IMG-LOGO
Daerah

IPPNU Sumbar Prihatin Pergaulan Bebas di Kalangan Pelajar

Ahad 11 Agustus 2019 5:0 WIB
Bagikan:
IPPNU Sumbar Prihatin Pergaulan Bebas di Kalangan Pelajar
Makesta IPNU-IPPNU Padang Pariaman, Sumatera Barat
Padang Pariaman, NU Online
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sumatera Barat Rabiatul Adabiah mengaku prihatin atas kasus peningkatan kasus HIV/AIDS dan hubungan seks pranikah yang dilakukan pelajar.
 
"Hubungan seks pranikah di kalangan pelajar ini merupakan tantangan yang serius dan perlu perhatian semua pihak. IPPNU sangat prihatin dengan terjadinya kasus penyakit hepatitis dan HIV. Apalagi ditemukannya siswa yang sudah melakukan hubungan seks pranikah tersebut," tutur Rabiatul.
 
Demikian diungkapkan saat penutupan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Padang Pariaman di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Aswaja Padang Nonang Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sabtu (10/8).
 
Dikatakan, pelajar dan santri harus dibentengi dari paham yang merusak pemikiran dan perilakunya dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Karena tidak paham dengan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),  pelajar mulai dimasuki pemikiran yang tidak lagi sejalan dengan ideologi bangsa Indonesia, yakni Pancasila.
 
"Meningkatnya kasus HIV di Sumatera Barat merupakan tantangan kita untuk membentengi meeka dari perilaku seks bebas," tandasnya.
 
Menurut Rabiatul, dengan pelaksanaan Makesta ini, IPNU-IPPNU ingin membentengi pelajar dan santri agar tidak sampai dipengaruhi oleh pemikiran yang merusak tersebut. Karena dalam penyampaian materi dari narasumber ditanamkan kecintaan terhadap NKRI dan pentingnya menjaga keutuhannya.
 
"Tantangan pelajar dan santri saat ini semakin berat. Tidak saja disebabkan persaingan yang semakin ketat, namun juga pengaruh perkembangan teknologi informasi sangat mempengaruhi sikap dan pemahaman pelajar dan santri terhadap NKRI dan agama Islam," tegasnya. 
 
"Makesta ini merupakan langkah awal untuk melahirkan kader IPNU-IPPNU di Padang Pariaman yang siap mengawal keutuhan NKRI," imbuh Rabiatul, alumni pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan ini.
 
Ketua PC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana dalam sesi kepemimpinan menyebutkan, kader IPNU-IPPNU harus siap menjadi tongkat estafet NU di masa depan. Karena itu, sebagai pelajar dan santri harus serius dan tekun dalam menuntut ilmu. Kuasai ilmu sebanyak mungkin, jangan mudah terpengaruh oleh kepentingan dan godaan sesaat yang akan merusak cita-cita menjadi kader NU nantinya. 

"Sebagai pelajar NU, IPNU dan IPPNU harus tampil di depan dalam menjaga pelajar dari pengaruh gerakan kanan yang merongrong keutuhan NKRI. Pelajar merupakan garda terdepan dalam mengawal NKRI di kalangan pelajar," kata Zeki menambahkan.
 
Ketua Panitia Makesta Mulya Rizki menyebutkan,  Makesta yang berlangsung sejak Jumat (9/8) diikuti utusan dari sejumlah pondok pesantren di Padang Pariaman dan pelajar dari Kota Pariaman.
 
Tampil sebagai pemateri lainnya mantan Ketua IPPNU Sumbar Leni Herfina, Pimpinan Pesantren Nurul Yaqin Aswaja Aswir Tuanku Sidi Ibrahim, Mabincab PMII Kota Pariaman Sepra Putra. (Armaidi Tanjung/Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 11 Agustus 2019 23:0 WIB
Ikuti Arahan PBNU, NU Maron Purworejo Bungkus Daging Kurban dengan Kertas
Ikuti Arahan PBNU, NU Maron Purworejo Bungkus Daging Kurban dengan Kertas
Daging kurban dibungkus kertas
Purworejo, NU Online
Seperti momen Idul Adha pada ghalibnya, pengurus Mushala Al-Busyro yang berada di Dusun Maron Rt 03/01, Loano, Purworejo, juga melaksanakan penyembelihan dan pembagian kurban dari masyarakat sekitar.
 
Namun, berbeda dari tahun sebelumnya yang membagikan daging kurban menggunakan kantong plastik, kali ini panitia lebih memilih memakai kertas.
 
Pengurus Mushala Al-Busyro yang juga Ketua Ranting NU Maron Kiai Muhammad Faisol Reza mengungkapkan bahwa hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti arahan dari PBNU yang mengkampanyekan Kurban Tanpa Kantong Plastik.
 
"Kampanye ini membuktikan bahwa NU tidak hanya peduli pada masalah-masalah ubudiyah-keagamaan seperti shalat, puasa, dan llain-lain. Tetapi NU juga sangat berkomitmen mengusahakan kemaslahatan di tengah-tengah umat lewat berbagai gerakan. Dan salah satunya adalah gerakan peduli lingkungan," terang Kiai muda ini, kepada NU Online, Ahad (11/8).
 
"Kalau kita mau teliti, upaya menjaga lingkungan ini juga bagian dari agama. Mencintai lingkungan adalah sebagian dari iman. Sebagai kader NU saya sangat bangga bisa melaksanakan arahan ini di tingkat terbawah," ungkap Pegawai Negeri Sipil ini menambahkan.
 
Sebelum melaksanakan pembagian daging kurban ke masyarakat, kiai muda yang juga pegiat nubackpacker ini memberikan pemahaman kepada masyarakat terlebih dahulu mengenai bahaya sampah plastik.
 
"Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Jika masih bisa mengusahakan media yang lain dan diniati untuk menjaga lingkungan, hal sederhana ini bisa bernilai ibadah," jelasnya.
 
Maswan, salah satu warga setempat turut mengapresiasi perubahan ini. "Kantong plastik memang jauh lebih mudah dan instan. Tapi beralih pada kertas juga tidak terlalu memberatkan, apalagi tujuannya memang baik," tuturnya.
 
Sebelumnya, seperti diberitakan NU Online (22/7), LPBI PBNU mengampanyekan urban tanpa plastik sebagai bentuk kepedulian terhadap bahaya sampah plastik yang kian hari kian parah.
 
"Kami imbau para penyelenggara kurban untuk tidak perlu lagi mempergunakan kantong plastik atau kresek sebagai wadah daging, tapi menggunakan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan. Jadikan Idul Adha sebagai satu momen kebangkitan untuk peduli lingkungan," kata Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI PBNU Fitri Aryani di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. (Ahmad Naufa/Muiz)
Ahad 11 Agustus 2019 22:0 WIB
Mahasiswa Harus Aktif Membangun Peradaban Bangsa
Mahasiswa Harus Aktif Membangun Peradaban Bangsa
Pelatihan jurnalistik siap pakai PMII Padang Pariaman, Sumbar
Pariaman, NU Online
Aktivitas menulis dan membaca turut membangun peradaban bangsa Indonesia. Karena dengan aktivitas menulis dan membaca dapat melahirkan bahan bacaan yang dapat membangun peradaban bangsa. 

"Mahasiswa sebagai kaum intelektual di kampus harus mampu berperan aktif dalam membangun peradaban bangsa tersebut," ujar Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Padang Pariaman, Armaidi Tanjung.
 
Demikian diungkapkan Sabtu (10/8) pada Pelatihan Jurnalistik Siap Pakai, di Sekretariat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pariaman, Simpang Jagung, Pariaman Selatan, Kota Pariaman. 
 
Menurut Armaidi, aktivitas membaca sesungguhnya merupakan perintah ayat pertama turun yang diterima Nabi Muhammad SAW. dari Malaikat Jibril. "Bacalah", begitu ayat pertama dari surat Al-Alaq turun.
 
"Banyak orang yang menulis sesuatu pada mulanya bertujuan sebagai catatan harian seusai melakukan sesuatu. Seperti menulis pada buku diary. Pada saat menulisnya hanya merupakan keluh kesah yang dihadapi dalam kehidupan keseharian," ungkapnya. 
 
Namun di kemudian hari, catatan harian tersebut menjadi sumber sejarah penting  dan peradaban dari sesuatu komunitas," imbuh Armaidi Tanjung yang juga Kontributor NU Online Sumatera Barat ini.
 
Ditambahkan, bahkan ada sebuah komunitas (suku) yang tidak pernah ditemukan tulisan yang ditinggalkan oleh generasi pendahulunya, sehingga sulit mengetahui sejarah dan peradaban dari suku tersebut.
 
"Jika ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, maka hancurkan perpustakaannya yang menyimpan banyak buku, dokumen dan bahan bacaan lainnya tentang bangsa tersebut," kata Armaidi.
 
Armaidi juga menyebutkan, kemampuan menulis harus didahului dengan minat baca. Mereka yang tidak berminat membaca, maka akan sulit menulis. Untuk itu, mereka yang ingin menulis harus memaksa dirinya agar mulai rajin membaca. Sediakan waktu untuk membaca setiap hari. Hanya dengan banyak membaca seseorang akan mudah menulis.
 
"Tak ada alasan lagi menumbuhkan minat baca sulit karena susah mendapatkan buku bacaan. Soal buku sekarang sudah banyak terdapat di perpustakaan. Ada perpustakaan di sekolah, kampus, milik Pemerintah Kota Pariaman di pantai Gandoriah, di kantor desa, bahkan perpustakaan keliling. Masalahnya, masih belum banyak yang memanfaatkan secara maksimal," tuturnya.
 
Koordinator Pelatihan Ridho Setia Putra mengatakan, pelatihan  diikuti kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Pariaman, dan Gerakan Pemuda Ansor Sumbar.
 
Materi yang disampaikan adalah apa alasan menulis, teknik menulis berita, teknik wawancara, dan teknik menulis profil. Pelatihan juga disertai dengan praktek menulis berita sehingga peserta langsung memahami bagaimana menulis sebuah berita.
 
Dikatakan Ridho, pelatihan diharapkan mampu memberikan bekal keterampilan menulis kepada peserta yang mayoritas mahasiswa. "Dengan bekal pengetahuan dari pelatihan Jurnalistik Siap Pakai ini, mudah-mudahan sudah ada peserta yang mampu menulis di media massa nantinya," pungkas Ridho Setia Putra. (Red: Muiz
Ahad 11 Agustus 2019 19:0 WIB
Ketua MWCNU Ledokombo: Makanan Bergizi Tidak Harus Mahal
Ketua MWCNU Ledokombo: Makanan Bergizi Tidak Harus Mahal
Ketua MWCNU Ledokombo Kabupaten Jember, Gus Miftahul Arifin Hasan

Jember, NU Online

Kecerdasan dan kesehatan adalah impian setiap orang. Namun tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sebab bagi sebagian orang, untuk mendapatkan hal tersebut dianggap susah. Padahal tidak demikian.

Hal tersebut diungkapkan Ketua MWCNU Ledokombo Kabupaten Jember, Gus Miftahul Arifin Hasan saat memberikan sambutan dalam Workshop dengan tema Kesadaran Pangan Bergizi untuk Anak Muda di aula Laboratorium Otomotif Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Sabtu (10/8).

Menurutnya, salah satu cara untuk cerdas dan sehat adalah dengan memperhatikan asupan makanan. Dikatakannya, makanan bergizi membuat badan sehat. Jika badan sehat maka secara logika jiwa juga sehat.

Al ’aqlus salim fil jismis salim. Jiwa yang sehat terletak dalam badan yang sehat,” tuturnya seraya menukil Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut.

Ia mengingatkan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal. Sebab makanan yang murah dan terjangkau juga banyak yang bergizi dan sehat. Sebaliknya, makanan yang mahal terkadang justru tidak sehat, dan bahkan membahayakan kesehatan. Katanya, dalam Islam istilah yang dipakai adalah makanan yang halal dan baik.

“Halal belum tentu baik. Baik belum tentu halal. Jadi kedua-duanya harus dipenuhi untuk dikonsumsi. Dan itulah masuk kategori makanan bergizi,” urainya.

Sementara itu, ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Ledokombo yang sekaligus panitia Workshop, Ustadz Hikam menyatakan bahwa latar belakang digelarnya acara tersebut adalah karena dipicu oleh semakin berkurangnya kesadaran para pelajar terhadap pentingnya mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi.

Dikatakan, kecenderungan remaja untuk menghindar dari makanan bergizi, selain disebabkan praduga mahalnya biaya untuk itu, juga karena tidak punya motivasi untuk mencari makanan bergizi dengan biaya murah.

“Maka dari itu sangat penting untuk meningkatkan kesadaran mereka akan arti pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi. Lebih dari itu, dalam jangka panjang, kita perlu merangkul forum atau organisasi-organisasi yang mempelopori gerakan-gerakan solutif untuk mengentaskan permasalahan ini,” harapnya.

Acara yang digelar oleh PAC IPNU-IPNU Ledokombo tersebut diikuti oleh 50 peserta, yang merupakan perwakilan pengurus sejumlah pesantren dan para ketua Komisariat IPNU-IPPNU dan lembaga pendidikan di Kecamatan Ledokombo. (Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG