IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional

Benarkah Neil Armstrong Dengar Adzan di Bulan dan Masuk Islam?

Ahad 21 Juli 2019 2:0 WIB
Bagikan:
Benarkah Neil Armstrong Dengar Adzan di Bulan dan Masuk Islam?
Neil Armstrong (NASA/Newsmakers)
Jakarta, NU Online
Isu tentang astronot Amerika Serikat, Neil Armstrong, mendengarkan adzan di bulan dan kemudian menjadi Muslim tersebar ke mana-mana. Isu itu semakin berkembang pada awal tahun 1980-an –bahkan mungkin hingga kini. Armstrong juga disebutkan mengunjungi beberapa situs suci Islam, termasuk masjid di Turki yang pernah dikunjungi Malcolm X –seorang tokoh Muslim Amerika Serikat (AS).
 
Banyak orang yang membicarakan dan mencari kebenaran rumor Armstrong menjadi Muslim setelah mendengar adzan di bulan. Tidak sedikit pula yang ‘percaya’ akan rumor tersebut dan menyebarkannya kepada orang lainnya.
 
Dalam sebuah buku biografi Neil Armstrong karya James R Hansen berjudul "First Man: The Life of Neil A Armstrong" disebutkan, rumor tentang Armstrong masuk Islam usai mendengar adzan begitu kuat di masyarakat Muslim. Dikatakan pula kalau cerita itu diulang berkali-kali di seluruh dunia Muslim.
 
Lantas, benarkan Neil Armstrong menjadi mualaf usai mendengar adzan ketika dirinya tiba di bulan?
 
Neil Armstrong disebut-sebut berhasil mendarat dan menginjakkan kakinya di bulan. Dia lah orang yang pertama kali menginjakkan kaki di bulan. Meski demikian, ada pihak-pihak yang menyangkalnya dan menyebut itu hanya propaganda AS saja. Namun, kita tidak akan membahas perdebatan itu.
 
Sebuah media AS, CBS News, merilis sebuah laporan pada Jumat, 18 Juli 2014 lalu tentang 11 mitos Neil Armstrong. Menurut media itu, isu mendengar adzan ketika di bulan dan pindah agama menjadi Muslim menempati nomor 10 mitos tentang Neil Armstrong. Di situ jelas,  Arsmtrong menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mendengar adzan ketika di bulan dan tidak pernah berpikir untuk masuk Islam.
 
Pada pertengahan tahun 1980-an, pemerintah AS juga beraksi atas rumor tersebut. Pada saat itu, Departemen Luar Negeri AS membantu Armstrong mengadakan sebuah konferensi jarak jauh dengan para jurnalis di Timur Tengah. Tujuannya adalah untuk meluruskan rumor tersebut.
 
Perlu diketahui, pada saat itu persebaran informasi dari satu daerah ke daerah lainnya tidak lah secepat dan tidak semudah seperti saat ini. Perlu upaya ekstra dan waktu yang lumayan lama untuk menyebarkan sebuah informasi.
 
Tidak hanya itu, Departemen Luar Negeri AS juga mengirimkan pesan ke seluruh kedutaan dan konsulatnya di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Salah satu bunyi pesannya adalah Neil Armstrong tidak pindah agama ke Islam dan tidak memiliki rencana atau keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat di luar negeri guna mengikuti aktivitas keagamaan Islam. Dalam surat tersebut ditegaskan, informasi tentang kepindahan agamanya Armstrong adalah tidak benar.
 
Menariknya, pihak-pihak yang sudah diberitahu ketidakbenaran rumor tersebut membuat rumor baru. Iya, mereka kemudian menganggap AS tidak terima kalau ‘pahlawannya’ dikenal sebagai seorang Muslim. Menurut mereka, atas permintaan AS, Neil Armstrong menyangkal agamanya di hadapan khalayak umum. Hingga kini, tidak sedikit umat Islam yang terlanjur percaya dengan hoaks Armstrong menjadi mualaf setelah mendengar adzan di bulan tersebut.
 
Neil Armstrong bersama dengan dua rekannya, Buzz Aldrin dan Michael Collins, Armstrong disebut-sebut sukses mendarat di bulan. Sebagai pimpinan misi Apollo 11, Armstrong menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan. Peristiwa ini terjadi 50 tahun lalu, tepatnya 20 Juli 1969. Armstrong sendiri meninggal dunia pada 22 Agustus 2012 lalu, di usianya yang ke-82 tahun. (Red: Muchlishon)
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 21 Juli 2019 23:30 WIB
Presiden Palestina Kembali Tolak ‘Kesepakatan Abad Ini’ Usulan AS
Presiden Palestina Kembali Tolak ‘Kesepakatan Abad Ini’ Usulan AS
Ilustrasi bendera Palestina (Ali Jadallah/Anadolu Agency)

Yerusalem, NU Online

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas kembali menegaskan komitmennya untuk menentang ‘Kesepakatan Abad Ini.’ Kesepakatan Abad Ini adalah rencana untuk mewujudkan perdamaian Israel-Palestina yang digagas Amerika Serikat (AS).

 

Demikian dikatakan Abbas saat menghadiri pertemuan Komite Sentral Fatah di Ramallah, Tepi Barat Sungai Yordania, Sabtu (20/7) kemarin. Abbas juga menyatakan, Palestina tidak menerima Lokakarya Manama yang diselenggarakan di bawah perlindungan AS, di Bahrain pada Juli.

 

“Posisi kami pada masa lalu adalah posisi kami sekarang dan tidak berubah. Kami tidak akan menerima kesepakatan abad ini dan tidak akan menerima Lokakarta Manama,” tegas Abbas, dikutip laman kantor berita resmi Palestina, WAFA.

 

Pada kesempatan itu, Abbas juga menyinggung soal hasil pajak Palestina yang ditahan pihak Israel. Dikatakan Abbas, jika pihak Israel tidak membayarkannya secara penuh maka pemimpin Palestina tidak akan menerimanya. Selama beberapa bulan terakhir, Abbas sangat memperhatikan persoalan penahanan pajak oleh Israel.

 

Abbas kemudian mengutuk penggalian yang dilakukan Israel belum lama ini di Kota Yerusalem.  Baginya, itu adalah masalah serius. “Kita tidak boleh membiarkan Israel terus mengutak-atik ibu kota abadi Palestina,” katanya.

 

Pada akhir tahun lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan meresmikan ‘Kesepakatan Abad Ini’ untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina beberapa bulan mendatang. Pernyataan itu disampaikan Trump ketika bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York.

 

Usulan mendapatkan penolak dari banyak pihak, salah satunya Liga Arab. Para menteri luar negeri Liga Arab menolak segala bentuk kebijakan atau rencana yang tidak menghormati hak-hak rakyat Palestina. Sebagaimana diberitakan kantor berita Anadolu, Senin (22/4), Liga Arab menilai, rencana ‘Kebijakan Abad Ini’ usulan AS tidak akan pernah memberikan perdamaian yang abadi di Timur Tengah. Karena bagaimanapun kebijakan itu tidak memberikan hak-hak rakyat Palestina seperti mendirikan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, melepaskan tawanan, dan memberikan kompensasi bagi para pengungsi Palestina. (Red: Muchlishon)

Ahad 21 Juli 2019 22:0 WIB
Sambut Musim Haji 1440 H, Kiswah Ka’bah Diangkat
Sambut Musim Haji 1440 H, Kiswah Ka’bah Diangkat
Kiswah Ka'bah diangkat untuk menyambut musim haji (Reasah Al-Harmain)

Makkah, NU Online

Bagian bawah kiswah (kain hitam penutup Ka’bah) diangkat setinggi tiga meter pada Jumat (19/7) kemarin. Hal itu dilakukan sebagai salah satu persiapan untuk menyambut musim haji tahun ini.

 

Dilaporkan akun Instagram pengelola dua masjid suci, @ReasahAlharmain, kain kiswa Ka’bah tersebut diangkat selepas isya waktu setempat dan diganti dengan kain warga putih. "Kain penutup Ka'bah diangkat setinggi tiga meter, dalam rangka menyambut musim haji," tulis akun tersebut.

 

Prosesi ini merupakan kegiatan tahunan. Biasanya dilakukan sebelum musim haji betul-betul dimulai. Lebih dari 50 orang –terdiri dari teknisi dan spesialis- terlibat dalam proses pengangkatan kiswah Ka’bah tersebut.  

 

Kepala Presidensi Umum Dua Masjid Suci Ahmad bin Muhammad al-Mansouri menjelaskan, alasan kiswah Ka’bah diangkat dan diganti adalah karena bagian bawah kain hitam penutup Ka’bah itu sering disentuh bahkan ditarik para jamaah yang sedang tawaf. Dengan diganti yang baru, maka kualitas kiswah akan terjaga.

 

“Apa yang dilakukan beberapa jamaah haji terhadap Kiswah itulah sebabnya kain hitam dinaikkan dan diganti dengan kain putih selama haji,” kata al-Mansouri, dikutip laman Arab News, (19/7)

 

Menurut al-Mansouri, kiswa Ka’bah yang asli akan dikembalikan ke posisi semulanya setelah musim haji berakhir. Kain sutra hitam tua yang menutupi Ka'bah dilepas dan digantungkan kembali pada hari kesembilan Dzulhijjah setiap tahunnya.

 

Sebagai informasi, kiswah Ka’bah diproduksi di ‘Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka'bah’ yang memiliki lebih dari 200 karyawan dan mesin jahit terbesar di dunia dengan panjang mencapai 19 meter.

 

Kain kiswah dibuat dalam bentuk potongan besar, masing-masing lebarnya 10 sentimeter dan panjangnya 14 meter. Potongan-potongan itu kemudian disambung satu persatu dengan tetap mempertahankan desain semula. Setelah itu, kiswa dilapisi kain katun dan dijahit bersama.

 

Setiap bulab Dzul Hijjah, jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Menurut Direktorat Jenderal Paspor Arab Saudi, dilaporkan SPA, Sabtu (20/7), jumlah jamaah haji yang tiba di Saudi per Jumat, 19 Juli 2019 mencapai 515,016 orang; 503.118 jamaah datang via udara, 7.045 orang via darat, dan 4.853 orang via laut. (Red: Muchlishon)

Ahad 21 Juli 2019 15:5 WIB
Dubes Mesir Harap Peran Ansor dalam Pembinaan Masyarakat Indonesia
Dubes Mesir Harap Peran Ansor dalam Pembinaan Masyarakat Indonesia
Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas didampingi jajaran pimpinan pusat foto bersama dengan Dubes Mesir untuo Indonesia Helmy Fauzy, di Wisma Duta KBRI Kairo, Jumat (19/7/2019).
Kairo, NU Online
Dubes RI untuk Mesir Helmy Fauzy mengharapkan peran Gerakan Pemuda Ansor dalam pembinaan masyarakat Indonesia di Mesir, terutama kalangan muda. 

"Kami berharap GP Ansor dapat berperan aktif dalam pembinaan masyarakat Indonesia di Mesir yang mayoritas anak muda, yakni mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Universitas Al Azhar," kata Helmy saat menerima Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas dan jajaran pimpinan, di Wisma Duta KBRI Kairo, Jumat (19/7) lalu. 

Menurut Helmy, peran GP Ansor sangat diharapkan terutama dalam menangkal ideologi Islam transnasional di kalangan mahasiswa. Sebab selama ini, lanjutnya, GP Ansor dikenal mengedepankan Islam Wasathiyah, atau wajah Islam moderat. 

"Kita juga berharap melalui GP Ansor di Mesir, Islam wasattiyah bisa lebih diperkenalkan ke masyarakat Mesir. Islam damai yang menjunjung keberagaman. Untuk itu, GP Ansor perlu menjalin kerja sama dengan organisasi atau lembaga di Mesir untuk saling berbagi pengalaman tentang konsep Islam moderat. Kita akan support," ujar Helmy. 

Sebab itulah, pihaknya menyambut baik pelaksanaan Diklat Terpadu Dasar (DTD) GP Ansor yang diinisiasi PCINU Mesir. Helmy juga mengungkapkan kebanggaannya kegiatan tersebut diikuti ratusan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Al Azhar. 

Selain itu, Dubes juga meminta GP Ansor dapat menjalin kerja sama di bidang perdagangan dengan counterpart di Mesir untuk memacu kemandirian organisasi dan mengokokohkan kewirausahaan para kader Ansor. 

"Kita juga mengajak GP Ansor dapat ikut berperan melalui kader-kadernya dalam meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Mesir. Apalagi, mayoritas kader Ansor berada di pedesaan, tentu banyak peluang komoditas pertanian yang bisa diperdagangkan atau diekspor ke Mesir, seperti kopi, cokelat, dan lain-lain," jelasnya. 

Ketum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyatakan kesiapannya atas harapan Helmy Fauzy tersebut. Dia mengakui, tantangan bangsa Indonesia kedepan adalah menguatnya radikalisme agama, ideologi transnasional, dan intoleransi. Atas alasan itulah, lanjut dia, pihaknya memberi perhatian lebih pada pendirian GP Ansor di Mesir, dibanding dengan negara lainnya. 

"Mesir ini tantangannya jauh lebih berat. Terlebih mayoritas kaderisasi ini menyasar mahasiswa. Kita tidak ingin para mahasiswa terpengaruh ajaran Islam radikal, dan begitu kembali ke Indonesia justru ikut menyebarkannya," tandas Gus Yaqut, sapaan akrabnya. 

Menurut Gus Yaqut, kader Ansor harus teguh dan tegas dalam menjaga keberagaman dalam naungan NKRI. Karena, jelasnya, Indonesia ini didirikan dan dimerdekakan tidak hanya oleh umat Islam, tapi juga umat agama lain dengan berbagai latar belakangnya. 

"Justru Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia harusa mengayomi keberagaman yang ada," cetusnya. 

Kepada dubes Gus Yaqut melaporkan, kegiatan DTD telah sukses dilaksanakan. Sebanyak 250 peserta telah dibaiat sebagai anggota Pengurus Cabang GP Ansor mesir, 50 orang di antaranya menjadi anggota Banser. 

"Selain itu, kepengurusan PC GP Ansor Mesir juga telah terbentuk dan dilantik. Kita berharap proses kaderisasi tidak berhenti di sini, tapi konsisten dilakukan karena setiap tahun ada mahasiswa baru yang datang," ujarnya. 

Pihaknya juga siap untuk menjajaki peluang kerja sama perdagangan yang ditawarkan dubes. Jika terlaksana, kata Gus Yaqut, hal ini dapat menjadi percontohan bagi peluang kerja sama di negara lainnya di mana ada pengurus Ansor di sana. 

Dalam kesempatan itu, Gus Yaqut didampingi Sekjen PP GP Ansor Abdul Rochman, Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser Alfa Isnaeni, Luthfi Thomafi (Ketua), Aunullah A'la Habib (Wasekjen), Mohammad Nuruzzaman (Kadensus 99 Banser), Mahfudz Hamid (Ketua Rijalul Ansor), Rifqi Al Mubaroq (Wasekjen), Hasanuddin Ali (Wasekjen), dan Wibowo Prasetyo (Infokom). (Red: Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG