IMG-LOGO
Nasional

Istana Negara Kembali Menggelar Dzikir Kebangsaan Menyambut HUT Kemerdekaan

Jumat 2 Agustus 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Istana Negara Kembali Menggelar Dzikir Kebangsaan Menyambut HUT Kemerdekaan
Istana Kepresidenan menggelar Doa Kebangsaan menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/7) malam.
Jakarta, NU Online
Istana Kepresidenan kembali menggelar Doa Kebangsaan di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/7) malam. Acara tersebut digelar dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.
 
Presiden Joko Widodo hadir bersama Ibu Negara Iriana, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan istrinya Mufidah, dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. 
 
Sejumlah tokoh juga tampak menghadiri acara ini. Di antaranya, Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu' tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid, Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar, Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) KH Musthofa Aqil Siroj, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, KH Ahmad Muwafiq, Ustadz Yusuf Mansur, dan Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Tuan Guru Bajang Zainul Majdi.
 
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan zikir yang dipimpin oleh Gus Muwafiq.
 
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Doa Kebangsaan KH Mustofa Aqil Siroj mengatakan bahwa acara ini dihadiri pimpinan ormas dan tokoh lintas agama.
 
"Doa kebangsaan Dihadiri pimpinan berbagai ormas, pemuka lintas agama dan masyarakat karena ini zikir kebangsaan," ujar Kiai Musthofa.
 
Pada kesempatan itu, Kiai Musthofa mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung pemerintahan Jokowi dan JK, yang akan dilanjutkan dengan pemerintahan Jokowi-Kiai Ma'ruf Amin.
 
"Kami mendukung pemerintahan Indonesia yang dipimpin Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla yang insyaallah akan diteruskan Pak Jokowi dan KH Ma'ruf Amin," ucapnya. 
 
Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengajak semua pihak untuk mempererat persaudaraan dan persatuan. Menurut Jokowi, persaudaraan merupakan kunci membawa suatu negara menjadi maju.
 
"Karena potensi besar kita dimulai dengan adanya rasa persatuan, rasa persaudaraan kita sebagai saudara, sebangsa dan setanah air. Persaudaraan lah yang akan membawa negara kita maju. Menatap masa depan dengan optimisme," kata Jokowi.
 
Presiden menyatakan, sebagai bangsa yang besar, masyarakat sudah seharusnya memiliki cita-cita dan mimpi yang besar. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa ada tantangan besar yang perlu dihadapi dalam menggapai mimpi tersebut.
 
Oleh karena itu, sambungnya, melalui kesempatan ini, kita bersama-sama menundukkan hati dan berdoa agar dapat melewati tantangan.
 
“Insyaallah semuanya bisa kita atasi sehingga cita-cita kemerdekaan yang dikumandangkan 74 tahun lalu bisa terwujud," ucapnya.
 
"Marilah kita jaga kearifan lokal sebagai sebagai sebuah bamgsa. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing," imbuhnya. (Husni Sahal/Zunus)
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 2 Agustus 2019 20:0 WIB
IPNU Harus Lahirkan Produk Cegah Radikalisme Pelajar
IPNU Harus Lahirkan Produk Cegah Radikalisme Pelajar
Focus Grup Discussion dengan tema Pancasila dan Pencegahan Radikalisasi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Jakarta, NU Online
Radikalisme menjadi virus yang terus mewabah ke dunia pelajar saat ini. Beberapa hasil penelitian menyebutkan sudah lebih dari 20 persen para pelajar terjangkiti virus yang membahayakan bangsa Indonesia ke depannya ini.
 
Tak ayal, ramai-ramai orang mendiskusikan hal tersebut guna mengatasi dan mengobati para pelajar yang sudah terkena. Pun mencegah pelajar lainnya agar tidak sama menambah persentase yang terpapar.

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar Focus Grup Discussion dengan tema Pancasila dan Pencegahan Radikalisasi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (2/8).

Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Noer Fajrieansyah dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa tugas IPNU adalah membuat langkah praktis untuk mencegah pemahaman radikal itu merasuk ke benak para pelajar.

Hal itu, menurutnya, bisa dilakukan dengan memasuki dunia digital yang saat ini menjadi dunianya pelajar. Terlebih, mereka adalah warga asli dunia digital (digital native). “Jangan kader IPNU malah tidak masuk ke ranah digital,” katanya.

Lebih lanjut, Fajrie juga mengungkapkan bahwa langkah praktis dalam mencegah berkembangnya paham radikal yang dilakukan oleh IPNU harus berupa program yang konkret menyentuh ke pelajar secara langsung. “Program konkret untuk mencegah radikalisasi. Berikan kami program untuk membuat produk,” katanya.

IPNU, menurutnya, harus melahirkan produk yang dapat membuat siswa tidak lagi tertarik untuk bergabung ke dalam kelompok radikal ataupun terkena virusnya. “Pikirkan apa produk yang bisa lahirkan untuk menyibukkan siswa,” ucapnya.

Sebab, katanya, siswa yang terpapar radikalisme biasanya terkena aarena kesibukannya pada rutinitas bermain gim, seperti teroris yang melakukan aksinya di Selandia Baru atau terpapar dari komunitasnya.

Selain Fajrie, kegiatan ini juga menghadirkan Sekretaris Pengurus Pusat (PP) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Harianto Oghiw. Hadir mengikuti kegiatan ini para pengurus IPNU dan IPPNU dari berbagai tingkatan di wilayah Jakarta. (Syakir NF/Abdullah Alawi)
 
Jumat 2 Agustus 2019 19:15 WIB
Jakarta dan Sekitarnya Diguncang Gempa, Peringatan Dini Tsunami
Jakarta dan Sekitarnya Diguncang Gempa, Peringatan Dini Tsunami
Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Sebuah getaran gempa terjadi di Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya, Jumat (2/8).  Guncangan juga terasa dari lantai lima gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

“Gempa, gempa, gempa,” teriak sejumlah orang yang kemudian berusaha berlindung di balik meja. 

Beberapa teman di Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan juga mengaku merasakan hal yang sama. Guncangan membuat banyak orang berhampuran keluar rumah sebagai langkah antisipasi. Grup-grup Whatsapp pun ramai dengan testimoni kewaspadaan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa terjadi pada pukul 19.03.21 WIB dengan kekuatan 7,4 SR dan berada di kedalaman 10 km. Getaran berpusat di 7.54 LS, 104.58 BT (147 km barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten).

Situs resmi BMKG juga merilis bahwa gempa berpotensi tsunami dan berharap informasi diteruskan kepada masyarakat. 

“Peringatan dini tsunami untuk wilayah: Banten, Bengkulu, Jabar, Lampung,” tulis BMKG dalam laman resminya.
 
BMKG mengeluarkan status peringatan siaga untuk daerah Pandeglang Bagian Selatan, Pandeglang Pulau Panaitan, dan Lampung-Barat-Pesisir Selatan. Hingga berita ini dimuat, BMKG baru mengeluarkan peringatan dini pertama.

(Mahbib)
 
Jumat 2 Agustus 2019 19:0 WIB
Islam Moderat Sebab Indonesia Dikagumi Negara Luar
Islam Moderat Sebab Indonesia Dikagumi Negara Luar
Anggota MPR RI Zainut Tauhid Sa'adi (Dok. NU Online)
Jakarta, NU Online
Anggota MPR RI H Zainut Tauhid Sa’adi mengungkapkan tentang respons negara-negara lain yang mengagumi penerapan Islam yang moderat di Indonesia. Hal itu karena dilihatnya berjalan dengan baik, sehingga terciptanya keadamaian.

“Ini barangkali kita harus pertahankan: Islam yang ramah, Islam yang moderat, Islam yang tawasuth, yang menjadi kekuatan kita,” kata Zainut saat mengisi Sosialisasi 4 Pilar yang diselenggarakan PP IPNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/8).

Indonesia juga disebut tercatat sebagai negara Islam yang berhasil menjalankan demokrasi dengan baik. Keadaan ini tidak terjadi di negara-negara yang ada di Timur Tengah, seperti Syiria, yakni terjadi konflik yang berkepenjangan. Bahkan, katanya, akibat dari konflik itu membuatnya menjadi negara gagal.

“Sementara Indonesia dengan mayoritas menganut agama Islam bisa melaksanakan kehidupan demokrasi dengan baik,” ucapnya. 

Pria yang juga Wakil Ketua Umum MUI Pusat ini mencontohkan bagaimana Indonesia telah mengadakan beberapa kali Pemilu dan Pilpres, tapi berjalan dengan lancar dan damai. 

“Pemilu terakhir yang kita khawatirkan kita akan menjadi negara di Syria sana,   alhamdulillah tokoh-tokohnya bisa kembali rukun, bisa merajut perdamaian, keadamaian yang kemudian membangun dialog. Mudah-mudahan ke depan tokoh-tokoh negarawan ini bisa terus mengembangkan demokrasi yang baik,” terangnya.

Menurutnya, perbedaan adalah suatu keniscayaan, dan kebinekaan adalah anugerah yang harus disyukuri. Bukan sebaliknya, yakni menjadikan sesuatu yang dipertentangkan.
Ia lantas menggambarkan keindaha perbedaan dengan beragam warna bunga. Menurutnya, jika dalam suatu taman hanya berisi bunga yang berwarna merah atau hijau, terlihatnya tidak indah. Berbeda jika dalam taman tersebut terdapat beragama warna: merah, hijau, kuning, maka menjadi pemandangan yang indah.

“Kebinekaan adalah sebuah hal yang niscaya yang harus kita pertahankan,” ucapnya.

Ia meminta kepada peserta agar terus menumbuhkan toleransi terhadap penganut agama lain agar kerukunan tetap berlangsung. Dalam perjalanan bangsa Indonesia, umat Islam yang merupakan pendudukan mayoritas, telah menjadi warga yang toleran. Di antara contoh yang dapat disebut, ialah penerimaan terhadap Bhineka Tunggal Ika. 

Menurutnya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang menganut agama Buddha. Namun, sambungnya, walau pun dari Buddha, umat Islam mampu menerimanya.

“Ini bentuk toleransi yang sangat luar biasa dan itulah menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Kebinekaan itu harus kita pertahankan,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG