IMG-LOGO
Daerah

Masuk Zona Merah, Warga Dilatih Siap Hadapi Risiko Ancaman Bencana

Senin 5 Agustus 2019 7:0 WIB
Bagikan:
Masuk Zona Merah, Warga Dilatih Siap Hadapi Risiko Ancaman Bencana
Ekspedisi Destana Tsunami (EDT) 2019 memberikan sosialisasi desa rawan tsunami di Pangandaran.
Pangandaran, NU Online
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) memasuki segmen ketiga pada kegiatan Ekspedisi Destana Tsunami (EDT) 2019. Kali ini menyusuri desa-desa yang rawan tsunami di wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
 
Pasar Nanjung Elok menjadi sasaran tim LPBINU untuk melakukan sosialisasi dan simulasi pengurangan risiko bencana.
 
Materi sosialisasi disampaikan Seketaris LPBINU, Yayah Ruchyati. Dirinya mengajak masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan kebencanaan, kesiapsiagaan dini, serta evakuasi bila terjadi gempa dan tsunami.
 
Perempuan kelahiran Bogor ini mengatakan bahwa masyarakat atau pedagang di pasar Nanjung Elok itu harus saling bekerja sama dan selalu siaga. 
 
"Saya berharap warga membentuk group whatsapp khusus tentang informasi kebencanaan, dan melibatkan anggota BPBD, atau yang berwenang, sehingga informasi yang diterima tidak simpang siur," ujar Yayah kepada NU Online, Ahad (4/8).
 
Yayah mengungkapkan bahwa ancaman risiko yang dihadapi di lokasi ini adalah gempa dan tsunami karena masuk zona merah. Oleh sebab itu kewaspadaan lebih dan kolektif harus dimiliki warga. 
 
"Beberapa warga dan pedagang di sini mengaku belum pernah menerima sosialisasi kebencanaan, dan berdasarkan dari hasil survey tim kami menemukan bahwa di lokasi juga belum memiliki rambu evakuasi tsunami," ungkapnya.
 
Tempat evakuasi sementara atau shelter yang dibangun oleh pemerintah tidak digunakan untuk evakuasi, akan tetapi masyarakat lebih memilih Masjid Agung menjadi tempat evakuasi.
 
Yayah mengatakan bahwa jalur evakuasi dengan rambu yang jelas. Termasuk titik kumpul sangat penting untuk menghindari kepanikan dan banyak jatuh korban ketika terjadi gempa.
 
Dengan diadakannya sosialisasi melalui EDT 2019 ini, merupakan langkah awal upaya meningkatkan mitigasi bencana pada masyarakat, mengajak dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman risiko bencana. 
 
"Inilah ikhtiar agar masyarakat siap untuk selamat," paparnya
 
Sosialisasi yang dilakukan oleh LPBINU dan anggota BPBD tersebut diikuti oleh pengelola dan pedagang Pasar Nanjung Elok, wisatawan, pedagang pantai, dan warga sekitar. (Anty Husnawati/Ibnu Nawawi)
 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 5 Agustus 2019 23:30 WIB
Ada Ronaldo di UKT Pagar Nusa Kuningan
Ada Ronaldo di UKT Pagar Nusa Kuningan
Peserta UKT Pagar Nusa Kabupaten Kuningan Jawa Barat
Kuningan, NU Online
Sebanyak 60 santri Pesantren Miftahul Muta'allimin Pangkalan, Kuninngan, Jawa Barat mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) dan Masa Penerimaan Anggota (Mapag) Pagar Nusa Kabupaten Kuningan.
 
Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Lahir (Harlah) ke-79 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dr) ini diselenggarakan ba'da dzuhur, Ahad (4/8).
 
" Kegiatan UKT Pagar Nusa ini bertepatan dengan harlah guru bangsa dan warga NU almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan kegiatan ini banyak memberi warna untuk santri, warga Pangkalan, dan NU sendiri," ujar pembina Pesantren, K Zahid.
 
Dijelaskan, setiap harinya santri dibekali ilmu-ilmu salaf dari kitab kuning (turats) dalam sistem klasikal madrasah, pagi hingga siang sekolah formal lalu istirahat sejenak, sore hingga petang dilanjut kembali pengajian di madrasah. 
 
"Sesekali santri harus dibekali ilmu bela diri sebagai ajang kreatifitas santri dan membudayakan kesenian khas nusantara, yakni pencak silat," ujarnya. 
 
Menurut Gus Aep, salah seorang pengasuh pesantren, wadah yang paling tepat untuk santri salaf dalam hal kesenian bela diri adalah Pencak Silat Nahdlatul Ulama yang dalam hal ini ada badan otonom tersendiri yg khusus membidanginya yaitu Pagar Nusa. 
 
"Itung-itung refreshing dan ekstra kurikuker pondok ya silat ini, juga sebagai kaderisasi NU muda," jelas Aep yang juga Koordinator Generasi Muda NU di wilayah Kecamatan Cipicung.
 
Dijelaskan, Pagar Nusa adalah kependekan dari Pagar NU dan bangsa, didirikan tanggal 3 Januari 1986 di Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur oleh KHMA Maksum Djauhari salah seorang cucu KH Abdul Karim muassis Lirboyo.
 
Namanya terdengar ke seluruh pelosok daerah ketika menjabat Komando Penumpasan PKI dan antek-anteknya di wilayah Kediri dan sekitarnya. Identik dengan rambut gondrongnya, Gus Maksum sapaannya, dikenal sebagai pendekar nomor wahid di kalangan NU.
 
Ketua Pagar Nusa Kabupaten Kuningan, Alvin mengatakan, dari ajang UKT berharap ke depan lebih berkembang lagi dari segi kualitas maupun kuantitas dan aktif dalam setiap even di dunia persilatan.
 
"Insyaallah September depan akan ada pawai dan atraksi dalam hari jadi kota Kuningan, bulan Oktober tepat perayaan upacara Hari Santri Nasional, 22 Oktober juga akan ada pentas seni silat yg istiqamah kami adakan di Pendopo Kabupaten Kuningan, jadi kami harap ada delegasi dari santri yang ikut berpartisipasi dalam even-even tersebut," ujarnya.
 
Salah seorang pengasuh pondok Kiai Muhsin mengatakan, rencananya akan dibuka lagi gelombang berikutnya bagi santri maupun warga sekitar yang hendak bergabung gratis tanpa pungutan. 
 
"Insyaallah santri putri juga akan kami agendakan ikut ekstrakurikuler pencak silat pagar nusa ini," janjinya.
 
Dijelaskan Kiai Zahid, dalam acara UKT Pagar Nusa ini ada sosok peserta bernama Ronaldo, dia adalah santri baru yg berasal dari Sindangbarang Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan. 
 
"Tentu bukan Ronaldo eks pemain bola Manchester United. Tetapi Insyàallah kita doakan agar santri-santri ini menjadi atlit, pendekar tangguh yang menjunjung tinggi nilai ahlussunnah waljamaah annahdliyah," pungkasnya. (AC Millah/Muiz)
Senin 5 Agustus 2019 23:0 WIB
Ansor dan Banser Diminta Jihad 'Bijarikum'
Ansor dan Banser Diminta Jihad 'Bijarikum'
Peserta Diklat Ansor Cyber Media, Ansor Banyumas, Jateng
Banyumas, NU Online
Pengasuh Pesantren  El-Madani, Banjarparakan Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Gus Muhammad Rif'an Muhajirin menyerukan saatnya jihad dengan jari. Mengingat, saat ini dunia maya (digital) khususnya media sosial, mengharuskan jihad dengan cara yang beda. 
 
"Saya mengajak pada teman-teman Ansor Cyber Media (ACM), wajahidu bijariikum. Ayo kita jihad dengan jari-jari sahabat semua," katanya dalam penutupan Pelatihan Dasar Cyber, Ahad (4/8) kemarin. 
 
Dengan jihad bijariikum, maka tidak perlu lagi memanggul senjata, cukup dengan handphone, tab, dan atau komputer. Semua itu, katanya, dilakukan untuk NU. Bagian dari rasa khidmad nyata pada organisasi yang sangat besar dan membawa berkah ini. 
 
"NU itu besar, kita ini kecil. Maka, mari kita depe-depe dan mendekat dengan cara khidmah kepada NU. Insyaallah sekecil apapun khidmah kita akan membawa kebaikan dan berkah bagi diri dan keluarga," kata Gus Rif'an lagi.  
 
Dikatakan, jika saja warga NU bergerak untuk sama-sama memanfaatkan media sosial untuk berdakwah dan berjihad dengan menebar kebaikan, menebar konten-konten yang sejuk, dan Islam yang ramah, dirinya yakin dunia maya bisa dikuasai.
 
"Jangan sampai kita kalah dengan mereka yang hanya kecil anggotanya, akan tetapi setiap saat menghiasi medsos dengan konten-konten yang berlawanan dengan Islam yang rahmatan lil alamin," tegasnya. 
 
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dasar cyber yang diselenggarakan Sabtu-Ahad (3-4/8) di Pesantren El-Madani ini merupakan rangkaian dari diklat dasar yang digelar ACM Banyumas di bawah koordinasi PC GP Ansor. 
 
"Akan dilakukan diklat serupa di wilayah kecamatan lain se-Banyumas hingga menyeluruh sampai tahun 2020, ujar Wakil Ketua PC GP Ansor Banyumas, Rochiman. 
Ia meminta kepada anggota baru ACM mengutamakan loyalitas dalam organisasi.
 
"Sahabat-sahabat yang sudah mengikuti pendidikan ini harus memiliki loyalitas dan rela berkorban untuk organisasi. Semoga hal itu akan menjadi wasilah hidup berkah sampai anak cucu kita," katanya. 
 
Peserta diklat menerima materi mulai dari fotografi, sindikasi media, hingga pelatihan mengoperasikan drone. Ada juga pelatihan teknis menulis, baik berita pendek hingga, broadcast, dan menulis caption. (Kifayatul Ahyar/Muiz
Senin 5 Agustus 2019 22:30 WIB
Jihad di Media Sosial Harus Dilakukan dengan Cara Berbeda
Jihad di Media Sosial Harus Dilakukan dengan Cara Berbeda
Pelatihan Dasar Cyber oleh PC GP Ansor Banyumas.
Banyumas, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren El Madani, Banjarparakan, Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah, Gus M Rif'an Muhajirin menyerukan saatnya jihad dengan jari. Mengingat, saat ini dunia maya (digital) khususnya media sosial, mengharuskan jihad dengan cara yang beda. 
 
"Saya mengajak pada teman-teman Ansor Cyber Media atau ACM wajahidu bijariikum. Ayo kita jihad dengan jari-jari sahabat semua," katanya pada penutupan Pelatihan Dasar Cyber, Ahad (4/8). 
 
Dengan jihad bijariikum, maka tidak perlu lagi memanggul senjata. Cukup dengan handphone, tablet dan atau komputer. Semua itu, katanya, dilakukan untuk NU. Bagian dari rasa khidmah nyata pada organisasi yang sangat besar dan membawa berkah ini. 
 
"NU itu besar, kita ini kecil. Maka, mari kita depe-depe mendekat dengan cara khidmah kepada NU. Insyaallah sekecil apapun khidmah kita akan membawa kebaikan dan berkah bagi diri dan keluarga," ungkap Gus Rif'an.  
 
Diklat dasar cyber diselenggarakan sejak Sabtu hingga Ahad (3-4/8). Ini merupakan rangkaian diklat dasar yang digelar ACM Banyumas di bawah kordinasi Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Akan dilakukan diklat serupa di wilayah kecamatan lain se-Banyumas hingga menyeluruh sampai 2020. 
 
Wakil Ketua PC GP Ansor, Rochiman menegaskan supaya anggota baru ACM mengutamakan loyalitas dalam organisasi. "Sahabat-sahabat yang sudah mengikuti pendidikan ini harus memiliki loyalitas dan rela berkorban untuk organisasi. Semoga itu akan menjadi wasilah hidup berkah sampai anak cucu kita," harapnya. 
 
Secara umum, peserta diklat menerima materi mulai dari fotografi, sindikasi media, hingga pelatihan mengoperasikan drone. Ada juga pelatihan teknis menulis, baik berita pendek hingga, broadcast dan menulis caption. 
 
Diharapkan dengan diklat ini akan semakin banyak pegiat media sosial dari kalangan santri dan NU. Hal tersebut tentu demi semakin mengenalkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah atau Aswaja an-Nahdliyah  di dunia nyata maupun maya. (Djito el-Fateh/Ibnu Nawawi)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG