IMG-LOGO
Nasional

Lembaga Dakwah PBNU Umumkan Peserta Pelatihan Dai dan Imam di Universitas Al-Azhar Kairo 2020

Senin 22 Juli 2019 16:45 WIB
Bagikan:
Lembaga Dakwah PBNU Umumkan Peserta Pelatihan Dai dan Imam di Universitas Al-Azhar Kairo 2020
null
Jakarta, NU Online
Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) mengumumkan peserta terpilih Dauroh Tadrib Duat wal Imam di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir untuk tahun 2020.
 
Sekretaris LD PBNU KH Bukhori Muslim menyampaikan bahwa setelah melalui seleksi, terpilih 88 peserta yang akan diberangkatkan pada pelatihan yang akan diikuti peserta selama dua bulan itu.
 
Kiai Bukhori mengatakan bahwa para peserta terpilih akan dihubungi lagi untuk informasi selanjutnya.
 
“Selanjutnya, akan kami hubungi lebih lanjut,” kata pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu kepada NU Online pada Senin (22/7).
 
Berikut 88 daftar peserta terpilih.
 
1.    Anwar    Depok - Jabar
2.    Hasan Al Bana Cirebon - Jabar
3.    M Saiful Anam Tenggumung Wetan
4.    Ahmad Syukron Ciputat - Tangsel
5.    Muhamad Fahmi Saefuddin Ciputat - Tangsel
6.    Saeful Rohman Pemalang - Jateng
7.    M Halabi Kalimantan Selatan
8.    Inas Nasrullah Cilegon - Banten
9.    Muhammad Humaedi Hatta Sulawesi Selatan
10.    Ardiansyah Bagus Suryanto Sukodadi - Lamongan
11.    Fadhlurrahman Purworejo - Jateng
12.    H. Yufi Mohammad Nasrullah Garut - Jawa Barat
13.    Ihya Ulumudin Purwakarta - Jabar
14.    Maulidi Bantul - DIY
15.    Khaerul Anam Jakarta Selatan
16.    Agus Sholahudin Shidiq    Bojenogoro - Jatim
17.    Iman Saifullah    Garut - Jawa Barat
18.    Ghilman Nursidin Syarief    Tegal - Jawa Tengah
19.    Saikhul Bahri    Pekalongan - Jateng
20.    Herdiansyah    Indragiri Hilir - Riau
21.    Muhammad Nurjoyo    Pekalongan - Jateng
22.    Imam Tahyudin    Banyumas - Jateng
23.    Moh Farhan    Grobogan - Jateng
24.    Abdul Helim    Kalimantan Tengah
25.    Muhammad Bisyri    Tanggerang Selatan
26.    Khayatul Darojad    Magelang - Jateng
27.    Ismail Hasan    Madiun
28.    Ahmad Syaeful Anwar    Jateng
29.    Muhammad Humaedi Hatta    Takalar - Sulawesi Selatan
30.    M Jauharul Maarif    Bojenogoro - Jatim
31.    Riza Purnama    Depok - Jabar
32.    Musa    Indramayu - Jabar
33.    Deni Muharamdani    Garut - Jawa Barat
34.    Ibnu Sina    Cirebon - Jabar
35.    Mohammad Sholeh    Lamongan - Jatim
36.    Syarif Ali Ridlo Yahya    Cirebon - Jabar
37.    Jauharudin    Cirebon - Jabar
38.    Muhammad Abdul Muhaemin As'ad    Cirebon - Jabar
39.    Khaerun Nufus    Cirebon - Jabar
40.    Achmad Ja'far Sodik    Bengkulu 
41.    Muchammad Husnil    Pamulang - Tangsel
42.    Ahmad Multazam    Mamuju
43.    Zaimuddin    Batang - Jateng
44.    Moch Tolkhah Danial    Batang - Jateng
45.    Muhammad Taufiq    Pamekasan - Jatim
46.    Akhmad Farid Mawardi Sufyan    Pamekasan - Jatim
47.    Ahmad Samhan    Jakarta
48.    Moch Bukhori Muslim    Ciputat - Tangsel
49.    Itho Athoillah    Ciputat - Tangsel
50.    K M Jauharul Ma'arif Bojonegoro - Jatim
51.    K Agus Sholahudin     Bojonegoro - Jatim
52.    Tatang Nawawi    Ciamis – Jabar
53.    Yusep Ahmad Nh    Ciamis - Jabar
54.    Ali Ridla    Cirebon - Jabar
55.    Hafid Ismail    Pangandaran - Jabar
56.    Muhamad Husaini    Lamongan - Jatim
57.    Riza Purnama    Depok - Jabar
58.    Dr H Cece    Purwakarta - Jabar
59.    Arian Syahidi    Bengkulu 
60.    Ari Hardianto    Pamulang - Tangsel
61.    Syamsul Ariyadi    Cinangka - Depok
62.    Mukhlisin    Pamulang - Tangsel
63.    Syakir NF    Cirebon - Jabar
64.    Dr Abdul Fadhil    Jakarta
65.    Elfa Muliatama    Jogjakarta
66.    M Muwafiqul Huda    Mojokerto Jatim
67.    Riza Azkia    Denpasar Bali
68.    Mohammad Minanulloh    Jakarta
69.    Abdul Gofur    Bekasi – Jabar
70.    Sayyid Muhammad Yusuf Aidid    Jakarta
71.    Abdul Ghofur    Jakarta Timur
72.    Mohammad Maruf Khozin Yahya    Surabaya – Jatim
73.    Ahmad Sudrajat    Bogor – Jabar
74.    Muhammad Zen    Jakarta
75.    Muhammmad Ikrom    Bogor – Jabar
76.    Cep Heri    Bogor – Jabar
77.    Ali Wafa    Madura
78.    Romli    Bogor – Jabar
79.    Nurhadi    Bogor – Jabar
80.    Khairuddin    Jakarta
81.    Khairuroji    Jakarta
82.    Yusuf Suharto    Jombang – Jatim
83.    Tb Ahmad Ali Al Muwafaq    Pandeglang – Banten
84.    Muhammad Nurwahidin    Jakarta
85.    Achmad Tohe    Malang
86.    Acep Zoni Saeful Mubarok    Jakarta
87.    Ahmad Syukrillah    Bandung – Jabar 
 
 
(Syakir NF/Abdullah Alawi)
 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 22 Juli 2019 23:0 WIB
KH Abbas Buntet: Waspada Neo Wahabi
KH Abbas Buntet: Waspada Neo Wahabi
KH Abbas Buntet acara haul di Garut
Garut, NU Online
Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, Jawa Barat KH Muhammad Abbas Billy Yachsyi Fuad Hasyim mengingatkan kepada umat Islam agar waspada terhadap neo Wahabi yang berkedok Ahlussunnah Waljamaah.
 
"Mereka menyamar dengan cara menamakan amaliyahnya ahlussunnah waljamaah, padahal itu cuma kedok agar kita tidak curiga atas gerakan mereka," ungkapnya.
 
Hal tersebut disampaikan dalam acara haul Ke-70 KHA Muhammad Ishaq bin Syekh KHA Muhammad Umar Bashri dan haul Ke-13 KHA Muhammad bin Syekh KHA Muhammad Umar Bashri di Pesantren Fauzan Sukaresmi, Garut Ahad (21/7).
 
Dijelaskan, Wahabi membiaskan dirinya dengan membuat nama pesantren, madrasah, sekolah, dan lain-lain dengan nama yang lazim digunakan oleh warga NU pada umumnya. Hanya saja, kurikulum dan muatan yang mereka sampaikan berfaham Wahabi.
 
"Jika dikaitkan dengan nilai-nilai dasar agama, sejarah manusia pertama nenek moyang manusia, yakni Nabi Adam AS, mendapatkan perintah mengamalkan 3 syariat Islam, pertama yaitu menikah, kedua dilarang merusak alam, dan ketiga meneteskan darah," bebernya.
 
Dikatakan, Wahabi mengajarkan untuk saling membunuh karena tidak sepaham dengan mereka, karena yang tidak sepaham dengan mereka dianggap toghut, bahkan tidak tanggung-tanggung dianggap kafir yang halal darahnya. Jadi sangat aneh jika agama kita mendidik kita seperti karena tidak sesuai nilai-nilai luhur agama islam itu sendiri.
 
Kiai Abbas menjelaskan makna dari tanah haram di Arab Saudi. Menurutnya, tanah haram merupakan tanah yang tidak boleh meneteskan darah. Jangankan darah manusia, darah hewan pun tidak boleh. Sehingga bagi muslim yang sedang ihram dilarang untuk membunuh nyamuk sekalipun, juga dilarang merusak alam walaupun itu adalah rerumputan.
 
"Ini sejalan dengan tugas Nabi Adam AS, jadi jika ada yang memiliki faham menghalalkan darah atas nama agama maupun atas nama apapun, hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam yang kita anut," tuturnya. 
 
Kiai Abbas juga berpesan agar masyarakat masuk ke dalam NU atau kembali ke NU, dan memahami NU secara holistik (menyeluruh), karena tidak sedikit kiai, santri, masyarakat yang mengaku NU, walaupun secara keseharian mengamalkan dzikir, shalawat, qunut, dan lainnya. Namun harakah (gerakan) dan fikrahnya (pemikiran) bertentangan dengan NU. Sehingga Allah akan mencabut keberkahannya dan disatukan dengan pengkhianat. 
 
Hadir dalam acara tersebut Kabag Yansos Pemerintah Provinsi Jawa Barat Sufri, Pimpinan Pesantren Hidayatul Faizin sekaligus Mustasyar PWNU Jawa Barat KH Abdul Mimar Hidayat, Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KHA Abdul Mujib, Pengurus PCNU Garut, Camat Sukaresmi Heri Hermawan, Camat Bayongbong Santari, Kapolsek Cisurupan Iptu Tito Bintoro, ratusan ajengan, pimpinan pesantren dan ribuan masyarakat Sukaresmi. (Muhammad Salim/Muiz)
Senin 22 Juli 2019 22:45 WIB
Ketika Sekjen PBNU dan Sekum PP Muhammadiyah Saling Lempar Canda
Ketika Sekjen PBNU dan Sekum PP Muhammadiyah Saling Lempar Canda
Jakarta, NU Online
Kedua Sekretaris organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah saling mengungkapkan candaannya tentang peran kedua organisasinya dalam membangun bangsa Indonesia.

Keduanya mengungkapkan saat menjadi pembicara pada acara Dialog Peradaban Bangsa, Islam, dan TNI yang diselenggarakan DPP PA GMNI di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (22/7). Dialog itu mengusung tema Siapa Melahirkan Republik Harus Berani Mengawalnya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama H Helmy menyatakan bahwa pendiri pergerakan Budi Utomo, dr Soetomo mengakui tentang peran pesantren. Kata Helmy, mengutip Sutomo, jauh sebelum pemerintahan Hindia Belanda mendirikan sekolah, pesantren telah menjadi sumber pengetahuan dan mata air ilmu bagi masyarakat nusantara.

"Meskipun (NU) berdirinya tahun 26 (1926), tapi pemikiran, gagasan tentang bagaimana bangsa ini insyaallah telah mendahului Muhammadiyah," kata Sekjen Helmy disambut tawa peserta dialog.

Candaan Helmy kembali keluar. Kali ini, tentang tentang konsep berbangsa dan bernegara. Muhammadiyah sebagaimana diketahui menetapkan konsep darul ahdi was syahadah pada 2015. Sementara NU, menurutnya, sebelum Indonesia merdeka, tepatnya saat Muktamar 1936 di Banjarmasin menetapkan bahwa Indonesia itu  darus salam (negara damai).

"Sementara NU untuk konsep berbangsa dan bernegara itu tahun 36 (1936)," ucapnya kembali disambut tawa hadirin.

Sebelumnya, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan bahwa organisasinya telah melahirkan banyak kader yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah lahirnya bangsa Indonesia, seperti presiden pertama Indonesia Soekarno, penjahit bendera merah putih Fatmawati, anggota Pandu Hizbul Wathan Jenderal Soedirman, dan tokoh BPUPKI Ki Bagus Hadikusumo.

"Nah, yang tidak dilahirkan oleh Muhammadiyah itu hanya NU saja," ucapnya disambut tawa hadirin.

Muara pergerakan dan perjuangan para tokoh nasionalis seperti Soekarno, Panglima Soedirman, Soetomo, dan lain-lain yaitu para kiai. Sebab, dalam memutuskan sesuatu yang bersifat penting, taktis, dan strategis, para tokoh nasionalis kerap meminta nasihat dan fatwa pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, terutama saat penentuan tanggal proklamasi 17 Agustus 1945 dan perang kemerdekaan 10 November 1945 di Surabaya.

Pada dialog itu hadir Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, dan Sekjen DPP PDIP Hasto Krisyanto. (Husni Sahal/Fathoni)
Senin 22 Juli 2019 22:15 WIB
Selama Negara dan Agama Tak Dibenturkan, Indonesia Terbebas dari Konflik
Selama Negara dan Agama Tak Dibenturkan, Indonesia Terbebas dari Konflik
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini saat mengisi diskusi di Kantor GMNI Cikini, Senin (22/7).
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ahmad Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa tesis ilmuwan politik dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Samuel P. Huntington yang menyatakan dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) bahwa paska perang dingin, agama dan kebudayaan menjadi sumber konflik terbantah di negeri Indonesia.

Ia menjelaskan, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini tidak menjadikan agama dan negara sebagai dua kutub yang harus dibenturkan, melainkan keduanya saling menguntungkan. Hubungan saling menguntungkan itu disebut sebagai paradigma simbiotik.

"Beberapa negara di Timur Tengah nyata terjadi konflik, tapi tidak terjadi dengan Indonesia, meskipun dengan beragam pola dan gerakan, paham-paham transnasional yang masuk melalui berbagai hal, seperti media sosial, dan berbagai macam jaringan," kata Sekjen Helmy saat mengisi Dialog Peradaban Bangsa, Islam, dan TNI yang diselenggarakan DPP GMNI di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (22/7). Dialog itu mengusung tema Siapa Melahirkan Republik Harus Berani Mengawalnya.

Menurutnya, pengambilan paradigma simbotik itu melahirkan semangat atau spirit kebangsaan di dalam masyarakat Indonesia, khususnya para ulama. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia menjadi titik temu dari agama dan negara.

"Jadi sebetulnya Pancasila iti titik temu di mana pergulatan relasi agama dan negara ini berstu. Sila pertama 'Ketuhanan Yang Maha Esa' itu sangat jelas religius," ucapnya.

Untuk itu, Pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Percepatan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II pada era Susilo Bambang Yudhoyono ini menyatakan bahwa Indonesia layak menjadi contoh bagi negara lain sebagai sebuah negara yang melahirkan peradaban. Peradaban, sambungnya, lahir dari kearifan-kearifan lokal.

"Maka saya sering mengatakan bahwa pada akhirnya puncak pengetahuan itu kebijaksanaan karena kebijaksanaan lahir dari kearifan-kearifan lokal.

Kita memilikin tepo seliro, tenggang rasa, gotong royong. Jadi banyak sekali kearifan-kearifan lokal kita yang melahirkan peradaban," jelasnya.

Selain paradigma simbiotik, terdapat juga paradigma integralistik atau universalistik, yakni meletakkan hubungan agama dan negara itu sama, dan paradigma sekularistik yang memisahkan sama sekali urusan agama dan urusan negara sebagaimana Turki. Indonesia tidak mengambil kedua paradigma tersebut.

Pada dialog itu, hadir Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, dan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto. (Husni Sahal/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG