IMG-LOGO
Internasional

Panas di Arafah Lebih dari 40 Derajat Celcius, Ini yang Harus Diperhatikan Jemaah Haji

Senin 5 Agustus 2019 0:0 WIB
Bagikan:
Panas di Arafah Lebih dari 40 Derajat Celcius, Ini yang Harus Diperhatikan Jemaah Haji
Muhammad Dong, Petugas Tim Promotif dan Preventif KKHI Makkah (Foto: Faizin/NUO)
Makkah, NU Online
Tim Promotif dan Preventif Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Muhammad Dong mengingatkan para jemaah haji untuk terus menjaga stamina dan kesehatan jelang puncak ibadah haji yakni wukuf di Arafah yang akan dilaksanakan pada Sabtu 10 Agustus 2019.

Ia menegaskan, kesehatan menjadi faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan ibadah wukuf. Ditambah lagi kondisi suhu Padang Arafah saat ini yang mencapai di atas 40 derajat celcius harus diantisipasi oleh para jemaah.

"Tidak mungkin ibadah akan maksimal jika tidak sehat," tegasnya saat memberi penyuluhan pada jemaah kelompok terbang (kloter) 51, 53, dan 55 yang berada di Hotel Al Zaer Mashaer 114 Syisyah, Makkah, Ahad (4/8).

Menyikapi kondisi ini pihaknya terus melakukan penyuluhan dan mengingatkan jemaah untuk melakukan tindakan antisipatif sebelum dan selama proses Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Di antaranya yang pertama adalah menghindari dehidrasi.

"Jangan sampai dehidrasi. Caranya minum sesering mungkin jangan tunggu haus. Hindari dehidrasi dengan minum oralit satu bungkus dilarutkan ke 600 ml air, setiap hari" sarannya kepada jemaah yang memenuhi mushala hotel tersebut.

Menurutnya orang yang terkena dehidrasi mudah untuk diserang penyakit dan penyakit yang diderita gampang kambuh. "Banyak kasus jemaah yang masuk klinik kami disebabkan karena dehidrasi. Buktinya ketika diinfus satu sampai dua botol berangsur cepat sehat," ujarnya.

Selanjutnya, jemaah harus mengenakan alat pelindung diri (APD) saat beraktivitas. APD tersebut terdiri dari payung putih untuk menolak panas dan menghindari heatstroke (panas), handuk yang dibasahi, kacamata hitam, masker, sprayer yang diisi zam zam dan alas kaki.

"Perbanyak istirahat. Jangan habiskan tenaganya sekarang. Fokuskan untuk meraih puncak haji wukuf di Arafah," anjurnya.

Pola makan dan hidup juga harus diperhatikan dengan banyak makan buah dan sayur-sayuran. Selain itu ia mengingatkan jemaah untuk menghindari stres.

"Serahkan segalanya kepada Allah. Jika ada masalah di tanah air serahkan kepada Allah di tanah suci ini. Insyaallah semua akan menemukan solusinya," katanya.

Selain mabrur dalam ibadah, lanjutnya, mabrur dalam kesehatan juga penting untuk diraih. Salah satu contoh kemabruran kesehatan yakni perihal kebiasaan merokok. Jika di tanah air memiliki kebiasaan merokok, maka Makkah dan Madinah menurutnya menjadi tempat pertobatan terbaik untuk menghentikan kebiasaan tersebut

"Merokok tidak hanya merugikan diri sendiri tapi merugikan orang lain juga," pungkasnya. (Muhammad Faizin)
Bagikan:

Baca Juga

Senin 5 Agustus 2019 21:30 WIB
Dua Bulan Bersepeda, Delapan Warga Inggris Tiba di Saudi untuk Berhaji
Dua Bulan Bersepeda, Delapan Warga Inggris Tiba di Saudi untuk Berhaji
Ka'bah.(pri.org)
Makkah, NU Online
Delapan warga Inggris tiba di Arab Saudi pada Sabtu (3/8) kemarin untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka sampai di Kota Suci setelah dua bulan melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda dari Inggris.

Dilaporkan surat kabar lokal, Okaz, sebagaimana dikutip dari laman Middle East Monitor, Senin (5/8), penduduk Madinah menyambut delapan warga Inggris itu dengan shalawat badar. Mereka bersyukur kepada Allah karena telah menempuh jarak ribuan kilometer.

Delapan warga Inggris itu tiba di Makkah setelah melewati 17 negara dan menempuh jarak 6.500 kilometer. Ketua Tim Haji, Taher Akhtar, mengatakan, perjalanan haji yang dilalui dirinya dan teman-temannya adalah salah satu perjalanan yang sangat menakjubkan. 

“Perjalanan (haji) ini spiritual, dan meskipun ada kesulitan, itu tetap menjadi salah satu perjalanan yang paling indah," katanya.

Akhtar menceritakan, selama perjalanan timnya mengalami beberapa kendala. Mulai dari cuaca yang tidak menentu, hujan, badai, kekurangan oksigen, hingga jalanan yang keras dan dipenuhi binatang.

Pada 13 Juli lalu, Akhtar dan tujuh temannya sampai di Istanbul. Mereka diterima Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di istana kepresidenannya yang di Dolmabahce. Mereka memulai perjalanan dengan sepeda dari London pada Jumat, 7 Juni atau dua bulan lalu untuk menunaikan ibadah haji di Makkah.  

Menurut Direktorat Jenderal Paspor Arab Saudi, per Ahad, 4 Agustus kemarin ada 1.604.171  jamaah haji yang sudah tiba di Arab Saudi. Jamaah yang datang via udara mencapai 1.498.909 orang, via darat  88.346 orang, dan via laut 16.916 orang.

Melaksanakan lima rukun haji

Ketika seseorang melaksanakan ibadah haji, maka ia wajib melaksanakan rukun haji. Hal ini penting diperhatikan karena jika mereka tidak melaksanakan rukun haji, maka hajinya batal dan harus diulang. Sesuai dengan keterangan dalam kitab Fathul Qaribil Mujib, rukun haji ada lima:

Pertama, ihram atau berniat ihram. Kedua, wukuf di Padang Arafah. Wukuf dimulai dari waktu Shalat Dzuhur 9 Dzul Hijjah hingga shubuh tanggal 10 Dzul Hijjah. Jamaah memiliki dua pilihan untuk melaksanakan wukuf di Arafah; mereka bisa mengambil waktu siang sampai setelah maghrib, ataupun malam harinya sampai jelang subuh.

Ketiga, Thawaf Ifadhah. Setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah, jamaah haji kemudian menuju Masjidil Haram untuk thawaf ifadhah, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Keempat, berlari-lari kecil (sa’i) dari bukit Shafa dan Marwah, dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Kelima, mencukur rambut (tahallul). Rukun haji kelima ini dilaksanakan setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai. Adapun waktunya, sekurang-kurangnya adalah setelah lewat tanggal 10 Dzulhijjah. (Red: Muchlishon)
Senin 5 Agustus 2019 18:30 WIB
Dokumen Kurang, Ratusan Ribu Jamaah Tidak Bisa Masuk Makkah
Dokumen Kurang, Ratusan Ribu Jamaah Tidak Bisa Masuk Makkah
Ilustrasi petugas menghentikan jamaah haji di Makkah karena dokumennya kurang. (SPA)
Makkah, NU Online
Gubernur Makkah, Pangeran Khalid al-Faisal mengatakan, lebih dari 329 ribu jamaah tidak bisa memasuki Kota Makkah karena dokumen izin haji yang mereka miliki kurang. Lebih dari itu, setidaknya 144 ribu tanpa izin juga tidak diizinkan masuk Makkah, 15 pengemudi ditangkap karena membawa jamaah haji ilegal, dan 181 biro haji ditutup.

Menurut al-Faisal, seperti diberitakan Arab News, Ahad (4/8), langkah itu dilakukan setiap tahun untuk mengurangi kemacetan yang terjadi selama pelaksanaan haji. Al-Faisal menuturkan, pemerintah Saudi telah memobilisasi lebih dari 350 ribu orang untuk memberikan pelayanan kepada para jamaah haji.

Selama musim haji, tidak semua kendaraan bisa masuk Kota Makkah. Hanya pengemudi yang diberi izin khusus yang bisa masuk ke kota suci tersebut. Kebijakan itu diterapkan untuk mengurai kemacetan di Makkah selama musim haji.

Sebelumnya, Presiden dari General Syndicate of Cars (GCS), Abdulrahman Al-Harbi, menilai, langkah melarang kendaraan masuk ke Makkah adalah kebijakan yang strategis dan penting. Menurutnya, kebijakan ini akan membuat lalu lintas di Makkah lebih lancar dan memfasilitasi masuknya ribuan bus jamaah haji ke wilayah tengah.

Menurut Direktorat Jenderal Paspor Arab Saudi, per Ahad, 4 Agustus kemarin ada 1.604.171  jamaah haji yang sudah tiba di Arab Saudi. Jamaah yang datang via udara mencapai 1.498.909 orang, via darat  88.346 orang, dan via laut 16.916 orang. 

Saudi larang wisatawan Kongo masuk wilayahnya

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi melarang wisatawan yang berasal dari Republik Demokratik Kongo masuk ke wilayahnya karena khawatir Ebola akan menyebar selama musim haji tahun ini. Larangan itu didasarkan pada keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu yang menyatakan wabah Ebola sebagai darurat internasional. Namun demikian, WHO mendorong agar sejumlah negara tidak membatasi perdagangan atau perjalanan.

Menurut kementerian terkait, keputusan itu bertujuan untuk melindungi kesehatan para jamaah haji dari wabah Ebola. “Pemberian visa kedatangan bagi warga yang berasal dari Kongo dihentikan guna melindungi kesehatan para jamaah,” kata kementerian dalam pernyataannya, seperti diberitakan Reuters, Jumat (26/7).

Sebelumnya, Arab Saudi juga menangguhkan visa jamaah dari sejumlah negara seperti dari Sierra Leone, Liberia, dan Guinea selama wabah Ebola pada 2014-2016. Pada saat itu, wabah Ebola menewaskan lebih dari 11.000 orang. (Red: Muchlishon)
Senin 5 Agustus 2019 16:45 WIB
Jemaah Haji Indonesia Diimbau Hindari Waktu Larangan Lontar Jamarat
Jemaah Haji Indonesia Diimbau Hindari Waktu Larangan Lontar Jamarat
Lempar Jamarat (Net)
Makkah, NU Online
Kantor Urusan Haji Republik Indonesia Daerah Kerja (Daker) Makkah mengeluarkan edaran imbauan kepada jemaah tentang kegiatan ibadah bagi jemaah haji saat berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Dalam edaran tersebut Kepala Daker Makkah H Subhan Cholid menekankan bahwa imbauan tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas kegiatan ibadah Armuzna.

Imbauan tersebut berdasarkan surat ketua Muassasah Asia Tenggara tertanggal 2 Agustus 2019 perihal perubahan waktu larangan melontar jamarat untuk jemaah haji Indonesia. Jemaah haji Indonesia diimbau menghindari atau tidak melontar jamarat pada waktu yang dilarang.

Waktu larangan tersebut yakni pada tanggal 10 Dzulhijah dimulai dari pukul 04.00 WAS sampai pukul 10.00 WAS. Sementara tanggal 11 Dzulhijah tidak ada larangan waktu melontar jamarat dan tanggal 12 Dzulhijah dilarang melontar jamarat dari pukul 10.00 WAS sampai pukul 14.00 WAS.

Saat Armuzna, para jemaah juga diimbau mempersiapkan barang bawaan terkait dengan perlengkapan seperti sajadah, Al Quran, buku panduan do'a dan manasik haji. Para jemaah juga diingatkan memulai niat ihram di pemondokan atau hotel masing-masing dan tetap menjaga Iarangan-larangan.

"Membaca talbiyah selama dalam perjalanan menuju Arafah, perbanyak dzikir, doa, dan membaca AI Quran. Bersabar ketika berada di muzdalifah dan jangan berdesakan menuju bus taraddud," imbaunya, Ahad (4/8).

Bagi yang tergabung dalam kloter awal, para jemaah diharapkan melaksanakan mabit di Mina dengan nafar Awal, dan segera melaksanakan tawaf ifadhah setelah berada di pemondokan/hotel.

Berdasarkan pantauan NU Online di Arafah dan Mina, sejumlah Maktab dan para petugas kloter sudah melakukan survey ke lokasi tenda, baik di Arafah maupun di Mina. Survey ini dilakukan untuk mempersiapkan segala keperluan selama Armuzna.

"Setelah kunjungan ke lokasi Armuzna kita akan sampaikan kepada para jemaah tentang situasi dan kondisi tenda dan hal-hal apa saja yang perlu dibawa dan dipersiapkan," kata Hilal salah satu ketua kloter dari Lampung.

Hilal mengatakan Kloter JKG 51 yang ia pimpin berada di maktab 21. Di Arafah, JKG 51 mendapat 3 tenda yang masing-masing memuat 167 jemaah di tenda 1, 125 jemaah di tenda 2, dan 118 jemaah di tenda 3. Sementara untuk di Mina JKG 51 mendapat lokasi di dekat Masjid Kuwaity yang berjarak kurang lebih 7 kilometer dari jamarat.

Untuk lancarnya proses Armuzna, koordinasi dengan ketua rombongan dan ketua regu juga akan terus ditingkatkan. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG