IMG-LOGO
Daerah

Di Sulawesi Utara Cegah Radikalisme dan Terorisme Lewat Radio

Jumat 9 Agustus 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Di Sulawesi Utara Cegah Radikalisme dan Terorisme Lewat Radio
Talk show radikalisme dan terorisme di Radio Montini 106 FM Manado, Sulawesi Utara.
Manado, NU Online
Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) memiliki tugas pokok untuk merumuskan, mengoordinasikan dan melaksanakan kebijakan, strategi serta program nasional penanggulangan terorisme di bidang kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi.
 
Selain itu, BNPT menjadi pusat analisis dan pengendalian krisis yang berfungsi sebagai fasilitas bagi presiden untuk menetapkan kebijakan dan langkah penanganan krisis, termasuk pengerahan sumber daya dalam menangani terorisme.
 
Dalam Undang-Undang Terorisme nomor 5 Tahun 2018 dalam penguatan substansi BNPT antara lain kriminalisasi baru terhadap berbagai rumus baru tindak pidana terorisme.
 
“Kedua, seperti jenis bahan peledak, mengikuti pelatihan militer atau para militer atau yang lainnya,” kata Roedy Widodo, Kamis (8/8) pada acara talk show yang digelar Radio Montini 106 FM Manado, Sulawesi Utara.
 
Kapala Sub Direktorat Pemulihan Korban BNPT tersebut mengemukakan yang ketiga adalah pemberatan sanksi terhadap pelaku tindak pidana terorisme.
 
Keempat yakni perluasan sanksi pidana terhadap korporasi yang dikenakan kepada pendiri, pimpinan, pengurus atau orang-orang yang mengarahkan kegiatan terorisme.
 
Kelima adalah penjatuhan pidana tambahan berupa pencabutan hak untuk memiliki paspor dalam jangka waktu tertentu.
 
Berikutnya keputusan terhadap hukum acara pidana  seperti penambahan waktu penangkapan, penahanan untuk kepentingan penyidik dan penuntut umum.
 
Perlindungan korban tindak pidana sebagai bentuk tanggungjawab negara.
 
“Selanjutnya, pencegahan tindak pidana terorisme dilaksanakan oleh instansi terkait sesuaidengan fungsi dan kewenang-wenangan masing-masing yang dikoordinasikan BNPT,” uranya. 
 
Dan terakhir, kelembagaan BNPT dan pengawasannya serta peran TNI. 
Talk show yang diselenggarakan di Radio Montini merupakan rangkaian dari kegiatan rembuk aparatur kelurahan dan desa tentang literasi informasi melalui FKPT Sulut yang akan dilaksanakan pada 8 Agustus di Tasik Ria Resort. 
 
Kegiatan ini diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan aparatur kelurahan dan desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Media terhadap radikalisme dan terorisme. 
 
"Mari bersama-sama melawan radikalisme dan terorisme karena keterlibatan masyarakat adalah kunci untuk keberhasilan penanggulangan terorisme" jelas Roedy.
 
Di kesempatan yang sama, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Utara lewat James Tulangao (Ketua FKPT Sulawesi Utara) menyampaikan bahwa kegiatan merupakan kerja sama BNPT dan FKPT. Hal tersebut sebagai wujud dari pendekatan lunak dalam memerangi radikalisme-terorisme. 
 
"Kita berharap bahwa pencegahan radikalisme dan terorisme harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan struktur pemerintah hingga ke akar rumput seperti aparatur kelurahan dan desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan media," tegas James.
 
Talk show tersebut berlangsung mulai pukul 19.00 s/d 20.30 waktu setempat. Turut hadir sebagai narasumber adalah Roedy Widodo (Kasubdit Pemulihan Korban BNPT), James Tulangao (Ketua FKPT Sulawesi Utara), Yosep Adi Prasetyo (Mantan Ketua Dewan Pers) dan Foke Lontaan sebagai Kapala Bidang Media Massa dan Humas FKPT Sulawesi Utara. (Ibnu Nawawi)
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 9 Agustus 2019 23:0 WIB
Fatayat NU Harus Jadi Garda Terdepan Perempuan NU
Fatayat NU Harus Jadi Garda Terdepan Perempuan NU
Pelantikan Fatayat NU di Tegal, Jateng
Tegal, NU Online
Sekretaris Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU)  Kabupaten Tegal, Jawa Tengah Hj Nok Masruha mengatakan, Fatayat NU sebagai salah satu organisasi otonom yang mewadahi perempuan muda NU diharapkan menjadi garda terdepan perempuan NU.
 
"Sebagai ibu muda NU, Fatayat harus menunjukkan kekuatan dan energi utama sebagai garda perempuan terdepan NU," ujarnya.

Hal tersebut diungkapkan saat Pelantikan Pimpinan Ranting (PR) Fatayat NU Desa Pecabean masa khidmat 2019-2022 sekaligus Pengajian Mudzakaroh PAC Fatayat NU Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal, Kamis (8/8) di Desa Pecabean Kecamatan Pangkah.
 
Menurutnya, sebagai garda terdepan perempuan NU, Fatayat NU harus memberikan manfaat bagi kepentingan umat.
 
 "Fatayat NU memiliki peran sangat penting dalam membangun bangsa dan negara, serta  membentuk karakter budaya generasi bangsa Indonesia," ungkapnya.
 
Hal senada disampaikan Perwakilan Kepala Desa Pecabean Ustadz Nahdudin, Fatayat harus memosisikan diri menjadi pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga.
 
“Ungkapan bahwa perempuan adalah tiang negara memiliki makna dalam untuk membangun bangsa dan negara. Demikian juga Fatayat NU, dapat memperbaiki kualitas keluarga melalui berbagi prioritas bidang yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi," paparnya.
 
Dalam kesempatan itu juga dilakukan pelantikan Pimpinan Ranting Fatayat NU Desa Pecabean masa khidmat 2019-2022 oleh Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Tegal. Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tegal Ida Hidayati ditandai dengan pengucapan ikrar Pengurus.
 
Turut hadir dalam kegiatan itu, Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Pangkah Hj Saodah, Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Pangkah Diah Rahajeng, Ketua PR NU Desa Pecabean Ahmad Rusdi, serta Pimpinan Ranting Muslimat NU dan Fatayat NU se-Kecamatan Pangkah.
 
Sementara itu Ketua Pimpinan Ranting Fatayat NU Desa Pecabean Murniyati kepada NU Online, Jumat (9/8) menuturkan, Fatayat NU Pecabean bertekad untuk lebih giat dan eksis dalam melakukan aktifitas organisasi dan syi'ar Islam Ahlussunah Waljamaah Annahdiyah.
 
“Mudah-mudahan kami dapat menjalankan amanat organisasi dengan baik untuk berkhidmat di Fatayat NU. Harapannya bisa diakui sebagai santrinya mbah Hasyim Asy'ari," ungkapnya. (Naelul Rizqon/Nurkhasan/Muiz)
Jumat 9 Agustus 2019 21:0 WIB
Gus Idror, Putra Bungsu Mbah Moen Dianggap Paling Mirip dengan Ayahandanya  
Gus Idror, Putra Bungsu Mbah Moen Dianggap Paling Mirip dengan Ayahandanya  
Putra bungsu Mbah Moen, Gus Idror
Rembang, NU Online
Wafatnya ulama karismatik KH Maimoen Zubair tentu cukup sulit untuk menghapus rasa kesedihan. Kehilangan sosok ulama yang berilmu, pertanda datangnya hari kiamat kian dekat, Mautul Alim, Mautul Alam.
 
Tentu sosok yang senantiasa memperlihatkan senyum khasnya itu akan tetap dirindukan oleh para santri dan kita semua bangsa Indonesia. 

Meski demikian, Pesantren Al-Anwar Sarang masih memiliki 10 putra dan putri KH Maimoen Zubair yang siap meneruskan perjuangan dalam menggembleng para santri menggeluti agama Islam maupun pendidikan formal.
 
Kepada awak media putra kesepuluh Mbah Maimoen, Gus Muhammad Idror mengaku mendapatkan pesan dari ayahnda untuk menjunjung tinggi ilmu, menjaga, dan meneruskan pondok pesantren agar dirawat dengan baik.
 
“Sangat menjunjung tinggi dengan sekali dengan ilmu, supaya pendidikan pesantren dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Kalau saya membantu di Al-Anwar induk, membantu di kajian kitab-kitab berbahasa arab. Banyak sekali kenangan dan banyak ilmu yang diberikan kepada saya. Di antaranya selalu mengajarkan banyak murid dan putra beliau yang ahli ilmu dan ahli Al-Qur’an,” kata Gus Idror.
 
Sejak kecil Gus Idror dididik oleh ayahandanya sendiri KH Maimoen Zubair di Pesantren Al-Anwar bersama dengan santri-santri yang lain sampai dengan usia remaja. Setelah dinyatakan lulus, Gus Idror pergi ke Makkah untuk memperdalam keilmuannya.
 
Ia diasuh langsung oleh Sayyid Ahmad Bin Muhammad Bin Alawy Al Maliki. Salah satu ulama tersohor di kota Makkah. Setelah pulang, Gus Idror membantu ayahnya mendidik para santri di Ponpes Al-Anwar satu. Ia merupakan membantu ayahnya untuk melakukan kajian kitab-kitab berbahasa Arab, fiqih, dan juga hadits.
 
Ia mengaku banyak sekali kenangan bersama beliau yang tidak dapat terlupakan. Ia berdoa semoga dapat meneruskan semua apa yang menjadi cita-cita Mbah Moen yang sangat konsen dalam menggeluti dunia pendidikan.

Tanpa menafikan putra-putra beliau yang lain, nama Gus Idror usianya sekitar 30 tahun dinilai banyak pihak memiliki kemiripan dengan ayahandanya. Dia merupakan putra ke-10 dari almagfurlah, dari Nyai Hajah Mastiah almarhumah.

Dari sisi keilmuan, seluruh putra Mbah Moen sangat mumpuni dalam hal ilmu agama. Mereka juga merupakan lulusan dari para guru dan universitas ternama. Baik dalam negeri maupun Timur Tengah. 
 
"Meski demikian, sebagian masyarakat  menilai Gus Idror memiliki kemiripan dengan sosok mendiang ayahandanya," ujar Gus Umam santri yang dekat dengan mendiang Mbah Moen. 

KH Maimoen Zubair menikah dengan istri pertama Nyai Hj Fahima Baidhowi putri dari KH Baidhowi Lasem Rembang. Dari pernikahannya, keduannya dikaruniai dua putra dan satu putri, masing-masing KH Abdullah Ubab (Gus Ubab), KH Muhammad Najih (Gus Najih), dan Nyai Hajah Shobihah (Neng Shobihah)
 
Dari istri kedua, yakni Ibu Nyai Hajah Mastiah, Mbah Moen dikaruniai 6 putra dan satu putri, masing-masing KH Majid Kamil (Gus Kamil), KH Abdul Goffur (Gus Ghofur), KH Abdul Rouf (Gus Rouf), KH Muhammad Wafi (Gus Wafi), Nyai Hajah Rodhiah (Neng Yah), KH Taj Yasin (Gus Yasin), dan KH Muhammad Idror (Gus Idror).
 
Setelah istri pertama dan kedua wafat lebih dulu, Mbah Moen kembali menikah dengan istri ketiganya yaitu Nyai Hj Heni Maryam putri dari salah satu ulama dari Kabupaten Kudus. 
 
Dari pernikahan ini tidak dikaruniai keturunan.  Nyai Hj Heni Maryam menemani Mbah Moen menunaikan ibadah haji di tanah suci sampai dengan wafat. (Ahmad Asmui/Muiz)
Jumat 9 Agustus 2019 10:0 WIB
Tingkatkan Mutu Guru, Pergunu Jawa Barat Berikan Beasiswa Pascasarjana
Tingkatkan Mutu Guru, Pergunu Jawa Barat Berikan Beasiswa Pascasarjana
Kerja sama PW Pergunu Jabar dengan IAI Bunga Bangsa, Cirebon.
Cirebon, NU Online
Pengurus Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat  melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Institut Agama Islam (IAI) Bunga Bangsa Cirebon. Kerja
 
sama ini untuk memberikan kesempatan melanjutkan studi pascasarjana bagi sejumlah guru NU di Jawa Barat. Kesempatan tersebut untuk program studi magister manajemen pendidikan Islam. 
 
Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilaksanakan di Aula Pasacasarjana IAI Bunga Bangsa Cirebon yang beralamat di jalan Widarasari III, Sutawinangun, Kedawung, Cirebon, Kamis (8/8).
 
Pada kesempatan tersebut, Ketua PW Pergunu Jawa Barat H Saepuloh  menyampaikan dengan program beasiswa ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas dan kompetensi guru-guru NU.
 
“Terutama yang berada di Wilayah III Cirebon,” katanya.
 
Program beasiswa tersebut kerja sama dengan IAI Bunga Bangsa Cirebon ini, diharapkan bukan hanya meningkatkan kualifikasi akademik para guru NU. “Juga dibarengi dengan peningkatan kualitas dan kompetensi guru-guru NU khususnya di Kabupaten Cirebon dan sekitarnya," tutur Saepuloh.
 
Lebih lanjut disampaikannya bahwa peluang beasiswa harus betul-betul dimanfaatkan oleh warga NU. “Karena melalui program beasiswa pascasarjana ini setidaknya dapat mempercepat peningkatan sumber daya manusia NU di Jawa Barat," kata Kang Epul, sapaan akrabnya. 
 
Sementara itu, Rektor IAI Bunga Bangsa Cirebon, H Oman Faturrohman mengungkapkan bahwa kerja sama yang dibangun tidak hanya sebatas program pemberian beasiswa bagi guru-guru yang tergabung di Pergunu. Namun bisa berlanjut dengan kerja sama di bidang lainnya.
 
“Terutama yang berkaitan dengan berbagai upaya pengembangan kapabilitas guru-guru yang berada di bawah naungan Pergunu Jawa Barat,” ungkapnya.
 
Sebelumnya, PW Pergunu Jawa Barat sudah melakukan kerja sama dengan Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, STIE Pasundan, dan Institut KH Abdul Chalim untuk pemberian beasiswa S1, S2 dan S3 bagi guru-guru NU di Jawa Barat. 
 
Dan pada waktu dekat akan dilakukan kerja sama juga dengan STKIP Pangeran Dharma Kusuma Indramayu. (Cahya/Ibnu Nawawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG