IMG-LOGO
Esai

Manusia Uzlah

Ahad 21 Juli 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Manusia Uzlah
Oleh Warsa Suwarsa

Hampir  dalam setiap kajian baik keagamaan atau hal yang berbau filsafat sering dipaparkan lahirnya manusia-manusia besar dihasilkan dari sebuah proses pertapaan, kontemplasi, meditasi, atau dzikir. Dalam khazanah keislaman –misalnya- dikisahkan selama lima belas tahun Rasulullah melakukan tahannuts dan uzlah menghindari keramaian dan kerumunan ke sebuah goa bernama Hira. Rahasia besar dan keluasan semesta –setelah dikaji oleh para cerdik pandai- ditemukan bukan dalam keriuhan dan keramaian manusia. Saat menjadi diri sendiri dan individu lah pengetahuan tentang kesemestaan merasuki seorang manusia. 

Bukan hanya para nabi dan rosul, delapan abad setelah Nabi Muhammad SAW menerima pencerahan dan wahyu, Rene Descartes (1596-1659) melakukan hal yang sama, uzlah dari negara asalnya ke Belanda, ia menyepi dari kehirukpikukan transisi pemikiran dari kegelapan ke era rasionalisme. Filsuf dengan ungkapan cogito ergo sum itu menuliskan , ‘I desire ti live in peace and continue the life I have begun under the motto : to live well you must live unseen’, secara sederhana moto ini mengajak kepada kita: untuk menemukan kehidupan yang baik, hiduplah tanpa dilihat oleh orang lain. Dalam tradisi Sunda kita mengenalnya: nyumput buni dinu caang, bersembunyi di tempat terang.

Pikiran kita sudah pasti akan melakukan penyangkalan terhadap ajakan kebaikan dan saran seperti yang dikemukakan oleh Descartes demi alasan: manusia merupakan mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Dalam diri manusia telah mengendap tekanan dan hasrat untuk tetap eksis dan diakui keberadaannya oleh orang lain. Descartes dan beberapa cerdik pandai lainnya tidak mengajak manusia untuk menghempaskan eksistensi manusia sebagai mahluk sosial, tetapi memberikan saran saja, sesekali dalam episode kehidupannya manusia harus berusaha menurunkan ego dan keakuannya. Jelas sekali, sangat kontradiktif dengan hasrat popularitas yang saat ini dianut secara luas oleh manusia modern, hasrat yang sebetulnya sangat alamiah dan selalu menjadi dorongan manusia di setiap milieu dan zaman. Bukankah saat ini kita saat ini dengan sangat  mudah mengumbar keakukan, mengejar popularitas, dan ketenaran? Dan bahkan saat diri kita mencoba untuk menjadi manusia uzlah lantas dalam diri kita terbersit keinginan agar di kemudian hari menjadi masyhur dan terkenal pun sangat kontradiktif dengan motto ‘unseen’ di atas. 

Dengan demikian, apakah kelahiran manusia-manusia besar itu memang mengalir mengikuti arus sejarah atau memang dilahirkan atas kehendak manusia itu sendiri? Jika hidup memang pilihan dan terdiri dari banyak pilihan, kenapa sebutan dan gelar sebagai manusia besar itu justru diraih oleh orang-orang tertentu yang kadang sama sekali tidak memikirkan bahwa diri mereka pada saatnya nanti akan menjadi manusia-manusia besar? Kenapa tidak jatuh kepada diri kita yang memilih dan ingin menjadi Si Besar? Apakah benar hidup ini memang harus mengalir begitu saja dan kita tidak memiliki kehendak bebas atas apa yang terjadi dengan diri kita? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu telah menjadi perdebatan hingga saat ini. Para ahli bijak telah  mencoba merumuskan jawaban, berbagai macam pendekatan, tetapi sama sekali bukan jawaban yang baku dan tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.

Paling tidak, di dalam kehidupan yang serba kompleks dan heterogen ini, manusia tetap dituntut untuk menggunakan akal secara maksimal. Menjadi manusia kamar (bertahannuts dan menyendiri), melakukan dialog batin, merenung dapat dilakukan pada saat-saat tertentu. Sebab bagaimana juga kita tidak dapat mungkin mengelak bahwa diri ketika merupakan manusia sebagai manusia (homo sapiens) tetapi pada saat yang bersamaan diri kita merupakan manusia yang bertautan atau terkoneksi dengan yang ilahi sebagai homo deus.

Banyak kemusykilan di dunia ini dilahirkan dan dihasilkan dari proses uzlah dan permenungan dan rata-rata merupakan pemaknaan terhadap hal-hal sederhana yang sering kita sepelekan dalam keseharian. Newton mencetuskan gaya gravitasi dan memformulasikannya ke dalam rumus-rumus fisika hanya karena melihat buah apel jatuh dari pohonnya. Bukankah sebelum Newton mencetuskan gaya gravitasi benda-benda baik berukuran kecil atau besar selalu jatuh ke bumi? Dan kenapa Archimides mengeluarkan hukumnya saat dia mandi ke dalam bak? Hal sederhana bagi masyarakat umum melahirkan hal besar jika ditafakuri dan ditadzakuri oleh para manusia uzlah.

Cerita pewayangan sering memuat kisah manusia-manusia bertopeng atau menggunakan topeng orang lain bukan untuk menyembunyikan kesalahannya melainkan agar keikhlasan dan keilmuannya tidak diketahui oleh orang lain. Dalam terminologi Descartes disebutkan: “Masked, I advance!” Sebuah hadits sangat popular mengajarkan manusia agar berbuat baik secara sembunyi-sembunyi: “ Saat tangan kanan memberi, jangan sampai tangan kiri mengetahuinya”. Memang sangat sulit bagi manusia modern yang serba mudah menampilkan hasil jepretan kebaikan melalui media sosial mengambil peran sebagai manusia uzlah atau manusia kamar. Padahal, masih menurut Descartes, “To know what people really think, pay regard to what they do, rather than what they say”. Untuk mengetahui apa yang dipikirkan oleh sebuah masyarakat fokuslah terhadap apa yang mereka kerjakan, bukan terhadap apa yang mereka bicarakan. Tentu saja, termasuk dalam menilai diri saya.

Penulis adalah Guru MTs-MA Riyadlul Jannah, Cikundul
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 20 Juli 2019 2:15 WIB
Perang Shiffin dan Akhir Perseteruan Jokowi-Prabowo
Perang Shiffin dan Akhir Perseteruan Jokowi-Prabowo
Lukisan karya Kunara 'Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo' (Foto. Fernando Fitusia)
Oleh Ahmad Romli

Di dekat hulu Sungai Furat yang kini terletak di Suriah, dua sahabat mulia Nabi, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan saling berhadapan. Keduanya terlibat perang besar yang konon bermula dari perselisihan perebutan tampuk kekuasaan. 

Peristiwa berdarah yang tercatat menewaskan sekitar 60 ribu orang itu dikenal dengan sebutan Perang Shiffin (waq’ah Shiffin). Perang selama 3 hari itu terjadi pada tahun 37 Hijriah atau bertepatan 657 tahun Masehi.  Perang Shiffin adalah noktah hitam dalam sejarah umat Islam. Semua menyayangkan perang saudara itu terjadi. Apalagi di antara sahabat Nabi masih banyak yang masih hidup.

Dalam literatur sejarah, Perang Shiffin ini berawal dari pengangkatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah ke-4 menggantikan Khalifah Utsman bin Affan yang wafat terbunuh. Muawiyah menolak membaiat Ali bin Abi Thalib sebelum keadilan atas pembunuh Utsman bin Affan ditegakkan. Ia mengetahui bahwa ada penumpang gelap dalam kubu Sayyidina Ali yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. 

Untuk menghindari terjadinya bentrok fisik antar kedua kubu, Ali bin Abi Thalib mengutus Abu Muslim al-Khaulani untuk melakukan negosiasi. Upaya pertama tidak berhasil. Dalam riwayat lain, Ali bin Abi Thalib kemudian mengutus Abu ad-Darda’ dan Abu Umamah. Keduanya pun mengalami jalan buntu. Perang tak bisa dicegah.   

Di tengah ganasnya ladang peperang, berbagai upaya menghentikan terus dilakukan oleh kedua belah pihak. Puncaknya, kubu Muawiyah bin Abi Sufyan mengikatkan Al-Qur’an di ujung tombak sebagai isyarat penyelesaian konflik yang kemudian dikenal dengan istilah tahkim. Tahkim adalah perjanjian damai antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan yang dibuat berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun juru runding dari Sayyidina Ali diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari, sedangkan dari pihak Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan diwakili oleh Amr bin Ash.

Upaya damai itu disambut positif oleh kedua belah kubu. Sebab sejak dari awal keduanya memang tidak bermaksud menyerang satu sama lain. Riwayat lain juga menyatakan  bahwa kedua kubu sebenarnya tidak berselisih mengenai jabatan kekhalifahan.

Meski demikian, ada sekelompok orang yang menghendaki untuk melanjutkan perang dan menolak tahkim. Sekelompok orang yang menolak itu kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Akhirnya, menantu Nabi itu terbunuh di tangan Abdurrahman bin Muljam. Di dalam sejarah, kelompok ini dikenal sebagai Khawarij. Siapa sejatinya khawarij? Dalam Syarh al-Kawakib al-Lama’ah, Syeikh Abul Fadl bin Abdusy Syakur Senori mengatakan bahwa mereka adalah setiap orang yang menolak atau menentang pemimpin yang sah yang telah disepakati baik di era sahabat, tabi’in, dan pemimpin-pemimpin di sepanjang zaman.  

Akhir pekan lalu, dua tokoh sentral yang menjadi rival dalam Pemilihan Presiden RI 2019 bertemu. Perjumpaan di depan publik antara Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi peristiwa penting di jagat politik nasional yang sudah dinanti banyak orang.

Pertemuan yang berlangsung Sabtu, 13 Juli itu adalah sinyal kuat tentang perdamaian, sekaligus menghapus narasi-narasi panas penuh rivalitas yang pernah digeser hingga medan perang badar. 

Keduanya —sekalipun tidak mengutip peristiwa berdarah dalam Perang Shiffin, menyadari bahwa permusuhan bukanlah jalan pilihan. Perseteruan kontraproduktif yang berlangsung cukup lama harus disudahi. 

Perselisihan, gontok-gontokan   diantara Jokowi dan Prabowo mencapai titik paripurna. Keduanya telah sepakat berdamai. Menyeru kepada pendukungnya untuk bersatu setelah sebelumnya terpolarisasi akibat perbedaan pilihan politik. 


"Tidak ada lagi 01, tidak ada lagi 02," 

Penyebutan "cebong" dan "kampret" yang selama ini dilontarkan masing-masing pendukung juga layak dihentikan.

"Tidak ada lagi namanya cebong, tak ada lagi namanya kampret," itu kata 01.

02 pun sepakat. "Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret".
 
Rekonsiliasi dua tokoh nasional ini tampaknya menemukan relevansinya dengan ceramah Kiai Cholil Bisri saat menghadiri haul Kiai Muhammad Munawwir di Krapyak tahun 1999. “Kita tidak boleh disengat kalajengking untuk kedua kalinya,”  Kewaspadaan itu diungkapkan setelah bangsa Indonesia berhasil menghindari perang saudara akibat krisis politik.


Penulis adalah Pengajar di SMA Islam Raudlatul Falah Gembong Pati

Kamis 11 Juli 2019 6:0 WIB
Jangan Marah
Jangan Marah
null
Oleh Didin Sirojuddin AR
 
أن رجلا قال للنبى صلعم: "أوصنى", قال: "لا تغضب" فرددمراراقال: "لاتغضب".
 
Seorang lelaki  berkata kepada Nabi SAW: "Berilah aku wasiat."  Nabi menjawab: "Jangan marag!" (Karena terus-terusan bertanya), maka beliau berulang-ulang menjawab: "Jangan marah!" (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
 
Peristiwa "orang mengotori masjid" sudah ada contohnya. Di zaman Nabi SAW, seorang arab baduy tiba-tiba kencing di pojokan masjid. Para sahabat ngamuk dan ada yang berniat menggebukinya. 
 
Nabi mencegah dan segera menginstruksikan: "Ayo sekarang ambil ember air!" lalu beliau suruh guyur tuh air kencing sembarangan itu. Baduy yang gak tahu sopan-santun itu hanya dinasihati lalu disuruh pergi tanpa diinterogasi dan dihakimi luar dalam, karena semua sudah tahu dia orang bodoh.
 
Punten. Apa yang dilakukan Nabi SAW adalah standar hukum yang harus kita anut. Saya mah maunya seperti beberapa sahabat:  ngagebugan si baduy yang gak tau sopan-santun itu. Tapi kan Nabi melarang.
 
Abu Bakar juga pernah bersumpah menghukum dengan  memutuskan santunan rutin kepada Si Misthah, karena aktif memprovokasi dan memfitnah putri kesayangannya yang juga istri Nabi, Siti Aisyah (dalam peristiwa Haditsul Ifqi). Tapi Nabi melarang bahkan menyuruh Abu Bakar untuk menggandakan bantuannya.
 
Saya hanya melihat sikap Nabi yang lebih mendahulukan "memberi ampunan" daripada "menjatuhkan hukuman", apalagi kepada orang bodoh kayak si baduy. Si perempuan pembawa anjing juga tidak berbeda. Dia orang "bodoh" dan kita tidak bisa "menebak niatnya" untuk sengaja menyerang Islam atau "membawa agenda terselubung" hanya karena membawa-bawa anjing sambil pakai sepatu ke dalam masjid.
 
Menyerahkan perkaranya kepada polisi adalah tepat. Mengganti karpet masjid yang ternoda najis dengan karpet baru juga tepat. Saya juga setuju dengan harapan Kiai Dudung Abdul Gopar, "Mudah-mudahan si perempuan emosional itu mendapat hidayah Islam dan masuk ke barisan kita."
 
Tidak berarti hanya seperti itu sikap Nabi. Sebab beliau pun pernah menyuruh penggal kepala orang yang sudah kelewat saking bikin penghinaan-penghinaan terhadap beliau dan ajarannya. Lagi-lagi ketika manusia  sinting itu ampun-ampunan, Nabi membatalkan vonisnya.
 
Saya hanya dapat pelajaran menarik dari kasus "menjatuhkan keputusan hukum" cara Nabi. Ini "perang pemikiran" (الغزوالفكرى) yang harus dihadapi dengan pikiran cerdas dan pas.  Nabi sangat selektif, hati-hati, tidak terburu-buru memvonis. Bahkan "lebih baik keliru membebaskan daripada keliru menghukum" katanya.
 
Vonis Nabi pun hanya berdasarkan fakta lahiriah, seperti kata beliau:
 
نحن نحكم بالظواهر
 
Artinya, "Kami mengambil  keputusan hukum berdasarkan fakta-fakta lahiriah."
 
Ketika prajuritnya kadung membunuh musuh yang mengucap "La Ilaha illallah" karena dianggapnya hanya omdo,  lip service dan pura-pura, Nabi marah: "Kenapa tidak kamu belah saja dulu dadanya supaya kamu tahu isi hatinya?" Maksud Nabi, kalau jelas mengucap  لاإله إلاالله  ya gak boleh dibunuh. Soal dia pura-pura, hanya Allah yang tahu.
 
Akhirnya, saya  tertarik dengan ucapan Moh Hatta kepada para pendiri bangsa saat terjadi "debat panas" untuk menentukan dasar dan sendi negara kita: "Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin."  Wallahu alam.
 
 
Penulis adalah pengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah. Ia juga pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi.
Selasa 9 Juli 2019 1:0 WIB
Muasal Al-Athlal
Muasal Al-Athlal
Oleh Usman Arrumy 

Ibrahim Naji, seorang pemuda dari Hay Shubro, pamit kepada kekasihnya—kebetulan tetangga sendiri, berusia sekitar 16 tahun, untuk pergi sekolah kedokteran. Selama enam tahun tanpa kabar, dan begitu Naji lulus dan pulang ke kampung halaman, ia baru tahu kalau kekasihnya itu sudah lama menikah dengan lelaki asing.

Pada mulanya ia adalah seorang dokter. Ia lulus sekolah kedokteran pada usia 26 tahun. Setelah itu diangkat sebagai dokter di Kementerian Komunikasi, dan kemudian di Kementrian Kesehatan.
Masa remajanya, ia banyak membaca puisi para penyair kuno, sebut saja di antaranya; puisi-puisinya al-Mutanabbi dan Abu Nawas, menjadi corak dari bagaimana Naji menulis puisi.

Karirnya sebagai penyair dimulai sekitar tahun 1926, ketika Naji menerjemahkan puisi-puisinya Alfred de Musset, novelis dan penyair asal Perancis, dan kemudian diterbitkan di Koran mingguan. Lalu untuk pertama kalinya ia menerbitkan puisi-puisinya pada tahun 1934, ketika ia berusia 36—berjudul al-Waro’ al-Ghomam; Di balik Awan. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1944, Naji menerbitkan puisi-puisinya Layaly al-Qohiroh; Malam Kairo. Itulah kumpulan puisi yang disebut fenomenal oleh banyak kalangan.

Dan, tragedi dimulai dari sini.

Di sebuah malam, pada musim dingin. Naji mendengar suara langkah kaki berderap dan suara pintu diketuk berulang-ulang, ia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Seorang lelaki berusia 40 tahun berdiri di hadapannya, dengan tergopoh lelaki itu minta tolong agar membantu istrinya yang sedang dalam kondisi sulit melahirkan. Malam sudah larut.

Ibrahim Naji bergegas membawa peralatan medis secukupnya.

Di rumah lelaki itu, lampu menyala remang. Suhu udara sedang dingin-dinginnya. Naji mengikuti masuk dengan langkah gugup. Di dalam kamar, dengan pencahayaan yang remang-remang itu, terbaring perempuan hamil mengerang kesakitan. Dari erangan tersebut Naji sudah seperti mengenal dengan baik suaranya. Langkah kaki Naji semakin mendekat ke sisi ranjang, dan Naji terkejut. Sangat terkejut. Di hadapan Naji ternyata adalah seorang perempuan yang bertahun lampau pernah menjadi kekasihnya. 

Dan kini, Naji melihatnya sebagai orang lain yang sudah menjadi istri orang lain--menjadi calon ibu bagi bayi orang lain. Sebagai seorang dokter, Naji tentu profesional; ia bekerja dalam kapasitasnya sebagai dokter, bukan sebagai lelaki yang dilupakan kekasihnya dulu. Ia singkirkan perasaan antara sedih dan bahagia; sedih karena perempuan yang hamil itu kekasihnya, bahagia karena perempuan itu pernah ada dalam kehidupannya.

Cinta di hatinya jauh lebih besar dibanding kehancurannya menghadapi fakta bahwa perempuan yang akan ditolongnya adalah kekasih yang pernah menghuni jiwanya. Cinta itulah yang membuat Naji akhirnya berlapang dada untuk membantu mantan kekasihnya melahirkan bahkan ketika kini Naji sadar tidak menjadi bapak dari anak tersebut.

Anak telah lahir dengan selamat. Dan Naji menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ibu dari bayi tersebut dengan sebaik-baiknya, ia kerahkan segala upaya terbaiknya sebagai dokter untuk melayani dan merawat mantan kekasihnya.

Naji pulang. Dalam perjalanan pulang, ia melewati reruntuhan bangunan. Kepalanya menunduk, di hatinya terpapar sesuatu yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Ketika sampai rumah, ia duduk menghadap jendela, dipandangnya keluasan langit Kairo, terbayang olehnya satu masa saat senyumnya masih menjadi satu-satunya milik kekasihnya itu.

Ia mengambil pulpen dan kertas, dan mulailah Ibtahim Naji menulis puisi Al-Athlal. Menulis reruntuhan hatinya. Menulis puing-puing jiwanya.

Mantan kekasihnya melahirkan bayi.
Ibrahim naji melahirkan puisi.

tak berapa lama setelah al-Athlal ditulis, Ummi Kultsum merencanakan untuk menjadikannya sebagai lagu. Tapi, lekas Ummi Kultsum menyadari ketika tahu latar belakang puisi itu dibuat. Ummi Kulstum merasa tak sampai hati untuk mewujudkannya sebagai lagu. Ummi Kultsum seolah mau memberikan penghormatan kepada Naji dengan cara mengurungkan niatnya dalam menggubah Al-Athlal sebagai lagu—dengan alasan tidak hendak menambah beban kesedihan Naji.

Ummi Kultsum saat itu sudah terlampau populer, dan tiap lagu hampir bisa dipastikan akan mudah terkenal dalam durasi yang sangat cepat. Bila Ummi Kultsum jadi mewujudkan al-Athlal sebagai lagu pada saat itu juga, otomatis al-Athlal akan semakin dikenal. Dengan semakin dikenal, hatinya Ibrahim Naji akan semakin tak terperikan patahnya. Alasan itulah yang membuat Ummi Kultsum menundanya. 

13 tahun setelah Ibrahim Naji wafat, Ummi Kulstum baru merencanakan ulang untuk Al-Athlal. Tersebutlah penyair Ahmad Ramy, Komposer Riyadh Sumbaty, dan Ummi Kultsum sendiri; musyawarah.

Al-Athlal sendiri sebenarnya mempunyai susunan 125 bait, tapi demi efektivitas sebuah lagu, oleh Ahmad Ramy memangkasnya menjadi hanya 32 bait. 32 Bait itulah yang akhirnya dinyanyikan Ummi Kultsum. Bahkan tujuh bait di antaranya diambil dari puisinya Ibrahim Naji berjudul Al-Wada’—Perpisahan.

هل رأى الحب سكارى مثلنا    كم بنينا من خيال حولنا  
ومشينا في طريق مقمر      تثب الفرحة فبه قلبنا
وضحكنا ضحك طفلين معا        وعدونا فسبقنا ظلنا 

وانتبهنا بعد ما زال الرحيق       وأفقنا ليت أنا لانفبق
 يقظة طاحت بأحلام الكرى   وتولى الليل والليل صديق   
وإذا النور نذير طالع     وإذا الفجر مطال كالحريق    
وإذا الدنيا كما نعرفها     وإذ ا الأحباب كل ف طريق

Apakah cinta pernah melihat ada yang semabuk kita? 
Betapa banyak angan-angan telah dibangun di sekitar kita
Dan kita berjalan di bawah terang cahaya bulan, 
Kegembiraan melintas di hadapan kita
Kita tertawa seperti dua bocah yang bermain bersama. 
Dan kita berlomba mengejar bayangan kita masing-masing
 
Kita sadar meski euphoria masih tersisa, 
lalu mengapa kita tak terjaga saja?
Terjaga dari mimpi yang menakutkan, 
dan malam telah datang dan menjadi satu-satunya teman
Ketika cahaya itu menandai terbitnya matahari, 
ketika fajar berlesatan seperti lidah api
Ketika dunia seperti yang kita tahu, 
Ketika Para pecinta menapaki jalannya

Tujuh bait di atas merupakan petikan dari puisi al-Wada’—Ibrahim Naji, yang oleh penyair Ahmad Ramy disertakan di dalam lagu al-Athlal. Tidak hanya itu, bahkan penyair Ahmad Ramy mengubah awal lirik al-Athlal yang semula يا فؤادي رحم الله الهو menjadi seperti yang kita tahu selama ini. يا فؤادي لا تسل أين الهوى.

Betapa andil Ahmad Ramy di dalam keterlibatan al-Athlal begitu jauh dan penting. Tahun 1953, proyek al-Athlal dimulai. Pertama-tama, penetapan lirik dikerjakan oleh Ahmad Ramy. Dan posisi Riyadh Sumbati, sebagai composer, mengerjakannya sampai tahun 1962. Tahun itulah terjadi ketegangan internal antara Riyadh Sumbati dengan Ummi Kulsum. Ketegangan itu dipicu oleh selera nada yang beda. Sampai pada tahun 1966, Al-Athlal launching.

Kembali pada Ibrahim Naji, sang penyair yang menulis al-Athlal. Al-Athlal yang perkasa—musisi Riyadh Sumbati yang jenius menggubahnya menjadi sebuah lagu indah, juga suara Ummi Kulsum yang tak terbantahkan, ternyata semua itu berlatar peristiwa traumatis. Bertahun-tahun kemudian, di Indonesia, al-Athlal lebih dikenal sebagai ‘Sukaro’. 


Kini, mari kita lihat; di Indonesia kebanyakan, lagu al-Athlal dinyanyikan dengan nuansa riang gembira, tak tahu bahwa arti dari lirik yang dinyanyikannya adalah soal hati yang sudah kehilangan bentuknya, adalah soal kekasih yang dicampakkan kekasihnya. Dan kini, marilah kita lihat; ketika dunia bergantian menyanyikan al-Athlal dengan suka-cita, tak tahukah bahwa tiap baitnya bersumber dari kepedihan sang penyairnya. Ibrahim Naji.

Kairo, 30 Juni 2019


Penulis adalah seorang penyair, saat ini menjadi Mahasiswa Al-Azhar Kairo.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG