IMG-LOGO
Daerah

Lintas Agama Semarang Usulkan Mbah Moen Jadi Pahlawan Nasional

Rabu 14 Agustus 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Lintas Agama Semarang Usulkan Mbah Moen Jadi Pahlawan Nasional
Para pegiat Pelita berfoto bersama seusai kegiatan.
Semarang, NU Online
Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah Romo Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen memiliki jasa besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bahkan hingga akhir hayatnya pun tetap mengajarkan nasionalisme dan patriotisme serta cinta NKRI kepada para santrinya dan seluruh masyarakat.
 
Karenanya Romo Aloys mendesak Presiden RI Joko Widodo untuk mengangkat Mbah Moen sebagai pahlawan nasional.
 
"Jasa perjuangannya sudah jelas. Sejarah bisa membuktikan bila Mbah Moen itu tokoh agama yang mengajarkan nasionalisme dan patriotisme kepada santri dan seluruh masyarakat. Sampai akhir hayat, beliau untuk NKRI. Jadi kami mendesak Presiden Jokowi keluarkan Kepres untuk menjadikan Mbah Moen sebagai pahlawan nasional," kata Romo Aloysius, Senin (12/8).
 
Penegasan  ini disampaikannya pada acara doa bersama 7 hari meninggalnya Mbah Moen yang digelar di Pastoran Johannes Maria Unika Sugiyopranoto Semarang, Jalan Pawiyatan Luhur Selatan, Bendan Duwur, Banyumanik, Kota Semarang.
 
Desakan Romo Budi bukannya tanpa dasar, sebab Presiden RI pertama, Ir Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) No. 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963 yang menetapkan Mgr. Albertus Soegijapranata yang wafat tanggal 22 Juli 1963 menjadi pahlawan nasional. 
 
Tidak hanya itu, Presiden Soekarno juga menganugerahkan penghormatan kepada Mgr. Albertus Soegijapranata dengan pangkat Jenderal TNI Kehormatan sebagaimana tertuang dalam Kepres/Panglima Tertinggi ABRI No. 223/AB-AD tertanggal 17 Desember 1964 dan berlaku sejak tanggal wafatnya Mgr. Soegijapranata, 22 Juli 1963.
 
"Ini dasarnya mengapa saya menyerukan Mbah Maimoen jadi pahlawan," tegasnya.
 
Untuk diketahui, Romo Budi, sapaan akrab Romo Aloys Budi Purnomo Pr bertindak selaku inisiator dan tuan rumah acara Doa Memule 7 Hari Mbah Moen yang digelar bersama Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) dan Gusdurian Semarang.
 
Romo Budi mengakui bahwa semasa Mbah Moen hidup tidak pernah membenturkan keindonesiaan dan keislaman. Sebaliknya, justru menyatukan Islam dan Indonesia yang kini dalam perspektif Islam Nusantara.
 
"Ada aura sejuk di dalam diri Mbah Moen. Selama beberapa kali saya sowan bertatap muka, beliau selalu menyampaikan persatuan nasional, dengan kerukunan umat beragama. Soal Islam, beliau menyatukan keislaman dan keindonesiaan dalam perspektif Islam Nusantara," tuturnya. 
 
Romo Budi melanjutkan, bagi Mbah Moen, NKRI tak berlawanan dengan keislaman. Keislaman dan keindonesiaan adalah laksana sepasang tangan yang merajut dan merawat keberagaman dan kebersatuan. 
 
“Semua diberi ruang setara sebagai warga bangsa. Mbah Moen tak pernah diskriminatif. Menerima dan merangkul siapa saja,” jelasnya.
 
Bagi Romo Budi, kegiatan tersebut menjadi semacam silaturahim pada seorang ulama yang berpindah alam. Sebab, meninggalnya Mbah Moen bukan berarti membutuhkan doa orang yang masih hidup, akan tetapi justru sebaliknya.
 
"Mbah Moen tak membutuhkan doa kita sebab saya yakin sudah bahagia di surga. Bahkan Mbah Moen-lah yang berdoa bagi kita semua yang masih berziarah di dunia ini. Pasti, Mbah Moen mendoakan kita semua agar rukun, bersatu dan bersaudara sebagai warga bangsa Indonesia, apa pun agama dan kepercayaan kita," ucapnya.
 
Ketua Pelita Semarang, Setiyawan juga mengungkapkan duka mendalam atas wafatnya KH Maimoen Zubair yang tidak hanya dirasakan umat Muslim. 
 
"Bukan hanya para santri dan umat Islam saja yang berduka, melainkan juga umat dari berbagai agama dan kepercayaan turut merasakan kehilangan sosok guru bangsa seperti beliau," ucapnya. 
 
Sebagai wujud cinta dan empati, sambungnya, beberapa tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul untuk memperingati 7 hari wafatnya KH Maimoen Zubair. 
 
"Doa bersama untuk para tokoh biasa menjadi sarana mengenang dan mengambil teladan seperti KH Maimoen Zubair ini harus kita ikuti demi menjaga keutuhan NKRI," pungkasnya. (Rifqi Hidayat/Ibnu Nawawi)
 
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 14 Agustus 2019 22:30 WIB
Dilantik, LPNU Kota Bandung Komitmen Bangkitkan Peran UKM
Dilantik, LPNU Kota Bandung Komitmen Bangkitkan Peran UKM
Pelantikan Pengurus LPNU Kota Bandung.
Bandung, NU Online
Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kota Bandung, Jawa Barat resmi dilantik, prosesi pelantikan dilangsungkan di Gedung Kadin Kota Bandung  di Jalan Talaga Bodas, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/8).  

Dalam sambutannya, Ketua LPNU PCNU Kota Bandung, Rahmat Andi berkomitmen membangkitkan peran Usaha Kecil Menengah (UKM) bagi kader-kader NU di Kota Bandung.  

"Potensi pasar di Kota Bandung, terutama dari UKM sangat besar. Ini yang harus kita kembangkan dengan berbagai inovasi dari masyarakat," katanya saat dikonfirmasi NU Online.

Ia menjelaskan, kehadiran UKM saat ini berkontibusi penuh terhadap peningkatan laju perekonomian di Kota Bandung. Persentasenya cukup baik yakni 4 persen, angka itu kata Rahmat, menggambarkan potensi ekonomi di Kota Bandung yang sangat bagus.

Untuk sampai pada tujuannya itu, Rahmat menilai pelaku usaha kecil dan menengah haus bersinergi dengan pemerintah. Sebab permasalahannya semua sama yakni pada persoalan modal UKM yang dianggap tidak naik kelas sehingga tidak bisa menjadi usaha besar.

"Gotong royong yang dibutuhkan, yakni sinergi pemerintah, lembaga stakeholder dan UKM. Bukan hanya pelatihan, tapi menghasilkan sesuatu yang produktif lebih lanjut," ucapnya.

Setelah vakum beberapa tahun, LPNU PCNU Kota Bandung dibawah komandonya berkomitmen penuh terhadap majunya UKM di Kota Bandung terutama untuk internal NU. Misalnya dengan memunculkan kreativitas dan inovasi dari para kaum milenial yang ada di LPNU PCNU Kota Bandung.

"Dengan para pengurus LPNU yang kini berjiwa muda, maka akan muncul inovasi akan perekonomian di Kota Bandung," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Bandung, Agus Syarif, berharap anak muda dapat mencurahkan pikiran, tenaga dan kreasinya untuk kemajuan ekonomi Kota Bandung. Terutama menginventarisir berbagai kelebihan ekonomi di masyarakat.

Ia meminta jangan terjebak dengan kendala seperti persoalan modal dan akses, perkuat kemauan terlebih dahulu agar secara bertahap semua masalah bisa dilewati. Namun, ia juga meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan UKM tersebut sebab akan sangat mempengaruhi perekonomian di Kota Bandung.

"Pelaku usaha kecil dan menengah merupakan garda terdepan perekonomian di Kota Bandung. Ini yang harus didukung oleh semua pihak dan stakeholder, terutama pemerintah," ucapnya. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Rabu 14 Agustus 2019 21:15 WIB
RMINU Jabar Bakal Gelar Perlombaan Pembacaan Kitab Kuning
RMINU Jabar Bakal Gelar Perlombaan Pembacaan Kitab Kuning
Ilustrasi kitab (via islamrf.org)
Cirebon, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat akan menggelar Musabaqah Qiroatul Kutub (MQK) atau Perlombaan Membaca Kitab Kuning bagi santriawan dan santriawati. Kegiatan yang dipastikan dihelat Ahad 1 September 2019 mendatang tersebut digelar dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1441 H.

Ketua Panitia Kegiatan, Ustadz Hamdani mengatakan kegiatan direncanakan dilaksanakan di Pesantren Assalfie Babakan Ciwaringin Cirebon, Jawa Barat. Jenis kitab yang diperlombakan antara lain Ushul Fiqih, Matan Al-Imrity, Fathul Qorib, Matan Alfiyah Ibnu Malik, Bulughul Maram, dan Ihya Ulumiddin.

“Ushul Fiqih, Matan Al-Imrity untuk usia maksimal 20 tahun, Fathul Qorib, Matan Alfiyah Ibnu Maliki, untuk usia 22 tahun, Bulughul Maram untuk usia 24 tahun dan Ihya Ulumiddin untuk usia 26 tahun,” katanya kepada NU Online, Rabu (14/8) sore.

Pendaftaran dibuka dua jalur, pertama online melalui aplikasi WA kepada panitia menyertakan nama, marhalah, kitab, dan asal pesantren. Sementara jalur offline bisa langsung mendatangi Sekretariat Panitia di Pesantren Assalafie di Gondang Manis Ciwaringin Cirebon, Jawa Barat.

“Tujuan kegiatan ini yakni untuk mengembangkan kreativitas santri terutama dalam hal membaca kitab kuning. Kedua, meningkatkan kemampuan santri dalam melakukan kajian dan pendalaman ilmu agama islam dari sumber kitab-kitab berbahasa arab  dan Ketiga, menjalinkan silaturahim antar Pesantren se-Jawa Barat,” ujarnya.

Kegiatan perlombaan, kata Hamdani, setiap tahun digelar, namun tahun sebelumnya cakupannya hanya Pesantren yang ada di Cirebon saja. Sedangkan yang jangkauannya se-Jawa Barat baru kali ini.

“Alhamdulillah sudah berjalan sudah 5 tahun dengan sebelumnya hanya wilayah 3 Cirebon. Dan alhamdulillah untuk tahun sekarang itu se Jawa Barat,” ungkapnya. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Rabu 14 Agustus 2019 20:30 WIB
Non Muslim: Sumbang Kurban untuk Berbagi Bersama Muslim
Non Muslim: Sumbang Kurban untuk Berbagi Bersama Muslim
Para pengurus Muslimat NU Jember dan seorang non Muslim tengah memasukkan daging-daging kurban kedalam tas kresek

Jember, NU Online

Sikap elegan NU yang menjunjung tinggi toleransi dan mengayomi penganut agama minoritas menuai simpati dari kalangan non Muslim. Paling tidak, hal itu dialami oleh Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember ketika menggelar penyembelihan hewan kurban di hari tasyrik pertama, Senin (12/8) . Simpati itu ditunjukkan dengan menyumbang seekor kambing untuk disembelih bersama dengan sapi dan beberapa ekor kambing lain di halaman kantor PC Muslimat NU Jember, Jalan KH Shidiq, Talangsari Jember, Jawa Timur.

 

Valeria Grossatudinis Castitas, namanya. Menurut pengakuan wanita dari Gereja Katolik Santo Yusuf ini, pemberian kambing kurban tersebut dimaksudkan untuk berbagi kebahagiaan bersama Muslimat NU di perayaan Idul Adha 1440 Hijriyah.

 

“Saya ingin berbagi dengan saudara-saudara Muslim. Yang mendasari saya ingin bergabung kurban dengan Muslimat NU, saya ingin memberikan yang saya punya dengan berbagi terhadap sesama yang merupakan saudara saya juga,” urainya kepada NU Online.

 

Di tempat yang sama, Ketua PC Muslimat NU Jember, Hj. Emi Kusminarni menegaskan bahwa sumbangan kurban dari non Muslim itu menunjukkan bahwa dakwah damai yang dilakukan Muslimat NU menembus relung hati lintas iman.
 

“Bukan soal berapa yang disumbangkan, tapi ini menjadi tanda bahwa kerukunan antar umat beragama di Jember, jalan. Hubungan kami dengan non Muslim cair,” tambahnya.

 

Dikatakan Emi, dalam moment-moment kegiatan sosial, PC Muslimat NU Jember kadang melibatkan non Muslim. Tujuannya adalah untuk merajut kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama. Kebersamaan harus terus dijalin untuk memastikan kerukunan tetap berlanjut. Sebab, jika kerukunan ternoda setitik saja, bisa jadi akan mengundang kekecewaan, atau bahkan kemarahan saudara seagamanya di daerah lain.

 

“Oleh karena itu betapa pentingnya kita mengokohkan kerukunan dengan sesama Muslim, dan jangan lupa kita merajut kebersaman dengan non Muslim,” ungkapnya.

 

Setelah dipotong, daging-daging yang sudah dibungkus kresek itu diberikan kepada pemulung, tukang becak an warga sekitar.

 

Pewarta : Aryudi AR

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG