Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kesaksian Ketua RMI Jawa Timur Jelang Kewafatan Mbah Moen

Kesaksian Ketua RMI Jawa Timur Jelang Kewafatan Mbah Moen
Rombongan RMI Jatim bertemu Mbah Moen
Rombongan RMI Jatim bertemu Mbah Moen
Jombang, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah (PW) Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Jawa Timur KH M Zaki Hadzik atau akrab disapa Gus Zaki menceritakan momen-momen terakhir bersama Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair di Makkah, Arab Saudi. Hal ini dikarenakan keduanya sama-sama sedang melakukan ibadah haji.
 
Cucu dari Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari ini menceritakan jika beberapa jam sebelum Kiai Maimoen wafat, ia dan rombongannya sempat sowan ke Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang ini di hotel tempat Mbah Moen menginap.
 
Pertemuan tersebut dilakukan pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019 pukul 22.00 WIB waktu Makkah atau hanya beberapa jam sebelum Mbah Moen meninggal dunia.
"Hari Senin, saya dan Gus Afif sepakat sowan kepada Mbah Moen. Kami segera mengontak khadam beliau dan meminta waktu. Alhamdulillah, kami diberi waktu," jelasnya, Selasa (6/8).
 
Lanjutnya, pertemuan itu bermula pada pukul 21.00 waktu Arab Saudi, Gus Zaki beserta rombongan tujuh orang sampai di kamar hotel yang cukup sederhana untuk ukuran Mbah Moen. Saat itu, Mbah Moen masih sare (tidur). 
 
"Agak lama kami menunggu karena tidak ingin mengganggu istirahat kiai," ujar Gus Zaki. 
 
Di sela menunggu, terbesit dalam pikiran Gus Zaki untuk kirim surat Al-Fatihah ke Mbah Maimoen. Benar saja, tak lama kemudian Mbah Maimoen terbangun dan selanjutnya rombongannya bisa sowan.
 
"Saat sowan, Kiai dawuh, umur diatas 80 tahun wes susah, opo maneh aku wis 91 tahun," ceritanya.
 
Lebih lanjut, Gus Zaki mengatakan saat itu Mbah Maimoen sempat cerita bahwa menjelang kelahirannya, sempat ditunggui oleh Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1928. Atau dua tahun setelah Nahdlatul Ulama resmi berdiri.
 
"Kami sempatkan mohon doa barakah. Di tengah-tengah doa yang dipanjatkan, terdengar isak-isak tangis kecil. Beliau sempat minta maaf atas tidak adanya suguhan," ujar Gus Zaki.
 
Kejadian unik tercipta saat rombongan Gus Zaki dan rombongan hendak pamit pulang. Karena waktu yang sudah cukup larut dan Mbah Maimoen harus istirahat. Menurut keyakinan Gus Zaki, rombongannya mungkin yang orang yang terakhir mendapat doa dari kiai kharismatik ini. 
 
"Barangkali, kami adalah orang terakhir yang mendapat doa barakah dari kiai," bebernya.
 
"Bahkan ketika saya pamit dan akan memberikan titipan dari kawan-kawan. Kiai dawuh, Mpun tho, mboten usah ngeten Kiai (sudah, jangan begini kiai)". Beliau menyebut Saya 'kiai' yang jauh dari standar seorang kiai," tandas Gus Zaki. 
 
Kiai Maimoen lahir di Sarang, Rembang, pada 28 Oktober 1928. Kiai Maimoen wafat di Makkah pada Selasa (6/8) saat melaksanakan ibadah haji. Jenazah dimakamkan di Makam Ma'la dekat dengan Sayyidah Khodijah Al-Kubro RA, Sayyid Alawi Al-Maliki, dan juga Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. (Syarif Abdurrahman/Muiz
Posisi Bawah | Youtube NU Online