IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Komisariat IPNU-IPPNU Perguruan Tinggi Harus Miliki Program Inovasi

Rabu 24 Juli 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Komisariat IPNU-IPPNU Perguruan Tinggi Harus Miliki Program Inovasi
PKPT IPNU-IPPNU STKIP NU Tegal, Jateng
Tegal, NU Online
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah H Nurkholis mengatakan, Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Perguruan Tinggi harus memiliki program yang berbeda dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) ataupun Pimpinan Ranting (PR) yang ada.
 
"Termasuk PK Perguruan Tinggi IPNU-IPPNU Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Nahdlatul Ulama (STKIP NU) Kabupaten Tegal," ujarnya.
 
Hal itu disampaikan saat dirinya menghadiri kegiatan Pelantikan, Upgrading, dan Rapat Kerja Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU STKIP NU Kabupaten Tegal Jawa Tengah masa Khidmat 2019 - 2020 di Gedung PCNU Kabupaten Tegal, Ahad (21/7).
 
Menurutnya, PKPT ini dihuni oleh kaum intelek yaitu mahasiswa. Oleh karenanya, program kegiatan harus berbeda dengan Anak Cabang dan Ranting.
 
"Program PKPT harus beda dengan PAC/PR.  Misalnya dengan gagasan inovasi dan kreativitas yang menjadi kebanggaan warga NU," ujarnya.
 
Pembina PKPT STKIP NU Kabupaten Tegal Zaki Mubarok mengingatkan pentingnya seorang pengurus mampu bersikap legowo dalam berorganisasi. Hal itu penting, agar tidak terjadi gesekan satu sama lain.
 
Zaki yang juga Sekretaris Lakspedam PCNU Kabupaten Tegal itu mengajak pelajar NU agar lebih waspada di zaman milenial sekarang ini. Pasalnya, sudah banyak gerakan pemuda yang mengatasnamakan Islam. 
 
"Oleh karena itu, sebagai kader IPNU-IPPNU di kampus harus mampu membaca situasi dan peluang yang bisa menjadikan organisasi ini sebagai penangkal dari pada gerakan yang tidak jelas arahnya," tandasnya
.
Pengurus Pimpinan Pusat IPNU Aqil berpesan, agar pengurus baru PKPT STKIP NU Tegal untuk terus berjuang dan semangat menjalankan program ke depan. 
 
"Tidak perlu membandingkan dengan PKPT yang sudah maju, karena mereka juga sudah merasakan apa yang kalian rasakan sekarang," tukasnya.
 
Ketua PKPT IPNU STKIP NU Kabupaten Tegal Moh. Solekhudin, Selasa (23/7) kepada NU Online menuturkan, sebagai organisasi yang berada dalam lingkungan akademisi, pengurus PKPT juga diarahkan agar memiliki program unggulan yang dapat menaikkan nama kampus serta Nahdlatul Ulama itu sendiri.
 
"Sesuai harapan PCNU, program komisariat harus ada inovasi yang dapat menaikan almamater kampus STKIP NU Kabupaten Tegal, sehingga tidak tertinggal dengan organisasi yang lain," ujarnya.
 
Pengurus PK Perguruan Tinggi IPNU-IPPNU STKIP NU Kabupaten Tegal masa khidmat 2019-2020 yang dilantik di bawah nahkoda Ketua IPNU Moh Solehudin dan Ketua IPPNU Mikhatun Nisa. Pelantikan dipimpin oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal. 
 
Hadir dalam kesempatan itu antara lain Sekretaris PCNU H Nurkholis Sobari, Ketua STKIP NU Tegal H Muslih, Pembina PKPT IPNU-IPPNU Zaki Mubarok, Pengurus PKPT STKIPNU, Pimpinan Pusat IPNU, Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Tengah, PC IPNU IPPNU Kabupaten Tegal, dan perwakilan PKPT UNNES dan PKPT UIN Wali Songo. (Nurkhasan/Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 24 Juli 2019 23:30 WIB
Peduli Kekeringan, Banser Boyolali Bantu Air Bersih ke Desa
Peduli Kekeringan, Banser Boyolali Bantu Air Bersih ke Desa
Bantuan air bersih dari Ansor Boyolali untuk desa terdampak kekeringan
Boyolali, NU Online
Kekeringan yang melanda di sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, membuat sejumlah daerah mengalami krisis air bersih. Hal inilah yang menjadi keprihatinan para kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser Boyolali dan tergugah untuk ikut membantu warga dengan mengirimkan bantuan air bersih.
 
Bantuan air bersih yang diangkut dengan menggunakan truk dan mobil bak terbuka, disalurkan ke beberapa titik yang mengalami kekeringan air mendapat sambutan yang luar biasa dari warga di Desa Bengkle dan Garangan Kecamatan Wonosamudro.
 
“Penyaluran bantuan air bersih ke Desa Bengkle dan Garangan Kecamatan Wonosamudro, telah kita laksanakan Jumat tanggal 19 Juli lalu. Semoga bantuan yang kecil tersebut bermanfaat untuk warga,” terang Ketua PC GP Ansor Boyolali Husein Ahmadi kepada NU Online, Rabu (24/7).
 
Ditambahkan Husein, dana bantuan air ini didapatkan dari sumbangan kader Ansor dan Banser se-Boyolali, khususnya dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wonosegoro dan Wonosamudro, Kabupaten Boyolali

“Selain dibagikan langsung ke warga, bantuan ini juga disalurkan ke beberapa tampungan air yang ada di masjid dan mushala,” kata dia.

Pihaknya juga memberikan masukan kepada beberapa pihak berwenang, terkait siklus musim kekeringan air ini. Menurut dia, hampir di semua desa di Wonosamudro setiap musim kemarau seperti sekarang ini mengalami kesulitan air bersih. Sehingga pemerintah dan warga perlu mencari solusi yang lebih tepat untuk menyelesaikan persoalan tahunan ini.
 
“Pertama, bisa mencari sumber air di sekitar wilayah terdampak sekaligus pembuatan sumur. Tentu tidak mudah, tapi dengan kerjasama berbagai pihak terkait akan semakin mempercepat terealisasinya program ini,” tutur Husein.
 
Kemudian yang kedua lanjutnya, yakni dengan alternatif melanjutkan progam PDAM, yang sekarang sudah sampai di Kecamatan Wonosegoro. Ketiga, reboisasi atau penanaman hutan kembali.  "Terutama tanaman penyimpan air yang banyak, misalnya pohon beringin,” jelas dia.
 
Masukan yang terakhir, yakni kebijakan pendanaan dari APBD maupun sumber dana lainnya, yang berpihak dan mencukupi. Baik untuk pembuatan sumur, penyaluran PDAM, maupun reboisasi. Dengan beberapa kebijakan tersebut, diharapkan warga tidak lagi mengalami kesulitan mencari air bersih. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Rabu 24 Juli 2019 22:0 WIB
Muslimat NU Solo Diminta Manfaatkan Lahan Pekarangan untuk Sayuran
Muslimat NU Solo Diminta Manfaatkan Lahan Pekarangan untuk Sayuran
PC Muslimat NU Solo, Jawa Tengah
Solo, NU Online
Kaum ibu memiliki peran sangat penting dalam keluarga. Untuk itulah, ia mesti belajar banyak hal. Salah satunya, yang tidak kalah penting, yakni belajar bagaimana memanfaatkan pekarangan/lahan keluarga yang ada di sekitar rumah. Bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, yang kebanyakan tidak memiliki lahan luas, tentu hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri.
 
"Pemanfaatan lahan pekarangan di rumah dengan menanam sayur mayur maupun tanaman konsumsi lainnya merupakan bentuk mewujudkan ketahanan pangan masyarakat. Selain itu memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam tanaman pangan juga akan membantu meningkatkan perekonimian masyarakat," ujar Tri Setiawan.
 
Hal itu disampaikan  Staf Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta dalam acara yang diselenggarakan Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kota Surakarta bekerjasama dengan Dinas Pertanian, tentang Pemanfaatan Pekarangan dan Lahan Keluarga Untuk Peningkatan Gizi dan Ekonomi Keluarga di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surakarta, Rabu (24/7).
 
“Minimal masyarakat bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Daripada membeli, dengan menanam sendiri sayuran dan memanennya akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ungkapnya.
 
Ditambahkan dia, dalam konteks masyarakat perkotaan seperti Kota Solo, yang lahannya terbatas, warga bisa melakukan penanaman dengan metode hidroponik. Pemanfaatan lahan tersebut bisa dilakukan dengan menanam langsung tanaman dan membudidayakannya.

Ketua PC Muslimat NU Surakarta Hj Nur Hidayah Idris mengungkapkan pihaknya menyambut baik dengan adanya kegiatan pelatihan pemanfaatan pekarangan atau lahan keluarga ini.
 
“Banyak sekali hal yang bisa kita manfaatkan dari lahan pekarangan di sekitar lingkungan kita. Dengan pelatihan ini semoga semakin menambah pengetahuan dan kreatifitas kita untuk pemanfaatan lahan pekarangan,” kata dia.
 
Program pemanfaatan pekarangan dan lahan keluarga ini, merupakan program yang diselenggarakan Kementerian Pertanian bekerja sama dengan kelompok wanita, antara lain PKK, Muslimat NU dan lain sebagainya.
 
Sejak tahun 2018 lalu, Gerakan Peran Serta Masyarakat dalam Pemanfaatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan Keluarga Indonesia telah dilaksanakan secara serentak di 10 provinsi. Sepuluh provinsi tersebut yaitu Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
 
Dari program ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga serta peningkatan pendapatan, yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga sehingga mampu mewujudkan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Rabu 24 Juli 2019 21:30 WIB
Fatayat NU Bojonegoro Ingatkan Orang Tua Maraknya Kasus Asusila Usia Anak
Fatayat NU Bojonegoro Ingatkan Orang Tua Maraknya Kasus Asusila Usia Anak
PC Fatayat NU Bojonegoro, Jatim
Bojonegoro, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Bojonegoro, Jawa Timur Ifa Khoiriyah Ningrum menyoroti kasus asusila yang melibatkan anak-anak di Kabupaten Bojonegoro harus menjadi perhatian serius, karena jumlah kasus terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dimungkinkan perbuatan tidak pantas tersebut bisa menjadi ancaman generasi muda.
 
"PC Fatayat NU Kabupaten Bojonegoro perlu mengingatkan para orang tua agar mengajarkan anaknya agar berhati-hati. Sesuai data yang dihimpun dari Kantor Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak ( P3A) Kabupaten Bojonegoro menyebutkan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani P3A Kabupaten Bojonegoro ditahun 2018, terkait kasus persetubuhan anak menangani 2 kasus. Namun ditahun 2019 sampai bulan Juli, P3A sudah mendapatkan laporan 5 kasus persetubuhan anak," jelasnya.
 
Dijelaskan, hal tersebut belum lagi kasus yang lainnya yang dialami anak-anak di Kabupaten Bojonegoro selain persetubuhan juga pemerkosaan, pencabulan dan yang lainnya. Setidaknya kasus anak yang ditangani P3A ditahun 2019 sampai bulan Juli mencapai 22 kasus. Dibandingkan selama tahun 2019, kasus yang menimpa anak sebanyak 23 kasus.
 
Kepada NU Online, Rabu (24/7) Ifa Khoiriyah berharap perlu adanya upaya bersama supaya kejadian tersebut tidak semakin banyak dan melibatkan semua pihak."Butuh semua pihak bergandeng untuk memujudkan anak-anak yang sehat ​​​​​​​fisik, psikis dan spiritual," terangnya.
 
Ifa yang juga dosen IAI Sunan Giri Bojonegoro itu menilai, keluarga sebagai benteng pertama anak sangat diperlukan untuk memberi ​​​​​​​informasi, ilmu, dan teladan yang nyata bagi anak-anak. Pasalnya, banyak penyebab terjadinya kasus kekerasan terhadap anak dan juga ​​​​​​​perempuan.
 
"Ada banyak hal yang menjadi penyebab kasus ini, dan dibutuhkan ​​​​​​​kesungguhan ketahanan keluarga yang kuat, pemerintah yang peduli dengan melibatkan institusi pendidikan lewat sekolah atau pesantren yang memberi isi," bebernya. 
 
Ketua Divisi Pendampingan dan Advokasi P3A Kabupaten Bojonegoro, Umu ​​​​​​​Hanik membenarkan banyaknya kasus yang dialami anak. Termasuk banyak ​​​​​​​faktor yang melatarbelakangi anak-anak menjadi korban kekerasan.
 
"Faktornya dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), karena KDRT yang berujung rebutan anak. Termasuk pascaperceraian yang tak ada ​​​​​​​nafkah buat anak," jelasnya. (M Yazid/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG