IMG-LOGO
Daerah

RMI-Pemkab Tangerang Fasilitasi Sanitren

Kamis 22 Agustus 2019 18:45 WIB
Bagikan:
RMI-Pemkab Tangerang Fasilitasi Sanitren
KH Moh Mahrusillah saat memberikan sambutan dalam Silaturrahim RMI dengan Para Pengasuh Pondok Pesantren se-Kabupaten Tangerang di Pondok Pesantren Nihaayatuzein, Teluknaga Kabupaten Tangerang

Tangerang, NU Online

Pondok pesantren sebagai lembaga non formal memiliki peran yang sangat penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan agamis. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi pondok pesantren, termasuk sarana dan prasarana. Sanitasi menjadi salah satu sorotan publik terhadap pesantren yang secara umum masih dianggap belum optimal.

 

Hal itu disampaikan Ketua Rabithah Ma’had Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Tangerang Jawa Barat, KH Moh Mahrusillah saat memberikan sambutan dalam Silaturrahim RMI dengan Para Pengasuh Pondok Pesantren se-Kabupaten Tangerang di Pondok Pesantren Nihaayatuzein, Teluknaga Kabupaten Tangerang, Kamis (22/9).

 

“Sanitasi berbasis pesantren (Sanitren) menjadi salah satu program unggulan Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Tangerang. RMI akan mengawal program itu agar benar-benar sampai dan terlaksana bagi semua pesantren di Kabupaten Tangerang,” terangnya.

 

Menurutnya, sanitasi pondok pesantren terkait erat dengan kualitas kesehatan para penghuninya. Tata lingkungan pesantren yang baik dan sehat dapat menjadi contoh bagi pengembangan tata lingkungan di sekitarnya.

 

“Sanitasi berbasis pesantren ini sangat urgen untuk keberlanjutan pesantren. Mengingat masih banyak pesantren yang kurang memperhatikan kebersihan dan kerapian sanitasinya. Padahal, kebersihan sebagian dari iman itu sangat terkenal di kalangan pesantren,” tegas kiai Mahrus.

 

Ia menambahkabn, RMI Kabupaten Tangerang memiliki kepeduliaan untuk mengawal dan membantu pesantren untuk mendapatkan sanitren. RMI akan terus bersinergi dengan pihak-pihak terkait, agar program sanitren ini berjalan sesuai rencana.

 

“Program Sanitren 2019 akan dilaksanakan sekitar bulan September-Oktober. Makanya, kami di sini mengundang 20 pesantren sebagai sosialisai program tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai ajang sosialisasi pengenalan RMI di kalangan pengasuh pesantren se-KabupatenTangerang,” tuturnya.

 

Sanitren ini, lanjut Kiai Mahrus, menjadi perhatian pihaknya mengingat komitmen pemerintah Indonesia dalam hal sanitasi dan air bersih sangat tinggi. Sanitren ini menjadi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Maka, semua pihak tidak boleh ketinggalan dalam sanitasi dan air bersih, termasuk di dalamnya pondok pesantren.

 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh para kiai, pengurus NU, dan 20 pengasuh pondok pesantren se-Kabupaten Tangerang.

 

Kontributor: Suhendra

Editor: Aryudi AR

 

 

 

 

Bagikan:

Baca Juga

Kamis 22 Agustus 2019 22:0 WIB
Cara Santri Tunjukkan Cintanya ke Mbah Moen
Cara Santri Tunjukkan Cintanya ke Mbah Moen
Poster Mbah Moen dibagikan gratis
Rembang, NU Online
Seorang santri Mbah Maimoen Zubair asal Kabupaten Rembang yang saat ini berprofesi sebagai pengusaha percetakan, mencetak foto almagfurlah KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) dan dibagikan secara gratis.
 
Sampai dengan hari ini sudah ada 15 ribu lembar foto Mbah Moen berukuran 20 R yang dicetak dan dibagikan kepada masyarakat yang menghendakinya.
 
Tak hanya dari kalangan warga Kabupaten Rembang, permintaan foto Mbah Moen tersebut juga datang dari luar kota bahkan luar provinsi dan luar pulau. Pengusaha percetakan bernama M Mujib El Muis adalah santri yang  cukup dekat dekat dengan Mbah Moen dan keluarganya. 
 
Dikatakan, dirinya mencetak foto Mbah Moen berawal dari banyaknya warga atau masyarakat untuk mencetak foto Pengasuh Pesantren Al-Anwar itu di tempatnya dengan membayar sesuai harga.
 
"Dari situlah saya yang juga mendapat saran dari dan masukan dari komunitas Santri Gayang Kabupaten Rembang untuk mencetak dan membagikan secara gratis.
 Dengan harapan agar para santri seterusnya tetap dapat melihat wajah sumringah sang guru, meski hanya melalui sebuah foto," jelasnya.
 
Bahkan lanjutnya, untuk memberitahu kepada khalayak tentang foto gratis ia juga membuat pengumuman pembagian foto gratis itu melalui dinding media sosial.
"Setelah mendapat kabar duka dan pasang pengumuman di medsos, saya kebajiran permintaan dan akhirnya saya bagikan secara gratis untuk wilayah Rembang dan sekitarnya," ujarnya.
 
Dijelaskan, untuk Kabupaten Rembang dapat datang langsung ke percetakan Fatma Grafika yang berlokasi di jalan Pantura, sebelah barat Terminal kota Rembang.
 
"Untuk luar kota akan di kirim ke alamat pemesan hanya dengan mengganti biaya ongkos kirim saja. Setiap pengiriman akan mendapatkan 100 sampai 200 lembar foto Mbah Moen dengan ukuran 20 R atau ukuran poster," bebernya.

Menurut Mujib, foto yang dicetak dan dibagikan adalah foto terbaik yang diambil terakhir sebelum Mbah Moen menunaikan rukun Islam kelima tahun 1440 H.  
Foto itu diambil di kediaman Mbah Moen oleh salah satu santri yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPD RI, yakni H Arwani Thomafi atau yang lebih dikenal Gus Arwani.  
 
Kontributor: Ahmad Asmui
Editor: Muiz
Kamis 22 Agustus 2019 21:30 WIB
NU Sumsel Minta Khatib Jumat Tak Provokatif
NU Sumsel Minta Khatib Jumat Tak Provokatif
Kegiatan Bahtsul Masail PWNU Sumatera Selatan
Palembang, NU Online
Sebagai seorang muslim, menjalankan ibadah shalat Jumat merupakan kewajiban yang mesti dijalankan satu pekan sekali. Belakangan muncul berbagai keluhan yang disampaikan jamaah kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan.
 
Para jamaah di beberapa Masjid di Kota Pempek tersebut merasa konten khutbah yang disampaikan melalui bahasa Indonesia itu telah menjurus kepada provokatif. Mereka khawatir persoalan ini menjadi pemicu perpecahan antar umat beragama di kawasan Selat Sunda tersebut.
 
Untuk merespons keluhan dari masyarakat, pada bahtsul masail yang digelar Rabu (21/8) kemarin, PWNU Sumsel mengangkat masalah khutbah provokatif. Kegiatan yang menghadirkan beberapa kiai sepuh di Sumsel itu dilaksanakan di Kantor PWNU Sumsel di Palembang, Sumatera Selatan.
 
Ketua PWNU Sumsel, Kiai Heri Candra mengatakan, masalah itu diangkat karena sudah banyak yang mengeluh dan menyoroti terkait khatib yang memasukan materi dakwahnya bernuansa provokatif. 
 
Menurut dia, persoalan ini serius untuk dibahas karena ada kelompok tertentu yang sengaja menciptakan perpecahan. Jangan sampai masalah tersebut memperparah dinamika yang ada.
 
"Kenapa masalah ini dibahas, karena banyak masyarakat terprovokasi dan mengakibatkan perpecahan di kalangan umat islam," katanya kepada NU Online, Kamis (22/8).
 
Ia menilai, sudah saatnya masyarakat ikut bergerak menjadi penyebar Islam ramah bukan Islam marah. Dengan menggali ajaran-ajaran Islam secara benar dari narasumber utama yakni kiai.
 
"Menurut saya, khutbah seperti itu sudah keluar dari rukun khutbah itu sendiri," tuturnya.
 
Bahtsul masail kali ini suasananya lebih hidup dan ramai, hal itu karena forum para kiai tersebut dihadiri  oleh Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Gubernur Sumsel Herman Deru, dan puluhan jamaah lain.
 
Dalam sambutannya, Gubernur Deru meminta kepada NU untuk komitmen membangun peradaban bangsa yang ramah. Melalui gagasan keilmuan yang dimiliki kiai-kiai NU. Maka, untuk mengimplementasikan itu, Gubernur Deru siap memfasilitasi adanya Muktamar ke-34 NU di Sumatera Selatan.
 
"Insyallah kami siap memfasilitasi kiai," ujarnya di hadapan Kiai Miftachul Akhyar dan ratusan jamaah. 
 
Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Muiz
Kamis 22 Agustus 2019 18:15 WIB
Kerukunan Antartokoh Penting untuk Keamanan Papua
Kerukunan Antartokoh Penting untuk Keamanan Papua
Pertemuan antartokoh agama di Jayapura
Jayapura, NU Online 
Gelombang  ujukrasa  yang melanda Papua, Senin (19/8) mengkhawatirkan semua pihak. Namun di ibu kota Provinsi Papua ini, yakni Jayapura, relatif aman meski peserta unjuk rasa juga bejibun.

“Salah satu kuncinya adalah karena NU, Muhammadiyah, dan para tokoh dari 5 agama,  komunikasinya lancar, sering bertemu untuk membahas dan menjaga keamanan,” ungkap  Ketua PCNU Kabupaten Jayapura, Papua, Ustadz Zaenuri Thoha sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Kamis (22/8).

Menurutnya, dialog antartokoh agama sangat membantu kondusivitas di Jayapura. Apalagi saat ini sudah terbentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jayapura.  
 
Dikatakannya, kerukunan antartokoh agama sangat penting bagi kondusivitas suatu daerah. Sebab bagaimanpun, tokoh agama masih menjadi panutan bagi masyarakat.

“Jadi komunikasi antartokoh agama jangan sampai tidak jalan. Mereka juga panutan di wilayahnya masing-masing,” jelasnya.

Ia menambahkan, peserta unjukrasa di Jayapura mayoritas adalah penduduk dari daerah yang berdomisili di kota (Jayapura) karena tuntutan pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan yang tinggal di Kabupaten Jayapura adalah rata-rata masyarakat pantai dan pendatang.

“Walaupun begitu, insyaallah tetap aman. Penjagaan dari aparat keamanan juga maksimal,” lanjutnya. 

Dikatakannya, frekuensi pertemuan para tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama akan ditingkatkan.

“Kami para tokoh sudah sepakat untuk sering bertemu,” ungkapnya.  

Ustadz Zaenuri menyatakan, NU diterima dengan sangat baik oleh masyrakat Papua. Sebab mereka menilai NU merupakan organisasi keagamaan yang cukup moderat dalam menyikapi masalah kebangsaan dan keagamaan. Sikap NU yang sangat menghargai perbedaan agama dan mengayoni kelompok minoritas, merupakan point tersendiri bagi masyarakat Papua.

“Jadi saya kira NU itu di mana-mana diterima, karena posisi NU bukan ancaman bagi budaya setempat,” urainya.

Pewarta: Aryudi AR
Editor: Abdullah Alawi  
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG