Membludak, Pendaftar Lokakarya Komunitas Pesantren Capai 840 Orang

100 peserta Lokakarya Komunitas Pesantren. (Foto: Farid/NUO)
100 peserta Lokakarya Komunitas Pesantren. (Foto: Farid/NUO), Membludak, Pendaftar Lokakarya Komunitas Pesantren Capai 840 Orang
100 peserta Lokakarya Komunitas Pesantren. (Foto: Farid/NUO), Membludak, Pendaftar Lokakarya Komunitas Pesantren Capai 840 Orang
Bogor, NU Online
Direktur Eksekutif Wahid Foundation (WF) Mujtaba Hamdi mengatakan, dua kegiatan yang ia koordinasikan dalam satu forum di Bogor disambut antusias. Pendaftar lokakarya (Workshop) Komunitas Pesantren mencapai 270 orang. Sementara Muslimah for Change (Muslimah untuk Perubahan) tercatat 570 pendaftar.

“Total pendaftar dua kegiatan tersebut ada 840 orang. Lalu, masing-masing hanya diterima 50. Total 100 peserta. Jadi, pengumuman sempat tertunda dua hari lantaran membludaknya pendaftar,” kata dia di sela-sela lokakarya bertema Mentradisikan Toleransi dan Keindonesiaan dari Pesantren yang digelar di Bogor, Kamis (18/7) siang.

Dari 100 peserta yang diterima, lanjut dia, berasal dari lima provinsi. Yakni Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. “Untuk angkatan pertama ini, berjumlah 60 orang dengan rincian 37 orang dari Jabar, 3 Banten, 5 Jatim, 5 Jateng, 10 DKI Jakarta,” paparnya.

Taba, sapaan akrabnya, menambahkan seluruh pendaftar diminta menyerahkan essay 750 kata sebagai bahan penilaian untuk ditetapkan sebagai peserta. Nilai mereka memiliki selisih tipis. Persaingan cukup ketat sekaligus dramatis. Meski demikian, keputusan akhir panitia tidak dapat diganggu gugat.

Ketika ditanya out put kegiatan, Taba menjawab bahwa kegiatan tersebut hendak memperkuat tradisi pesantren dalam merawat nilai-nilai toleransi dan keindonesiaan. “Sementara out come-nya adalah terbangunnya jaringan pesantren yang memiliki kesamaan visi merawat nilai-nilai toleransi dan keindonesiaan,” terangnya.

Menurut pria lulusan LIPIA Jakarta ini, sebagai lembaga pendidikan, pesantren memiliki peran strategis dalam mengembangkan pemahaman toleransi. “Pesantren punya potensi menjadi salah satu basis baik secara diskursif maupun moral-praktis dalam menyemaikan nilai-nilai toleransi di Indonesia,” tandasnya.

Pria asal Jawa Timur ini berharap mampu menggelar kegiatan seperti ini secara reguler, dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki kesamaan visi. “Kerjasama WF dengan Direktorat PD Pontren ini sangat strategis untuk memperkuat aktor-aktor moderat dari pesantren,” pungkas Taba. (Musthofa Asrori)


BNI Mobile