: “Saya disuruh mundur? Maju saja dituntun?” kata Gus Dur disambut tawa renyah kawan-kawan yang mengelilinginya.

Menjelang pelengserannya sebagai Presiden RI oleh parlemen dalam Sidang Istimewa (SI) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melakukan perlawanan. Langkah perlawanan Gus Dur bukan untuk mempertahankan dirinya sebagai presiden, tetapi melawan tindakan-tindakan inkonstitusional dan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya.

Kompas pada 1 Agustus 2001 melaporkan bahwa menjelang tengah malam pada tanggal 22 Juli 2001, Gus Dur sempat mengadakan pertemuan bersama wakil sekjen PBNU yang kala itu dijabat oleh Masduki Baidlawi dan tujuh ulama sepuh di Istana Negara.

Mereka menyampaikan kepada Gus Dur perihal kondisi politik mutakhir yang berujung pada rencana percepatan SI MPR keesokan harinya, yaitu pada 23 Juli 2001. Kondisi pertemuan di Istana Negara kala itu dilaporkan berlangsung khidmat dan penuh keharuan.

Gus Dur tak kuasa menahan air mata. Ia meminta maaf berkali-kali karena merasa tidak berterus terang kepada para ulama mengenai situasi politik yang dihadapinya. Dengan dorongan para ulama dan pengurus pondok pesantren, lewat tengah malam pada tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden.

Dekrit itu secara garis besar berisi penolakan terhadap keputusan Sidang Istimewa yang akan diselenggarakan beberapa jam mendatang oleh MPR yang dipimpin Amien Rais. Hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan hukum yang memvonis Gus Dur melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sejumlah orang, baik kasus Buloggate dan Bruneigate.

Tangis Gus Dur pecah bukan karena kelemahan dirinya menghadapi situasi politik saat itu, tetapi memikirkan para ulama dan pendukungnya yang mempunyai komitmen kuat untuknya. Bahkan di sejumlah daerah dengan tegas membentuk pasukan berani mati jika Gus Dur dilengserkan. Gus Dur menahan ratusan ribu orang yang ingin berangkat ke Jakarta. Ia tidak mau ada kerusuhan dan pertumpahan sesama anak bangsa.

Dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyatakan bahwa persoalan yang menimpa dirinya merupakan murni persoalan politik kekuasaan yang dimanfaatkan oleh sejumlah orang. Sebab secara hukum, Gus Dur tidak pernah terbukti bersalah sehingga upaya pelengseran dirinya merupakan tindakan inkonstitusional.

Namun ia tidak mau terlalu larut dalam persoalan tersebut. Tak memiliki kekuasaan politik bukan akhir dari segalanya bagi Gus Dur. Suaranya masih lantang dalam membela hak-hak kaum minoritas dan kaum pinggiran. Sikap humanismenya menghadirkan kesejukan bagi semua umat beragama di Indonesia. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Rabu 10 Juli 2019 21:0 WIB
NU dan Dekret Presiden 5 Juli 1959
NU dan Dekret Presiden 5 Juli 1959
Foto: Wikipedia
Suatu malam di awal Juli 1959, telepon di rumahku berdering pada Pukul 01.30 dini hari. Rupanya telepon itu berasal dari KH. Idham Chalid yang memintaku datang ke rumahnya di Jalan Jogya (Kini Jalan Ki Mangunsarkoro) Nomor 51. Aku diminta mendampinginya berhubung akan datang dua orang pejabat amat penting. Pukul 02.00 lebih sedikit aku tiba di lokasi. Tak berapa lama datang dua orang tamu yang sangat penting itu, yang tak lain adalah Jenderal AH. Nasution, Kepala Staf Angkatan Darat/Menteri Keamanan Pertahanan dan Letkol CPM R. Rush, Komandan CPM Seluruh Indonesia. Kedatangan dua perwira tinggi itu untuk meminta saran NU berhubung akan berangkatnya mereka ke Tokyo untuk menghadap Presiden Soekarno yang sedang berobat di sana. Dari kalangan pimpinan ABRI (istilahnya waktu itu Angkatan Perang Republik Indonesia, APRI) sendiri akan mengusulkan kepada Presiden agar UUD 1945 iberlakukan kembali melalui Dekret Presiden. Berhubung dengan itu, kedua perwira tinggi tersebut meminta pikiran NU materi apa yang perlu dimasukkan dalam Dekret Presiden.

“Isinya terserah Pemerintah, tetapi hendaklah memperhatikan suara-suara golongan Islam dalam Konstituante,” kata Pak Idham Chalid. “Apa konkretnya tuntutan golongan Islam itu?” Jenderal A.H. Nasution bertanya.

“Agar Piagam Jakarta diakui kedudukannya sebagai yang menjiwai UUD 1945,” kataku. (Guruku
Orang-orang dari Pesantren).  

Menurut Ensiklopedia NU Dekret Presiden 5 Juli 1959 dipicu oleh gagalnya anggota konstituante sebagai hasil Pemilu 1955 dalamm merumuskan konstitusi. Di sisi lain, sistem demokrasi liberal yang dianut pada masa itu menimbulkan kekacauan-kekacauan seperti pemberontakan Darul Islam, Republik Maluku Selatan, dan PRRI/Permesta. 

Menyikapi keadan tersebut, Soekarno di hadapan anggota konstituante berpidato dengan judul Res Publica, Sekali Lagi Res Publica. Pada pidatonya itu, ia menyarankan agar konstituante memikirkan langkah untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. 

Menyikapi pidato Soekarno tersebut, Partai NU, masih menurut Eksiklopedia NU: “Jikalau ada anjuran kepada konstituante agar memilih UUD 1945 sebagai konstitusi negara, maka NU yakin bahwa saran itu, tidak mungkin dapat diwujudkan (begitu saja). Tetapi dengan senang hati NU akan bersedia menerimanya dengan pengertian bahwa penerimaan terhadap UUD 1945 itu berarti menerima segala sesuatu di sekitar historische documen, termasuk di dalamnya Piagam Jakarta sebagai babon dan jiwa UUD 1945.”

Sikap NU itu disuarakan oleh KH Wahab Hasbullah dan KH Saifuddin Zuhri yang secara tegas mengatakan bahwa kembali ke UUD 1945 sama dengan mempertahankan Piagam Jakarta tidak hanya sebagai dokumen historis sebagaimana ditawarkan Soekarno. Menurut NU, Piagam Jakarta tidak cukup dijadikan dokumen yang mati, tetapi harus menjiwai UUD 1945. 

Sikap NU ini didukung oleh kelompok-kelompok Islam yang selama ini memperjuangkan Islam sebagai dasar negara yang berusaha menerapkan secara harfiah dalam UUD 1945.     
 
Bunyi dekret presiden tersebut adalah sebagai berikut: 

DEKRET PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG
TENTANG
KEMBALI KEPADA UNDANG-UNDANG DASAR 1945
Dengan rachmat Tuhan Jang Maha Esa,
KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG
Dengan ini menjatakan dengan chidmat:
Bahwa andjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 jang disampaikan kepada segenap rakjat Indonesia dengan amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959 tidak memperoleh keputusan dari Konstituante sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara;
Bahwa berhubung dengan pernjataan sebagian besar anggota-anggota Sidang Pembuat Undang-Undang Dasar untuk tidak lagi menghadiri sidang. Konstituante tidak mungkin lagi menjelesaikan tugas jang dipertjajakan oleh rakjat kepadanja;
Bahwa hal jang demikian menimbulkan keadaan-keadaan ketatanegaraan jang membahajakan persatuan dan keselamatan Negara, Nusa, dan Bangsa, serta merintangi pembangunan semesta untuk mencapai masjarakat jang adil makmur;
Bahwa dengan dukungan bagian terbesar rakjat Indonesia dan didorong oleh kejakinan kami sendiri, kami terpaksa menempuh satu-satunja djalan untuk menjelamatkan Negara Proklamasi;
Bahwa kami berkejakinan bahwa Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945 mendjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut,
Maka atas dasar-dasar tersebut di atas,
KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG
Menetapkan pembubaran Konstituante;
Menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia terhitung mulai hari tanggal penetapan dekret ini dan tidak berlakunja lagi Undang-Undang Dasar Sementara.
Pembentukan Madjelis Permusjawaratan Rakyat Sementara, jang terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakjat ditambah dengan utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara akan diselenggarakan dalam waktu sesingkat-singkatnja.
Ditetapkan di Djakarta pada tanggal 5 Djuli 1959
Atas nama Rakjat Indonesia
Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang
SOEKARNO
(Abdullah Alawi)
Selasa 9 Juli 2019 16:0 WIB
Wirid KH Saifuddin Zuhri di Tengah Berondongan Peluru Tentara Sekutu
Wirid KH Saifuddin Zuhri di Tengah Berondongan Peluru Tentara Sekutu
KH Saifuddin Zuhri (Dok. Perpustakaan PBNU)
Wirid, dzikir, dan menyebut asma Allah SWT kerap dilakukan oleh para ulama pesantren di tengah perjuangan melawan penjajah. Kekuatan fisik, kelengkapan amunisi, dan strategi menjadi modal penting dalam perang melawan penjajah. Namun, para ulama tidak mau melupakan Yang Maha Memiliki Kekuatan, yaitu Allah. Mereka tetap berprinsip bahwa ikhtiar batin harus tetap dilakukan. Bahkan upaya tersebut tak jarang membuat para penjajah kocar-kacir.

Puncak perjuangan para kiai ialah ketika terjadi Agresi Belanda kedua pada tahun 1945 di beberapa daerah, terutama di Surabaya dan merembet ke Semarang, Ambarawa, dan Magelang. Saat tiba di Kota Magelang, tentara Sekutu memanfaatkan gedung Seminari Katolik untuk menduduki Kota dan Magelang dan sekitarnya.

Beberapa ulama khos berkumpul untuk melakukan gerakan rohani atau riyadhoh-rohani. Di antaranya ialah KH Dalhar Watucongol, KH Siroj Payaman, KH R, Alwi Tonoboyo, dan KH Mandhur Temanggung, termasuk KH Saifuddin Zuhri yang berkesempatan turut melakukan konsolidasi perjuangan para pemuda. Saat itu tentara Sekutu telah menguasai Magelang selama satu minggu.

Kiai Saifuddin Zuhri mencatat dalam memoarnya Berangkat dari Pesantren (2013) bahwa tentara Inggris membawa bendera sekutu yang terdiri dari orang India dan Gurkha, serdadu-serdadu Belanda yang membonceng Sekutu, dan bekas serdadu Nippon yang dimanfaatkan sebagai perisai.

Walaupun Inggris hanya menguasai Gedung Seminari Katolik di bibir alun-laun dan sepanjang jalan raya Poncol stasiun Kota Magelang, namun jalan raya Ambarawa-Semarang dan Ambarawa-Magelang bisa dikuasai pula berkat pasukan tank dan pesawat terbang mereka. Namun, strategi dan serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Laskar Hizbullah dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berhasil mengusir tentara seukutu.

Sekutu yang digerakkan oleh tentara Inggris berupaya mengevakuasi diri. Di tengah keberhasilan mengusir sekutu, ternyata di luar sana KH Dalhar Watucongol telah setengah jalan membaca Hizib Nashar diikuti oleh santri dan para pejuang lainnya yang berkumpul melakukan gerakan rohani. Di antara yang juga dibaca ialah Dalailul Khoirot, Hizib al-Barri, Hizb al-Bahri keduanya li Abil Hasan Asy-Syadzili.

Di tengah kecamuk di daerah Magelang tersebut, kantor-kantor, termasuk markas hizbullah dikosongkan selama tiga hari. Jalan Raya Poncol Magelang menjadi sepi. Penduduk sepanjang jalan tersebut banyak yang mengungsi. Meskipun berhasil kembali dikuasai oleh Laskar Hizbullah dan TKR, namun masyarakat tetap memilih mengungsi karena bisa sewaktu-waktu tentara Sekutu kembali menyerang.

Di tengah kondisi yang sepi, KH Saifuddin Zuhri yang sedang melakukan perjalanan kembali ke tempat tinggalnya setelah mengunjungi Kantor Karesidenan Magelang. Ia berjalan kaki menempu jarak sekitar 1 kilometer. baru sampai di belakang Hotel Tidar, 200 meter dari rumah Abdul Wahab Kodri (Sekrteris NU Magelang), gemuruh yang berasal dari benturan du benda keras terdengar disusul oleh berondongan peluru dari senjata jenis mitraliur (sebuah senjata api yang menggabungkan kemampuan menembak otomatis senapan mesin dengan amunisi pistol).

Bentruan benda-benda keras tersebut dua-duanya saling bersahutan dan berbarengan sehingga cukup memekakkan telinga. Dua-duanya bersumber dari iring-iringan pasukan tank yang memlopori pendudukan serdadu-serdadu Inggris atas Kota Magelang.

Kiai Saifuddin Zuhri seketika bertiarap dan berguling memasuki pekarangan rumah warga agar bisa merangkak menuju tempat yang lebih aman. Di tengah ia berjibaku mengamankan diri, ia membaca sebuah wirid secara lirih. Wirid yang ia lakukan sejak dalam pusat latihan Hizbullah di Cibarusa ialah “Shalawat Nariyah”. (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 347)

Wirid Shalawat Nariyah membawa Kiai Saifuddin Zuhri keluar dari lobang jarum. Ia sendiri tidak bisa membayangkan ketika bisa meloloskan diri dari maut tersebut. Akhirnya ia berhasil tiba di sebuah tempat di mana beberapa kawan para kiai juga dalam kondisi siap siaga di markas Sabilillah. (Fathoni)
Selasa 9 Juli 2019 12:15 WIB
Jemaah Haji Era 60-an dalam Karya KH Bisri Mustofa
Jemaah Haji Era 60-an dalam Karya KH Bisri Mustofa
Haji tempo dulu (ist)
Kenapa KH Bisri Musthofa Rembang dikenal dan populer di kalangan orang-orang desa? Karena selain menulis kitab tafsir Al-Qur'an berbahasa jawa,Tafsir al-Ibris, Kiai Bisri juga menulis karya-karya ringan, mirip buku saku tetapi dibutuhkan masyarakat umum. Salah satunya adalah Tuntunan Ringkas Manasik Haji.

Dalam karya tentang manasik haji itu, selain menjelaskan tentang manasik haji dan umroh, ziarah Nabi Muhammad, tata cara shalat jama', dan tempat-tempat bersejarah, Mbah Bisri juga menjelaskan tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh calon jamaah haji sebelum berangkat dan setelah sampai di tanah haram.

Pada mulanya beliau menjelaskan pentingnya menata niat. Ibadah haji diniati menunaikan rukun Islam yang kelima dan berniat sowan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW di Madinah. 

Selain menata niat, Kiai Bisri juga mewanti-wanti, supaya orang yang mau haji tanggungan-tanggungannya diberesi. Penulis pernah dapat cerita dari Ibu, dulu saat almarhum ayah mau berangkat haji, burung-burung yang dipeliharanya dilepaskan, karena khawatir pas ditinggal haji, tidak ada yang memberi makan.


Kitab Manasik Haji karya KH Bisri Mustofa Rembang

Kiai Bisri juga mengatakan, nafkah bagi anak-anak yang di rumah juga harus dipersiapkan. Beliau juga mengajurkan, calon jamaah haji berpamitan kepada para sesepuh dan meminta doa agar hajinya mabrur, dan sehat (wilujeng) tanpa halangan apapun.

Pamitan calon jamaah haji ini masih lestari diadakan di daerah-daerah termasuk di daerah asal penulis. Pas momen silaturahim Idul Fitri, calon jamaah haji pamit dan minta doa kepada kiainya, kakek, dan neneknya, saudara-saudaranya. Lalu, biasanya calon jamaah haji menggelar pengajian dalam rangka pamitan haji dengan mengundang tetangga dan saudaranya.

Barang bawaan calon jemaah haji, kata Kiai Bisri, dalam kitabnya yang ditulis tahun 1962 ini, ibadah haji itu berat (rekoso) tapi karena cinta jadi tak terasa. Kerena berat itu, Kiai Bisri menganjurkan jangan terlalu banyak membawa barang bawaan dan yang ringan, supaya koper dan keranjang (tas tenteng) bisa dibawa sendiri. 

"Obat-obatan juga tak perlu membawa terlalu banyak. Mulai dari kapal sampai Saudi kita dibarengi tim kesehatan," lanjut Kiai Bisri. Kiai Bisri juga mewanti-wanti, jangan sampai lupa menulis nama di koper yang dibawa. 

Beliau juga mengarahkan, tas keranjang yang besar dibuat untuk membawa perabot makan seperti piring seng, gelas seng, sendok, ceret (teko), tempat air dan lain-lain. Sedangkan untuk tas keranjang yang kecil sebagai tempat makanan kering seperti sambel dan obat-obatan.

Sambel, menurut beberapa orang yang haji, memang menjadi bawaan yang untuk beberapa orang bisa dikatakan wajib. Orang-orang desa dan atau  santri, apa pun makanannya biasanya yang penting ada sambelnya. Penulis yang tahun kemarin baru haji, dalam pelayanan makanan, selain lauk yang berupa daging ayam dan daging ikan, juga diberi buah-buahan, minuman mineral, roti, dan mi instan kemasan gelas. 

Namun memang belum diberikan sambal, paling hanya saos. Mi instan kemasan gelasnya juga berbeda racikan bumbunya dengan di Indonesia. Jadi, jika anda mau haji tahun ini, jangan lupa bawa sambel dan mie instan dan hati-hati jika anda bawa tembakau yang bungkus kertas. 

Di halaman akhir, Kiai Bisri menuliskan secara khusus tentang detail apa yang perlu dibawa seperti mushaf Al-Qur'an untuk dibaca pas waktu senggang, buku manasik haji sebagai pengingat biar tidak keliru, kacamata hitam, tremos es untuk tempat es selain untuk diminum juga bisa untuk kompresan saat terkena panas.

Di dalam kapal menuju Tanah Haram setelah paspor dan tiket sudah di tangan, kata Kiai Bisri, baru naik ke kapal. Di dalam kapal ini harus hati-hati dalam bertindak dan penting untuk musyawarah.

"Di dalam kapal ini banyak cobaan. Kadang perkara kecil bisa jadi pemicu cekcok penuh amarah. Anda harus banyak-banyak minta kepada Allah agar sehat (wilujeng) dan hasil maksud," lanjut Kiai Bisri.

Begitulah kira-kira suasana persiapan jamaah haji era di mana kitab ini ditulis tahun 1962. Kitab setebal 67 halaman ini sampai sekarang masih beredar di pasaran dengan harga terjangkau, kisaran Rp6000 sampai Rp7000.

Selain penjelasan manasik haji dengan bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf pegon, kitab ini juga memuat beberapa gambar seperti koper, masjid-masjid di tanah haram di masa silam.


Zaim Ahya, santri, kontributor NU Online tinggal di Batang, pemilik takselesai.com
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG